Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempaan Baja di Balik Gaun Sutra
Matahari baru saja memecah cakrawala pegunungan, menyirami halaman belakang mansion yang luas dengan cahaya keemasan yang dingin. Di sebuah lapangan terbuka yang tersembunyi oleh deretan pohon cemara raksasa, Rebecca berdiri tegak. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra atau perhiasan mahal. Pagi ini, tubuhnya dibalut oleh tactical gear hitam yang pas di badan, sepatu bot kulit yang kokoh, dan rambut yang diikat ekor kuda tinggi.
Di sampingnya berdiri Erica, satu-satunya wanita di tim keamanan elit Maximilian. Erica adalah perwujudan dari belati yang dingin; bertubuh atletis, dengan bekas luka tipis di tulang pipinya yang justru menambah aura mengintimidasi. Selama ini, Erica adalah bayangan di balik dinding, namun atas perintah Maximilian, ia kini menjadi mentor, cermin, dan sekaligus lawan tanding bagi Rebecca.
"Tuan Maximilian memberimu kalung safir itu sebagai tanda cinta, Rebecca," Erica bersuara, nadanya datar namun tajam saat ia memeriksa busur recurve karbon di tangan Rebecca. "Tapi di lapangan ini, safir itu tidak akan menghentikan peluru atau menahan laju pedang. Hanya otot dan instingmu yang bisa melakukannya."
Rebecca mengangguk, jemarinya yang mulai kapalan menarik tali busur. Ia membidik sasaran sejauh tujuh puluh meter.
"Fokus pada tarikan napasmu, bukan targetnya," instruksi Erica.
Wush! Anak panah melesat, tertancap tepat di lingkaran merah paling dalam. Rebecca tidak tersenyum. Ia segera mengambil anak panah berikutnya. Satu jam pertama dihabiskan dengan memanah hingga otot bahunya terasa panas terbakar. Baginya, panah adalah tentang kesabaran; sebuah serangan senyap yang mematikan sebelum musuh menyadari keberadaannya.
Latihan beralih ke area berkuda. Di istal, seekor kuda jantan hitam legam bernama Ares sudah menunggu. Kuda itu liar, sama seperti pemiliknya, Maximilian.
"Berkuda di medan pegunungan bukan tentang gaya, tapi tentang sinkronisasi," kata Erica sambil melompat ke atas kudanya sendiri. "Jika kau tidak bisa mengendalikan hewan ini, kau tidak akan bisa mengendalikan pelarianmu saat jalur darat tertutup."
Rebecca memacu Ares mendaki jalur setapak yang curam dan berbatu. Angin pegunungan menghantam wajahnya, menyapu sisa-sisa keraguan di hatinya. Di atas pelana, ia merasa berkuasa. Ia belajar bagaimana cara menembak dari atas kuda yang berlari kencang, sebuah skill kuno yang dipadukan dengan senjata api modern. Berkali-kali ia hampir terjatuh saat Ares melompati rintangan alam, namun setiap kali ia goyah, bayangan Maximilian yang bersimbah darah di pelabuhan kembali muncul, memberinya kekuatan untuk mencengkeram tali kendali lebih kuat.
Menjelang siang, matahari mulai menyengat, namun Erica tidak memberikan waktu istirahat. Mereka pindah ke ruang latihan tertutup yang berlantaikan matras hitam. Di tengah ruangan, dua bilah pedang latihan dari baja tumpul berkilau tertimpa lampu neon.
"Menembak itu mudah bagi pengecut, Rebecca. Kau bisa membunuh dari jarak satu kilometer tanpa menatap mata lawanmu," Erica mencabut pedangnya, memasang kuda-kuda rendah. "Tapi pedang? Pedang adalah tentang intimasi. Kau harus merasakan getaran tulang lawanmu saat logammu beradu dengan miliknya."
Serangan Erica datang seperti badai. Cepat, presisi, dan tanpa ampun. Rebecca terdesak, dentingan logam memenuhi ruangan. Ia jatuh berkali-kali, lengannya memar terkena hantaman bilah tumpul Erica.
"Bangun!" teriak Erica. "Musuhmu tidak akan menunggumu mengeluh sakit!"
Rebecca bangkit, menyeka darah kecil di sudut bibirnya. Ia berhenti mencoba menandingi kekuatan Erica dan mulai menggunakan kecepatannya. Saat Erica mengayunkan pedang secara vertikal, Rebecca berputar, membiarkan jubah latihannya berkibar, dan menempelkan bilahnya tepat di leher Erica dari belakang.
Erica membeku, lalu sebuah senyum tipis—hampir menyerupai rasa hormat—muncul di wajahnya. "Bagus. Kau mulai berpikir seperti predator."
