NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Klimaks Hidupnya

Jam enam pagi waktu Indonesia bagian dendam.

Aku sudah di lapangan kampus untuk membantu supervisi segala keperluan instalasi yang harus sudah terpasang sebelum banyak mahasiswa tiba di kampus dan melewati kami semua. Aku tak boleh membiarkan sedikitpun kelengahan yang menyebabkan rentetan kesalahan untuk dibahas kemudian hari kepadaku dan tim kami.

Apalagi jika Vanya berniat macam-macam lagi, aku tak akan tinggal diam. Kami sudah sangat bekerja keras untuk membuat acara ini menjadi kenyataan. Semua keringat, waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan oleh tim baik dari pihakku dan Sambung, semua tidak boleh rusak hanya karena trik murahan dari wanita cemburuan yang gila seperti Vanya.

Aku tidak akan menyerah untuk melindungi acara yang akan berjalan lima jam ke depan. Semua ideku akan jadi hebat jika semua bisa terwujud dengan baik dan sesuai rencana. Maka itu aku akan memasang badan untuk apapun yang akan terjadi kemudian.

Aku terus berdoa agar Vanya tidak membuat kekacauan yang melibatkan Sambung dan sekitarnya. Jika ia memang benci dan berniat jahat kepadaku, semoga ia berpikir untuk menyelesaikan pekerjaan kami terlebih dahulu dengan baik. Setelah itu, aku tak peduli jika memang aku dan ia akan saling menjambak rambut hingga kepala kami berdua lepas, atau setidaknya membuat rambut kami rontok berantakan.

Aku tidak datang sejauh ini hanya untuk menjadi Najma yang seperti ini. Aku tak akan menyerah menghadapi orang sakit jiwa seperti dia.

“Mbak, kamu jangan jauh-jauh dari aku ya. Berhubung handphone-mu masih nggak bisa dipakai, jadi pakai punyaku dulu ya.” Icana datang terburu-buru dengan tangan penuh menghampiriku. Aku mengambil ponsel kecil milik Icana yang berfungsi hanya untuk telepon dan kirim pesan. Aku mengangguk dan menaruhnya di kantong rok pensilku yang berwarna merah marun mendekati kecoklatan.

Mengecek semua tempat permainan dan meyakinkan semua penanggung jawab di setiap lokasi tidak lantas membuatku tenang bahwa acara ini akan berjalan seperti yang aku harapkan. Secara tidak sadar aku terus mencari keberadaan Vanya, bersiaga dengan kekuatan penuh agar ia tidak tiba-tiba menyerangku dengan golok atau membawa sekawanan polisi untuk menangkapku karena penuduhan bahwa aku merebut Fedi dari dirinya.

Aku jadi kagum dengan Fedi tentang bagaimana ia dapat bertahan dan masih menganggap Vanya sebagai manusia. Pasti karena Fedi tetap menganggap kakak Vanya sebagai sahabat terbaiknya, hal paling pantas yang ia lakukan adalah tetap berusaha menjaga Vanya walaupun sulit sekali rasanya.

Sudah jam sepuluh pagi.

Semua tim menyebar di area kampus untuk menuju plasa kampus yang sudah mulai ramai oleh para mahasiswa yang sedang asyik di luar. Aku mengikuti tim video untuk mencari sudut pandang terbaik dalam perekaman diam-diam atas pertunjukkan yang akan terjadi sebentar lagi.

Tidak lama, kawanan anak muda yang terdiri dari dua orang lelaki dan dua orang perempuan datang dengan kostum mahasiswa, seperti yang lainnya. Mereka tertawa dan becanda di kala berjalan bersama di tengah-tengah plasa. Tiba-tiba, datang satu pria setengah baya yang terkulai dengan darah yang mengucur dari tubuhnya, tertembak dari arah atas gedung tanpa ketahuan siapa penyebabnya. Saat semua mendongak ke atas, berdirilah seorang Deadpool yang berkacak pinggang dan mulailah musik seiring dengannya meloncatnya dari lantai dua gedung tersebut. Deadpool berhadapan dengan para mahasiswa yang hanya mematung di tengah plasa dengan kebingungan. Ia melakukan monolog khasnya, namun ternyata disanggah oleh Spiderman dari ujung plasa. Semua ikut menoleh ke arah Spiderman dan dengan lincah ia pun melakukan koprol sebanyak lima kali hingga menghampiri posisi Deadpool dan Spiderman. Tidak lama setelah saling membuat kesal, mereka pun berkelahi di antara para mahasiswa yang tidak berkutik di tempatnya.

