(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Paksa
Penginapan "Bulan Sabit" di sudut timur Kota Jinling adalah tempat yang bahkan tikus pun enggan singgah. Dinding kayunya berderit tertiup angin, dan bau arak murahan meresap ke dalam lantai papannya.
Di kamar paling ujung di lantai dua, Han Luo duduk bersila di atas ranjang yang keras.
Dia telah melepaskan jubah abu-abunya. Di bawah cahaya lilin yang remang-remang, tubuhnya tampak menyedihkan. Kulitnya pucat dan berkerut di beberapa bagian, rambutnya memutih separuh. Kehilangan lima puluh tahun umur membuat organ dalamnya bekerja dua kali lebih lambat.
Tangan kanannya memegang sebuah kuas kecil yang dicelupkan ke dalam mangkuk berisi minyak spiritual. Dengan hati-hati, dia mengoleskan minyak itu ke Lengan Boneka Sutra di bahu kirinya.
Kriet... Krek...
Jari-jari sutra itu bergerak patah-patah. Besi patahan pedang di dalamnya membutuhkan pelumasan konstan agar benang-benang sutra pelapisnya tidak putus akibat gesekan saat digunakan.
"Tubuh fana ini membusuk lebih cepat dari perkiraanku," gumam Han Luo, terbatuk pelan. Bercak darah kecil menodai saputangannya. "Jika aku tidak mendapatkan Teratai Penambah Umur itu malam ini, jantungku mungkin akan berhenti dalam pertempuran pertamaku di benua ini."
Tiba-tiba, telinganya yang dipertajam oleh Qi menangkap suara langkah kaki.
Bukan satu atau dua orang. Sepuluh orang. Langkah mereka berat, teratur, dan memakai sepatu bot besi. Mereka sedang menaiki tangga kayu penginapan, menuju kamarnya.
"Aura Ranah Pondasi Akhir," analisis Han Luo tanpa panik. Dia meletakkan kuasnya dan mengenakan kembali jubah lusuhnya, menyembunyikan lengan kirinya.
BRAK!
Pintu kamar ditendang hingga hancur berkeping-keping.
Enam pengawal berbaju zirah emas melangkah masuk, memenuhi ruangan sempit itu. Di belakang mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian sutra mewah dan kumis melintang. Dia memancarkan aura arogansi seorang bangsawan.
"Kau yang menyebut dirimu Tabib Tangan Hantu?" pria berkumis itu menatap Han Luo dengan jijik, mengamati kamar yang kumuh itu. "Kupikir kau memiliki istana. Ternyata kau hanya tikus selokan."
Han Luo tetap duduk di tepi ranjang. Mata abu-abunya menatap pria itu dengan datar.
"Menendang pintu orang tua bukanlah kebiasaan yang baik. Siapa kau?"
"Aku adalah Ye Ming, Tetua Kedua dari Klan Pedagang Ye," pria itu mengangkat dagunya. "Patriark kami memerintahkan agar kau dibawa ke kediaman utama sekarang juga. Tuan Muda kami sedang menunggu pengobatan penuhmu."
"Aku sudah mengatakan syaratku di jalan siang tadi," jawab Han Luo lambat. "Kirimkan Teratai Penambah Umur Seratus Tahun ke sini sebelum matahari terbenam. Matahari sudah terbenam. Mana barangnya?"
Tetua Ye Ming tertawa keras, diikuti oleh para pengawalnya.
"Bunga Teratai Seratus Tahun? Untuk pengemis sepertimu? Kau pikir kau siapa bisa memeras Klan Ye? Kami bisa membeli seratus nyawamu dengan satu kelopak bunga itu!"
Ye Ming melangkah maju, menarik pedang dari pinggangnya.
"Kau akan ikut kami sekarang. Sembuhkan Tuan Muda, dan kami mungkin akan memberimu sepuluh koin emas sebagai ucapan terima kasih. Tolak, dan kami akan mematahkan kedua kakimu lalu menyeretmu ke sana."
Han Luo menghela napas panjang. Dia sudah menduga ini. Pedagang selalu mencoba mencari harga termurah. Jika mereka bisa mendapatkan pengobatan dengan kekerasan gratis, mengapa harus membayar mahal?
"Kalian tidak mengerti, ya?" bisik Han Luo.
"Apa yang tidak kami mengerti, Pak Tua?!" bentak salah satu pengawal, melangkah maju untuk meraih kerah jubah Han Luo.
Tangan pengawal itu hampir menyentuh dada Han Luo.
Tapi dia tidak pernah menyentuhnya.
Tangan kanan Han Luo bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata seorang kultivator Ranah Pondasi.
Tuk.
Dua jari Han Luo—telunjuk dan jari tengah—mengetuk lembut titik meridian di leher pengawal itu. Sebuah jarum perak setipis rambut, yang telah dilumuri embun es dari Sutra Hati Es Abadi, menusuk saraf utamanya.
"Uh..."
Mata pengawal itu membelalak. Tubuhnya membeku di tempat. Bukan membeku menjadi es, melainkan otot-ototnya terkunci total. Saraf motoriknya hancur dalam hitungan milidetik. Dia jatuh telentang seperti batang pohon yang ditebang, lumpuh total, namun matanya masih bergerak panik.
Lima pengawal lainnya tersentak mundur, mencabut senjata mereka.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" teriak Tetua Ye Ming, wajahnya pucat. Dia tidak melihat Han Luo menggunakan Qi atau membaca mantra.
Han Luo berdiri perlahan. Posturnya agak bungkuk, tapi aura mematikan yang memancar dari mata abu-abunya membuat seluruh ruangan terasa seperti lemari es raksasa.
"Aku seorang Tabib," kata Han Luo, suaranya serak dan menggema. "Aku tahu setiap jalur meridian yang membuat kalian bisa bernapas, bergerak, dan hidup. Jika aku bisa menghentikan racun di jantung Tuan Mudamu... apa yang membuatmu berpikir aku tidak bisa menghentikan jantung kalian dengan satu jentikan jari?"
Han Luo melangkah maju. Para pengawal berbaju zirah emas itu tanpa sadar mundur.
"Kalian pikir kalian sedang menjemput seorang tabib miskin?" Han Luo terkekeh dingin. "Kalian sedang berdiri di depan gerbang neraka. Dan kalian mengetuknya dengan sangat keras."
Tetua Ye Ming menelan ludah. Arogansinya menguap. Pria tua di depannya ini bukan penipu jalanan. Dia adalah monster sungguhan.
"T-Tuan Tabib," suara Ye Ming bergetar. "Maafkan kekasaran kami. Patriark kami... dia sungguh ingin bertemu dengan Anda. Dia... dia sudah menyiapkan hadiahnya."
"Begitukah?" Han Luo merapikan jubahnya. "Baiklah. Aku akan ikut dengan kalian. Aku memang ingin melihat betapa kayanya Klan Ye ini."
Han Luo berjalan melewati mereka, menuruni tangga.
Tetua Ye Ming dan para pengawalnya mengikutinya dari belakang dengan keringat dingin. Tidak ada yang berani menyentuh pria tua itu.
tpi gw demen....