"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Sembunyi di Gudang Tua
Bab 14: Sembunyi di Gudang Tua
Hujan badai mengguyur pinggiran kota dengan intensitas yang seolah ingin menghapus jejak keberadaan manusia. Di sebuah kawasan industri yang terbengkalai, sebuah gudang tua dengan atap seng yang berkarat menjadi satu-satunya perlindungan bagi Kenzi dan Alana. Suara rintik hujan yang menghantam atap logam menciptakan kebisingan statis, memberikan kamuflase akustik yang sempurna bagi mereka, namun sekaligus mengisolasi mereka dalam kesunyian yang mencekam.
Kenzi menutup pintu besi geser gudang tersebut dengan perlahan, memastikan pengaitnya terkunci dari dalam. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya hanya berasal dari kilatan petir yang sesekali menembus celah-celah ventilasi tinggi, memberikan siluet dramatis pada tumpukan palet kayu dan mesin-mesin berkarat yang tak lagi berfungsi.
Alana duduk bersandar pada dinding beton yang dingin. Pakaian sutranya kini basah kuyup, menempel pada kulitnya yang pucat. Rambutnya berantakan, dan wajahnya yang biasanya dipoles riasan mahal kini hanya menyisakan guratan kelelahan dan ketakutan.
"Lepas pakaian luar Anda," ujar Kenzi tanpa emosi.
Alana mendongak, matanya yang besar berkilat karena terkejut. "Apa?"
"Hipotermia adalah ancaman logis saat ini. Suhu tubuh Anda turun secara drastis, dan pakaian basah akan mempercepat proses hilangnya panas tubuh. Saya tidak memiliki peralatan medis untuk menangani kegagalan organ akibat suhu dingin," jelas Kenzi sambil mengeluarkan korek api taktis dan beberapa lembar kertas kering dari tas kedap airnya.
Kenzi mulai menyusun potongan kayu palet yang ia hancurkan dengan satu tendangan presisi. Tak lama kemudian, sebuah api kecil mulai berkobar, memberikan cahaya temaram dan sedikit kehangatan di tengah ruangan yang luas itu.
Alana ragu sejenak, namun logika dingin Kenzi mulai merasuki pikirannya. Ia melepas blazer luarnya yang berat oleh air, menyisakan blus tipis yang kini transparan. Ia merangkak mendekati api, tangannya yang gemetar dijulurkan ke arah panas.
Kenzi berdiri di dekat ventilasi, menatap ke arah luar. Tangannya tetap berada pada pangkal senjatanya. Ia tidak menoleh ke arah Alana, menjaga jarak profesional yang kaku.
"Kenapa kau melakukannya, Kenzi?" suara Alana memecah kebisingan hujan. Suaranya terdengar rapuh, hampir tenggelam oleh suara guntur.
"Melakukan apa?"
"Menyelamatkanku. Tadi... di hutan. Kau bisa saja lari sendiri. Kau lebih cepat jika tidak membawaku. Dan orang-orang itu... mereka mengenalmu. Mereka menyebutmu 'setan dari organisasi'." Alana menatap punggung Kenzi yang tegap. "Siapa sebenarnya yang ingin membunuhku? Dan kenapa kau justru melindungiku?"
Kenzi terdiam. Secara internal, ia sedang memproses data. Analisis Kepercayaan Subjek: 78%. Risiko Pengakuan: Tinggi. Namun, isolasi psikologis memerlukan narasi yang koheren untuk menjaga stabilitas target.
"Dunia ini tidak bergerak berdasarkan narasi pahlawan dan penjahat, Nona Alana," Kenzi berbalik, wajahnya setengah gelap terkena bayangan api. "Dunia bergerak berdasarkan kepentingan dan struktur. Ayah Anda memiliki musuh yang banyak karena struktur bisnisnya yang agresif. Tugas saya adalah menjaga aset—yaitu Anda—tetap utuh sesuai kontrak."
"Kontrak?!" Alana tertawa getir, tawa yang terdengar seperti tangisan. "Kau masih bicara soal kontrak saat peluru beterbangan di atas kepala kita? Aku melihat matamu saat kau membunuh mereka, Kenzi. Tidak ada keraguan. Kau bukan pengawal biasa. Kau adalah salah satu dari mereka, bukan? Pembunuh bayaran yang entah bagaimana berakhir di rumahku."
Kenzi melangkah mendekat, bayangannya memanjang di dinding gudang. "Jika saya adalah pembunuh yang dikirim untuk Anda, Anda sudah mati di gerbang belakang pada hari pertama saya masuk bekerja. Logikanya sederhana: saya adalah variabel yang paling aman untuk Anda saat ini."
Alana bangkit berdiri, meski kakinya masih lemas. Ia berjalan mendekati Kenzi hingga mereka hanya terpisah oleh api kecil di antara mereka. "Aman? Bagaimana aku bisa merasa aman dengan seseorang yang identitasnya saja tidak aku ketahui? Siapa kau sebenarnya? Kenzi itu bukan namamu, kan?"