Di sela perkelahian, bergantilah musik menjadi instrumen orkestra yang biasa bergema jika Darth Vader tiba. Ia dan kawanannya Stormstooper pun ikut serta dalam aktivitas plasa kampus yang makin lama makin banyak penontonnya. Perkelahian mereka pun tertunda, Deadpool dan Spiderman malah saling merangkul pundak dan bertanya maksud dan tujuan Darth Vader menganggu aktivitas mereka. Tanpa basa-basi, Darth Vader menginstruksikan anak buahnya untuk menembaki keduanya.

Di saat itulah para mahasiswa berinisiatif untuk kabur dari lokasi kejadian, tapi salah satunya menolak dan memilih diam. Ia kesal kampusnya diganggu oleh para tokoh fiksi yang membuat onar di saat pagi yang cerah ini. Seorang mahasiswa perempuan tersebut pun berteriak “berhenti!!!” hingga semuanya diam membeku, hanya kepala mereka yang menoleh pada sumber suara untuk memastikan keadaan di sekitarnya.

Suasana langsung sunyi, semua terlihat beku di posisinya masing-masing. Termasuk para mahasiswa lain yang ada di sekitar kampus, dan bahkan semua mahasiswa yang mengintip di dinding kelas.

“I wish that I could be like the cool kids // cause all the cool kids, they seem to fit in // I wish that I could be like the cool kids // like the cool kids\~

Lalu semua pun tiba-tiba mengikuti lagu dan membuat formasi tari dengan komando mahasisa perempuan tersebut. Para pahlawan lainnya yang datang dari seluruh penjuru gedung kampus berlarian menuju plasa dan menyaringkan bunyi yang sama sehingga tak pelak menarik perhatian siapa saja yang ada di sekitar mereka. Setelah beku beberapa saat dalam formasi yang berbeda namun selaras, mereka menari bersama-sama dengan koreo sederhana yang sangat kompak selama dua menit. Tamat.

Spanduk tentang acara “I’m Cool” yang akan hadir di jam satu siang pun dibentangkan dari balkon lantai dua sehingga semua orang bisa melihatnya. Lalu, semua karakter pun membaur dengan para mahasiswa, melakukan foto bersama dan lain-lain.

Terima kasih, semua seperti apa yang kukira. Reaksi semua mahasiswa terlihat menyukainya. Aku merasa bersyukur sekali.

Untuk kota selanjutnya, topik yang kupilih adalah pasukan Game Of Thrones yang datang ke dimensi masa kini.

“Well, good job. Tapi, jangan pikir bahwa acara ini bagus gara-gara lo.”

Aku menoleh penuh enggan. Apakah ia menaruh GPS di tubuhku sehingga ia selalu bisa mendeteksi keberadaanku?

“Thanks. Setidaknya lo masih punya otak untuk tidak mengacaukan event ini, ya.”

“What do you mean?”

“Masa nggak ngerti? Bukannya lo lebih pinter dan lebih chan-thik dari gue?” tanyaku sambil memainkan bibirku lucu.

“What?”

“Eh, tapi, kalau misalnya nilai kecantikan lo sepuluh namun karakter lo dua, secara keseluruhan, nilai lo cuma dua sih. Paham, nggak?”

Vanya diam saja, ia menatapku dengan api yang tergambar di bola matanya.

“You can’t tear me down, Vanya. Just in case lo nggak ngerti bahasa Indonesia, maka gue kasih tahu lo aja dalam bahasa Inggris. Kaay?”

Aku meninggalkannya tanpa peduli apa yang akan ia lakukan padaku selanjutnya. Sempat merasa paranoid bahwa ia akan menusukku dengan pisau belati dari belakang, tapi aku yakinkan diriku sendiri bahwa Vanya tidak akan sebodoh itu. Walaupun ia sinting, tapi ia tidak berani menunjukkan wajah aslinya di depan orang lain. Oleh karenanya, aku merasa cukup berani untuk menantangnya terang-terangan selagi kami bisa terlihat oleh orang lain.

**

Akhirnya hari ini sudah berjalan selama dua puluh satu jam, yang berarti acara untuk satu kota pertama sudah usai. Aku dan semua tim sudah berada di hotel dan bersiap untuk makan malam bersama klien Sambung sebagai rangka syukuran bahwa hari ini berjalan sukses tanpa hambatan yang berarti.

“Gue tunggu di lobi ya, Ca!”