Setelah latihan fisik yang menguras tenaga, mereka menuju kolam renang indoor yang terletak di lantai bawah tanah yang dingin. Airnya berwarna biru tua, tampak tenang namun dalam.
"Berenang dengan pakaian lengkap dan beban," perintah Erica singkat.
Rebecca melompat ke dalam air dengan rompi taktis yang berat. Dinginnya air seolah menusuk tulang rusuknya. Ia harus berenang bolak-balik, menahan napas di bawah air selama mungkin, dan belajar bagaimana cara melumpuhkan lawan di dalam air. Ini bukan tentang olahraga; ini adalah latihan untuk skenario terburuk jika pelariannya harus melewati jalur laut. Di dalam air yang sunyi, Rebecca belajar untuk tenang dalam kepanikan. Ia belajar bahwa paru-parunya bisa menahan lebih banyak daripada yang ia bayangkan, sama seperti jiwanya yang ternyata lebih kuat dari yang ia kira.
Latihan terakhir hari itu adalah yang paling krusial: menembak. Mereka menuju shooting range di ruang kedap suara. Erica meletakkan berbagai jenis senjata di atas meja; dari pistol sub-mesin hingga senapan runduk.
"Tanganmu jangan gemetar," Erica berdiri di belakangnya, memperbaiki posisi siku Rebecca. "Ingat wajah Teo. Ingat wajah pria yang kau bunuh di teater. Mereka bukan manusia saat mereka mengancam Maximilian. Mereka hanyalah target."
DOR! DOR! DOR!
Rebecca mengosongkan magasin pistolnya ke arah sasaran bergerak. Setiap tembakan adalah pelepasan emosi—rasa takutnya, kemarahannya, dan pengabdiannya yang buta. Ia belajar melakukan reloading dalam hitungan detik, bahkan dengan mata tertutup. Ia belajar mengenal suara setiap jenis senjata, membedakan mana yang milik kawan dan mana yang milik lawan.
Saat sore hari tiba, Rebecca berdiri di balkon yang menghadap ke arah lembah, tubuhnya terasa remuk. Ototnya berdenyut, memarnya mulai membiru, dan rambutnya masih basah oleh air kolam. Erica berdiri di sampingnya, menyerahkan sebotol air mineral.
"Kau punya bakat, Rebecca," ucap Erica pelan, untuk pertama kalinya nadanya tidak lagi seperti instruktur militer. "Kebanyakan wanita di posisi ini akan memilih untuk terus bersembunyi di balik jas suaminya. Tapi kau? Kau memilih untuk menjadi pedang itu sendiri."
"Aku harus, Erica," jawab Rebecca, menatap kalung safir yang kini ia selipkan di balik kaos latihannya. "Karena aku tidak ingin melihat dia terluka lagi hanya karena aku tidak bisa menarik pelatuk."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat namun elegan terdengar dari belakang. Maximilian muncul, masih dengan tongkat mahoninya namun jalannya sudah jauh lebih stabil. Ia menatap Rebecca dari ujung kepala hingga ujung kaki—melihat memar di lengannya, keringat di dahinya, dan sorot mata yang kini setajam elang.
Maximilian mendekat, jemarinya yang besar menyentuh rahang Rebecca, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Kau terlihat ... berbahaya pagi ini, Tesoro."
"Itu tujuanku, Om," sahut Rebecca tanpa ragu.
Maximilian menatap Erica, memberikan isyarat agar anggota wanitanya itu meninggalkan mereka berdua. Setelah Erica pergi, Max menarik Rebecca ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli dengan keringat atau bau mesiu yang melekat pada tubuh Rebecca. Baginya, ini adalah aroma kemenangan.
"Vargo melaporkan kemajuanmu," bisik Maximilian di telinganya. "Besok, kita tidak akan latihan lagi di sini. Besok, kau akan ikut denganku ke pelabuhan. Kita akan menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya memegang kendali atas armada Moretti."
Rebecca membalas pelukan Max dengan kekuatan yang baru ia temukan. Ia menyadari bahwa latihan hari ini telah mengubahnya secara permanen. Ia bukan lagi sekadar Rebecca yang butuh dilindungi. Ia adalah mitra, pejuang, dan separuh dari jiwa Maximilian yang kini siap untuk menghancurkan siapa pun yang berani berdiri di jalan mereka.
"Aku siap, Om," ucap Rebecca tegas.
Malam itu, di bawah cahaya bulan pegunungan yang perak, Rebecca Moretti tidak lagi bermimpi buruk tentang masa lalunya. Ia hanya memikirkan satu hal: bagaimana cara membuat musuh-musuhnya membayar setiap tetes darah yang pernah tumpah.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