Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Laura berdiri mematung di ruang makan, jantungnya berdegup tak karuan.
Suara sandal bermerek Lexi yang berderap di lantai marmer terasa seperti genderang perang.
Ia melihat Lexi muncul di ambang pintu ruang makan. Pria itu sudah berganti pakaian. Kemeja linen putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang berotot dan urat yang menonjol. Tatapannya—tajam, menyelidik, dan penuh kepemilikan—langsung mengunci Laura.
"Sudah di sini rupanya," sapa Lexi, suaranya pelan dan mengancam, memecah keheningan. "Bagus. Aku benci menunggu."
Lexi berjalan ke kursi kepala meja, menariknya dengan suara gesekan yang memekakkan. Ia duduk, menatap Laura yang masih berdiri di ujung meja.
"Duduklah, Sayang. Makan malam sudah siap," perintah Lexi.
Laura menuruti. Ia duduk di kursi yang paling jauh dari Lexi, tetapi jarak itu tidak mengurangi intensitas tekanan yang ia rasakan. Mbok Nah masuk, dengan wajah polos menata hidangan: sup asparagus dan bistik iga panggang.
Mbok Nah berbisik, "Nona Laura, saya pulang sekarang, ya. Jangan khawatir, saya sudah siapkan semuanya."
Lexi menyela, tanpa mengalihkan pandangannya dari Laura, "Ya, pergilah, Mbok. Dan matikan semua lampu di lantai dua. Biar kami nyaman."
"Baik, Tuan," jawab Mbok Nah, buru-buru meninggalkan ruangan. Laura tahu, ini adalah jebakan Lexi. Sekarang, mereka benar-benar sendirian.
Lexi menyendok supnya dengan santai. "Kamu tidak menyentuh nya, Laura."
Laura menatapnya bingung. "Apa maksud, Kakak?"
"Makan malammu. Supmu masih penuh. Apakah kamu tidak suka asparagus? Atau kamu terlalu takut untuk makan denganku?" Lexi tersenyum sinis.
"Aku... aku tidak lapar," jawab Laura, suaranya bergetar.
"Kamu berbohong. Tadi pagi kamu makan nasi goreng udang kesukaanmu sampai habis. Aku perhatikan," balas Lexi, memajukan tubuhnya sedikit. "Setiap hal kecil yang kamu lakukan di rumah ini, aku tahu."
Laura menunduk, menggenggam sendok peraknya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apakah kamu menerima hadiah dariku?" tanya Lexi, nadanya berubah lebih lembut, tetapi mata dominannya memancarkan bahaya.
Laura menarik napas. Ia mengeluarkan kotak kecil itu dari saku, meletakkannya di tengah meja. Kotak itu seperti granat yang siap meledak.
"Aku tidak bisa menerimanya, Kak. Aku tidak mau," kata Laura, memberanikan diri menatap mata Lexi.
Lexi tertawa, suara tawa yang hampa. "Tentu saja kamu bisa. Kamu tidak akan menolak hadiah dariku, Sayang. Kamu hanya mencoba berpura-pura masih punya martabat."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya memegang pisau steak. "Kamu tahu, Laura. Kalung itu, kunci itu, itu bukan hadiah. Itu adalah hukuman atas kebodohanmu mencari pekerjaan."
Laura merasakan air mata panas menggenang. "Aku butuh pekerjaan, Kak. Aku harus mandiri."
"Mandiri? Untuk apa? Agar kamu bisa lari dariku dan Alex? Jangan konyol," Lexi memotong dagingnya dengan gerakan presisi. "Kamu adalah kelemahan Alex. Dan selama kamu di bawah atap ini, kamu adalah milikku."
"Aku tidak akan pernah jadi milikmu!" seru Laura, emosinya meledak.
Lexi meletakkan pisaunya, tatapan matanya menjadi dingin dan kejam. "Coba saja lari lagi. Aku akan pastikan Alex kehilangan pekerjaannya. Aku akan pastikan semua rekening banknya dibekukan. Kamu pikir kamu bisa menyakiti suamimu hanya dengan lari? Tidak. Kamu akan menyakiti dirimu sendiri."
Ancaman itu menghantam Laura seperti pukulan telak. Lexi tahu titik terlemahnya: Alex.
Lexi berdiri, dan Laura otomatis tersentak. Lexi berjalan mengitari meja, aura dominasi mencekik memenuhi ruangan.
Ia berhenti di samping kursi Laura, mencondongkan tubuhnya hingga Laura bisa mencium aroma cologne mahal dan daging panggang yang samar.
