Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 231
Alun-Alun Kota Cakrawala Emas – Depan Balai Lelang.
Suasana di luar Balai Lelang Harta Surgawi jauh lebih panas daripada di dalam.
Lima ratus Pengawal Kekaisaran Berzirah Emas telah membentuk formasi pengepungan berlapis tiga. Tombak-tombak mereka yang dialiri Qi mengarah ke pintu keluar utama. Niat membunuh yang pekat membuat udara terasa berat seperti timah.
Di atas mereka, di atas kereta kencana giok yang ditarik oleh dua ekor Qilin Api, duduk Putri Yao Xi.
Wajah cantiknya sedingin es. Di bahunya, burung api kecilnya telah berubah menjadi proyeksi Phoenix Biru setinggi sepuluh meter yang memekik tajam, siap membakar siapa pun yang keluar dari pintu itu menjadi abu.
"Dia keluar," bisik seorang kapten pengawal.
Pintu gerbang balai lelang terbuka perlahan.
Shi Hao melangkah keluar dengan tenang, tangannya bersedekap di dalam lengan jubah hitamnya. Di belakangnya, Wuming (Dewa Sejati) dan Tie Shan (Raksasa) berjalan dengan kewaspadaan penuh. Nana dan Shu Ling bersembunyi di tengah formasi.
Mata Yao Xi menyipit saat melihat Shi Hao. Dia mengenali aura orang yang mempermalukannya di pelelangan tadi.
"Berlutut," suara Yao Xi dingin, diperkuat ke seluruh alun-alun. "Serahkan tulang itu, potong lidahmu, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan mayatmu utuh."
Shi Hao berhenti menuruni tangga. Dia mendongak menatap sang Putri di kereta kencananya.
"Kau menghalangi jalanku, Nona Kecil," kata Shi Hao datar. "Minggir, atau keretamu akan kubakar."
"Lancang! Mencari mati!"
Kesabaran Yao Xi habis. Dia tidak memberi perintah kepada pengawalnya. Dia ingin membunuh serangga sombong ini dengan tangannya sendiri.
Yao Xi mengangkat tangannya. Proyeksi Phoenix Biru di atasnya memekik dan menukik ke bawah.
"Seni Kekaisaran: Pemusnahan Api Phoenix Sejati!"
BOOM!
Gelombang api biru yang suhunya mampu melelehkan artefak tingkat tinggi meluncur ke arah Shi Hao. Serangan ini cukup untuk meratakan setengah blok kota. Penonton di kejauhan menjerit dan lari ketakutan.
Wuming hendak maju untuk menangkis dengan Domain Pedang-nya. "Tuan!"
"Mundur," perintah Shi Hao.
Shi Hao tidak mencabut pedangnya. Dia juga tidak mengaktifkan Api Sembilan Yang miliknya untuk melawan api dengan api.
Dia hanya mengeluarkan tangan kanannya dari balik jubah.
Jari telunjuk kanannya kini tampak berbeda. Kulitnya sedikit lebih gelap, dan di bawah kuku jarinya, samar-samar terlihat kilatan aura ungu yang kacau (Chaos).
"Phoenix Sejati?" Shi Hao mendengus. "Di depan Leluhur Naga, itu cuma ayam bakar."
Shi Hao mengangkat jari telunjuknya lurus ke depan, mengarah ke gelombang api yang datang.
Lalu, dia mengayunkan jarinya ke bawah dalam gerakan memotong sederhana.
"Jari Naga Kekacauan: Pembelah Hampa."
SRET.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada benturan energi yang mengguncang bumi.
Hanya suara seperti kain sutra yang dirobek.
Gelombang api biru raksasa itu... Terbelah Dua tepat di tengah, dari ujung paruh Phoenix hingga ekornya.
Api itu terpisah ke kiri dan kanan tubuh Shi Hao, menghanguskan jalanan di sampingnya, tetapi meninggalkan Shi Hao berdiri di tengah tanpa sehelai rambut pun yang terbakar.
Hening.
Lima ratus pengawal kekaisaran ternganga. Putri Yao Xi mematung di keretanya, matanya melotot tidak percaya.
Serangan Setengah Langkah Dewa Sejati miliknya, dipatahkan oleh satu jari?
Shi Hao meniup ujung telunjuknya seolah-olah baru saja memadamkan lilin.
"Kualitas apimu jelek," komentar Shi Hao santai. "Kurang panas. Cobalah berlatih seratus tahun lagi sebelum bermain api di depanku."
Penghinaan mutlak. Wajah Yao Xi berubah dari pucat menjadi merah padam karena amarah yang meledak.
"BUNUH DIA! SEMUANYA SERANG! JANGAN SISAKAN TULANGNYA!" teriak Yao Xi histeris.
DUM! DUM! DUM!
Lima ratus pengawal elit bergerak serentak. Formasi tombak mereka menekan maju. Wuming segera mencabut pedangnya, dan Tie Shan mengaktifkan zirahnya.
