NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Api dan Air Mata

Suasana di dalam lift pribadi Arkananta Group yang biasanya tenang dan berkelas, kini terasa seperti kotak besi yang mencekam. Alana masih bersimpuh di lantai, napasnya tersengal-sengal saat bayangan Elena yang terikat dan jerigen bensin di video itu terus berputar di kepalanya. Dunia yang baru saja ia kuasai melalui tanda tangan di atas kertas legal, mendadak hancur oleh ancaman nyawa yang nyata.

Arkan tidak membuang waktu. Jemarinya menari di atas layar ponsel dengan kecepatan luar biasa, memberikan instruksi taktis kepada Dimas dan unit keamanan rahasianya. Wajah pria itu kini tidak lagi menunjukkan kemarahan; yang tersisa hanyalah kedinginan yang mematikan. Inilah sosok Arkananta yang sesungguhnya—sang predator yang terbangun dari tidurnya.

"Bangun, Alana," suara Arkan terdengar rendah, namun penuh otoritas. Ia membantu istrinya berdiri, memegang bahu Alana dengan cengkeraman yang mantap untuk menyalurkan kekuatan. "Jika kamu hancur sekarang, mereka menang. Kita punya waktu kurang dari dua jam."

"Tapi Ibu... dan Elena..." suara Alana bergetar hebat. "Arkan, saham itu... ambil saja semuanya. Aku tidak peduli pada harta Wiryodinoto. Aku hanya ingin mereka selamat!"

Arkan menatap mata Alana dalam-dalam. "Dengar. Jika kita menyerahkan saham itu sekarang, kita kehilangan satu-satunya alat tawar-menawar kita. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau, mereka tidak akan membiarkan saksi hidup. Kita harus bertindak cerdas."

Lift berdenting terbuka di lantai dasar yang tersembunyi, menuju garasi pribadi Arkan. Sebuah SUV hitam lapis baja sudah menunggu dengan mesin yang menderu.

Pelacakan dan Intrik

Di dalam mobil yang melaju kencang membelah kemacetan Jakarta, Dimas melaporkan hasil pelacakannya melalui tablet. "Tuan, sinyal video dikirim dari menara pemancar di kawasan industri terbengkalai di Marunda. Itu adalah area gudang tua milik perusahaan cangkang yang dulu pernah berafiliasi dengan Kevin."

"Kevin?" Alana bertanya dengan nada benci. "Apakah dia benar-benar senekat itu setelah dipermalukan tadi?"

"Bukan Kevin," Arkan menyela sambil memeriksa pistol kecil yang ia simpan di balik jasnya. "Kevin terlalu pengecut untuk melakukan ini sendiri di saat dia sedang diawasi kakek. Ini adalah perbuatan seseorang yang tidak punya beban lagi untuk kehilangan apa pun. Seseorang yang merasa dikhianati oleh semua pihak."

"Marco," bisik Alana. Nama itu keluar seperti kutukan.

"Tepat. Marco merasa dikhianati oleh Kevin yang tidak membayarnya, dan dia merasa terancam olehku. Dia sedang bermain judi terakhir dengan nyawa Elena sebagai taruhannya," Arkan menoleh pada Dimas. "Bagaimana dengan rumah sakit?"

"Tim Alpha sudah tiba di rumah sakit, Tuan. Ibu Nona Alana sudah diamankan di ruang bunker medis di bawah tanah gedung rumah sakit. Tidak ada yang bisa mendekatinya."

Mendengar hal itu, Alana merasa sedikit lega, namun pikirannya segera kembali pada Elena. "Lalu bagaimana dengan kakakku? Kita tidak mungkin menyerbu masuk begitu saja. Dia duduk di atas bensin, Arkan!"

"Itulah sebabnya kita akan menggunakan pengalih perhatian," Arkan mengeluarkan sebuah koper kecil dari bawah kursinya. Di dalamnya terdapat tumpukan surat berharga palsu yang terlihat sangat otentik. "Aku akan masuk ke sana sendirian untuk memberikan ini. Sementara itu, kamu... kamu akan menjadi kunci penyelamatan Elena."

Misi Penyelamatan: Pelabuhan Maut

Mereka tiba di kawasan Marunda saat matahari mulai condong ke barat, memberikan warna jingga yang menyerupai api di langit. Udara di sana berbau garam dan besi berkarat. Arkan menghentikan mobil satu kilometer dari lokasi gudang.

"Alana, dengarkan aku baik-baik," Arkan memegang wajah Alana, menatapnya dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Dimas akan membawamu memutar melalui jalur dermaga belakang. Ada ventilasi udara yang terhubung langsung ke langit-langit tepat di atas posisi Elena. Kamu kecil dan gesit. Tugasmu adalah memutuskan tali pengikatnya saat perhatian Marco teralihkan padaku."

