Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
Suasana di dalam ruang rapat OSIS SMP Super Internasional sore itu terasa lebih mencekik dari biasanya. Meskipun AC di ruangan tersebut disetel ke suhu terendah, keringat dingin membasahi dahi beberapa anggota tim gabungan. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar menjadi saksi bisu dari perang dingin yang kian hari kian memanas antara Senara dan Bima.
Proyek "Sains Terapan" telah memasuki fase pengembangan purwarupa. Senara, sebagai ketua, sedang memaparkan rencana distribusi modul pembelajaran ke sekolah-sekolah di pelosok kabupaten.
"Kita akan membagi tim menjadi tiga divisi lapangan," jelas Senara, suaranya tenang namun penuh penekanan. "Divisi satu akan menangani teknis alat, divisi dua untuk edukasi masyarakat, dan divisi tiga untuk dokumentasi data. Semua harus berjalan paralel mulai minggu depan."
Sret.
Suara gesekan kursi kayu di lantai marmer memotong kalimat Senara. Bima menyandarkan tubuhnya, melipat tangan di depan dada dengan ekspresi yang sangat tidak puas. Di sampingnya, Dion, tangan kanan setianya, langsung mengeluarkan buku catatan dengan gaya menantang.
"Pembagian yang sangat... tradisional," sela Bima, nada bicaranya tenang namun sarat akan racun. "Senara, kamu bertindak seolah-olah kita sedang menjalankan bakti sosial desa. Ini adalah proyek prestise regional. Membagi tim menjadi divisi edukasi masyarakat hanya akan membuang-buang sumber daya manusia kita yang ber-IQ tinggi untuk melakukan hal-hal remeh."
Senara menghela napas, mencoba menahan emosi yang mulai merayap di dadanya. "Edukasi itu krusial, Bima. Alat sehebat apa pun tidak akan berguna kalau masyarakat tidak tahu cara merawat dan menggunakannya. Itu inti dari sains terapan."
"Tidak," potong Bima lagi, kali ini lebih tajam. "Inti dari proyek ini adalah hasil data yang solid untuk dipresentasikan di depan juri nasional. Kita harus memfokuskan semua orang di Divisi Teknis dan Analisis Data. Sisanya? Itu hanya hiasan. Aku tidak setuju dengan pembagianmu."
Dion segera menimpali, "Betul kata Bima. Kita di sini untuk menang, bukan untuk menjadi pahlawan lingkungan. Rencanamu ini terlalu lembek, Nara."
Keheningan menyelimuti ruangan. Namun, kali ini ada yang berbeda. Jika biasanya anggota tim lain dari SMP Internasional maupun SMP Negeri hanya diam karena takut pada pengaruh Bima atau merasa minder dengan ketegasan Senara, sekarang ekspresi mereka mulai berubah.
Riko, salah satu siswa dari SMP Internasional yang dikenal cukup netral, memberanikan diri mengangkat tangan. "Sebenarnya... aku setuju dengan Senara, Bim. Kemarin saat kita ke lapangan, aku lihat sendiri warga bingung melihat alat kita. Kalau kita tidak edukasi, alat itu hanya akan menjadi sampah besi dalam sebulan."
Bima menoleh perlahan ke arah Riko. Matanya menyipit, memberikan tatapan intimidasi yang biasanya membuat siapa pun bungkam. "Kamu lebih memilih metode lambat Senara daripada efisiensi yang aku tawarkan, Riko? Ingat siapa yang menyusun portofolio prestasimu tahun ini."
Ancaman itu tersirat, namun sangat jelas bagi semua orang di sana. Ruangan itu kembali hening, tapi kali ini suasananya tidak lagi penuh hormat, melainkan penuh kegelisahan.
Konflik terus meruncing sepanjang sore itu. Setiap kali Senara memberikan instruksi, Bima selalu menemukan cara untuk menyela. Tidak ada satu pun kalimat Senara yang dibiarkan lewat tanpa kritik pedas dari Bima.
"Metode pengumpulan datamu tidak akurat," sela Bima saat Senara membahas tabel observasi.
"Jadwal yang kamu buat berantakan," tukas Bima saat Senara membahas lini masa.
"Pemilihan lokasimu terlalu emosional, kamu hanya ingin membantu daerah asalmu," tuduh Bima saat Senara menentukan titik riset baru.
Puncaknya terjadi ketika Senara membahas tentang alokasi dana untuk transportasi anggota tim dari SMP Negeri yang kesulitan mencapai lokasi riset karena letaknya yang jauh.
"Kita bisa gunakan sisa anggaran operasional untuk subsidi ongkos mereka," usul Senara.
Bima tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat sinis. "Subsidi? Kita bukan lembaga amal, Senara. Kalau mereka tidak sanggup datang ke lokasi, ya ganti saja dengan anggota lain yang punya kendaraan. Jangan membebani proyek dengan kemiskinan pribadi."
BRAK!
Senara menggebrak meja bundar itu dengan kedua tangannya. Ia berdiri, menatap Bima dengan mata yang menyala karena amarah yang sudah mencapai titik nadir.
"Ini sudah keterlaluan, Bima!" teriak Senara. "Sejak awal rapat, kamu tidak sedang mengkritik proyeknya. Kamu sedang menyerangku secara pribadi! Kamu tidak setuju dengan apa pun yang aku katakan hanya karena itu keluar dari mulutku!"
Bima ikut berdiri, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Senara. "Aku menyerang logikamu yang cacat, Senara. Kalau kamu merasa itu pribadi, mungkin karena kamu memang tidak kompeten!"
