NovelToon NovelToon
Marni, LC Sholehah

Marni, LC Sholehah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Qinan

Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.

Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.

Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab~33

Celetukan Joko tentang Marni yang bekerja tidak benar rupanya menjadi buah bibir para pria di kampungnya terutama para kumpulan pria hidung belang baik yang masih muda maupun sudah tua, mereka yang selama ini terang terangan naksir atau hanya sekedar mengagumi diam-diam dibelakang istrinya mulai mencari perhatian wanita itu.

"Pagi mbak Marni, sedang menyapu ya."

Sapa bapak-bapak paruh baya ketika melewati rumah wanita itu dimana saat ini Marni sedang menyapu halaman rumahnya, wanita tersebut pun hanya mengangguk kecil menanggapi sapaan pria itu dan sedikit merasa janggal dengan tatapan dan senyuman mereka yang agak lain.

Hanya beberapa menit berada disana sudah ada beberapa pria yang hendak pergi ke kebun menyapanya, tak seperti biasanya karena kini mereka sambil senyum-senyum tak jelas saat menatapnya.

"Ada apa dengan mereka?" gumamnya tak mengerti.

Saat ia hendak masuk tiba-tiba sebuah mobil berhenti di tepi jalan depan rumahnya dan keluarlah seorang pria berkacamata hitam padahal matahari pun belum muncul tapi pria itu sudah merasa silau saja.

"Assalamu'alaikum dek Marni," sapa pria itu seraya melangkah mendekat.

"Mas Isanul?" gumam Marni menatap pria yang sedang memakai baju koko dan celana bahan tersebut, sangat islami seperti Firman hanya saja sebelumnya ia mendengar gosip miring tentangnya jika perceraiannya dengan sang istri karena pria itu minta izin untuk berpoligami.

Poligami memang tidak dilarang di agamanya tapi jujur sebagai seorang wanita ia belum ikhlas melakukannya karena ia menganggap jalan ke surga itu banyak sekali caranya tanpa harus mengorbankan perasaan seperti berbagi hati maupun raga dengan wanita lain. Lagipula dalam ayat alquran sudah di jelaskan jika poligami memang tidak dilarang asalkan bisa bersikap adil seadil-adilnya namun banyak orang enggan membaca ayat sambungannya jika sesungguhnya hanya rasulullah yang sanggup melakukannya dan sejauh ini tak ada manusia yang bisa benar-benar bersikap seperti rasulullah karena nyatanya dilapangan pelaku poligami lebih banyak tak bertanggung jawab dan berujung perceraian.

"Wa'alaikumsalam mas," ucapnya membalas sapaan pria itu.

Meskipun satu kampung mereka memang tidak terlalu saling kenal hanya saling tahu karena dari segi usia juga terpaut lumayan jauh.

"Sudah lama balik kampung dek? mas sampai pangling loh," ujar pria itu dengan tatapan mengagumi karena biasanya hanya melihat wanita itu dari kejauhan saat kebetulan lewat rumahnya atau dari cerita Marwan adiknya.

Marni mengangguk kecil. "Sudah mas," sahutnya singkat karena memang enggan bersikap akrab atau hanya sekedar berbasa-basi.

"Jadi nanti balik lagi ke kota?" tanya pria itu ingin tahu.

Marni mengangguk kecil. "Iya mas, di kampung mau kerja apa?" sahutnya jujur, karena kebanyakan orang di kampung bekerja di kebun itu pun penghasilannya tak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan.

Isanul mengangguk kecil. "Sebenarnya kamu tak perlu capek-capek bekerja ke kota dek karena jika mau mas bisa nafkahi kamu," tukasnya menanggapi.

"Aku ga ngerti maksud mas?" Marni pun langsung mengernyit menatapnya, perasaannya mulai tak enak dengan arah pembicaraan pria itu selanjutnya.

"Mas mau melamarmu dan menikahimu dek jika kamu mau karena kita tahu agama kita melarang untuk pacaran jadi bukankah lebih baik pacaran halal setelah menikah?" sahut pria itu mengutarakan keinginannya dengan sedikit salah tingkah bahkan langsung melepaskan kacamata hitamnya untuk menunjukkan keseriusannya.

Marni nampak tak percaya mendengarnya. "Tapi mas..."

"Harusnya kamu sudah paham saat setiap hari aku mengirimkan makanan berbuka untukmu," potong pria itu mengingatkan saat melihat wajah keterkejutan wanita itu mendengar keinginannya untuk melamarnya.

Marni nampak terdiam sejenak, sudah ia duga semua makanan yang dititipkan pada adiknya untuknya bukanlah makanan gratis dan pasti ada imbalan dibalik itu semua.

"Tapi bukankah mas sudah sama mbak Inaroh ya?" ucapnya jujur sesuai gosip yang beredar jika pria itu telah menikahi wanita selingkuhannya hingga membuatnya berpisah dari istri pertamanya karena ketahuan namun pernikahan mereka disembunyikan hingga kini karena terlanjur malu.