Icana mengangguk sambil tetap mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Aku memakai sepatu boots dengan hak tebal dan menalinya dengan begitu cepat. Lantas aku pergi ke arah lift untuk segera menunggu di depan lobi. Aku merasa tidak enak dengan Mbak Esya kalau kami terlambat lagi. Setidaknya, dengan memunculkan wajahku terlebih dahulu, kami tidak terkesan selalu lama berdandan dibanding mereka.

Bruuukkk!

Sontak aku terjatuh ke lantai karena ada yang mendorong tubuhku dengan keras tanpa sepengetahuanku. Aku mendongak ke atas dan kulihat Vanya yang begitu emosi berada di dekatku, masih dengan gesturnya yang jelas-jelas telah mendorongku. Aku segera berdiri dengan gusar dan membalasnya. Aku dorong tubuhnya balik hingga ia jatuh tak berdaya ke lantai yang sama. Ia menjerit cukup keras dan berdiri dengan sigap dan lantas menjambak rambutku yang kukepang dua. Ia melepas topi beani yang kupakai dan dilemparnya ke jalanan.

“Apa sih mau lo, hah?!” teriakku sambil balas menjambaknya.

“Lo tuh yang ganggu gue! Pergi lo dari hidup gue! Cewek kayak lo pantes mati!”

Vanya mendorongku lebih keras dari sebelumnya hingga aku terlempar ke depan jalan lobi. Sikuku berdarah karena tergesek oleh aspal, namun perasaan malu yang timbul akibat insiden saat ini tak akan pernah bisa mengalahkannya.

Beberapa orang mencoba membantuku untuk berdiri, namun aku yang tidak mempunyai tenaga untuk kembali bangun dan mengatakan bahwa aku tidak-apa-apa, kurasa aku tak sanggup melakukannya. Aku hanya diam sambil memandangi wajah orang-orang yang mengelilingiku sekarang.

Mobil yang baru saja datang ke dalam pelataran lobi langsung berhenti di depanku persis, dan seseorang langsung turun untuk melihat keadaanku yang tak berdaya meringkuk karena kesakitan.

“Najma!”

Aku menoleh kepada pria yang memakai kemeja flanel merah tua, ia membantuku bangun dan langsung memelukku ketika kami berdua berdiri di tempat yang sama.

Aku menangis dalam diam. Karena malu akhirnya aku hanya bisa menenggelamkan wajahku ke dada Fedi yang sudah memelukku erat.

“Vanya, harus ya lo lakuin ini ke gue sama Najma? Harus?!!!”

Mata Vanya terkesiap, ia tidak bisa bicara sepatah katapun. Sekarang, kedoknya ketahuan.

“Apa gue harus mati kayak kakak lo juga biar lo berhenti gangguin orang lain, hah?!”

Vanya diam dan menangis. Aku melihat ke arahnya dan hanya menatap ekspresi wajahnya yang baru kulihat pertama kali.

“Gue benci sama lo, Vanya. Lo tahu itu, kan?”

Tangis Vanya pun meledak. Ia langsung berlari meninggalkan hotel.

“Dia mau kemana?”

“Who cares?” Fedi terlihat kesal sekali pada Vanya. Ia mengecek seluruh kondisi tubuhku dan menemukan luka sobek di siku tangan kananku. Ia meniup-niup lukaku dan membawaku ke pelataran lobi depan, di tempatku menunggu barusan.

“Vanya kemana, Fedi?”

“Nggak usah diurusin. Paling dia mau kabur lagi kayak dulu. Gue udah memutuskan untuk nggak peduli lagi sama dia.”

Entah kenapa, firasatku mengatakan bahwa Vanya tidak hanya kabur dari Fedi. Ia yang tak pernah liar di jalanan tidak mungkin hanya berlari dan mencari tempat duduk untuk menangis semalaman. Tiba-tiba aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.

“Kita susul, yuk. Gue takut dia nekat.” ujarku langsung berlari tergopoh-gopoh karena aku baru merasa linu di sekitar pergelangan kaki. Sial, kakiku keseleo.

Hotel kami menginap berada di pinggir jalan raya pusat kota. Aku begitu mengenali lokasi di kota ini sehingga tidak sulit untukku bisa mencari Vanya ke tempat-tempat yang sekiranya dapat menjadi rumah singgah sejenak untuk Vanya menenangkan pikirannya.

Namun, tidak lama dari jarak pencarian kami, Vanya ada di sisi jalan raya sedang bersiap untuk menyeberang.

