"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.
Dengan raut wajah pucat pasi, Seana kembali ke aula hotel.
Ketika Velia melihatnya, dia bertanya dengan khawatir. "Lo sakit ya? Kok keliatannya pucet banget".
Seana menatap sahabatnya. Hubungan persahabatan mereka sudah terjalin sejak sma. Menatap Velia, mata Seana langsung berkaca-kaca.
Melihat Seana hampir menangis, Velia segera melihat ke sekeliling mereka. Karena ada banyak orang disekitar mereka, Velia menggandeng tangan Seana dan mengajaknya ke kamar mandi. "Seana, lo kenapa? Pak Zio tadi bentak lo atau apa? Ayo cerita ke gue!" tanya Velia, terlihat khawatir sekaligus panik.
Begitu mereka sampai di kamar mandi, lutut Seana langsung lemas begitu Velia mengunci pintu dibelakang mereka. Dia duduk dilantai dengan wajah pucat. Velia bergegas menghampirinya dan merakul bahunya. "Apa yang udah terjadi, Seana? Jangan sampe Pak Zio ngeliat lo kayak gini. Lo bisa dapet masalah besar," katanya.
Semua orang tahu bahwa presiden Kaivandra Internasional Group adalah pria yang tangguh dan tidak kenal kompromi.
Secantik apa pun para karyawannya, mereka hanyalah aksesoris bagi perusahaan Zio. Menangis di jam kerja juga merupakan sesuatu yang sangat tabu baginya.
Pernah disuatu hari, seorang karyawati ketahuan menangis di kantor karena patah hati. Ketika Zio mengetahuinya, pria itu langsung memecat semua orang yang bekerja di departemen yang sama dengan karyawati itu.
Bagi Zio, cinta tidaklah penting dan cinta itu hanyalah sebuah ilusi. Dia tidak memiliki kemampuan emosianal untuk mengerti tentang perasaan itu.
Seana menangis tersedu-sedu. "Velia, aku harus gimana ini? Aku ngga mau dipecat dan kehilangan pekerjaan selamanya".
"Seana, lo ngomong apa sih? Coba jelasin ke gue dulu ada apa sebenarnya? Pak Zio macem-macem sama lo?" tanya Velia, kebingungan. Dia terlihat sangat lelah saat itu.
"Sebenarnya semalem..." Seana kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Velia, tidak ada kejadian yang terlewat dalam ceritanya.
Velia terdiam. Wajahnya membeku karena terkejut. Dia tetap terdiam untuk waktu yang lama, hanya menyisakan suara isak tangis Seana yang menggema dikamar mandi.
Tak lama kemudian, Velia tersadar kembali dari keterkejutannya. "Seana, lo barusan ngomong apa? Kayaknya gue salah denger deh, iya kan? Ini kamar mandinya agak panas, ya? Kok gue kepanasan" katanya.
"Aku tidur satu ranjang sama Pak Zio semalem" jelas Seana untuk meluruskan semuanya.
Keheningan kembali menyelimuti tempat itu.
Bibir Velia berkedut tanpa dia sadari. "Lo seriusan tidur sama P-pak Zio?" tanyanya dengan ragu-ragu sekaligus gugup. Velia ragu, apakah Seana mengatakan yang sebenarnya. Karena jika kejadian itu benar-benar terjadi, maka situasinya sungguh keterlaluan.
Selama bertahun-tahun, banyak gadis yang berfantasi untuk bisa tidur bersama Kaivandra Sanzio Artamevia, tetapi semuanya berakhir tragis. Mereka yang mencoba merayu atau memaksakan diri pada Zio dan mengaku hamil anak darinya selalu berakhir di rumah sakit dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Velia adalah orang yang merekomendasikan Seana untuk mengambil posisi sebagai asisten presiden di perusahaan tersebut. Jika Zio mengetahui apa yang terjadi, bukan hanya Seana yang akan mendapatkan masalah besar, tetapi bisnis ayahnya sebagai klien Zio juga akan menderita dan mungkin mendapatkan konsekuensi yang mengerikan.
Velia melompat kaget. " Seana! Kapan lo jadi seberani ini, hah?", kemudian gadis itu menyadarkan punggung ke dinding dengan raut wajah kosong.
Melihat reaksi Velia yang berlebihan, air mata Seana semakin deras mengalir tanpa terkendali. Ingatannya kabur ketika kembali bercerita. "Aku juga ngga terlalu inget persisnya gimana dan apa yang terjadi. Tapi, sebelum nganterin Pak Zio yang mabuk berat ke kamarnya, aku sempet minum 3 gelas anggur buat gantiin dia, dan setelah itu semuanya terjadi diluar kendali ku".
