NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.

Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 19.

Di dalam ruang observasi rumah sakit Cakrawala, beberapa dokter dan perawat segera mengambil alih penanganan. Ibu Angkasa dipindahkan ke tempat tidur pasien.

Arunika berdiri di dekat monitor medis, memperhatikan setiap angka yang muncul di layar.

“Tekanan darah mulai stabil,” kata salah satu dokter.

Arunika mengangguk pelan, namun ia masih belum benar-benar santai. Neurotoksin yang masuk ke tubuh pasien memang sudah dinetralisir, tetapi efek sampingnya bisa muncul kembali jika ada sisa senyawa yang belum terurai.

Angkasa berdiri di dekat pintu ruangan, matanya terus mengikuti Arunika. Cara wanita itu bekerja sangat berbeda dari dokter lain. Tenang, dan presisi. Dan selalu beberapa langkah lebih cepat dari semua orang.

Akhirnya Arunika melepas sarung tangan medisnya. “Untuk sementara kondisi Ibu Anda aman, saya akan terus memantaunya.”

Angkasa menghela napas panjang.

“Terima kasih.”

Arunika hanya mengangguk kecil, dia berjalan keluar. Namun baru saja pintu ruangan tertutup, seseorang datang dengan langkah tergesa-gesa.

Simon.

Begitu melihat Arunika, langkahnya langsung berhenti. Beberapa detik mereka hanya saling menatap, suasana langsung berubah aneh.

Pria itu melangkah mendekat, tatapannya menelusuri penampilan Arunika yang kini mengenakan perlengkapan dokter. “Jadi benar… kamu Dokter Jenius itu?”

Arunika tidak menjawab. Ia hanya menatap Simon dengan wajah datar, tanpa sedikit pun emosi.

Tatapan Simon tajam, seolah mencoba menembus ketenangan wanita itu. “Pantas saja, selama ini kau selalu penuh rahasia.”

Tepat saat itu, Angkasa keluar dari ruangan. Simon segera menoleh ke arahnya.

“Jadi kau sudah tahu siapa Arunika sebenarnya,” katanya dengan nada sinis. “Dia Dokter Jenius yang kau bilang sebagai tim medis proyekmu.”

Ia tersenyum tipis. “Tidak heran kau begitu peduli padanya.”

Simon lalu kembali menatap Arunika, sorot matanya dipenuhi campuran amarah dan ejekan. “Kau memang hebat, Arunika. Selama ini kau berhasil membodohiku!”

Arunika tetap tenang. “Jika kau datang hanya untuk membicarakan itu, lebih baik kita lanjutkan di waktu lain.”

Simon tertawa pelan.

“Aku hanya penasaran.” Pria itu menunduk sedikit agar hanya Arunika yang mendengar. “Berapa banyak hal lagi yang kau sembunyikan dariku?”

Arunika menatap Simon tanpa gentar. “Lebih banyak daripada yang bisa kau pahami.”

Simon terdiam.

Sekali lagi, ia merasa benar-benar tidak mengenal wanita yang dulu menjadi istrinya.

Sementara itu, di sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah sakit. Seorang pria duduk santai di kursi belakang, ponsel berada di tangannya. Di layar ponsel, terlihat rekaman dari kamera pengawas rumah sakit.

Pria itu tersenyum tipis ketika melihat Arunika di layar. “Kau orang hebat, sayang sekali harus aku bunuh.”

Orang itu menutup ponselnya perlahan, tatapannya dingin.

___

Di lorong rumah sakit Cakrawala, suasana menjadi sunyi setelah Simon pergi. Lampu putih yang terang membuat bayangan setiap orang terlihat jelas di lantai marmer.

Angkasa berdiri beberapa langkah dari Arunika. Ia memandang wanita itu cukup lama, seolah masih memproses apa yang baru saja terjadi di pesta dan di rumah sakit malam ini.

“Akhirnya… suamimu tahu,” kata Angkasa akhirnya.

Arunika menyimpan kembali ponselnya ke dalam clutch kecilnya. Ekspresinya kembali datar, seperti biasa. “Tidak masalah.”

Angkasa sedikit mengernyit. “Tidak masalah?”

Arunika menatap lurus ke depan lorong rumah sakit.

