NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pertempuran itu menyisakan kerusakan di mana-mana. Dinding rumah Ki Baraya retak, tiang penyangga miring, atap hampir runtuh. Tanah di halaman melesak dan berjejak hangus oleh benturan tenaga dalam.

Namun Ki Baraya tak bersedih.

Rumah bisa dibangun kembali.

Yang terpenting, keluarganya selamat.

Ia menoleh pada Laras yang berjalan terhuyung-huyung, wajahnya pucat kelelahan. Tanpa banyak kata, Ki Baraya segera memapahnya.

“Beristirahatlah di samping ibumu, Laras. Kau hebat. Mampu bertahan melawan para tuyul itu,” ucapnya lembut.

Laras tersenyum lemah. “Tapi rumah kita hancur, Ayah…”

Ki Baraya menggeleng pelan. “Tak apa. Rumah ini bisa kita bangun lagi. Untuk sementara kita akan mengungsi ke rumah nenekmu di desa sebelah.”

“Ya, Ayah. Itu lebih baik,” balas Laras pasrah.

Tak lama kemudian Braja Geni mendekat, napasnya masih tersisa berat akibat perjalanan cepat dari hutan.

“Kau tak apa-apa, Laras?” tanyanya khawatir.

“Hanya lecet sedikit, Kakang. Untung Kakang Braja datang mengusir para tuyul itu,” jawab Laras sambil tersenyum kecil.

Ki Baraya lalu menatap Braja dengan sorot mata yang lebih dalam.

“Kenapa mereka memanggilmu Raden? Apa mereka sudah mengenalimu?” tanyanya tenang namun serius.

Braja mengangguk perlahan.

“Ya, Ayah. Sesungguhnya hutan Jagabodas memiliki kerajaan-kerajaan gaib. Salah satunya adalah kerajaan tuyul. Semua kerajaan itu tunduk pada Ratuku. Dan apa yang ada di alam gaib jauh lebih luas—bahkan tiga kali lipat dari apa yang dapat kita lihat dengan mata wadag kita. Aku adalah utusan Ratu jika terjadi perselisihan di antara kerajaan-kerajaan itu. Karena itulah mereka memanggilku Raden.”

“Raden Braja Geni. Keren sekali,” Laras terkekeh pelan meski tubuhnya masih lemas.

Ki Baraya menghela napas panjang.

“Sejak dulu aku hanya mampu merasakan ombaknya saja. Tapi aku memang yakin ada kerajaan-kerajaan itu di dalam hutan Jagabodas. Itulah sebabnya Prabu Surya Kencana mengesahkan tempat itu menjadi sebuah kabuyutan—tanah sakral yang dilindungi kerajaan.”

Braja menatap ayahnya.

“Kau benar, Ayah. Ratu pernah berkata… Prabu Surya Kencana beberapa kali bertemu dengannya. Namun keberadaanku dirahasiakan. Bahkan sebagian penghuni istana pun tak mengetahui bahwa Ratu memiliki seorang utusan di dunia manusia.”

Ki Baraya terdiam.

Jika apa yang dikatakan Braja benar, maka hubungan antara kerajaan Pajajaran dan kerajaan gaib Jagabodas jauh lebih dalam daripada yang ia kira.

Artinya…

Peristiwa malam ini bukan sekadar serangan perampok.

Ada gelombang besar yang sedang bergerak—baik di dunia manusia maupun di alam gaib.

Dan Ki Baraya mulai menyadari, keluarganya telah berada tepat di tengah pusaran itu.

Setelah kekalahan Ki Jarwo, Ki Baraya semakin yakin keadaan tak akan lagi tenang. Serangan tadi hanyalah awal. Orang seperti Jarwo tak mungkin bergerak sendirian. Di baliknya pasti ada gelombang yang lebih besar.

Ia harus bersiap.

Ia harus melatih anak-anaknya.

Namun bagaimana caranya? Ilmu sejati tak bisa dituangkan hanya dalam hitungan hari. Tenaga dalam tak tumbuh hanya dengan semalam tapa. Hatinya gusar.

Ki Baraya tampak letih. Ia duduk di dekat istrinya yang masih pingsan, memandangi wajah yang selama ini menjadi peneduh hidupnya.

“Ayah… lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa Ayah akan sempat melatih kami?” tanya Jatibumi dengan suara tertahan.

Ki Baraya menggeleng pelan.

“Itulah yang Ayah bingungkan. Sepertinya aku terpaksa membawa kalian ke rumah Abangku di Mataram. Tanah Pasundan ini akan dilanda perang besar. Ayah tak akan sempat melatih kalian.”

“Begitu jauh, Yah?” tanya Laras lirih.

“Ya. Tapi di sana kalian lebih aman. Biarlah Ayah yang berperang di sini. Kalian harus selamat,” jawab Ki Baraya tegas, meski suaranya menyimpan getir.