Atau bisa dibilang, ia akan menabrakkan diri ke mobil-mobil yang mengebut di jalanan.

“Vanyaaa!!!” seruku berlari yang dibantu Fedi. Tapi, ditengah perjalanan aku mencoba berlari sendiri tanpanya. Aku tak tahu kenapa Fedi tiba-tiba diam di tengah langkahnya.

“Vanya! Lo ngapain? Jangan nekat, dong!” aku memegang kedua bahunya untuk mencegah Vanya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Namun ia hanya mendorongku dan mencoba untuk melangkah ke area jalanan yang penuh dengan mobil berkecepatan tinggi.

“Vanya! Lo tuh sinting banget tau, nggak! Sintiiiing!!!”

Vanya menatapku dendam dan ia terus mencoba melepaskan aku yang terus memeluknya. Saking kerasnya ia mencoba, aku terdorong ke depan dan terlempar ke jalan raya yang sisinya belum dimasuki mobil. Aku hanya bisa terkapar tak berdaya dan berusaha sekuat tenaga untuk bangun sesegera mungkin karena mobil di depan bisa saja ngebut dan menabrakku tanpa ampun.

Tapi, ternyata terlambat.

Yang kurasa adalah sensasi terbang selama beberapa detik dan hantaman keras di kepalaku sehingga terasa sakit sekali. Rasanya semua hal di sekitarku berputar dengan kecepatan abnormal. Aku merasa sayup-sayup suara terdengar sangat bising, lalu langsung sunyi dan menghilang perlahan.

Mataku terpejam tiba-tiba walau aku tak ingin tidur. Aku tak sadarkan diri.

**

Najma dan Aga di Café Donat.

“Kamu mau nggak nikah sama aku nanti?”

Aku menatap matanya sambil tersenyum. Kulihat mata Aga yang sembab dan memerah.

Aga terus menangis di depanku. Ia menutup wajahnya yang sudah basah oleh air mata, juga karena ia malu sudah menangis sendirian. Sedangkan aku terlihat tenang dan lebih ceria daripadanya. Aga merasa aku tak sesedih dirinya.

Ia tak tahu seberapa banyak tangisan yang kukeluarkan untuknya. Berapa kilo liter air mata yang selalu keluar walau aku tahu itu tak berguna untuk dirinya. Aga tak pernah tahu aku selalu meraung-raung kesakitan karena berusaha untuk tetap sadar bahwa aku tak bisa bersamanya untuk waktu yang lama. Ia tak tahu aku begitu menderita telah jatuh cinta padanya. Air mata itu sudah kering dan berhenti terjun bebas. Ia lelah untuk memberi tahu jati dirinya kepada tersangka yang telah membuat mereka terus mengalir keluar.

“Aga, gimana kalau kita nggak usah ketemu lagi untuk selamanya? Maksudku, kali ini, kita benar-benar nggak ketemu lagi untuk kepentingan apapun. Aku ikhlas kalau kamu memilih dia.”

Aga menunduk dan menyembunyikan air matanya yang jatuh bergantian, “aku minta maaf karena nggak bisa sama kamu.”

“Iya, mau gimana lagi. Aku sudah yakin kamu bukan jodohku.”

Aga menatapku dalam untuk waktu yang lama, “jika memang dengan kepergianku kamu akan merasa lebih baik dan bahagia, aku akan mencoba untuk nurutin apa kata kamu.”

Aku tertawa kecil, “lagian, kamu sedih banget? Kan setidaknya walau tanpa aku kamu masih ada dia. Kamu tetap bersama si Asu dan bahagia selamanya. Sedangkan aku, masih banyak yang harus aku hadapi untuk ketemu sama orang yang tepat.”

Ia ikut tertawa sambil menghapus air matanya, “karena aku sudah bermimpi macam-macam sama kamu. Aku sudah membayangkan akan kemana kita bepergian, akan bagaimana rumah kita berdua jika kamu yang merancangnya, akan dimana kita bekerja jika aku dan kamu harus berdebat tentang jam pulang kantor. Aku sedih karena ternyata itu semua nggak akan terjadi.”

Aku memeluk bahunya yang melipat di meja, “pasti indah ya jika kita bisa sama-sama. Tapi kamu tahu sendiri kan, sulit sekali rasanya untuk kita bisa bersatu. Sekeras apapun aku mencoba mempertahankan kamu, dan sebaliknya, kita tetap nggak bisa bersama.”