"Arkan, ini terlalu berbahaya! Bagaimana kalau dia melihatmu membawa dokumen palsu?"

"Dia tidak akan sempat melihatnya," Arkan memberikan sebuah alat pemotong laser kecil pada Alana. "Ingat, saat aku menjatuhkan koper ini, itu adalah tandamu. Jangan ragu. Jangan menoleh ke belakang. Selamatkan Elena, dan Dimas akan menjemput kalian di titik evakuasi."

Arkan mencium bibir Alana dengan cepat namun dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus janji untuk kembali. "Aku mencintaimu, Alana. Maaf aku baru mengatakannya dalam situasi seperti ini."

Alana terpaku. Kata-kata itu adalah hal terakhir yang ia harapkan keluar dari mulut sang Monster Es. Sebelum ia sempat membalas, Arkan sudah keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah angkuh menuju gudang yang gelap itu, seorang diri.

Konfrontasi di Dalam Gudang

Lantai gudang itu becek oleh tumpahan bensin. Bau menyengat itu membuat kepala pening. Di tengah ruangan, Elena tampak pucat, matanya membelalak ketakutan melihat kedatangan Arkan. Di belakangnya, Marco berdiri dengan wajah yang rusak karena bekas luka perkelahian, tangannya memegang pemantik api yang apinya menari-nari kecil.

"Berhenti di sana, Arkananta!" teriak Marco, suaranya parau karena dendam. "Satu langkah lagi, dan wanita ini akan menjadi abu bersama bayi sialannya!"

Arkan berhenti, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dengan koper di salah satu tangannya. "Aku sudah membawa apa yang kamu mau, Marco. Seluruh saham Wiryodinoto dan surat pengalihan aset pribadiku. Lepaskan dia, dan kamu bisa pergi ke luar negeri dengan uang ini."

"Kamu pikir aku bodoh?!" Marco meludah ke lantai. "Kamu sudah menghancurkan hidupku! Kamu membuatku menjadi buronan! Aku tidak butuh uangmu saja, aku ingin melihatmu menderita seperti aku!"

Sementara itu, di langit-langit gudang, Alana merangkak melalui saluran udara yang sempit dan berdebu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia takut Marco bisa mendengarnya. Melalui celah ventilasi, ia melihat Arkan berdiri di tengah genangan bensin, berhadapan langsung dengan maut.

Alana menahan napas. Ia mulai membuka baut penutup ventilasi dengan gerakan seringan mungkin.

"Berikan kopernya sekarang! Lempar ke sini!" perintah Marco.

Arkan melemparkan koper itu. Saat koper melayang di udara, perhatian Marco teralih selama satu detik. Itu adalah saat yang ditunggu-tunggu.

Alana menjatuhkan diri dari langit-langit, mendarat dengan suara berdebam kecil di belakang tumpukan peti kayu di dekat Elena. Dengan tangan gemetar, ia menggunakan pemotong laser pada tali yang mengikat kakaknya.

Elena tersedak, ingin bersuara, namun Alana segera membekap mulutnya. "Diam, ini aku," bisiknya.

Di sisi lain gudang, Marco membuka koper dan menyadari bahwa kertas-kertas di dalamnya hanyalah sampah. "Kertas kosong?! Kau menipuku lagi, Arkananta!"

Marco dengan marah melemparkan pemantik api itu ke genangan bensin.

Wush!

Api seketika menjilat lantai gudang, merambat dengan kecepatan mengerikan menuju posisi Elena dan Alana.

"LARI!" teriak Arkan.

Arkan menerjang Marco sebelum pria itu sempat mencabut senjata. Mereka bergulat di tengah api yang mulai membesar. Arkan memukul wajah Marco dengan kemarahan yang sudah lama ia simpan, namun Marco membalas dengan menusukkan sebilah pisau ke bahu Arkan.

"Arkan!" jerit Alana. Ia berhasil membebaskan Elena sepenuhnya. Ia menarik kakaknya yang lemas itu menuju pintu belakang.

"Pergi, Alana! Bawa dia keluar!" Arkan berteriak sambil menahan tangan Marco yang memegang pisau.

Ledakan kecil mulai terdengar dari jerigen bensin yang lain. Langit-langit gudang mulai runtuh. Alana berhasil membawa Elena keluar ke udara terbuka tepat saat Dimas tiba dengan mobil evakuasi.

"Bawa dia, Dimas! Aku harus kembali untuk Arkan!" Alana mencoba berlari kembali ke gudang yang kini sudah menjadi lautan api.

"Nona, jangan! Itu terlalu berbahaya!" Dimas menahan lengan Alana.

