Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Cemburu Tak Berizin
Ketegangan profesional dan emosional memuncak dengan kehadiran sosok baru yang memancing api cemburu sang sutradara.
Skandal yang beredar di media sosial membuat suasana studio menjadi sangat canggung. Namun, di tengah badai fitnah itu, sebuah proyek baru justru datang sebagai penyelamat sekaligus ancaman. Sebuah brand jam tangan mewah internasional meminta Arlan untuk menyutradarai iklan terbaru mereka. Syaratnya satu: mereka ingin menggunakan aktor yang sedang naik daun, Reihan Malik, sebagai bintang utamanya.
Reihan Malik adalah kebalikan dari Arlan. Dia ramah, penuh pesona, dan sangat mahir mengambil hati semua orang di lokasi—termasuk Adelia.
"Jadi, ini asisten yang jadi perbincangan itu?" Reihan tersenyum lebar saat Adelia menyodorkan naskah di hari pertama syuting. Ia sengaja menahan ujung naskah itu lebih lama, membuat jari-jarinya bersentuhan dengan jari Adelia. "Kamu jauh lebih manis daripada di foto, Adelia."
Adelia menarik tangannya dengan sopan.
"Terima kasih, Mas Reihan. Silakan dipelajari adegan pertamanya."
Dari balik monitor, Arlan memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Ia meremas ballpoint di tangannya hingga terdengar bunyi retakan halus.
"Adelia! Kemari!" suara Arlan menggelegar, kembali ke mode 'Naga' yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
Adelia segera berlari menghampiri. "Iya, Pak—eh, Arlan?"
Arlan menunjuk monitor dengan kasar. "Kenapa make-up Reihan terlalu mengkilap? Dan kenapa kamu berdiri terlalu dekat dengannya? Kamu asisten saya, bukan asisten pribadinya."
Adelia mengernyitkan dahi. "Saya hanya memberikan naskah, Arlan. Dan soal make-up, itu memang konsep dewy look untuk tema 'pagi yang segar' sesuai permintaan Anda kemarin."
Arlan terdiam, namun rahangnya tetap mengeras. "Ganti konsepnya. Saya mau yang lebih maskulin. Dan jangan biarkan dia terlalu banyak bicara denganmu. Itu mengganggu konsentrasi kerja."
Adelia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku Arlan yang tidak rasional. Namun, segalanya menjadi lebih parah saat jam istirahat siang.
Reihan mendekati meja katering tempat Adelia sedang mengatur antrean kru. "Adel, nanti malam ada acara makan malam kru kecil-kecilan. Kamu ikut, ya? Saya yang traktir sebagai perkenalan."
Sebelum Adelia sempat menjawab, Arlan sudah berdiri di belakangnya. "Dia tidak bisa. Adelia harus ikut saya ke ruang editing malam ini. Ada banyak revisi."
Reihan terkekeh, tidak tampak terintimidasi oleh aura dingin Arlan. "Wah, Pak Sutradara ini disiplin sekali, ya? Padahal setahu saya, kerja lembur terus-menerus itu tidak baik untuk kesehatan—dan hubungan."
"Itu bukan urusanmu, Reihan," desis Arlan. Ia menarik lengan Adelia secara protektif. "Ayo, Adelia. Kita harus membahas adegan kedua."
Begitu mereka sampai di tempat yang agak sepi, Adelia melepaskan pegangan tangan Arlan. "Anda kenapa sih? Anda bersikap kekanak-kanakan di depan semua orang!"
"Saya hanya tidak suka cara dia menatapmu," ujar Arlan, suaranya naik satu oktav.
"Dia hanya bersikap ramah! Tidak semua orang punya agenda tersembunyi seperti yang Anda pikirkan," balas Adelia kesal. "Atau jangan-jangan... Anda cemburu?"
Pertanyaan itu membuat Arlan terpaku. Ia memalingkan wajah, namun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong. "Saya? Cemburu? Jangan konyol. Saya hanya menjaga kualitas kerja di set saya."
"Bagus kalau begitu. Karena saya akan tetap profesional, baik pada Anda maupun pada Reihan," Adelia berbalik pergi dengan perasaan dongkol.
Namun, Arlan tidak bisa menahan dirinya. Sepanjang sore, ia terus mencari-cari kesalahan Reihan. Ia menyuruh sang aktor mengulang adegan lari hingga belasan kali dengan alasan yang tidak jelas. Kru lain mulai berbisik bahwa Arlan sedang melakukan "balas dendam" pribadi.
Puncaknya terjadi saat Reihan secara sengaja menaruh jaketnya di bahu Adelia karena suhu AC studio yang sangat dingin.
"Lepaskan jaket itu," perintah Arlan tiba-tiba melalui pengeras suara.
Seluruh kegiatan di studio terhenti. Reihan mengangkat bahu. "Dia kedinginan, Pak Arlan. Saya hanya membantu."
Arlan berjalan turun dari kursi sutradara, menghampiri Adelia, lalu melepas jaket Reihan dengan kasar dan melemparkannya kembali ke sang aktor. Ia kemudian melepas kemeja flanel luaran yang ia kenakan—menyisakan kaos hitam polos yang membungkus tubuh atletisnya—dan memakaikannya ke Adelia.
"Kalau dia kedinginan, itu urusan saya sebagai atasannya," ujar Arlan dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Adelia terpaku, mencium aroma parfum Arlan yang kini menyelimuti tubuhnya. Ia ingin marah, tapi ada getaran aneh di dadanya melihat sisi Arlan yang begitu posesif.
Reihan tersenyum sinis, seolah baru saja memenangkan sebuah taruhan. "Ah, jadi rumor itu benar. Pak Arlan memang tidak bisa profesional kalau menyangkut asistennya."
Arlan hampir saja melayangkan pukulan jika Adelia tidak segera menahan lengannya. "Cukup, Arlan! Jangan hancurkan semuanya hanya karena ego Anda!"
Arlan menatap mata Adelia yang penuh amarah dan kekecewaan. Ia tersentak, menyadari bahwa tindakannya justru membenarkan gosip yang selama ini ingin mereka tepis. Tanpa kata, Arlan berbalik dan meninggalkan studio, meninggalkan Adelia yang berdiri mematung di tengah kerumunan kru yang kini menatapnya dengan berbagai macam spekulasi.
Malam itu, Adelia tahu sesuatu yang besar akan meledak. Dan benar saja, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal:
"Jika kamu ingin menyelamatkan karier Arlan dari kehancuran total, temui saya di studio jam 10 malam ini. Jangan bawa siapa-siapa."
Adelia tahu ini adalah jebakan, tapi ia tidak punya pilihan. Ia tidak bisa membiarkan si tukang marah yang mulai ia cintai itu hancur karena dirinya.