NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. The Broken Altar

Pagi itu, udara New York terasa lebih segar dari biasanya bagi Julian. Namun, ada satu beban yang masih mengganjal di dadanya. Di ruang makan rumah keluarga Vane, Alice menuangkan teh hangat untuknya sambil menatapnya lembut.

"Kau harus menemuinya, Julian," ucap Alice pelan, seolah bisa membaca pikiran tunangannya itu.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Al," Julian menghela napas, menatap cincin yang melingkar di jari Alice—cincin yang masih mereka sembunyikan dari dunia. "Ayahku adalah alasan aku benci konsep keluarga selama bertahun-tahun. Melihatnya hanya akan mengingatkanku pada rasa sepi saat dia pergi."

Alice menggenggam tangan Julian. "Pergilah bukan sebagai bintang besar yang butuh pengakuan, tapi sebagai seorang putra yang ingin memulai lembaran suci. Kau bilang kau ingin hubungan kita dirahmati Tuhan, bukan? Bagaimana Tuhan bisa meridai kita jika kau masih menyimpan dendam pada darah dagingmu sendiri?"

Kata-kata itu menjadi cambuk bagi Julian. Akhirnya, dengan langkah berat, Julian mengemudikan mobilnya menuju sebuah taman tua di pinggiran kota, tempat yang disepakati ayahnya melalui pesan singkat yang kaku.

Di taman itu, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih duduk di bangku kayu. Namanya Thomas Reed. Saat melihat Julian datang dengan pakaian sederhana tanpa pengawalan, Thomas berdiri dengan canggung.

"Kau datang," suara Thomas serak.

Julian berdiri di depannya, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya duduk di samping pria itu. "Aku tidak datang untuk mengungkit masa lalu, Yah. Aku datang untuk memberimu kabar."

Thomas menunduk, meremas jemarinya. "Kabar tentang kariermu? Aku melihatnya di berita, kau sangat sukses."

"Bukan," potong Julian. "Aku sudah bertunangan. Namanya Alice Vane. Dia wanita yang membawaku kembali ke jalan Tuhan. Dia yang mengajariku bahwa alkohol dan obat-obatan bukan pelarian yang benar. Dan karena dia juga... aku ada di sini sekarang."

Thomas tertegun. Ia menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau... bertunangan? Anakku, aku bahkan merasa tidak pantas mendengar kabar ini darimu. Aku meninggalkanmu dan ibumu demi keegoisanku. Aku gagal menjadi ayah."

"Aku membencimu untuk itu, Yah. Sangat benci," ujar Julian dengan jujur, membuat Thomas tersentak. "Tapi Alice bilang, kebencian hanya akan mengotori hubungan suci yang ingin kubangun dengannya. Jadi, aku di sini untuk memaafkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku ingin memulai hidup yang bersih. No drugs, no alcohol, no sex before marriage. Aku ingin kau merestuiku."

Tangis Thomas pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Julian. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk melihatmu tumbuh menjadi pria yang jauh lebih baik dariku."

Mereka berbicara selama dua jam—tentang penyesalan, tentang iman, dan tentang harapan. Untuk pertama kalinya, Julian merasa lubang di hatinya mulai tertutup.

Sore harinya, Julian melanjutkan langkahnya menemui ibunya, Pattie. Berbeda dengan pertemuan dengan ayahnya, pertemuan dengan Pattie penuh dengan isak tangis kebahagiaan.

"Alice Vane?" Pattie memeluk Julian erat di ruang tamunya yang nyaman. "Gadis yang dulu sering kau ceritakan itu? Yang kau bilang sangat cantik dan pemalu?"

"Iya, Ma. Dia sekarang bukan lagi sekadar gadis pemalu. Dia adalah kekuatanku," Julian tersenyum. "Ma, aku ingin kita kembali menjadi keluarga. Aku ingin ada pertemuan keluarga secara privat antara keluarga kita dan keluarga Alice. Aku ingin kita berdoa bersama."

"Mama akan melakukan apa pun, Sayang. Apapun untuk melihatmu bahagia seperti ini," ucap Pattie haru.

Seminggu kemudian, sebuah vila terpencil di perbukitan menjadi saksi bisu bersatunya dua keluarga yang berbeda latar belakang namun satu tujuan. Meja panjang kayu jati dihiasi dengan bunga-bunga segar dan masakan rumah yang hangat.

Ayah Alice dan Thomas Reed duduk berdampingan di teras, berbicara tentang masa muda mereka. Sementara itu, Ibu Alice dan Pattie asyik bercerita di dapur seolah sudah berteman selama puluhan tahun.

"Semuanya terasa seperti mimpi, ya?" bisik Alice saat ia dan Julian berdiri di balkon vila, melihat kedua keluarga mereka bersatu di bawah.

"Ini bukan mimpi, Al. Ini adalah berkat dari ketaatan," Julian merangkul pinggang Alice, namun tetap menjaga jarak yang sopan—sebuah komitmen baru yang ia jalani.

"Mari kita mulai," ajak Kakek Alice dari dalam ruangan.

Dua keluarga besar itu melingkar di ruang tengah. Julian menggenggam tangan Alice di satu sisi, dan tangan ayahnya di sisi lain. Kakek Alice memimpin doa dengan suara yang bergetar penuh wibawa.

"Tuhan, kami bersyukur atas kembalinya domba yang sempat hilang. Kami bersyukur atas ikatan suci yang akan dibangun oleh Julian dan Alice. Lindungilah mereka dari mata dunia yang kejam, jagalah kesucian hubungan ini hingga hari pernikahan mereka tiba..."

Julian memejamkan mata. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan ayahnya yang dulu ia benci. Di tempat suci ini, ia merasa benar-benar dicintai bukan karena prestasinya, tapi karena keberadaannya.

Setelah berdoa, mereka pergi ke gereja kecil terdekat. Julian berjalan masuk, berlutut di depan altar bersama Alice. Di sana, di tengah kesunyian rumah Tuhan, Julian berbisik pelan.

"Tuhan, terima kasih telah meminjamkan malaikat-Mu kepadaku. Aku berjanji akan menjaganya dengan sisa hidupku yang bersih."

Alice meneteskan air mata haru. Ia melihat Julian yang sekarang—pria yang telah berdamai dengan masa lalunya, pria yang telah meletakkan egonya di bawah kaki Tuhan.

Namun, di luar gereja yang tenang itu, bayangan hitam tetap mengintai. Sean Miller, yang entah bagaimana bisa melacak lokasi rahasia itu, berdiri di kegelapan sambil menatap rekaman dari kamera pengintainya.

"Keluarga cemara, ya?" desis Sean sinis sambil mematikan layar ponselnya. "Mari kita lihat berapa lama 'kesucian' ini bertahan saat dunia tahu bahwa Julian Reed hanyalah seorang pendosa yang sedang berakting suci."

Sean kemudian menghubungi seseorang di agensi lama Julian. "Aku punya informasi tentang lokasi persembunyian Julian. Dan dia tidak sendirian. Dia bersama Alice Vane dan seluruh keluarganya. Siapkan kamera, kita akan hancurkan 'kedamaian' mereka besok pagi."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!