Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Kekuatan Gelap Yang Muncul
Sinar matahari pagi menyinari reruntuhan Desa Baik Bulan yang sedang dalam proses pemulihan. Pasukan Perhimpunan Pemburu Naga bekerja bersama untuk membersihkan puing-puing dan membangun tenda darurat bagi penduduk yang kehilangan rumah. Udara masih terasa berat dengan energi gelap yang tersisa, membuat beberapa prajurit merasa tidak nyaman.
“Energi ini semakin kuat setiap hari,” bisik Feng sambil menyentuh tanah yang masih bergoyang lembut. “Segel mulai melemah lebih cepat dari yang aku duga.”
Di tengah desa, struktur piramida hitam mulai mengeluarkan energi gelap yang semakin terang. Hei Yu berdiri di puncaknya bersama dengan sosok leluhur keluarga Hei yang muncul kembali dari kedalaman masa lalu. Wajahnya penuh dengan kegilaan yang mengerikan saat melihat pasukan yang datang menghadangnya.
“Kamu terlalu terlambat, Chen Feng!” teriak Hei Yu dengan suara memecah kebisingan. “Segel akan terbuka dalam waktu singkat, dan tidak ada yang bisa menghentikanku!”
Tanpa berlama-lama, pertempuran pecah. Pasukan Sekte Ular Hitam menyerang dengan kekuatan gelap yang lebih besar dari sebelumnya. Energi hitam menyala di tangan mereka, dan setiap serangan bisa menghancurkan tanah dengan mudah. Namun pasukan Perhimpunan tetap tenang, bekerja sama dengan koordinasi yang presisi.
Klan Naga Merah membentuk pagar api untuk membendung serangan dari depan. Klan Naga Biru mengendalikan aliran air untuk membungkus energi gelap. Klan Naga Hijau menyebarkan akar-akar tanaman untuk memperkuat tanah yang goyah. Sementara itu, Feng menghadapi Hei Yu di tengah medan perang.
“Hei Yu, kau masih bisa berhenti!” teriak Feng dengan suara jelas. “Kekuatan gelap hanya akan membawa kehancuran bagi dirimu juga!”
Namun Hei Yu hanya menyeringai, menyerang dengan kekuatan gelap yang menyala lebih kuat. Pertempuran antara keduanya menghasilkan percikan cahaya keemasan dan gelap yang menyembur ke segala arah. Setiap benturan membuat tanah bergoyang dan udara bergetar.
Akhirnya, Feng menemukan celah dalam serangan Hei Yu. Dia menghindari dengan cepat, lalu menyambar dengan Pedang Naga yang menyala terang. Cahaya keemasan membungkus kedua sosok itu, dan suara seperti gemuruh naga terdengar dari kedalaman bumi.
“Hei Yu, kau harus melihat kebenaran!” ujar Feng dengan suara tenang namun kuat. “Keluarga kita dulunya bersatu—kita bisa melakukannya lagi!”
Mata Hei Yu mulai menunjukkan keraguan. Dia merasakan getaran dari tanah yang sedang bergoyang semakin kuat, seolah sesuatu besar akan bangun. Sosok leluhur keluarga Hei muncul di belakangnya—wajahnya penuh dengan kesedihan bukan kemarahan.
“Aku tahu rasa sakit yang kamu rasakan,” ujar sosok leluhurnya dengan suara lembut. “Namun jangan biarkan rasa sakit itu menguasaimu seperti yang terjadi padaku.”
Hei Yu terkejut, melihat sosok leluhurnya yang sebenarnya. Wajahnya mulai menunjukkan kesedihan yang mendalam, bukan kemarahan. “Aku hanya ingin keadilan bagi keluargaku,” bisiknya dengan suara pecah.
“Keadilan tidak datang dari kekerasan,” jawab Feng dengan tenang. “Kita bisa membangunnya bersama—kita semua.”
Pada saat itu, tanah mulai bergoyang dengan sangat kuat. Suara gemuruh yang mengerikan terdengar dari kedalaman bumi—segel mulai roboh. Cahaya hitam menyembur dari bawah tanah, dan sosok raksasa yang menyerupai naga hitam muncul dengan wajah yang mengerikan.
“Ini bukan hanya tentang kita dua!” teriak Hei Yu dengan suara yang kembali kuat. “Kita harus bekerja sama untuk menghentikannya!”
Tanpa berlama-lama, kedua belah pihak bergabung dalam satu formasi. Feng mengangkat Pedang Naga yang menyala terang, sementara Hei Yu mengeluarkan kekuatan gelap yang terkendali. Bersama-sama dengan pasukan dari kedua belah pihak, mereka membentuk lingkaran energi yang menggabungkan kekuatan keemasan dan gelap—membentuk cahaya baru yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
“Bersama kita bisa menghentikannya!” teriak Feng dengan suara yang jelas menyilang kebisingan perang.
Dengan kekuatan gabungan yang luar biasa, mereka menyerang sosok raksasa itu. Energi keemasan dan gelap menyatu menjadi satu, membentuk pancaran cahaya yang luar biasa. Setiap serangan mereka bekerja dengan harmoni, tidak lagi saling bertentangan melainkan saling melengkapi.
Ketika serangan terakhir menyambar, sosok raksasa itu mulai menghilang seperti debu yang terbawa angin. Tanah mulai kembali tenang, dan udara terasa segar kembali. Cahaya matahari mulai muncul dari balik awan, menyinari tanah yang mulai pulih.
“Hei Yu,” ujar Feng dengan suara lembut saat medan perang mulai tenang. “Kita bisa membangun masa depan yang lebih baik bersama.”
Hei Yu mengangguk dengan mata yang penuh kesadaran baru. “Aku mengerti sekarang. Kita semua telah terluka, tapi kita bisa menyembuhkan rasa sakit itu bersama-sama.”
Malam itu, mereka berkumpul di tengah desa yang mulai pulih. Api unggun menyala di tengah medan, dan suara cerita mulai terdengar—cerita tentang perjuangan yang telah mereka lalui dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semua orang tahu bahwa perjuangan belum selesai sepenuhnya, namun kini mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Bersama-sama, mereka siap menghadapi apa pun yang akan datang—dengan kekuatan yang benar dan hati yang penuh harapan untuk dunia yang lebih damai.