"Kamu tidak akan meninggalkan rumah ini," bisik Lexi, suaranya serak. "Dan kamu akan memakai kunci itu, Laura. Di lehermu. Agar setiap kali kamu melihatnya, kamu ingat siapa yang memegang kendali."
Lexi mengambil kalung dari kotak itu. Sebelum Laura sempat bereaksi, Lexi sudah berdiri di belakangnya. Tangan Lexi yang besar dan panas menggesek tengkuk Laura saat ia memasangkan kalung itu.
Klik.
Bunyi kunci itu terdengar nyaring dan final.
Laura tidak bisa bernapas. Kalung itu terasa seperti belenggu, membebani lehernya.
"Selesai. Sekarang, kamu resmi menjadi tawanan paling cantik di rumah ini," bisik Lexi di telinga Laura, menarik napas dalam-dalam seolah menikmati aroma tubuhnya.
"Kamu tidak bisa melakukan itu sialan!" umpat Laura habis kesabaran.
"kenyataannya aku bisa Laura!" balas Lexi cepat.
Lexi berbalik, kembali ke kursinya. Ekspresinya kini kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Habiskan makan malammu, Laura. Aku tidak suka wanita yang tidak patuh," perintah Lexi.
Laura menelan ludah. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sendok dan mulai memaksakan sup yang terasa pahit di lidahnya.
Di hadapannya, Lexi menyeringai puas, seorang pemenang yang menikmati hasil tangkapannya. Laura tidak lagi memandang Lexi sebagai saudara ipar, melainkan sebagai sipir penjara yang kejam.
Malam itu, makan malam terasa seperti ritual dominasi yang sunyi dan mengerikan.
***
Laura tidak bisa tidur,jam dinding sudah bertengger dijam 12 malam,matanya belum menunjukkan tanda tanda mengantuk sama sekali.
Sementara Alex,suaminya, tidak pulang malam ini. Membuatnya semakin kesal. Padahal dia sedang birahi saat ini.
Maklum,Laura masih muda,masih gencar gencarnya ber cinta.
Krekkk..!
Suara pintu di dorong dari luar.
Laura yang telungkup sambil main hp menoleh kearah pintu.
Seketika dia terkesiap melihat siapa yang berdiri diambang pintu.
Kaka iparnya menatapnya tajam.
Laura langsung duduk,memperbaiki gaun malamnya yang berantakan.
Laura menyilangkan tangannya di dada,menyembunyikan bobanya yang menyembul indah,dia tidak mengenakan bra.
"Ada apa kak? Kenapa kakak datang kemari? Ada yang penting?" Tanya nya dingin.
"Wahhh,adik ipar ku sepertinya sedang kesal ya," Lexi tertawa lalu mengunci pintu.
Melihat itu Laura jadi panik.
Bagaimana tidak, kakak iparnya itu orangnya nekad, jangan kan menatap miliknya,menikmati miliknya pun kakak iparnya itu sudah.
Lexi mendekati Laura,menarik paksa dagu lancipnya,lalu melumat bibir nya dengan penuh nafsu tanpa aba aba.
"Apa yang kakak lakukan?" Pekik Laura sembari mendorong tubuh kakak iparnya itu.
Bukannya menjawab,Lexi kembali meraih tengkuk Laura lalu melumat bibirnya penuh nafsu.
Ciuman Lexi bukan hanya dominasi, tetapi juga pembebasan yang sinis. Semua tembok pertahanan Laura runtuh dalam sekejap, bukan karena paksaan fisik yang brutal, melainkan karena pengakuan batin yang sudah lama ia tolak: ia membutuhkan gairah yang hanya bisa diberikan pria ini.
Penolakan yang dia berikan tadi perlahan menjadi dambaan yang penuh gairah.
Laura membalas ciuman Lexi, sebuah respons yang dimulai dari kebencian dan berakhir pada kebutuhan yang membara.
Kalung kunci yang Lexi pasangkan terasa panas, bukan dingin, seperti segel yang membenarkan seluruh tindakan terlarang ini.
"Ku berbohong pada dirimu sendiri terlalu lama," bisik Lexi, suaranya serak dan menang.
Ia mengangkat tubuh Laura, mendudukkannya di meja kerja yang baru saja digunakan Laura untuk mencari pekerjaan paruh waktu—sebuah ironi yang menusuk.
Laura tidak lagi peduli pada meja, pada laptop Alex, atau pada kamar tidurnya yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Ia hanya peduli pada sensasi yang membanjirinya.
Lexi adalah racun yang ia cari.
"Aku... aku tidak mau," rintih Laura, sebuah formalitas terakhir dari moral yang sekarat.