"Tidak kompeten?" Senara tertawa getir. "Atau... kamu hanya sakit hati karena kamu kalah voting dariku? Kamu tidak bisa terima kenyataan bahwa anak dari sekolah pinggiran memimpinmu? Kamu menggunakan jabatan wakilmu hanya untuk memuaskan egomu yang terluka, Bima! Kamu merusak kerja keras tim ini hanya karena dendam!"
"Jaga bicaramu!" bentak Dion, mencoba membela bosnya.
"Diam kamu, Dion!" Riko tiba-tiba ikut berdiri. "Senara benar. Kami semua menyadari itu. Bima, ini sudah tidak sehat. Kamu selalu menyela Senara bahkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya masuk akal. Kami datang ke sini untuk kerja tim, bukan untuk menonton kamu balas dendam karena kalah pemilihan."
Satu per satu, anggota lain mulai bersuara.
"Iya, Bim. Rencana Senara soal edukasi itu bagus kok."
"Kita semua mau proyek ini berjalan, bukan hanya mendengar debat kalian setiap hari."
"Kamu terlihat sangat membenci Senara, Bim. Itu mengganggu fokus kami."
Bima tertegun. Ia melihat sekeliling. Teman-teman satu sekolahnya, yang biasanya selalu tunduk padanya, kini menatapnya dengan pandangan kecewa. Mereka mulai sadar bahwa perilaku Bima sudah melampaui batas profesionalisme. Ia bukan lagi sang genius yang perfeksionis, ia terlihat seperti seorang tuan muda kecil yang sedang merajuk karena mainannya diambil.
Bima mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa malu yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Bukan karena ia salah, tapi karena ia tertangkap basah sedang bersikap tidak logis di depan umum, hal yang paling ia hindari.
"Oh, jadi sekarang kalian berpihak pada dia?" desis Bima, suaranya bergetar karena amarah dan malu. "Kalian lebih memilih mengikuti instruksi dari seseorang yang bahkan tidak punya akses ke jurnal sains internasional tanpa bantuan sekolah kita?"
"Ini bukan soal siapa yang punya akses apa, Bima," ujar Senara, suaranya mendadak merendah, namun lebih tajam dari sebelumnya. "Ini soal siapa yang mau bekerja untuk tim. Kamu terlalu tinggi di atas sana, sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang berdiri sendirian. Tim ini setuju denganku bukan karena mereka membencimu, tapi karena mereka ingin proyek ini berhasil. Sementara kamu... kamu hanya ingin aku gagal, meskipun itu artinya proyek ini hancur."
Bima menatap Senara dengan kebencian yang murni, ia merasa dikhianati oleh semua orang di ruangan itu. Tanpa sepatah kata pun, Bima menutup laptopnya dengan keras, mengambil tasnya, dan berjalan keluar ruangan.
"Ayo, Dion. Kita pergi. Biarkan mereka tenggelam dengan rencana rakyat mereka," ujar Bima dingin.
Dion sempat ragu, namun ia akhirnya mengikuti langkah Bima. Pintu ruang rapat dibanting dengan keras, meninggalkan kesunyian yang berat di dalam.
Setelah Bima pergi, suasana ruangan tidak lantas menjadi tenang. Senara terduduk kembali di kursinya, menyandarkan kepalanya di meja. Ia merasa sangat lelah. Kemenangan moral barusan terasa hambar karena ia tahu, Bima tidak akan berhenti di sini. Laki-laki itu akan menjadi musuh yang lebih berbahaya saat ia bergerak dalam bayangan.
"Nara, kamu tidak apa-apa?" tanya Maya, anggota dari SMP 12.
Senara menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bicara tadi, Riko. Aku tahu itu tidak mudah buatmu."
Riko menghela napas. "Bima memang jenius, tapi belakangan ini dia sudah kelewatan. Dia seolah terobsesi untuk menjatuhkanmu. Kami semua bisa merasakannya."
Malam itu, Senara pulang dengan perasaan was-was. Ia tahu karakter Bima. Bima bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipermalukan, Bima adalah tipe orang yang akan membakar seluruh bangunan hanya untuk memastikan tikus yang ia benci ikut terbakar di dalamnya.
Di sisi lain kota, Bima sedang berada di balkon rumahnya yang luas, menatap lampu-lampu kota dengan mata yang gelap. Ia tidak menyentuh makan malamnya. Kata-kata Senara terus terngiang di kepalanya. “Kamu terlalu tinggi di atas sana, sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang berdiri sendirian.”
"Kamu pikir kamu sudah menang, Senara?" gumam Bima pada kegelapan. "Kamu baru saja membuat tim itu berbalik melawanku. Sekarang, aku tidak punya alasan lagi untuk bermain adil. Kalau kamu ingin sains untuk masyarakat, aku akan berikan realitas masyarakat yang sebenarnya padamu."
Bima mengambil ponselnya, bukan untuk menghubungi tim, tapi untuk menghubungi asisten ayahnya. Ia mulai mencari celah hukum dan administratif yang bisa ia gunakan untuk menarik dukungan fasilitas dari sekolahnya terhadap proyek tersebut secara legal, dengan alasan ketidakstabilan manajemen tim.
Konflik pribadi ini telah merobek persatuan tim gabungan. Di tengah masa kelas dua SMP yang harusnya penuh dengan eksplorasi, Bima dan Senara justru terjebak dalam pusaran dendam yang semakin dalam. Ambisi untuk menjadi nomor satu kini telah bercampur dengan keinginan untuk saling menghancurkan secara mental.
Besok, proyek itu akan tetap berjalan, namun dengan retakan yang sangat besar. Dan di balik retakan itu, Bima sedang mempersiapkan serangan yang tidak akan menyerang logika Senara, melainkan menyerang satu-satunya hal yang paling berharga bagi Senara. Status beasiswanya.