Isanul menatap wanita itu sedikit lama, lalu terpaksa mengangguk kecil. "Mas memang sudah menikah tapi apa salahnya seorang pria memiliki dua istri yang penting bisa adil dalam hal nafkah lahir maupun batin Marni dan mas berjanji jika kamu setuju mas akan berlaku adil padamu juga." ucapnya jujur dan tentu saja itu membuat Marni sedikit terkejut namun wanita itu langsung menguasai dirinya dan bersikap sebiasa mungkin.

"Adil seperti apa yang mas maksud? memberi satu-satu rumah kepada istri-istrinya mas? mobil dan juga nafkah lahir batin?" ujarnya to the point karena setahunya pria itu hanya punya satu mobil dan rumah saja itu pun masih tinggal bersama orang tuanya di ujung jalan pertigaan sebelah toko buah langganan Firman.

Rumahnya memang besar dan bagus mengingat orang tuanya seorang pedagang di pasar dan pekerjaan pria itu juga kurang jelas entah pebisnis atau juga ikut jualan bersama orang tuanya ia tidak tahu karena memang jarak rumah mereka yang jauh.

"Kok kamu matre sih Marni," Isanul terlihat kecewa mendengar ucapan wanita dihadapannya itu yang tanpa ia duga sama sekali jika akan menanyakan hal itu karena ia pikir wanita itu terlihat sangat polos lalu apa bedanya dengan Inaroh istri keduanya itu yang selalu menuntut materi padahal sebelumnya juga terlihat polos dan mandiri tapi baginya itu wajar karena istrinya orang kota berbeda dengan wanita itu yang tinggal di kampung sama sepertinya.

"Maaf mas dalam sebuah pernikahan bukankah harus ada keterbukaan dan saat mas memutuskan ingin berpoligami harusnya mas sudah siap untuk itu terutama dalam hal materi maupun kesiapan untuk menjadi imam yang baik untuk istri-istrinya mas." tukas Marni menanggapi karena setahunya poligami harusnya seperti itu bisa bersikap adil dan tercukupi dalam hal nafkah batin maupun lahir.

"Ya kita bisa berjuang bersama-sama dek Marni bukankah itu jauh lebih indah, seperti istriku sekarang ikut membantuku jualan buah di pasar dan jika kamu mau kita bertiga bisa berjualan bersama-sama, saat ini kami memang masih tinggal bersama orang tuaku tapi setelah kita menikah aku akan menyewa rumah yang lebih besar lagi untuk kita tinggali bertiga toh anakku dan anak-anak istriku ikut mantan semua jadi takkan mengganggu kehidupan kita nanti." Isanul menjelaskan secara rinci rumah tangga yang akan mereka jalani nanti dengan wajah penuh binar bahagia seakan itu semua adalah hal yang indah untuk mereka.

Marni nampak tak percaya mendengarnya namun dalam hati berbisik. "Sakit nih orang," gumamnya bahkan keadaannya saja masih kekurangan tapi bisa-bisanya ingin tambah istri, pantas saja istri pertamanya minta cerai pikirnya

1
Mah_Rika
ngerusuh nih
Mah_Rika
waduh makssa mas
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tuh kan akhir nya pada melek juga ...tapi jangan lupa hutang keluarga Kania tagih dong 🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ya elah kalo jodoh tak kan kemana ya ... akhir nya ketemu2 juga 🤭..

baru bahagia Dateng Kutu hadeh
Radya Arynda
semangaaat marni,,,semogah kamu jadi sukses dengan tingal ber sama nenek fatimah
Rahmawati
banyak hikmah dari kepergian marni,ibu dan adiknya menyadari kesalahannya.
skrg marni bisa fokus dengan rumah tangga nya
Rahmawati
alhamdulillah, sah
Aprisya
setuju kalo pengantin baru tinggal bersama nenek
Radya Arynda
akhirnya,,,sah juga,,,,thooor mbok uo sekali2 buat novel iku seng agak banyakan,,,,kayak yang lain nya,,,
Aprisya
Alhamdulilah saaaaah,,,
Tuti Tyastuti
𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘳𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩
Tuti Tyastuti
𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘯𝘯
Arsyad Algifari.
penasaran Thor gimana nasib Siti julidah alias Astuti dan Joko😅
Eva Karmita
Alhamdulillah saaaahhhh... nunggu Firman sama Marni belah duren 😜🥰 ...biar Firman terkejot ternyata Marni masih segelan 😍
jumirah slavina
Marimar lh yang menikah🤣🤣😜
jumirah slavina
tuhkannnnnnnnnnnn🤣🤣
jumirah slavina
bawa penghulu kh
jumirah slavina: saksi : s a h !!!

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ais
setuju
Ais
nah betul itu karena sejatinya dimata Allah tidak ada manusia yg suci dan bersih jalan hidupnya kecuali kekasih Allah yaitu junjungan kita nabi besar muhammad SAW hanya beliaulah kekasih pilihan Allah yg sdh pst jaminan syurganya juga para sahabat dan keluarganya sdh pst jd klo kita merasa paling tau sndr soal agama dan adab kehidupan lantas sombong hati ngak akan ada gunanya dan dizaman akhir macam begini banyak banget manusia yg tinggi hati karena merasa ilmu agama dan adab paling yes dihadapan manusia lain🤣🤣🤣😤😤
nyaks 💜
si panitia surga 😂😂
Mah_Rika: hajar nek hajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!