Shi Hao mengerutkan kening. Dia bisa menangani si Putri, tapi melawan 500 elit sekaligus di tengah kota musuh adalah masalah besar.
"Bersiap untuk..."
Tepat saat Shi Hao hendak memerintahkan terobosan paksa.
HIK... BROOT.
Suara sendawa keras yang berbau alkohol menyengat tiba-tiba terdengar dari gang sempit di samping balai lelang.
Suara itu tidak keras, tetapi membawa Guncangan Jiwa yang aneh.
BRUK! BRUK! BRUK!
Barisan depan pengawal kekaisaran yang sedang berlari tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Kaki mereka lemas seolah tulang mereka berubah menjadi jeli. Puluhan pengawal jatuh bergulingan, menghancurkan formasi mereka sendiri.
Bahkan kereta kencana Yao Xi berguncang hebat, membuat sang Putri hampir terjatuh.
"Siapa di sana?!" teriak kapten pengawal, panik melihat pasukannya lumpuh hanya karena suara sendawa.
Seorang pria tua kurus, berpakaian compang-camping seperti pengemis, berjalan keluar dari gang. Dia memegang sebuah kendi arak labu yang sudah usang. Matanya merah dan berair, langkahnya sempoyongan.
Si Tua Pemabuk (Identitas Asli: Mantan Guru Besar Kekaisaran yang Diasingkan). Ranah: Tidak Diketahui.
"Aduh... anggur di kota ini makin mahal, tapi rasanya makin hambar," racau si tua itu, mengabaikan ratusan tombak yang kini mengarah padanya.
Dia berjalan sempoyongan melewati barisan pengawal yang lumpuh, seolah mereka tidak ada. Dia berhenti tepat di depan Shi Hao.
Mata mabuknya menatap tajam ke arah tangan kanan Shi Hao.
"Bau ini..." gumam si tua itu, mengendus udara.
"Bau kadal tua yang sombong itu. Sudah ribuan tahun aku tidak menciumnya."
Shi Hao waspada. Aura orang tua ini sangat aneh—terasa kosong, tapi juga tak terbatas seperti lautan.
"Siapa kau, Senior?" tanya Shi Hao hati-hati.
Si tua itu tertawa kekeh. "Aku? Aku cuma sampah yang suka mabuk."
Dia menatap mata Shi Hao. Untuk sesaat, Shi Hao merasa jiwanya ditelanjangi.
"Kau menarik, Nak. Kau punya darah Naga, tapi juga membawa api musuh bebuyutan Naga. Dan sekarang kau memakai tulang jari itu..."
Si tua itu menggelengkan kepala.
"Kau benar-benar mencari masalah."
Di belakang, Putri Yao Xi berteriak, "Pengemis bau! Minggir atau kupenggal kepalamu bersama dia!"
Si tua pemabuk itu mengorek kupingnya dengan kelingking.
"Berisik sekali anak-anak jaman sekarang. Tidak punya hormat pada orang tua."
Si tua itu mengangkat kakinya yang kotor, lalu menghentakkannya pelan ke tanah.
DUM.
Riak energi tak kasat mata menyebar.
Seketika, seluruh formasi pertahanan kota di sektor itu... Mati.
Lampu-lampu padam. Jembatan pelangi di angkasa meredup. Dan yang terpenting, Kubah Pengunci Ruang yang mencegah teleportasi di dalam kota, hancur.
"Jalannya sudah terbuka, Kadal Kecil," bisik si tua itu pada Shi Hao. "Lari sana. Sebelum monster-monster sungguhan di istana pusat terbangun."
Shi Hao tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia membungkuk hormat singkat pada si tua itu.
"Terima kasih, Senior. Hutang ini akan kuingat."
Shi Hao berbalik ke timnya. "Wuming! Buka celah ruang! SEKARANG!"
Wuming, yang energinya sudah pulih karena formasi penekan kota mati, segera menebas udara. Celah dimensi terbuka.
Tim Asura melompat masuk satu per satu.
Sebelum Shi Hao masuk terakhir, dia menoleh ke arah Yao Xi yang sedang mengamuk karena keretanya tidak bisa bergerak.
Shi Hao melambaikan jari kanannya yang baru sambil tersenyum mengejek.
"Sampai jumpa lagi, Tuan Putri. Hati-hati jangan main api."
"SHI HAO!!! AKU AKAN MEMBURUMU SAMPAI KE NERAKA!" jeritan frustrasi Yao Xi menggema saat celah dimensi itu tertutup, menelan Tim Asura.
Si tua pemabuk melihat mereka menghilang. Dia meneguk araknya lagi.
"Hah... Dunia akan jadi ramai lagi," gumamnya, lalu berjalan sempoyongan kembali ke dalam gang gelap, menghilang sebelum para pengawal sadar apa yang terjadi.
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