“Maafin aku, Najma.”

“Nggak apa-apa. Aku akan tetap suka sama kamu betatapun kamu nggak layak untuk diperjuangkan.”

“Cinta yang bodoh.”

“Cinta yang bodoh.” Ujarku mengulangnya dan menghapus air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya.

**

Pemandangan remang yang temaram. Kepalaku terasa berat seakan batu bangunan sedang menimpaku namun kubisa tahan menggantungkannya di udara.

Aku mencoba memperbaiki penglihatanku sehingga semua yang buram menjadi tajam. Aku juga pastikan pendengaranku baik-baik saja karena suara-suara baru terdengar saat aku bisa melihat semua di sekitarku. Aku merasa ada yang sedang menangis tersedu-sedu, dan kulihat ada pria tinggi yang menghadap tembok sedang menutup matanya dengan lengan tangan kanannya. Aku bisa pastikan orang itu Fedi.

“Fedi.” Panggilku pelan. Fedi tidak mendengarku dan terus menangis.

“Fe-diii.” Panggilku lagi lebih kencang semaksimal yang aku bisa. Kulihat Fedi terkejut dengan panggilanku dan langsung menoleh kaget melihatku sudah sadar dan memanggil namanya.

“Thank God! Najma! Thankyou! Thankyou for being alive.” ujarnya lantang dengan suara serak dan langsung memelukku. Aku ternyata sedang terbaring di ranjang keras rumah sakit dengan selang yang cukup panjang menancap di tangan kiriku. Kulihat kaki kananku dibalut oleh gips sehingga kini aku tahu kenapa badanku mati rasa.

“Sejak kapan gue kayak gini?”

“Seharian.”

“Oh ya?”

“Gue minta maaf, Najma. Kalau aja gue mencegah lo menahan Vanya, gue …”

“Vanya dimana?”

“Dia masih diperiksa polisi.”

Aku terkesima dibuatnya. Entah karena jawaban Fedi yang datar apa karena kenyataan bahwa Vanya sedang berada di kantor polisi.

“Sekarang, nggak usah mikirin apa-apa dulu ya. Lo sebaiknya istirahat. Gue akan panggil dokter.” Terang Fedi, namun tertahan karena aku menahan tangannya.

“Ortu gue, mereka sudah tahu?”

“Mereka udah di sini, cuma mereka lagi makan di luar. Gue di sini jagain lo, gantian sama mereka.”

“Lo yang ngabarin mereka?”

“Iya. Gue baru tahu kalau handphone lo rusak. Jadi, sim card lo gue ambil terus gue taro di handphone gue, ya. Ini dual sim kok.”

“Thanks, Fedi. Udah kepikiran menghubungi orang rumah.”

Fedi tersenyum dan mengacak poniku pelan. Aku kembali berbaring dan mencoba terpejam kembali.

“Nanas.”

Aku kembali membuka mata dan langsung terkejap. Kucoba sekuat tenaga bangun dari tidurku dan berlari ke arahnya walaupun kutahu itu tak mungkin. Aku terikat di ranjang ini dengan segala tetek bengek yang menempel di tubuhku.

“Udah, Nas. Jangan gerak.” Seru Magi yang berlari ke arahku, mencegahku untuk tetap ada di ranjang ini.

“Magi!” aku memeluknya dengan satu tangan. Kulihat Iman hanya memandangi kami berdua yang berpelukan. Bisa kulihat matanya juga berkaca-kaca. Aku begitu rindu padanya.

“Iman, sini.” Ujarku pelan. Ia menghampiri kami dan memeluk kami berdua.

Kami terdiam beberapa saat dan menikmati pelukan yang paling kurindukan seumur hidupku. Tangisku pecah karena begitu merindukan mereka. Magi juga menangis sesenggukkan, sedangkan Iman hanya diam dan makin mengeratkan pelukannya kepadaku dan Magi. Aku bisa merasakan betapa ia bahagia bisa melihat kami bertiga bersama lagi.

“Gue minta maaf ya, Gi. Gue pengecut, terlalu takut untuk menemui lo dan mohon-mohon sama lo sampai lo mau maafin gue. Gue … gue bukan teman yang baik, Gi.”

“Nggak, Sayaaaang. Justru gue yang minta maaf karena baru ke sini. Gue ngerasa nggak berguna karena gue nggak pernah ada di saat-saat sulit buat lo.”

Aku melepaskan pelukan kami dan tersenyum kepada Iman dan Magi. Magi mengelus rambutku dan mengikatkan rambutku dengan tali kuncir yang entah ia dapat dari mana.

