Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan yang Semakin Panas
Dua lelaki tegap itu dengan mantap masuk ke dalam sasana tinju Bulungan. Saat itu Rommy, Mauren dan anak-anak lain tengah melakukan senam untuk pemanasan.
“Papa, kak Andre,” Mauren melambaikan tangannya memberi salam kepada ayah dan kakaknya itu sambil meneruskan senam sembari tersenyum manis.
Coach Barda menghentikan sejenak latihan dan mengundang Logan dan Andre ke sebelah dia untuk sekedar sepatah atau dua patah kata memberi motivasi kepada anak-anak didiknya.
“Terimakasih, coach atas waktunya. Selamat siang, adik-adik. Nama saya Logan Korompis, mantan juara Indonesia tinju profesional kelas welter tahun 2000-2007, sebelum saya pensiun dan jadi pengusaha sekarang.”
Dia diam sejenak lalu melanjutkan, “Saya yakin, dari beberapa orang di sini pasti ada yang akan menggantikan saya kelak,” kata Logan singkat.
Selanjutnya coach Barda memperkenalkan Andre, “Bagi yang belum tahu, Andre Korompis ini meraih medali emas di Sea Games Kamboja, dan sekarang sedang berlatih di pemusatan latihan di Senayan untuk mengikuti Asian Games di Jepang. Oya pak Logan dan Mas Andre ini adalah ayah dan kakak dari teman kita Mauren.”
Giliran Andre memberi motivasi kepada anak-anak itu, “Dulu saya juga seperti kalian, mulai latihan dari nol dan perlu waktu beberapa tahun sampai akhirnya seperti sekarang. Latihan dan latihan, itulah kuncinya!”
Spirit Rommy langsung terbakar mendengar siraman motivasi itu, apalagi ada Mauren yang ikut latihan di sasana itu.
Gerakan Rommy sudah lebih luwes sekarang, tidak sekaku sebelum-sebelumnya. Logan membisikkan sesuatu ke coach Barda, “Anak itu masih baru dan memang, gerakannya belum sempurna, tapi saya melihat dia punya potensi.”
Coach Barda mengangguk, lalu mendekat ke arah Rommy dan memberi petunjuk kuda-kuda yang baik dan beberapa jenis pukulan yang benar.
“Asyiknya dikasih petunjuk sama coach,” kata Rommy dalam hati.
Mauren melirik ayahnya yang sedang memberi petunjuk kepada Rommy sambil melakukan shadow boxing atau tinju bayangan.
Seakan tak mau kalah, Axel, Erick, dan beberapa anggota Geng The Executioners juga berlatih tinju di sasana tinju yang lebih mewah: Sasana Tinju Cobra. Atas koneksi ayah Axel, mereka bisa latihan di Sasana Tinju Cobra.
“Dalam tinju, kemenangan diraih kalau pukulan kalian kuat. Kuda-kuda dan gerakan itu nomor dua,” kata Coach Bruno berapi-api. “Pukul yang keras. Dan lebih keras, kalau kalian tidak bisa pukul keras, kalian tidak punya tempat di sini.”
Lain dengan coach Barda yang baru mengijinkan Rommy dkk. Melakukan sparing setelah 3 bulan berlatih tinju, Coach Bruno justru menyuruh mereka melakukan sparing di hari pertama mereka berlatih tinju.
Dengan gaya yang masih kaku dan bergaya tinju jalanan, Axel dan Robert melakukan sparing di ring dengan Coach Bruno sebagai wasitnya.
“Box!” Coach Bruno memerintahkan keduanya untuk bertinju, tapi Axel dan Robert diam saja.
Coach Bruno memberi instruksi lagi, “Box!” Mereka tetap diam.
Amarah coach Bruno meledak, “Bebal! ‘Box’ itu adalah perintah dalam tinju untuk mulai saling memukul!”
Barulah Axel dan Robert saling bertukar pukulan sekeras mungkin dengan gaya jalanan. Pukulan asal keras dilontarkan baik oleh Axel ataupun Robert.
“Saat terjadi clinch, tekan kepalanya. Jangan kasih dia napas,” perintah Coach Bruno jauh dari nilai-nilai sportivitas dalam tinju. “Wasit jarang mengetahui itu. Bukan kecurangan. Ini teknik yang wajib kalian kuasai kalau mau menang!”
Mendadak sebuah pukulan kencang nyasar Axel mendarat di bagian rusuk Robert. Robert mengaduh dan meminta berhenti, tapi coach Bruno menyuruhnya terus.
“Ayo, jangan cengeng! Dalam tinju tidak boleh cengeng! Ayo Axel, kejar terus dia! Bidik rusuknya, itu titik lemahnya.”
Axel ragu-ragu hendak meneruskan memukul Robert, tapi akhirnya dia melayangkan pukulan pamungkasnya ke rusuk Robert yang membuatnya langsung tersungkur.