"Nama adalah label yang tidak relevan dalam taktis lapangan," jawab Kenzi dingin.
"Bagi mesin sepertimu mungkin iya! Tapi bagiku, itu segalanya!" Alana berteriak, suaranya menggema di langit-langit gudang. "Ayahku pembohong, musuh-musuhnya ingin kepalaku, dan sekarang aku terjebak di gudang berkarat dengan seorang pria yang punggungnya penuh luka dan hatinya lebih dingin dari es! Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya!"
Kilatan petir yang sangat terang menyambar di luar, diikuti oleh ledakan guntur yang menggetarkan lantai gudang. Alana tersentak, refleksnya membuatnya hampir jatuh jika Kenzi tidak menangkap lengannya dengan sigap.
Kenzi menatap langsung ke dalam mata Alana. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergeser dalam tatapan robotik pria itu. Bukan simpati, namun sesuatu yang lebih dalam dan gelap—sebuah refleksi dari rasa sakit yang sama.
"Kepercayaan adalah komoditas yang mahal, Nona," bisik Kenzi. Suaranya rendah, hampir menyatu dengan suara hujan. "Di dunia saya, kepercayaan berarti kematian. Tapi jika Anda mencari kepastian... pegang ini."
Kenzi meraih tangan Alana dan menempelkannya pada dadanya, tepat di atas jantungnya. Alana bisa merasakan detak jantung Kenzi—sangat stabil, sangat kuat, namun tidak berpacu meski mereka baru saja lolos dari maut.
"Jantung ini berdetak untuk menjalankan misi. Dan misi saya saat ini adalah memastikan Anda tetap bernapas," Kenzi melepaskan tangan Alana. "Saya bukan orang baik. Saya memiliki dosa yang tidak bisa Anda bayangkan. Tapi saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Anda selama saya masih berdiri. Apakah itu cukup untuk menjadi dasar 'kepercayaan' Anda?"
Alana tertegun. Ia merasakan kehangatan dari tangan Kenzi yang tadi menyentuhnya, kontras dengan dinginnya air hujan. Ia menyadari sebuah fakta yang menakutkan: di dunia yang kini berbalik memusuhinya, satu-satunya orang yang bisa ia percaya justru adalah pria yang paling berbahaya bagi jiwanya.
"Kau... kau sangat menakutkan, Kenzi," bisik Alana.
"Ketakutan adalah mekanisme pertahanan alami. Gunakan itu untuk tetap waspada," sahut Kenzi, kembali ke nada datarnya.
Tiba-tiba, jam tangan Kenzi bergetar. Sensor perimeter yang ia pasang di radius 50 meter mendeteksi pergerakan. Ada tanda panas yang mendekat dari tiga arah yang berbeda.
"Matikan apinya. Sekarang," perintah Kenzi.
Kenzi segera menendang tumpukan kayu palet yang terbakar, menginjak apinya hingga padam total, menyisakan kegelapan pekat di dalam gudang. Ia menarik Alana ke belakang sebuah mesin pemotong baja besar.
"Mereka sudah di sini?" tanya Alana dengan suara bergetar.
"Satu tim taktis. Mungkin lima hingga tujuh orang. Mereka memiliki alat pengindraan malam (night vision). Jangan bersuara sedikit pun. Bernapaslah melalui hidung secara perlahan," Kenzi mengeluarkan senjatanya dan memasang peredam suara dengan gerakan mekanis yang terlatih.
Di luar, suara derap sepatu boot yang menginjak genangan air mulai terdengar di sela-sela hujan. Suara radio panggil yang lirih terdengar di kejauhan.
"Target terdeteksi di dalam gudang 404. Masuk dengan formasi Delta. Ambil gadis itu hidup-hidup, eliminasi pengawalnya," sebuah suara dingin terdengar dari luar pintu besi.
Kenzi menutup matanya sejenak, melakukan visualisasi ruang gudang dalam kegelapan total. Ia mengenal setiap sudut palet, setiap mesin, dan setiap lubang di lantai. Ini bukan lagi pelarian; ini adalah perburuan di ruang sempit.
"Kenzi..." Alana memegang ujung jaket Kenzi dengan sangat erat.
"Jangan lepaskan pegangan Anda pada mesin ini. Apapun yang Anda dengar, jangan bergerak," bisik Kenzi di telinga Alana.
Pintu besi gudang mulai bergeser terbuka dengan suara derit yang menyayat hati. Cahaya laser merah mulai menyapu kegelapan, mencari tanda-tanda kehidupan. Kenzi menghilang ke dalam bayang-bayang, bergerak tanpa suara seolah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.
Alana meringkuk, menutup matanya rapat-rapat. Di dalam kegelapan itu, ia menyadari satu hal yang lebih pahit dari kenyataan manapun: satu-satunya harapannya untuk melihat matahari esok hari bergantung pada sosok "setan" yang sedang berburu di balik bayang-bayang.
Hujan terus turun, menyembunyikan suara langkah kaki Kenzi yang sedang bergerak menuju mangsa pertamanya.