"Apa maksud lo? Jangan bilang lo langsung nyium dia saat itu juga?! Tanya Velia dengan mata terbelalak dan mulutnya yang terbuka lebar.
Semua orang tahu gimana karakter Zio. Meskipun setiap karyawan wanita diperusahaan mengidolakannya, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang berani menaruh harapan karena kekejamannya yang terkenal terhadap wanita. Velia tidak percaya bahwa Seana telah tidur dengan Zio!
"Lo udah kerja sama dia selama tiga tahun, emangnya lo ngga tau kalau dia itu cowok yang ngga bisa dideketin?" tanya Velia, mencoba menenangkan dirinya.
Seana menoleh, kedua matanya terlihat memerah. Pikirannya kacau. Tidak ada lagi jejak keberanian yang dimilikinya ketika ia memaksakan dirinya pada Zio kemarin malam. "Aku harus gimana sekarang? Dia mau aku cari cewe yang tidur sama dia dalam waktu 24 jam," katanya dengan gugup.
Seana tidak mungkin menyerahkan diri pada Zio. Karena gadis itu tidak sanggup menanggung konsekuensi mengerikan yang pasti akan terjadi.
Otak Velia kembali mengalami korsleting. "Tunggu dulu, lo tadi ngomong apa? Dia nyuruh lo nyari cewe yang tidur sama dia?".
Seana hanya mengangguk kecil.
"Itu artinya dia belum tau kalau cewe itu elo, dong?"
Seana kembali hanya menganggukkan kepalanya. Sementara air matanya terus membanjiri kedua pipinya. Gadis itu bahkan kesulitan untuk bernapas dengan benar saat itu.
Velia menatap Seana, sahabatnya yang selalu jujur dan sederhana di hadapannya. Melihat sahabatnya dalam masalah yang mengerikan seperti itu sungguh membuatnya merasa kasihan. Velia tidak bisa membayangkan bagaimana Seana bisa begitu berani melakukan apa yang telah dilakukannya tadi malam.
Namun saat itu, Seana sedang dalam keadaan krisis karena toleransinya terhadap alkohol. Jadi, Seana pasti tidak punya waktu untuk terlalu memikirkan kosenkuensinya. "Dia beneran ngga tau kalau itu elo, kan?" tanya Velia lagi, untuk memastikan.
Seana mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Iya, pak Zio ngga tau."
Jelas, jika Zio mengetahui yang sebenarnya, pria itu tidak mungkin meminta Seana untuk mencari tahu siapa itu.
Hal ini membuat Velia bisa bernapas lega karena kabar baiknya pria itu tidak mengetahui siapa itu. Jika Zio mengetahui bahwa itu adalah Seana, keluarga Velia mungkin juga akan mengalami konsekuensi tragis yang sama seperti yang menimpa Seana.
Velia berbalik, membuka pintu kamar mandi untuk memeriksa keadaan di luar. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang di sekitar kamar mandi, dia menutup pintu kembali. Dia kemudian membungkuk dan membisikkan sesuatu ditelinga Seana.
Setelah mendengar ide Velia, Seana menatap Velia dengan cemas. "Kamu yakin rencana itu bakal berhasil?" tanya nya.
"Kita ngga punya pilihan lain sekarang, iya kan? Ayo, kta harus cepat. Kita ngga punya banyak waktu!" dengan itu, Velia membantu Seana berdiri dari lantai. Kedua gadis itu meninggalkan kamar mandi dengan tenang dan menuju ruang keamanan.
Di aula, Zio baru saja meninggalkan panggung setelah melakukan pidato singkat.
Sementara itu, setelah urusan Seana dan Velia selesai di ruang keamanan. Seana menghampiri Zio dengan hormat dan menyerahkan sebuah map berisi dokumen. Kemudian mereka berdua pergi ke ruang santai.
Setelah sampai disana, Seana menegakkan punggungnya. "Pak Zio, saya sudah menemukan yang bapak cari."
Zio duduk disofa dan menatap Seana dengan tatapan dingin.
Mendapati tatapan seperti itu, punggung Seana dipenuhi keringat dingin, tetapi ia berhasil terlihat tetap tenang seperti biasanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV. Setelah mengantar bapak ke kamar tadi malam, tidak ada orang lain yang masuk ke kamar bapak. Liontin itu mungkin ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya" katanya dengan tenang