“Cepat atau lambat semua orang juga akan tahu.” Ia melangkah pelan menuju ruang observasi, tetapi Angkasa menahannya dengan suara.

“Arunika.”

Wanita itu berhenti.

“Pesan tadi, dari siapa?” Tanya Angkasa.

Arunika terdiam beberapa detik. Ia tidak berniat menyembunyikan semuanya dari Angkasa, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa ia katakan sekarang.

“Sepertinya, dari seseorang yang sudah lama mengincarku,” jawabnya tenang.

Angkasa menatapnya tajam. “Dalang pembunuhan orang tuamu?”

Arunika tidak menjawab langsung, namun sorot matanya yang dingin sudah cukup menjadi jawaban.

Angkasa menghela napas pelan. “Kalau seseorang berani mengirim pesan seperti itu tepat setelah kejadian di pesta… berarti dia tahu identitasmu.”

Arunika mengangguk. “Bukan hanya tahu, dia juga... selalu memperhatikanku.”

Kalimat itu membuat suasana lorong terasa lebih dingin.

Angkasa langsung memikirkan sesuatu. “Kau pikir orang yang meracuni ibuku di pesta ada hubungannya dengan orang itu?”

“Bisa jadi.”

Arunika berjalan lagi, kali ini menuju jendela besar di ujung lorong. Dari sana terlihat lampu-lampu kota yang masih hidup meski malam semakin larut.

“Orang seperti dia tidak akan bergerak tanpa tujuan.” Angkasa berdiri di sampingnya. “Dia menargetkan mu?”

Arunika menatap ke luar jendela. “Belum tentu.”

Ia memutar tubuhnya sedikit. “Bisa saja dia hanya ingin melihat seberapa jauh aku akan bereaksi.”

Angkasa menyipitkan mata. “Permainan psikologis.”

Arunika mengangguk pelan.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Akhirnya Angkasa berkata, “Mulai sekarang, kau tidak boleh bergerak sendirian.”

Arunika mengangkat alis tipis.

“Perintah dari pemilik rumah sakit?”

“Bukan.” Angkasa menatapnya serius. “Dari seseorang yang tidak ingin kau mati.”

Arunika tidak menjawab, tetapi ada sedikit perubahan di matanya. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, seorang perawat datang tergesa-gesa dari arah ruang observasi.

“Dokter Arunika!”

Keduanya langsung menoleh.

“Ada apa?” tanya Arunika.

Perawat itu terlihat gugup.

“Pasien di ruang observasi… kondisi beliau tiba-tiba berubah!”

Angkasa langsung tegang. “Ibuku?”

Perawat mengangguk cepat.

Tanpa berkata apa pun lagi, Arunika langsung berlari menuju ruang observasi.

Pintu ruangan terbuka cepat.

Monitor medis berbunyi tajam.

Bip—bip—bip—

Detak jantung ibu Angkasa di layar tiba-tiba menjadi tidak stabil.

Salah satu dokter terlihat panik. “Toksin itu masih bereaksi!”

Arunika langsung mengambil sarung tangan medis. “Semua orang mundur sedikit.”

Suara Arunika tetap tenang, tetapi penuh otoritas. Para dokter tanpa sadar langsung mengikuti perintahnya.

Ia memeriksa pupil pasien, lalu melihat kembali monitor. “Bukan sisa toksin,” gumamnya.

Angkasa yang berdiri di dekat pintu langsung menegang. “Apa maksudmu?”

Arunika menatap layar dengan serius. “Ini bukan reaksi sisa racun.”

Ia mengambil alat injeksi dari meja medis.

“Ini reaksi pemicu kedua.”

Ruangan langsung sunyi.

Salah satu dokter bertanya dengan bingung, “Pemicu kedua?”

Arunika menatap ibu Angkasa yang terbaring lemah. “Racun yang digunakan bukan satu jenis.”

Ia menyiapkan obat lain dari tas medis kecilnya—botol kecil tanpa label. Angkasa langsung mengenalinya, obat racikan pribadi Arunika.

“Pelakunya sengaja membuat racun berlapis,” lanjut Arunika. “Jika penawar pertama berhasil, racun kedua akan aktif beberapa jam kemudian.”

Para dokter saling berpandangan, teknik seperti itu bukan sesuatu yang biasa. Itu adalah metode pembunuhan yang sangat rumit.