Namun, sebelum Alana sempat berontak, sebuah ledakan besar mengguncang seluruh kawasan itu. Gudang itu runtuh sepenuhnya dalam kobaran api yang membubung tinggi.

"ARKAN!" Alana jatuh berlutut di tanah yang kasar, suaranya hilang ditelan gemuruh api.

Dunia seolah berhenti berputar. Air mata Alana mengalir deras, membasahi wajahnya yang penuh jelaga. Ia menatap kobaran api itu dengan tatapan kosong. Apakah ini akhirnya? Apakah ia mendapatkan kekuasaan dan harta Wiryodinoto hanya untuk kehilangan pria yang baru saja menyatakan cinta padanya?

Keajaiban di Tengah Abu

Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu. Petugas pemadam kebakaran mulai terdengar di kejauhan. Alana masih mematung, sampai ia melihat sesosok bayangan merangkak keluar dari balik reruntuhan di sisi dermaga.

Bayangan itu terbatuk-batuk, pakaiannya compang-camping dan bahunya bersimbah darah. Namun, tatapan matanya tetap tajam dan penuh otoritas.

"Aku sudah bilang... jangan menoleh ke belakang," suara parau itu membuat jantung Alana melonjak.

Alana berlari sekuat tenaga dan menghambur ke pelukan Arkan. Ia tidak peduli dengan luka-luka pria itu atau bau hangus yang menyengat. Arkan masih hidup. Ia berhasil keluar melalui celah dermaga tepat sebelum ledakan terjadi.

"Kamu gila! Aku pikir kamu mati!" isak Alana di dada Arkan.

Arkan memeluknya dengan tangan yang tidak terluka, meski ia meringis kesakitan. "Monster Es tidak semudah itu mencair karena api, Alana."

Ia menoleh ke arah Dimas yang sedang membantu Elena di dalam mobil. "Bawa mereka semua ke rumah sakit kita. Dan Dimas... pastikan jenazah Marco tidak pernah ditemukan. Biarkan dia hilang bersama abunya."

Akibat yang Tak Terduga

Malam itu, di rumah sakit milik keluarga Arkananta, suasana kembali tenang namun penuh haru. Elena sedang dalam penanganan medis; bayi di kandungannya selamat meskipun ia mengalami trauma berat. Ibu Alana juga sudah kembali ke kamarnya dengan penjagaan yang lebih ketat.

Arkan berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan bahu yang diperban. Alana duduk di sampingnya, membersihkan luka-luka kecil di wajah suaminya dengan kapas basah.

"Kenapa kamu menyelamatkanku, Arkan? Kamu bisa saja kehilangan nyawamu tadi," tanya Alana pelan.

Arkan menatap langit-langit kamar. "Dulu, aku hanya bisa menonton ibuku terbakar di dalam mobil itu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku takut. Tapi hari ini, saat aku melihatmu dan Elena dalam bahaya... aku sadar bahwa aku lebih takut kehilanganmu daripada takut pada api."

Arkan meraih tangan Alana dan mencium punggung tangannya. "Pernikahan kontrak kita sudah selesai, Alana. Secara hukum, kamu sekarang adalah wanita terkaya di Jakarta dengan aset Wiryodinoto. Kamu bebas pergi sekarang jika kamu mau."

Alana terdiam. Ia menatap cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya. "Dan jika aku tidak ingin pergi?"

Arkan tersenyum miring, senyum khasnya yang penuh dengan kepemilikan. "Maka aku akan mengikatmu selamanya. Kali ini bukan dengan kontrak, tapi dengan segala hal yang kumiliki."

Namun, di balik kebahagiaan sesaat itu, sebuah ancaman baru muncul. Di layar televisi rumah sakit, berita besar muncul: Kakek Arkananta, sang patriark, ditemukan pingsan karena serangan jantung setelah berita kehancuran gudang dan skandal Kevin bocor ke publik. Saham Arkananta Group terjun bebas.

Arkan menyipitkan mata melihat berita itu. "Kakek tidak akan menyerah semudah ini. Dia sengaja memancing publik agar kasihan padanya."

"Lalu apa rencana kita?" tanya Alana.

Arkan bangkit dari tidurnya, mengabaikan rasa sakit di bahunya. "Kita akan mengambil alih seluruh Arkananta Group besok pagi. Saatnya bagi Sang Raja lama untuk turun takhta, dan Nyonya Wiryodinoto-Arkananta untuk naik ke singgasananya."

Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan lagi melawan preman seperti Marco, tapi melawan sisa-sisa kekuatan dinasti yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Dan kali ini, Alana tidak lagi berdiri di belakang Arkan. Ia berdiri tepat di sampingnya, siap membalas setiap tetes air mata yang pernah ia tumpahkan.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!