Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Dunia manusia ternyata jauh lebih berisik daripada konser jangkrik di hutan terlarang. Luna berdiri mematung di pinggir jembatan besar, matanya yang biru jernih berkedip berkali-kali menatap lampu-lampu jalanan yang menyilaukan.
"Kenapa kotak-kotak besi itu lari cepat sekali? Apa mereka sedang mengejar mangsa?" gumam Luna ketakutan.
Sepanjang hari ia berjalan, melewati semak berduri hingga aspal panas, hanya untuk sampai ke tempat yang disebut kota ini.
Perutnya berbunyi nyaring. Bunyinya bahkan lebih keras dari klakson mobil di depannya. Luna menoleh ke arah sebuah bangunan megah dengan aroma yang sangat surgawi.
Aroma ayam bakar bumbu madu.
"Manusia tampan bisa menunggu. Perut Luna tidak bisa," batinnya. Dengan insting kucing yang tak bisa hilang, Luna menyelinap masuk melalui pintu dapur.
*
*
Xavier duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura dingin yang sanggup membekukan kuah sup di meja.
Di depannya, Gerry sedang berjuang memotong steak seolah sedang melakukan operasi jantung.
"Apa jadwalku sudah kau atur, Ger?" tanya Xavier datar dan tidak menerima bantahan.
Gerry mengunyah cepat, lalu menelan daging itu dengan susah payah.
"Sudah, Tuan. Besok tidak ada jadwal penting. Malam ini kita bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan musuh," jawab Gerry.
Xavier menghentikan gerakan tangannya. Matanya yang sedingin es menatap Gerry. "Kita?"
Gerry hampir tersedak ludahnya sendiri. "M-maksud saya... anda, Tuan Xavier yang terhormat. Anda bisa tidur sangat nyenyak. Sementara saya akan tidur sambil berjaga dengan satu mata terbuka seperti lumba-lumba," jawabnya cepat sembari mengelap keringat dingin.
Sensitif sekali bos satu ini, salah pakai kata ganti saja nyawa taruhannya, batin Gerry merana.
Xavier kembali fokus pada ponselnya, mengabaikan curhatan batin asistennya.
"Tuan Xander juga ingin bertemu dengan anda," tambah Gerry lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Untuk apa si perfeksionis itu mencariku?" balas Xavier tanpa mengalihkan pandangan. Hubungannya dengan Xander, kakaknya yang selalu dipuja sang ayah karena kecerdasannya, memang sedingin kutub utara.
"Dia bilang akan segera kembali dari urusan bisnis di luar kota. Sepertinya ingin membahas soal ekspansi wilayah di pelabuhan selatan," lapor Gerry.
Xavier mendengus sinis. Jonas, ayahnya, memang selalu memanjakan Xander. Sementara Xavier? Ia dianggap sebagai anjing penjaga yang hanya bisa menggigit dan membuat kekacauan.
"Atur saja pertemuannya. Aku ingin lihat wajah sombongnya itu setelah seminggu aku menghilang."
Gerry mengangguk, lalu menyerahkan sebuah tablet berisi data digital. "Ini rekaman pria yang menggelapkan uang perusahaan sebesar 200 miliar dan berani melaporkan jalur logistik kita pada pihak berwajib. Tangan kanan kita sudah membereskannya di gudang belakang."
"Kerja bagus. Habisi tikus berdasi yang berani menusukku dari belakang. Jangan sisakan satu helai rambut pun untuk dimakamkan. Mengerti?"
"Siap, Tuan. Hanya saja saya masih sulit menemukan siapa dalang di balik semua ini," ucap Gerry merasa bersalah.
"Aku percaya padamu, Ger. Jangan buat aku kecewa untuk kedua kalinya," balas Xavier dingin.
Tepat saat suasana sedang serius, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar ruangan.
"TANGKAP KUCING ITU! DIA LARI KE ARAH SANA!"
"HEI! ITU AYAM BAKAR UNTUK MEJA NOMOR LIMA!"
Brak! Gubrak!
Suara piring pecah dan teriakan pelayan membuat dahi Xavier berkerut.
"Gerry, periksa! Jika itu musuh, tembak di tempat. Jika itu pengacau biasa, ratakan restoran ini dengan tanah karena mengganggu makan malamku."
"Baik, Tuan." Gerry segera berdiri dan keluar dengan wajah sangar, tangannya sudah bersiap di balik jas, memegang senjata.
Di luar, kekacauan terjadi. Para pelayan berlarian mengejar sesuatu yang bergerak sangat lincah di bawah meja-meja pelanggan. Gerry mencegat manajer restoran yang tampak pucat pasi.
"Apa yang terjadi di sini?! Kalian tahu tuan Xavier sedang makan di dalam? Mau restoran ini rata dengan tanah karena kebisingan konyol ini, hah?!" bentak Gerry.
Manajer itu gemetar, tangannya menunjuk ke arah kolong meja VVIP. "M-maafkan kami, Tuan! Ada seekor kucing yang masuk ke dapur dan mencuri satu ekor ayam bakar bumbu madu!"
Gerry melongo. "Hah? Kucing mencuri ayam bakar? Di restoran bintang lima seketat ini?"
"Bukan kucing biasa, Tuan! Kucing itu, dia sangat cepat dan sepertinya sangat kelaparan!"
Gerry mengintip ke bawah meja. Di sana, ia melihat seekor kucing putih dengan bulu agak kotor namun memiliki mata biru sapphire yang sangat indah, sedang menggigit paha ayam bakar.
"Tunggu dulu!" Gerry menyipitkan mata. "Kenapa kucing ini mirip sekali dengan deskripsi kucing yang diceritakan anak buahnya saat mencari tuan Xavier di hutan?"
Tiba-tiba, pintu ruangan VVIP terbuka. Xavier berdiri di sana dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Gerry, kenapa lama sekali—" langkah Xavier terhenti. Matanya bertemu dengan mata biru si kucing di bawah meja.
Kucing itu berhenti mengunyah, telinganya berdiri tegak, dan ekornya bergoyang pelan.
"Meong?" ucap kucing itu dengan nada yang terdengar seperti sapaan akrab.
Xavier mematung. Mafia yang tidak takut pada peluru itu mendadak kehilangan kata-kata.
"Kau! Kenapa kau bisa sampai ke sini, Makhluk Sialan?" gumam Xavier sangat lirih, hampir tidak terdengar.
Gerry menoleh bolak-balik antara bosnya dan si kucing pencuri ayam. "Tuan, anda kenal dengan maling ayam ini?"
Xavier tidak menjawab. Ia justru mendekat, membuat para pelayan ketakutan. Dengan gerakan dingin namun pasti, ia berjongkok di depan kucing itu.
"Sudah kubilang jangan bertemu lagi, kan? Kau mau aku jadikan sate ayam?" ancamnya.
Kucing itu malah mendekat dan menggesekkan kepalanya yang berminyak bekas bumbu ayam ke sepatu pantofel mahal Xavier.
"Tuan, sepatu anda! Itu kulit buaya asli!" pekik Gerry histeris.
Xavier hanya mendengus, namun tangannya secara refleks bergerak mengusap kepala si kucing.
"Gerry, bayar semua kerugian restoran ini. Dan kau!" Xavier menatap tajam ke arah Luna. "Ikut aku. Kau berhutang satu ekor ayam padaku."
Luna hanya mengeong senang. Di balik wujud kucingnya, Luna tersenyum. Akhirnya, Luna bisa bertemu manusia tampan lagi!
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