“Gue minta maaf ya, Ma. Lo boleh marah sama gue atau nonjok gue sekarang. Mumpung kaki lo masih disemen kayak gitu.”

“Hih! Gue benci banget sama lo, tahu nggak?!” seruku jutek, namun segera tersenyum pada Iman.

“Lo tahu gue di sini darimana? Ibu yang ngabarin, ya?” tanyaku penasaran.

Magi menggeleng, “Bukan. Fedi yang nyuruh kita berdua ke sini. Sesegera mungkin.”

Aku cukup terkejut dengan jawaban Magi. Fedi benar-benar memikirkanku.

“Lo nggak apa-apa kan, Ma? Semua yang lo laluin akhir-akhir ini struggle banget, loh. Lo baik-baik aja kan?” Iman semakin mendekat ke arahku. Ia menyentuh bahuku sehingga aku menyentuh tangannya yang masih tersinggah di bahu.

“Hidup gue seru kok. Jangan khawatir.”

“Sebenarnya, Nas. Gue pergi ke rumah lo ketika foto-foto lo tersebar di Facebook. Gue khawatir sama lo karena kasus itu lebih berat daripada kejadian Rosie jaman dulu.”

“Kapan?”

“Pas lo lagi dansa sama cowok di halaman. Gue nggak enak mau ganggu. Malah, gue merasa tenang karena ternyata lo ada yang jagain. Namanya Fedi, ya? Gue rasa dia jauh lebih baik daripada Aga, dan cowok di samping gue ini.”

Aku langsung menatap Iman yang terus tersenyum kepadaku. “Gue minta maaf ya sama lo, Ims. Gue tahu rasanya patah hati berkepenjangan tapi reaksi gue sama lo waktu itu malah kayak orang paling egois di dunia.”

“Nggak apa-apa. Kejadian itu murni salah gue kok…” Iman memegang tanganku, “… gue lebih baik ditolak ratusan kali sama lo dibanding harus kehilangan lo sebagai sahabat gue. Nggak akan pernah terbayang rasanya kalau gue harus jauh dari lo semua. Di mana lagi gue bisa nemu cewek tapi otak cowok kayak lo?”

“HIH! Sebel ih, udah sana pulang!”

Magi memukul Iman pelan dan tertawa sesudahnya. Aku pun ikut tertawa bahagia karena mereka berdua sudah bersamaku sekarang. Aku benar-benar bersyukur masih bisa hidup dan berkumpul bersama dua orang penting dalam hidupku.

“Jadi, kalian kapan jadian?” tanyaku menggoda mereka berdua.

“Apaan sih? Gue nggak jadian kok.” Jawab Magi malu-malu.

“Nanti jadian kok. Iya kan, Gi? Kapan-kapan tapi. Ahahaha.”

“Iman! Apa sih lo becanda terus!” Magi terlihat cukup gusar, tapi banyak malunya.

“Iya lo becanda mulu! Gue kan udah pernah bilang sama lo, Magi jauh lebih oke untuk digebet. Jekpot loh kalau dapet Magi. Udah cantik, cute, pinter banget lagi, dan yang lebih penting adalah dia suka banget sama lo.”

“Nasss… plis deh.”

“Iya, gue tahu kok. Ya udah kita jadian deh, besok. AHAHAHA.”

“Ihhh, sebel gue sama lo.” Magi akhirnya pergi keluar kamar. Aku menatapnya seakan menyalahkan apa yang sudah ia lakukan pada Magi, tapi tersenyum sambil memperbaiki posisi dudukku untuk bersandar. Iman membantuku menaruh bantal di belakang punggungku sehingga aku bisa duduk lebih nyaman.

“Ma…”

“Iya. Nggak apa-apa. Gue juga jauh lebih bahagia jika melihat kalian berdua saling sayang.”

“Sekali lagi gue minta maaf atas perlakuan pedekate yang buruk ke elo selama ini.”

Aku dan Iman diam sejenak, saling bertatapan penuh arti.

“So, bestfriend again?” tanyaku sambil menawarkan tos jotos pada Iman.

“Bestfriend again!” sambut Iman dengan tangan jotosnya kepada tanganku.

“Sana gih, susul Magi. Tembak terus jadian sekarang!”

Iman tersenyum dan memegang tanganku yang terikat infusan. Aku mengangguk untuk mendukung gerakan Iman dan Magi jadian hari ini.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!