Lexi menghentikan aksinya, tatapannya menembus mata Laura, memancarkan dominasi total. "Kamu lagi lagi berbohong. Matamu berteriak ingin dibebaskan. Aku akan membebaskanmu, Laura."
Ia tidak menunggu persetujuan lagi. Lexi melepaskan bathrobe sutra hitamnya. Tubuh kekar dan berototnya tampak sempurna di bawah rembulan yang mengintip dari jendela.
Laura memejamkan mata sesaat, menenggelamkan diri dalam rasa bersalah yang akan datang. Namun, saat Lexi kembali menyentuhnya, ia membuka mata. Ia melihat Lexi—bukan sebagai kakak ipar, bukan sebagai kakaknya Alex, tetapi sebagai pria asing yang memegang kuncinya.
Mereka berdua melebur jadi satu dalam gairah yang sulit dipadamkan.
Laura tidak berpikir jernih lagi,yang ada di otaknya saat ini adalah penyatuan yang panas,dan sebentar lagi akan dia dapatkan.
Malam itu,, Mbok Nah, Alex, dan seluruh realitas moral mereka seakan-akan tidak pernah ada. Yang ada hanyalah ruang kedap suara yang diciptakan oleh Lexi, dipenuhi dengan desahan yang tertekan dan janji dosa yang terpenuhi.
Lexi memimpin permainan itu dengan otoritas yang kejam, memastikan bahwa Laura sepenuhnya tunduk.
Gerakannya tegas, dominan, dan tidak memberi ruang untuk penolakan. Laura merespons dengan intensitas yang mengejutkan, mencari setiap sentuhan yang dilarang itu, mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan Alex.
Saat momen itu mencapai puncaknya, Laura mencengkeram bahu Lexi dengan erat. Ia tidak mengucapkan nama Alex. Ia bahkan tidak mengucapkan nama Lexi. Ia hanya mengeluarkan rintihan yang terasa seperti pengakuan total: pengakuan bahwa ia sudah kalah dalam permainan ini dan menyerahkan dirinya pada belenggu yang memabukkan.
Di akhir segalanya, Lexi merengkuh Laura ke dalam pelukan yang menuntut, keduanya tersengal.
Lexi mencium puncak kepala Laura, seolah-olah ia baru saja memenangkan perang yang sudah ia rencanakan sejak lama.
"Kamu hanya bisa mendapatkannya dariku, Laura," bisik Lexi, suaranya mengandung kemenangan yang dingin. "Kamu tahu itu sekarang."
Laura tidak menjawab. Ia hanya bersandar pada tubuh Lexi, membiarkan rasa lelah dan rasa bersalah yang luar biasa menenggelamkannya. Ia tidak punya energi untuk membenci. Ia hanya merasakan kekosongan yang kini terasa... terisi.
Lexi menyadari keheningan Laura. Ia dengan lembut memakaikan kembali pakaian Laura yang sudah kusut, gerakannya kini seperti seorang pemilik yang merawat propertinya. Ia memasang kembali kalung kunci di leher Laura, memastikan kaitnya terkunci sempurna.
"Tidur. Aku akan membersihkan kekacauan ini," perintah Lexi.
Laura hanya mengangguk lemas, lalu merangkak ke tempat tidur. Ia memejamkan mata, berharap semua itu hanyalah mimpi buruk.
Lexi mengemas semua bukti—pakaiannya yang berserakan, bathrobe sutra hitam yang kini ia kenakan lagi. Sebelum keluar, ia duduk di sisi tempat tidur, menyentuh pipi Laura.
"Ingat, Sayang. Kamu adalah milikku, lupakan soal mencari pekerjaan paruh waktu. Kamu sudah punya pekerjaan di sini. Menjagaku," bisik Lexi.
Dengan senyum tipis, Lexi berjalan keluar. Sebelum menutup pintu, ia mengambil laptop Alex dan meletakkannya di tempat tidur.
"Jika suamimu pulang, kamu tahu apa yang harus kamu katakan," Lexi memperingatkan, lalu menutup pintu dengan sangat pelan.
Keheningan kembali ke kamar Laura.
***
Ia membuka mata. Cahaya fajar mulai menyentuh tirai jendela. Ia sendirian. Tetapi kehangatan dan aroma maskulin Lexi masih melekat di seprai dan di kulitnya.
Laura meraih kalung kunci itu. Kunci itu kini terasa seperti medali kehinaan.
Tiba-tiba, ia mendengar bunyi mobil di luar. Alex pulang.
Jantung Laura mencelos. Pertunjukan dimulai.
Bersambung...