NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 The First Vision Crisis

Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang di kediaman keluarga Kim. Hujan rintik-rintik membasuh jendela kaca besar di ruang tengah, menciptakan suasana melankolis yang biasanya disukai oleh V untuk mencari inspirasi lagu. Namun, bagi Shine, ketenangan hanyalah lapisan tipis yang menutupi badai yang selalu siap meledak di kepalanya.

Shine sedang duduk di sofa beludru, menyesap teh melati yang baru saja disajikan oleh Bi In-ah, pelayan senior yang sudah mengabdi selama sepuluh tahun di rumah itu. Bi In-ah tersenyum lembut saat meletakkan nampan, namun Shine menangkap sesuatu yang janggal. Ada memar ungu yang coba disembunyikan di balik lengan panjang seragamnya, dan tangannya sedikit gemetar saat menuangkan air panas.

Saat kulit tangan Bi In-ah secara tidak sengaja bersentuhan dengan jemari Shine ketika memberikan cangkir, dunia Shine mendadak berputar.

Zapp!

Warna-warna di sekitarnya luruh. Suara hujan menghilang, digantikan oleh suara benturan keras dan teriakan yang memilukan.

Di sebuah rumah kecil yang pengap, Shine melihat Bi In-ah tersungkur di lantai dapur. Seorang pria dengan wajah merah karena alkohol—suaminya—mencengkeram rambut wanita tua itu. Sebuah botol kaca pecah di lantai. Pria itu mengangkat tangannya, siap melayangkan hantaman ke wajah Bi In-ah yang menangis memohon ampun.

"Jangan... hentikan..." gumam Shine lirih. Tubuhnya mulai gemetar hebat.

Mantra penglihatannya bekerja di luar kendali. Ia dipaksa melihat lebih jauh, melihat masa lalu Bi In-ah yang penuh luka, tahun-tahun penuh penyiksaan yang disembunyikan dengan rapi di balik senyum pelayannya itu. Energi dalam tubuh Shine tersedot seperti air yang masuk ke lubang pembuangan yang haus.

"Argh!" Shine mencengkeram dadanya. Rasa sakit itu begitu nyata, seolah botol kaca itu menghantam kepalanya sendiri.

Di ruang tengah itu, Jin sedang membaca dokumen, Suga sedang memeriksa jurnal medis di tabletnya, dan V sedang memainkan nada-nada rendah di piano sudut ruangan. Sementara Jungkook, yang baru saja keluar dari dapur paviliun membawa camilan malam, mematung di ambang pintu saat melihat aura Shine meredup drastis.

"Oppa... oppa Jin... oppa Suga... tolong..." suara Shine memanggil dengan lirih.

Kebiasaan lama itu muncul kembali. Di saat maut seolah menjemputnya, ia secara otomatis memanggil kakak-kakaknya dengan sebutan oppa—sebutan manja yang selalu membuat pertahanan Jin dan Suga runtuh. Panggilan itu adalah tanda bahaya tertinggi di rumah tersebut.

"Shine!" Jin melompat dari kursinya, menjatuhkan dokumen-dokumen pentingnya ke lantai.

"Dia masuk ke fase trans!" teriak Suga, segera berlari menuju adiknya.

Namun, sebelum kedua kakak itu sempat menyentuh Shine, tubuh Shine sudah lemas sepenuhnya. Matanya memutar ke atas, dan ia mulai jatuh dari sofa.

Sruk!

Bukan lantai dingin yang menyambutnya, melainkan pelukan hangat yang sangat familiar. Jungkook telah melepaskan nampan camilannya—membiarkan piring-piring porselen mahal itu pecah berkeping-keping—hanya untuk menangkap Shine tepat waktu.

Jungkook berlutut di lantai, merengkuh tubuh kecil Shine ke dalam dekapannya. Ia tidak peduli pada tatapan tajam Jin atau teriakan Suga. Ia bisa merasakan betapa dinginnya kulit Shine, seolah nyawanya benar-benar sudah berada di ambang pintu keluar.

"Shine, aku di sini. Lihat aku," bisik Jungkook. Suaranya penuh kecemasan yang mendalam, sebuah insting protektif yang meledak.

"Lepaskan dia, Jungkook! Biar aku yang menanganinya!" perintah Suga dengan nada otoriter, tangannya sudah bersiap untuk mengambil alih tubuh adiknya.

"Jangan sentuh dia dulu, Dokter!" bentak Jungkook, suaranya menggelegar di ruangan itu, membuat V berhenti bermain piano dengan kaget. "Energinya habis total! Pelukan Anda tidak akan cukup cepat untuk menariknya kembali!"

Tanpa menunggu izin, Jungkook mempererat pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shine, membiarkan kontak kulit yang maksimal terjadi. Ia menyalurkan setiap tetes energi matahari yang ia miliki ke dalam tubuh Shine.

Di depan mata Jin, Suga, dan V, sebuah fenomena aneh terjadi. Udara di sekitar Jungkook dan Shine seolah bergetar. Warna kulit Shine yang tadinya seputih kertas perlahan mulai kembali merona. Napasnya yang tadi tersengal-sengal mulai melambat dan menjadi teratur.

