Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Rabu, 22 Mei Pukul 04.45 WIB
Area Camp, Kilometer Tujuh
Yazid membuka ritsleting tenda saat langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu samar yang belum memilih warna. Di dalam tenda, empat orang lainnya masih terjaga sepenuhnya. Tak ada yang benar-benar berhasil beristirahat, tapi tak seorang pun mengeluh. Shift yang direncanakan Runa berjalan dengan caranya sendiri tidak ada yang benar-benar bergantian, karena tidak ada yang mampu benar-benar melepaskan kewaspadaan.
Udara subuh yang masuk melalui celah ritsleting terasa berbeda dari malam tadi. Lebih dingin, lebih bersih, lebih segar. Kabut yang semalam tebal sudah turun ke ketinggian lebih rendah, meninggalkan jarak pandang yang jauh lebih baik.
Yazid melangkah keluar. Headlamp dinyalakan.
Ia menyinari area camp secara sistematis kiri, kanan, depan, tepi pepohonan.
Lalu ke bawah.
Ke tanah basah di pinggir camp.
Yazid berdiri membeku.
Jejak kaki semalam masih ada. Tanah di bagian atasnya mulai mengering, tapi cetakannya masih jelas. Namun ada yang berbeda.
Jejak itu kini jauh lebih banyak.
Bukan lagi satu set yang masuk ke camp. Ada beberapa set. Dari arah yang sedikit berbeda, tapi semuanya bermuara ke satu titik area sempit di antara dua tenda.
Dan beberapa di antaranya membentuk pola yang sulit dijelaskan dengan kata sederhana.
Setengah lingkaran.
Mengitari tenda pertama.
Yazid memutar kepalanya pelan, menyinari satu set jejak ke set berikutnya, mengikuti polanya. Tak ada yang berasal dari jalur pendakian. Tak ada yang datang dari arah camp yang biasa dilewati pendaki. Semua berasal dari barat. Dari dalam hutan. Dan semua berakhir di sini.
Di sekitar tenda tempat Zidan berada.
Yazid mematikan headlamp-nya.
Dalam kegelapan subuh yang baru mulai berubah menjadi abu-abu, ia berdiri diam di antara dua tenda.
Sesuatu sudah ada di sini.
Sudah sangat dekat.
Dan sesuatu itu tidak menyerang semalam bukan karena tidak mampu.
Melainkan karena sedang menunggu waktu yang lebih tepat.
Yazid kembali ke tenda.
“Bangun,” katanya. Satu kata saja, tapi dengan nada yang membuat semua orang di dalam tenda langsung bergerak. “Kita turun sekarang.”
Rabu, 22 Mei Pukul 04.50 WIB
Jalan Menuju Kaki Gunung Ciremai
Dua kendaraan militer tanpa tanda bergerak dalam kegelapan subuh di jalan yang masih sepi.
Tak ada sirene. Tak ada lampu rotator. Hanya dua kendaraan yang melaju dengan kecepatan lebih dari sekadar tergesa, tapi belum mencapai titik panik.
Di kursi depan kendaraan pertama, Satria memegang radio dengan satu tangan sambil menatap jalan di depannya. Matanya sudah melewati fase kantuk dan berada di sisi lain jenis kewaspadaan yang muncul ketika tubuh memutuskan bahwa tidur bukan lagi pilihan.
Di pangkuannya tergeletak folder tipis berisi laporan singkat dari Mayor Handoko, digabung dengan catatan dari Dr. Sakira yang dikirim lewat surel dua jam lalu setelah telepon pertama mereka.
Satria sudah membacanya dua kali.
Lima pendaki aktif. Jalur Linggarjati. Terakhir terkonfirmasi masuk pukul 11.47 pagi kemarin. Tidak ada komunikasi sejak memasuki jalur. Estimasi posisi saat ini: area camp kilometer tujuh atau sedang dalam proses turun.
Kondisi objek utama: stadium lanjut. Potensi bahaya tinggi dalam jarak dekat. Mekanisme penularan belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Satria melipat folder itu dan menyimpannya di dashboard.
Radio di tangannya menyala. Suara Tio dari kendaraan kedua terdengar.
“Berapa lama lagi sampai pos?”
“Dua puluh menit.”
“Dan dari pos ke kilometer tujuh?”
“Dua jam kalau jalurnya bersih. Lebih kalau kabut masih menggantung di bawah.”
“Lima remaja di atas sana.”
“Iya.”
“Mereka tahu kita sedang datang?”
“Tidak.”
Suara Tio di radio tidak langsung menjawab. Lalu, “Semoga mereka masih di camp.”
Satria menatap jalan di depannya jalan yang ujungnya, di balik belokan-belokan yang masih beberapa kilometer lagi, akan membawa mereka ke kaki gunung yang puncaknya masih tertutup sisa kabut malam.
“Semoga,” katanya pelan.
Di luar jendela, langit di timur sudah menunjukkan garis tipis warna jingga pertama.
Subuh.
Dan di atas sana, di ketinggian yang belum tersentuh cahaya jingga itu, lima orang sedang merapatkan carrier mereka di dalam tenda yang masih gelap, mengikuti satu kata yang diucapkan Yazid dengan nada yang tak bisa dibantah.
Turun.
Sekarang.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