“Tidak, Yah,” Laras maju selangkah. “Seminim apa pun kemampuan kami, aku ingin selalu ada di samping Ayah.”

Ki Baraya menatap putrinya dalam-dalam.

“Laras. Perang itu kejam. Tidak ada belas kasihan. Kalian masih belasan tahun. Masa depan kalian lebih utama. Jangan mati sia-sia di tanah yang bahkan belum sempat kalian jelajahi.”

“Ayah…” Jatibumi mengepalkan tangan. “Kau tahu aku sering takut. Tapi rumah kita telah dihancurkan. Ibu hampir mati. Aku tak terima. Kita harus membalasnya.”

Ki Baraya menutup mata sejenak.

“Jatibumi. Semangatmu Ayah akui. Tapi ini bukan lagi perkara amarah. Ini perang yang melibatkan kerajaan, dunia gaib, dan darah bangsawan. Kalian belum siap. Dalam perang seperti itu, orang muda sering mati lebih dulu. Ayah tak sanggup melihat kalian terkubur sebelum waktunya.”

Hening menyelimuti mereka.

Angin malam berembus pelan, membawa bau tanah dan sisa asap pertempuran.

“Ayah…” suara Braja Geni akhirnya terdengar pelan namun mantap. “Mungkin ada jalan lain.”

Ki Baraya menoleh.

Braja melanjutkan, “Jika Ayah tak punya waktu melatih kami di dunia manusia… mungkin ada tempat lain yang waktunya berbeda.”

Tatapan Ki Baraya berubah.

“Maksudmu… Jagabodas?”

Braja mengangguk perlahan.

“Di wilayah gaib, waktu tidak selalu berjalan seperti di sini. Ratu pernah berkata… satu bulan di sana bisa terasa seperti setahun bagi manusia yang menimba ilmu dengan sungguh-sungguh.”

Laras dan Jatibumi saling berpandangan.

Hati Ki Baraya bergetar.

Jika itu benar… maka mungkin harapan masih ada.

Namun membawa anak-anaknya masuk ke wilayah kerajaan gaib bukan keputusan ringan. Dunia itu tak hanya penuh ilmu, tapi juga penuh ujian yang bisa merenggut jiwa.

Ki Baraya menarik napas panjang.

Perang mungkin tak bisa dihindari.

Tapi bagaimana ia akan mempersiapkan darah dagingnya menghadapi badai itu… itulah keputusan terberat dalam hidupnya.

“Ayah… aku tahu risikonya,” ujar Braja pelan namun mantap. “Tapi ada satu kerajaan yang mungkin mau menerima kita.”

Ki Baraya mengangkat wajahnya. “Kerajaan gaib mana yang mau menanggung manusia seperti kita?”

“Kerajaan Tuyul, Ayah,” jawab Braja tanpa ragu. “Aku mengenal putra mahkotanya. Ia pernah berutang budi padaku. Aku akan berbicara padanya agar kita diizinkan memasuki wilayah mereka.”

Laras dan Jatibumi terdiam, mencoba mencerna.

Braja melanjutkan, “Waktu di sana berbeda. Satu hari di dunia kita… bisa menjadi dua minggu lamanya di kerajaan mereka. Jika Ayah melatih kami di sana, dalam hitungan hari di dunia manusia, kami bisa menimba ilmu berbulan-bulan.”

Ki Baraya menatap putranya tajam, mencoba memastikan tak ada keraguan di mata pemuda itu.

“Kerajaan Tuyul bukan tempat bermain,” katanya pelan. “Mereka makhluk gaib. Hukum mereka bukan hukum manusia.”

“Aku tahu, Ayah. Tapi mereka tunduk pada Ratu Jagabodas. Dan selama kita masuk dengan izin resmi, mereka tak akan berani melanggar,” jawab Braja tenang. “Lagipula, mereka pun tak ingin terlibat dalam perang manusia. Ini kesempatan kita.”

Hening sejenak.

Ki Baraya memandangi wajah anak-anaknya satu per satu. Ia melihat ketakutan, semangat, dan tekad yang belum matang—namun nyata.

Akhirnya ia menghela napas panjang.

“Kalau begitu… usahakanlah, Braja. Jika memang ada celah keselamatan dan kesempatan bagi kalian untuk belajar… kita tak boleh menyia-nyiakannya.”

Wajah Laras sedikit bersinar. Jatibumi mengepalkan tangan dengan semangat baru.

“Sepertinya… kita memang mendapatkan jalan keluar,” lanjut Ki Baraya pelan.

Namun dalam hatinya, ia sadar—

Memasuki kerajaan gaib berarti melangkah ke dunia yang tak sepenuhnya ia kuasai.

Dan setiap jalan keluar… sering kali juga membuka pintu ujian yang lebih besar.

1
culuns
elek
Wilson
👍
Wilson
cerita yg bagus mantap
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
saya rimba
bagus
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
Kasara Edsel
"angaaak hooo"😄👍
ibarumbung
luar biasa
👁Zigur👁: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!