Jin berdiri mematung, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Ia melihat adiknya, yang baru saja memanggilnya 'Oppa' dengan suara penuh ketakutan, kini justru menemukan kedamaian dalam pelukan pria koki itu. Ada rasa cemburu yang membakar hatinya, namun rasa lega melihat Shine kembali bernapas jauh lebih besar.

"Dia... dia melakukan recharge darurat," bisik V, menatap pemandangan itu dengan mata lebar. "Lihat tangannya, energinya benar-benar mengalir."

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Shine perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Jungkook dan mata bulat pria itu yang berkaca-kaca karena khawatir.

"J-Jungkook..." bisik Shine.

"Ssh... jangan bicara dulu. Kau aman," Jungkook mengusap rambut Shine dengan lembut, mengabaikan fakta bahwa ia sedang ditonton oleh tiga pria paling berkuasa di rumah itu yang siap membunuhnya kapan saja.

Shine melirik ke arah kakak-kakaknya yang berdiri mematung. "Oppa... Bi In-ah... suaminya... dia akan membunuhnya malam ini di rumahnya... tolong selamatkan dia..."

Jin tersentak dari lamunannya. Ia segera menoleh pada RM yang berdiri di dekat pintu. "Namjoon, kau dengar itu? Lacak alamat Bi In-ah sekarang juga! Bawa tim, pastikan pria itu tidak bisa menyentuh pelayan kita lagi selamanya!"

RM membungkuk hormat dan segera menghilang dalam kegelapan malam.

Suga mendekat, ia berlutut di samping Jungkook. Kali ini ia tidak mengusir Jungkook, ia justru memeriksa denyut nadi Shine sementara adiknya masih di dalam pelukan koki itu. "Nadinya sudah stabil. Energinya... luar biasa penuh. Ini gila. Hanya dalam lima menit?"

Suga menatap Jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia benci harus mengakuinya, tapi adiknya selamat karena pria ini.

Jungkook membantu Shine untuk duduk tegak, namun ia sama sekali tidak melepaskan rangkulannya di pinggang Shine. Sifat posesifnya keluar secara alami setelah melihat betapa rapuhnya Shine tadi.

"Kenapa kau memanggil mereka 'Oppa'?" tanya Jungkook tiba-tiba, suaranya rendah, ada nada cemburu yang terselip di sana meski ia tahu itu adalah kakak-kakak Shine sendiri.

Shine menunduk malu. "Itu... itu kebiasaan saat aku merasa sangat takut. Aku tidak sadar memanggil mereka begitu."

Jin melangkah maju, berdiri tepat di depan mereka berdua. Ia menatap Jungkook dengan mata yang berkilat. "Dia memanggil kami 'Oppa' karena kami adalah pelindungnya sejak lahir, Jungkook. Dan kau... kau baru saja menyelamatkannya malam ini. Aku berhutang padamu."

Jin menghela napas panjang, tampak sangat berat baginya untuk mengatakan ini. "Tapi jangan pikir pelukan ini memberimu izin untuk menyentuhnya seenaknya di masa depan. Lepaskan tanganmu dari pinggangnya, Koki Jeon."

Jungkook menatap Jin tanpa rasa takut. Ia justru menarik Shine sedikit lebih dekat ke arahnya. "Tuan Kim, malam ini Anda melihat sendiri seberapa cepat energinya bisa habis. Jika saya tidak ada di sini, mungkin Anda sedang mengantar Shine ke ruang gawat darurat sekarang. Jadi, biarkan saya menjaganya sampai dia benar-benar pulih."

"Kau benar-benar berani, ya?" desis Suga, meski ia tidak melakukan tindakan apa pun untuk memisahkan mereka.

V berjalan mendekat, menepuk bahu Jungkook pelan. "Sudahlah, Hyung. Lihat wajah Shine. Dia terlihat sangat nyaman. Biarkan saja si 'Baterai Manusia' ini menjalankan tugasnya malam ini."

Malam itu, Bi In-ah berhasil diselamatkan oleh RM dan timnya tepat sebelum suaminya melakukan tindakan yang lebih fatal. Dan di kediaman Kim, terjadi sebuah pergeseran kekuasaan yang tak terlihat. Shine tetap menjadi milik keluarga Kim, namun jiwanya kini memiliki penjaga baru yang tak tergoyahkan.

Jungkook terus mendekap Shine di sofa ruang tengah, mengabaikan Jin yang mondar-mandir karena cemburu dan Suga yang terus-menerus mencatat data medis dengan wajah masam. Bagi Jungkook, setiap detak jantung Shine yang ia rasakan di dadanya adalah melodi paling indah yang pernah ada, dan ia bersumpah, mulai detik ini, ia tidak akan membiarkan Shine merasa ketakutan hingga harus memanggil 'Oppa' pada siapa pun selain dirinya di masa depan—meskipun ia belum punya hak untuk sebutan itu.

"Istirahatlah, Shine," bisik Jungkook lembut. "Aku tidak akan ke mana-mana."

Shine memejamkan mata, merasa sangat aman. Aroma basil dan kehangatan tubuh Jungkook adalah mantra terbaik yang pernah ia rasakan.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!