NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Mobil sedan hitam mewah yang membawa Kevin berhenti tepat di depan gerbang utama Universitas Collux. Dari balik kaca jendela yang gelap, Kevin menatap lurus ke arah bangunan yang menjulang megah di hadapannya.

Sebagai universitas terbaik nomor dua di negeri ini, Collux bukan sekadar tempat belajar; itu adalah simbol status. Bangunan-bangunan fakultasnya yang bergaya kontemporer tampak berjejer rapi, dipisahkan oleh halaman rumput hijau yang sangat luas dan jalur pejalan kaki yang bersih.

​Kevin menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia melangkah keluar dari mobil, namun ia tidak sendirian. Seorang pria tegap berbaju hitam formal dengan ekspresi wajah sedingin es melangkah turun mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan pengawal kiriman Ashley.

​Awalnya, Kevin memprotes keras ide ini. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang diawasi. Namun, perlawanannya runtuh saat Ashley memberinya pilihan yang mustahil: dikawal oleh satu orang pilihannya, atau dikuntit oleh delapan orang pengawal bersenjata lengkap. Akhirnya, dengan berat hati, Kevin menyerah pada pilihan pertama.

​Langkah kaki Kevin di atas paving blok halaman kampus segera menarik perhatian. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata menatap ke arahnya.

Apakah karena pengawal yang membuntutinya layaknya seorang menteri, atau karena penampilannya yang terlalu biasa? Padahal, Kevin merasa sudah berusaha tampil semaksimal mungkin dengan kemeja dan celana yang dibelikan Ashley tempo hari. Namun, bagi mata yang jeli, potongan kain dan jahitan baju itu meneriakkan kata "mahal".

​Di tengah rasa canggung itu, sebuah suara yang sangat ia kenali memecah suasana.

​"Oh, Kevin! Di sini!"

​Kevin menoleh dan mendapati sesosok pria melambaikan tangan dengan semangat. Itu Mike, teman dekatnya sejak masa SMA. Berbeda dengan Kevin yang baru akan memulai, Mike sudah lebih dulu menempuh pendidikan hukum di universitas bergengsi ini.

​Kevin segera menghampiri sahabat lamanya itu dengan senyum lebar.

​"Wow, lama tidak bertemu! Kau tampak jauh lebih rapi sekarang. Ke mana perginya Mike si berandalan yang dulu sering membolos?" Kevin tertawa lepas, lalu mendaratkan pukulan pelan di bahu Mike sebagai tanda rindu.

​Mike terbahak, namun matanya segera beralih ke sosok tinggi besar yang berdiri satu meter di belakang Kevin. "Tapi, tunggu... siapa dia?" bisik Mike dengan nada curiga sekaligus kagum.

​"Ah, dia Jonathan. Abaikan saja dia, anggap saja dia bayanganku yang kebetulan berwujud manusia," jawab Kevin asal, mencoba mencairkan suasana.

​Mike tidak bertanya lebih jauh, meskipun raut bingungnya belum hilang sepenuhnya. Ia mulai memandu Kevin berkeliling, menjalankan perannya sebagai pemandu wisata kampus. Mereka menyusuri lorong-lorong fakultas yang dipenuhi mahasiswa yang sibuk dengan laptop dan buku-buku tebal. Beruntung, fakultas hukum dan bisnis berada di dalam kompleks gedung yang sama, sehingga Kevin tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk mengenal area yang nantinya akan menjadi rumah keduanya.

​"Tapi, ngomong-ngomong, kau benar-benar terlihat berbeda dari terakhir kali kita bertemu, Kev," ucap Mike tiba-tiba. Ia memperhatikan Kevin dari ujung kepala sampai ujung kaki.

​Mike bukan orang bodoh. Ia tahu bahwa sepatu yang dikenakan Kevin, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, hingga tekstur kain kemejanya adalah karya perancang ternama yang harganya setara dengan biaya kuliah beberapa semester. Kevin yang ia kenal setahun lalu—yang harus berhemat hanya untuk membeli kopi—pasti tidak akan mampu menjangkau semua itu.

​"Kudengar kau sudah lama berhenti dari perusahaan media itu. Apa uang pesangonmu sebanyak itu sampai kau bisa berubah jadi 'tuan muda' seperti ini?" tanya Mike sambil melirik jam tangan Kevin, sebuah edisi terbatas dari merek JaLeal yang sangat langka.