Arunika menatap tajam pada monitor.

“Orang ini tidak hanya ingin membunuh…” Ia menyuntikkan obat racikannya ke infus pasien. "Dia ingin memastikan targetnya benar-benar mati.”

Monitor berbunyi keras selama beberapa detik, Angkasa menahan napas. Beberapa detik yang terasa seperti menit berlalu.

Lalu—

Bip… bip… bip…

Detak jantung di layar kembali stabil, seluruh ruangan menghembuskan napas lega.

Arunika perlahan melepas sarung tangannya.

“Ibu Anda selamat.”

Angkasa menatapnya dengan campuran rasa syukur dan kemarahan. “Siapa yang melakukan ini…”

Arunika menatap monitor dengan dingin. “Aku tebak, orang yang sama dengan yang mengirim pesan padaku.”

Di luar rumah sakit, mobil hitam itu masih terparkir dalam kegelapan. Di kursi belakang, pria misterius itu melihat layar tablet kecil di tangannya. Rekaman dari kamera ruang observasi, ia melihat Arunika menyelamatkan pasien sekali lagi.

Pria itu tersenyum pelan. “Seperti yang kuduga.”

Ia menutup tablet itu, matanya yang dingin menatap ke arah gedung rumah sakit Cakrawala.

“Semakin menarik.”

Pria itu berbisik pelan. “Semoga kau tidak mengecewakanku, putri dari keluarga... yang seharusnya sudah mati.”

Mobil hitam itu perlahan menyalakan mesin, lalu menghilang ke dalam pekatnya malam.

1
Mundri Astuti
masa ga bisa bedain si arunika, mana yg tulus dan mana yg modus, kan kamu pernah sama Simon yg modus itu
Aditya hp/ bunda Lia: bener ...
total 1 replies
Tiara Bella
wow ternyata Kenzo jg menyadar klu selama ini angkasa memburu dia
merry
knp gk ksh tau knp gk mau rujuk sm Simon selain di anggp tek berguna blg ajj Simon selingkh dgn doktr riana 🤣🤣🤣🤣
Titien Prawiro
Diperlakukan Arunika.
Titien Prawiro
Malunya diseluruh dunia diperlukan Arunika, dulu dihina gk punya pekerjaan
Aditya hp/ bunda Lia
si Mirna dasar gak tau malu ...
Aditya hp/ bunda Lia
jangan terlalu pede Arunika ntar kalo ternyata cinta itu datang gimana?
Tiara Bella
bagus Arunika Simon sm ibunya mending di gituin biar kapok....
Rere💫: Wkwkwk yesss 🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak yakin kali ini kau yang menang Arunika yang selalu waspada ,dan jangan lengah terus selidiki,pasti bisa.Kejahatan akan kalah oleh kebaikan
sunaryati jarum
Nanti kau akan berakhir ditangan orang,- orang yang orang tua atau kerabatnya kau bunuh Kenzo,jangan jumawa
Muft Smoker
Masih byk Teka teki siih ,,
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tandang aling aling langsung usir
vj'z tri
lah dia dalang nya Mpok /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tiara Bella
ternyata angkasa udh tw tentang Kenzo ini ya plot twist bngt...Vero sadar dong km cm sodara angkat....
Tiara Bella
oh ternyata begono ....
merry
pdhll orgtua vero msh hdp cm di twnn sm Kenzo
Muft Smoker
duuh udh tbc aj niih kak ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️
Rere💫: okeoke
total 1 replies
sunaryati jarum
Kenzo mungkin akan hancur oleh obat buatannya sendiri,dan Angkasa jika kau berjanji akan melindungi Arunika,itu benar.Untuk jangan menyalahkan Arunika,itu salah kamu sendiri yang abai padanya selama ini
Rere💫: Simon kak yg abai, Angkasa itu bukan suaminya yg abai🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Secara tidak langsung ibu Angkasa yang diracun sebagai uji coba obat penawar racun berbahaya buatan Arunika sendiri.Membuatmu makin dikenal.Kau saja bisa lepas dari niat jahat pemberi racun dan kecelakaan ,semoga selanjutnya selalu selamat
sunaryati jarum
Semoga semua teka- teki yang menghantui Arunika segera terkuak dan Arunika selalu selamat dari semua tindak kejahatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!