Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Apakah Kamu Benar-benar Melihat?
Kertas itu masih menempel di papan investigasi.
Apakah kamu benar-benar melihat?
Karina tidak menyentuhnya selama beberapa menit pertama. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan pertanyaan itu meresap perlahan ke dalam pikirannya seperti tinta yang menyebar di air.
Ruangannya terkunci dari dalam. Tidak ada tanda paksa. Tidak ada rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang masuk.
Ia sudah memeriksanya.
Kosong.
Tapi kertas itu nyata.
Ia akhirnya melepasnya dengan hati-hati, membaliknya. Tidak ada apa-apa di belakangnya. Hanya satu kalimat itu. Tulisan tangan rapi, stabil, tidak tergesa.
Orang yang menulis ini tidak panik.
Tidak terburu-buru.
Ia tahu waktunya cukup.
Karina duduk.
Ia mencoba menata ulang pikirannya.
Kalau ini pelaku, mengapa tidak menyerang lagi? Mengapa tidak menciptakan korban baru untuk menunjukkan bahwa Arga memang bukan siapa-siapa?
Mengapa justru bermain seperti ini?
Jawabannya muncul pelan, seperti bisikan:
Karena yang ingin diganggu bukan kota.
Tapi kamu.
Karina menutup mata sejenak.
Tidak. Ia tidak boleh masuk terlalu dalam ke asumsi.
Ia bangkit dan mulai menyusun ulang papan investigasi.
Bukan berdasarkan kronologi.
Bukan berdasarkan lokasi.
Tapi berdasarkan… kemungkinan niat.
Ia menarik garis merah baru, menghubungkan setiap korban dengan latar belakang masing-masing.
Pekerjaan. Lingkungan sosial. Riwayat pribadi.
Awalnya tidak ada yang menonjol.
Lalu ia melihat satu detail kecil.
Semua korban, dalam satu titik hidup mereka, pernah terlibat dalam satu institusi yang sama.
Bukan dalam waktu bersamaan.
Tidak secara langsung terhubung.
Tapi mereka pernah berada dalam lingkup yang sama.
Karina berdiri membeku.
Itu bukan kebetulan.
Ia membuka kembali arsip lama. Menggali lebih dalam tentang institusi itu—sebuah program pelatihan profesional yang pernah berjalan hampir dua puluh tahun lalu.
Daftar mentor.
Daftar peserta.
Struktur internal.
Tangannya berhenti sesaat di satu nama.
Ia tidak langsung bereaksi.
Tidak mungkin, pikirnya.
Terlalu jauh.
Terlalu berbahaya untuk diasumsikan tanpa bukti.
Tapi benih itu sudah tertanam.
...----------------...
Siang hari, suasana kantor terasa normal. Terlalu normal.
Beberapa anggota tim bercanda tentang kasus baru yang sedang mereka tangani. Tekanan sudah jauh berkurang.
Karina memperhatikan mereka dari jauh.
Apakah hanya dia yang merasakan sesuatu tidak beres?
Atau memang hanya dia yang sedang dimainkan?
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal lagi.
Ia tidak langsung membuka pesan itu.
Beberapa detik ia hanya menatap layar.
Lalu ia membuka.
Bagus. Kamu mulai melihat.
Tidak ada tanda baca berlebihan. Tidak ada emosi dalam kalimat itu.
Seperti laporan.
Karina membalas untuk pertama kalinya.
Siapa kamu?
Tiga menit. Tidak ada balasan.
Lima menit.
Sepuluh.
Ia hampir meletakkan ponselnya ketika layar kembali menyala.
Pertanyaan yang salah.
Napasnya melambat.
Ia mengetik lagi.
Apa yang kamu mau?
Balasan datang lebih cepat kali ini.
Saya ingin tahu seberapa jauh kamu bersedia melangkah untuk kebenaran.
Karina berhenti mengetik.
Kalimat itu membuat dadanya terasa sempit.
Bukan ancaman.
Bukan ejekan.
Ujian.
...----------------...
Malamnya, ia kembali ke ruang tahanan.
Arga mengangkat wajah ketika melihatnya.
“Masih belum tidur?” katanya pelan.
Karina tidak menjawab. Ia duduk di kursi besi di depan sel.
“Semua korban pernah berada dalam satu lingkup institusi yang sama,” katanya tiba-tiba.
Arga terdiam.
“Program lama. Dua puluh tahun lalu.”
“Dan?”
“Dan aku mencoba memahami kenapa.”
Arga tersenyum samar. “Mungkin Anda akhirnya mengajukan pertanyaan yang benar.”
Karina menatapnya tajam. “Apa yang kamu tahu?”
“Tidak banyak. Tapi pembunuh seperti itu tidak memilih korban secara acak. Mereka membangun narasi.”
“Narasi apa?”
Arga mendekat ke jeruji. Suaranya lebih pelan.
“Narasi tentang kendali.”
Karina merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungnya.
“Kendali atas siapa?”
Arga menatapnya lama sebelum menjawab.
“Atas orang yang paling ingin ia uji.”
...----------------...
Pukul 02.11 dini hari.
Karina kembali sendirian di ruangannya.
Ia membuka kembali daftar mentor dalam program itu.
Nama yang tadi membuatnya berhenti kini kembali muncul di layar.
Ia menatapnya lebih lama.
Memori lama bermunculan.
Suara tenang yang membimbingnya dulu.
Metode berpikir sistematis.
Cara melihat manusia bukan sebagai emosi, tapi sebagai pola.
Karina menutup laptopnya mendadak.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
Kota tampak sama seperti biasa.
Lampu-lampu menyala. Mobil melintas. Tidak ada tanda kekacauan.
Tapi di dalam kepalanya, semuanya mulai berubah posisi.
Bagaimana jika selama ini ia memang melihat?
Tapi diarahkan untuk melihat sesuatu yang salah?
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Jangan berhenti sekarang.
Tangannya mengepal.
“Kenapa aku?” bisiknya pelan pada ruangan kosong.
Jawaban tidak datang dari pesan.
Jawaban datang dari kesadaran yang perlahan membentuk dirinya sendiri.
Karena ini bukan tentang korban.
Bukan tentang Arga.
Ini tentang proses.
Tentang bagaimana ia mengambil keputusan.
Tentang bagaimana ia mulai meragukan, lalu bertindak.
Karina menatap papan investigasi untuk terakhir kalinya malam itu.
Kertas kecil itu masih ada di mejanya sekarang.
Apakah kamu benar-benar melihat?
Ia akhirnya mengerti satu hal.
Yang ingin diuji bukan kecerdasannya.
Tapi batasnya.
Dan yang lebih mengganggu—
Sebagian dari dirinya… mulai menikmati tantangan itu.
Di tempat lain, seseorang menutup buku catatan kecilnya.
Subjek menunjukkan ketertarikan emosional terhadap permainan.
Lampu dipadamkan.
Senyum tipis muncul dalam gelap.
Permainan belum membutuhkan darah.
Karena retakan yang paling efektif
bukan yang terlihat dari luar.
Melainkan yang tumbuh perlahan di dalam.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y