NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan Belas

Tujuh tahun telah berlalu, namun waktu seolah membeku bagi seorang Kenneth Graciano.

Di pesta pernikahan Zacky yang digelar mewah di sebuah resor tepi pantai, Kenneth berdiri di sudut balkon dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.

Aura kepemimpinannya semakin matang, namun sorot matanya jauh lebih dingin dan tertutup dibandingkan tujuh tahun lalu.

James sudah lama menghilang dari lingkaran mereka. Sejak kejadian pemukulan oleh Arthur dan terbongkarnya fakta bahwa Kenneth-lah yang selama ini tidur dengan Hazel, persahabatan mereka hancur berkeping-keping.

James memilih pergi ke luar negeri dan memutus semua kontak.

Aiden, yang kini menjadi tangan kanan sekaligus satu-satunya sahabat yang tersisa bagi Kenneth, menghampiri sambil membawa dua gelas sampanye.

"Zacky akhirnya menyerah pada komitmen," ucap Aiden ringan, mencoba mencairkan suasana. "Siapa sangka si berengsek itu yang lebih dulu naik pelaminan dibanding kita?"

Kenneth hanya tersenyum tipis, sebuah senyum formal yang tidak mencapai mata. Ia menyesap minumannya sambil menatap hamparan laut lepas.

Aiden terdiam sejenak, mengamati sahabatnya. Ia tahu betul selama tujuh tahun ini, Kenneth adalah pria paling sukses sekaligus paling kesepian di Queenstown.

 Banyak wanita cantik dari kalangan kelas atas mencoba mendekat, namun tidak ada satu pun yang berhasil melewati pintu apartemennya, apalagi hatinya.

"Ken," panggil Aiden dengan nada yang lebih serius. "Aku harus bertanya... sampai kapan? Kita sudah hampir kepala tiga. Kau punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, wajah yang membuat para model rela mengemis. Tapi kenapa kau masih betah menjomblo? Apa kau benar-benar berencana menjadi biarawan seumur hidup?"

Kenneth tidak ingin keributan terjadi, apalagi jika itu menyangkut rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama tujuh tahun ini.

Baginya, hubungan gelapnya dengan Hazel, kehamilan itu, dan dendam masa lalu adalah rahasia suci yang hanya diketahui oleh keluarga inti dan dirinya sendiri.

Bahkan Aiden dan Zacky pun hanya tahu bahwa Kenneth terobsesi pada Hazel dulu, namun mereka tidak pernah tahu bahwa Hazel mengandung anak Kenneth.

Bagi mereka, Hazel hanyalah gadis yang dibawa pergi Arthur karena perselisihan keluarga.

"Ken! Aiden! Kalian tidak akan percaya siapa yang baru saja mengirimkan kado pernikahan dan berdiri di daftar tamu VIP terakhir!" teriak Zacky terengah-engah.

Kenneth langsung menatap Zacky dengan tajam, memberikan isyarat dingin yang membuat Zacky seketika bungkam.

"Zacky, jaga mulutmu," desis Kenneth dengan nada mengancam. "Jangan membuat drama di hari pernikahanmu sendiri."

Zacky menelan ludah, ia segera sadar bahwa ia hampir melewati batas. "Maaf, Ken. Aku hanya terkejut melihat nama pengirimnya."

Kenneth berjalan menjauh dari kerumunan, menuju lobi yang lebih sepi. Di sana, seorang pelayan membawa sebuah kotak kayu hitam elegan dengan kartu ucapan berwarna emas.

Kenneth mengambil kartu itu, jantungnya berdecap tidak keruan.

Di kartu itu tertulis: "Selamat atas pernikahanmu, Zacky. Maaf aku tidak bisa hadir secara langsung. - H.C."

Kenneth membalik kartu itu, dan di baliknya ada tulisan tangan yang sangat kecil, yang hanya bisa dimengerti olehnya: "Dia mirip sekali denganmu saat sedang marah."

Tangan Kenneth gemetar. Kalimat itu adalah konfirmasi yang selama ini ia tunggu-tunggu. Anaknya benar-benar ada, dan Hazel sedang mengawasinya dari suatu tempat.

"Ken? Ada apa?" tanya Aiden yang menyusul dari belakang, merasa penasaran namun tetap menjaga jarak.

Kenneth dengan cepat memasukkan kartu itu ke dalam saku jasnya. Ia kembali memasang wajah datar dan dinginnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak akan membiarkan Aiden, James, atau siapapun tahu bahwa ia baru saja mendapatkan bukti tentang keberadaan darah dagingnya.

"Bukan apa-apa. Hanya kado dari rekan bisnis lama," bohong Kenneth dengan sempurna.

Ia kemudian menatap ke arah pintu keluar, merasa bahwa Hazel mungkin ada di sekitar sini, di balik kaca mobil yang gelap atau di antara kerumunan tamu yang tak terlihat.

Kenneth menyadari bahwa permainan petak umpet ini akan segera berakhir. Hazel sudah memberinya umpan, dan kali ini, Kenneth tidak akan membiarkan siapapun menghalanginya—termasuk Arthur.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!