Pertandingan segera dihentikan dan coach Bruno segera memeriksa keadaan Robert.
“Bawa segera ke rumah sakit terdekat!” seru coach Bruno.
Lalu beberapa asisten pelatih menggotong Robert dan segera membawanya ke rumah sakit.
“Dalam tinju itu kejadian biasa, kalian harus terbiasa dengan ini!” kata coach Bruno dengan nada keras ke anak-anak, ketika melihat Axel dkk. Pucat ketakutan melihat Robert yang tumbang dalam latihan sparing sore itu.
Usai latihan, Axel dkk. menjenguk Robert di rumah sakit.
“Maaf ya Bet, aku gak sengaja melakukan itu dan terpaksa membikin kamu cedera,” kata Axel. “Menurut diagnosa dokter apa?”
“Tulang rusukku memar, untung tidak ada patah. Aku dilarang latihan selama 3 bulan,” jawab Robert.
“Baiklah. Ini bagian dari latihan, semoga ‘The Executioners’ bisa makin kuat dengan tempaan ini,” gumam Robert lirih.
Di sasana tinju Bulungan, Logan dan Andre tetap setia melihat anak-anak baru yang dilatih oleh Coach Barda itu. Logan yang melihat potensi ada diri Rommy meluangkan waktu untuk secara khusus memberikan ilmu bertinju dengan mengajarkan pukulan-pukulan dasar, gerakan-gerakan dalam tinju dan footwork.
Ketika sesi latihan sore itu, sekali lagi Logan berbisik kepada coach Barda, “kamu coachnya, didik baik-baik anak itu. Meski baru belajar dan gerakannya masih kaku, aku benar-benar melihat dia punya potensi.”
Coach Barda mengangguk tanda setuju.
“Pesan saya jangan buru-buru suruh dia sparing, bisa rusak dia nanti. Latih dulu dasar-dasarnya,” lanjut Logan. “Kami permisi dulu.”
“Mengerti pak Logan, hati-hati di jalan,” kata coach Logan sambil membereskan beberapa alat latihan tinjunya.
“Mauren, kamu mau ikut pulang dengan kita atau sendiri?” tanya Logan ke Mauren.
“Ikut papa aja, deh!” kata Mauren.
Rommy sedikit kecewa karena tidak ada lagi Mauren latihan bersama mereka, namun dia tetap tekun melatih gerakan tinjunya berulang-ulang meski sesi latihannya sudah selesai.
Seusai latihan tinju, Rommy menyempatkan diri menyiapkan kegiatan sosial di panti jompo. Dia melihat whatsapp dan membaca komentar-komentar di grup whatsapp Kelelawar Hitam.
Dia mengirim pesan ke grup whatsapp itu:
“Dari 10an panti jompo yang diajukan untuk menjadi lokasi kegiatan ada 3 nama panti mengerucut, yang semuanya berlokasi dekat sekolah: Rumah Bahagia Senja, Serenity Residence dan Panti Wreda Surya Kencana.”
Nggak beberapa lama banyak yang berkomentar mengenai postingan Rommy itu, salah satunya dari Rudy:
“Mau dibawa kemana geng kita ini? Kelelawar Hitam ini geng, bukan yayasan sosial.”
Dengan sabar, Rommy menjawab:
“Betul. Tapi geng itu artinya punya tanggung jawab juga. Kalau kita bisa bantu orang, kenapa tidak?”
Rudy menjawab lagi,
“Tanggung jawab? Itu bukan urusan kita. Itu tanggungjawab sekolah dan orang tua!”
Rommy sebenarnya males meladeni, tapi demi lancarnya acara dia menjelaskan:
“Ini bukan urusan orang tua atau sekolah, tapi ini urusan kita. Kita tunjukkan bahwa geng tidak melulu harus berurusan dengan kekerasan dan intimidasi.”
Rudy menjawab:
“OK. I’m out.”
Lalu Rudy keluar dari grup itu
Sonny yang mengikuti percakapan itu kemudian ikut berkomentar:
“Kalau ada yang masih tidak ada yang tidak setuju gerakan sosial ini, silakan keluar juga.”
Rommy menambahi:
“Mulai sekarang misi Kelelawar Hitam berubah. Dan kita akan menjadi kelompok yang besar, bukan cuma sekedar sekelompok berandalan yang mengancam dan mengintimidasi, Kelelawar Hitam ikut memikul tanggungjawab moral.”
Kemudian Rommy merubah status grup itu menjadi:
“Kelelawar Hitam - Kuat, Berani, Peduli.”
Gak berapa lama setelah perdebatan panas di grup itu ada sebuah pesan japri ke Whatsapp Rommy. Pesan dari Axel. Rommy menatap layar HP-nya. Pesan itu membuat dadanya berdegup lebih cepat…
“Kalian serius bikin kegiatan sosial? Jangan sampai jadi ajang pamer. Kita liat aja nanti.”