​Kevin berdehem, berusaha tetap tenang. "Hm, tidak juga. Aku hanya sedang beruntung. Lagipula, aku menghabiskan sebagian besar uang tabunganku untuk membeli koleksi kaset video game, bukan untuk pakaian."

​Mike mengangguk-angguk, meski tampak tak sepenuhnya percaya. "Lalu, bagaimana dengan asmaramu? Terakhir kali kita mengobrol di telepon, kau bilang akan mendiskusikannya dengan 'seseorang'. Apa itu pacarmu?"

​Kevin terdiam sejenak. Identitasnya sebagai suami Ashley Giovano adalah rahasia yang terkunci rapat. Mengingat pernikahan mereka yang dilakukan secara tertutup, tanpa pesta, dan tanpa publikasi, ia tahu betul bahwa Ashley ingin menjaga hubungan ini dari sorotan kamera. Menjadi menantu keluarga Giovano adalah berkah sekaligus beban yang harus ia simpan sendiri.

​"Iya, bisa dibilang begitu," jawab Kevin singkat.

​"Wow! Benarkah? Siapa dia? Apa dia cantik? Suatu saat kau harus mengenalkannya padaku, ya?" seru Mike antusias.

​"Iya, kalau dia sedang senggang dan bersedia," kekeh Kevin pelan.

​Tepat saat itu, ponsel di saku celana Kevin bergetar kuat. Ia merogohnya dan melihat nama "Ashley" berkedip di layar. Jantungnya berdesir sedikit setiap kali melihat nama itu.

​"Halo?"

​"Bagaimana tur kampusmu? Sudah selesai?" Suara Ashley di seberang sana terdengar tegas namun ada nada perhatian yang terselip.

​"Ya, sebagian besar sudah. Bagaimana denganmu? Apa kau bisa mengosongkan jadwal siang ini?" tanya Kevin, suaranya melembut tanpa ia sadari.

​"Ya, aku sudah bicara dengan Sarah. Dia akan menggeser beberapa pertemuan sore ke hari esok. Tapi ingat, kita hanya punya waktu satu jam untuk makan siang. Jadwalku sangat padat hari ini."

​"Hm, satu jam sudah lebih dari cukup bagiku."

​"Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta Sarah memesan restoran yang bagus di sekitar kampusmu. Aku akan mengirimkan lokasinya sebentar lagi."

​Klik. Sambungan terputus. Kevin memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan senyum tipis yang masih tertinggal di bibirnya. Namun, saat ia mendongak, ia mendapati Mike sedang menatapnya dengan mulut ternganga dan mata membelalak tak percaya.

​"Hey, Kev... mataku tidak salah lihat, kan?" Mike menarik lengan Kevin. "Itu tadi ponsel model terbaru dari Giotech Titan, kan? Yang layarnya bisa dilipat tiga? Itu bahkan belum resmi rilis di pasaran! Bagaimana bisa kau memegangnya? Ayahku yang seorang pengusaha saja masih menggerutu karena namanya masih tertahan di daftar antrian selama berbulan-bulan!"

​Kevin menggaruk lehernya yang tidak gatal, merasa terjepit. "Yah... ini... ini hanya hadiah."

​"Hadiah? Dari pacarmu itu?" Mike menyipitkan matanya, otaknya mulai bekerja liar. "Jujur padaku, Kev. Kau benar-benar sedang 'dipelihara' oleh tante kaya, ya? Ponsel prototipe, jam tangan mewah, baju desainer... semua ini tidak masuk akal jika hanya dari uang pesangon."

​Kevin langsung melambaikan tangan, memotong spekulasi sahabatnya. "Tidak, aku bukan pria seperti itu! Berhentilah berpikiran macam-macam, Mike."

​"Lalu apa penjelasannya? Siapa pacarmu itu sebenarnya? Apa dia seorang eksekutif? Atau anak konglomerat?" desak Mike, rasa ingin tahunya memuncak.

​Kevin hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa semakin ia mencoba menutupi, semakin Mike akan penasaran. "Anggap saja dia seseorang yang punya pengaruh besar. Sudahlah, ayo lanjutkan turnya. Aku harus segera pergi untuk makan siang sebelum 'tante kaya' yang kau maksud itu marah karena aku terlambat."

​Kevin tertawa kecil, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia bertanya-tanya sampai kapan ia bisa menyembunyikan kenyataan bahwa istrinya adalah salah satu wanita paling berkuasa di negeri ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!