Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Bersalah Rehan
" Rehan,kenapa kau membatalkan perjodohan ini?" tanya pak Brata.
" kamu sudah membuat mama malu." ucap Lina dengan nada tinggi.
" aku tidak suka dengan gadis itu ma, aku sudah memiliki pilihan hati sendiri.mama dan papa tidak bisa untuk menikah dengan siapapun." ucap Rehan tegas.
" tidak seperti ini juga dong.sejak lama kita sudah membahas perjodohan ini, tapi kamu biasa saja. Kenapa sudah sampai waktunya,kamu bersikap memalukan seperti ini.mama Tidka mau tahu kamu harus tetap menikah dengan Eka." tegas Lina.
" terserah apa kata mama, kalau mama terus memaksa lebih baik papa saja yang menikah dengan gadis itu." sahut Rehan.
" loh kok, jadi papa apa hubungannya dengan papa?" ujar pak Brata yang sebenarnya tidak respek saat ia melihat Eka secara langsung. Sepanjang perjalanan pulang,Bu Lina terus mengomel ia tau betul sikap anaknya, yang nakal dan Tidka bisa di atur. Pada akhirnya Bu Lina memilih diam
" sebenarnya papa kurang srek sama Eka " ucap pak Brata saat Susana hening.
" loh, kenapa? Mereka itu keluarga baik-baik, dan mama sudah berteman lama dengan Sera."
" jelas, anaknya terlihat angkuh dan sombong. manja dan sepertinya tidak sesuai dengan apa yang di katakan Sera." jawab pak Brata.
perdebatan kembali terjadi, tinggallah sopir yang harus fokus pada jalanan dan kemudi, meskipun telinganya sudah kepanasan. mendengarkan perdebatan satu keluarga ini.
kembali ke rumah Hendra, ternyata semua pembicaraan tadi terdengar oleh Vera, yang iseng menguping. gadis itu segera memberitahu kakaknya, yang ada di dalam kamar tetapi tanggapan Diana biasa saja.
"terus, kakak harus apa"tanya Diana
" lagi pula tidak akan ada yang mau, dengan perempuan angkuh dan pesuruh seperti Eka."ucap Diana yang begitu yakin.
" aku penasaran, apa yang membuat Rehan, membatalkan perjodohan ini?"
" jangan pedulikan masalah orang lain, pikirkan sebentar lagi kita akan pergi dari rumah ini."ucap Diana yang mengingatkan adiknya. " kakak ingin pergi ke tempat di mana Rehan tidak bisa menemukan kakak."
Vera mengiyakan, ai tahu betul bagaimana perasaan kakaknya, setelah bertemu dengan Rehan tadi.
" Rehan itu terkenal nakal, dia pasti akan datang kembali mencari Kakak."ucap Diana yang begitu merasa yakin.
semakin yakin Diana untuk pergi jauh dari kota ini, rasanya sudah tidak sabar menunggu kelulusan sekolah adiknya. di ruangan yang berbeda saat ini Eka, yang sedang menangis terus memaksa kedua orang tuanya, untuk membujuk pak Brata dan bu Lina melanjutkan perjodohan ini.
meskipun mereka baru satu kali bertemu, tapi Eka sudah jatuh cinta pada ketampanan Rehan.
"padahal aku sudah berdandan sangat cantik, tapi kenapa dia menolak perjodohan ini, apa aku kurang menarik?"
"kamu tidak ada kurangnya, kalau Diana banyak kurangnya. mungkin Rehan belum siap Nanti mama akan bertemu dengan bu Lina lagi."ucap Sera yang menenangkan anaknya.
"memalukan, apakah bocah itu sedang mengerjai kita, atau mempermainkan keluarga kita.?"ujar Hendra yang emosi.
ingin sekali mengejar Rehan dan menghajarnya tadi, tapi Hendra sadar jika Rehan adalah putra tunggal dan pewaris dari PT. Brata tobacco .
"kejar sampai dapat, jangan sampai lepas jika Eka menikah dengan Rehan, derajat keluarga kita akan semakin meningkat."ucap Hendra memberikan semangat kepada anaknya.
\*\*\*\*\*\*
" Vera " panggil suara yang menghentikan laju sepedanya. saat Vera menoleh ke arah kanan,
ternyata Rehan lah yang sudah memanggil namanya. Rehan menghampiri Vera, membuat ekspresi wajah gadis itu menjadi masam..
"tolong bantu aku bertemu dengan kakakmu."pinta Rehan.
"untuk apa? apa kau ingin menghina kakakku lagi!"Ketus Vera .
"tidak, Aku hanya ingin meminta maaf kepada kakakmu."
" seribu kata maaf yang kau ucapkan kepadanya, tidak akan menyentuh hatinya. kau adalah penyebab dari ibu kami meninggal dunia." ucap Vera kemudian melajukan sepedanya.
Sejak semalam Rehan rela bolak-balik mengintai di depan rumah Hendra demi bertemu dengan Diana. Entah bagaimana caranya Rehan bertemu dengan Diana, jalan satu-satunya hanya merayu adiknya, tapi gadis itu sama bencinya kepada Rehan.
Pada akhirnya Rehan memutuskan untuk pergi dari sana, agar keberadaannya tidak diketahui oleh keluarga Hendra. Sepanjang perjalanan, pria ini terus memikirkan tentang Diana.
Yang dipikirkan saat ini sedang sibuk mencuci pakaian, sampai dengan hari ini Sera melarang Diana mencuci pakaiannya dan pakaian adiknya di mesin cuci. bahkan untuk makan pun dia di jatah, tidak boleh makan lebih dari dua kali sehari.
"Diana, halaman belakang jangan lupa dibersihkan, Dasar pemalas"hardik Sera.
" siapa yang tante bilang pemalas?"tanya Diana yang merasa kesal " aku bangun dari jam empat subuh, segala macam pekerjaan aku kerjakan. tapi masih saja aku dikatain pemalas."
" Sudah berani membantah kamu ya? Kamu harus ingat kalau kamu itu hanya numpang di rumah ini."bentak Sera dengan mata melotot.
" Dan aku numpang pun ada timbal baliknya, semua pekerjaan rumah aku kerjakan sendiri, dari subuh sampai malam ada saja pekerjaan yang tante berikan, Tante pikir aku nggak capek?"
" Kamu berani sekarang."bentak Sera sekali lagi.
Mendengar keributan dari arah belakang, Hendra segera menghampirinya yang ternyata istrinya sedang beradu mulut dengan Diana.
" Ma, ada apa ini?" tanya Hendra pada istrinya.
" keponakan kamu yang tidak tahu diri ini sudah mulai membantah, mau jadi apa dia?"
" Jelas aku tahu diri, tinggal di rumah ini. Aku mencuci pakaian, mencuci piring, membersihkan rumah yang sebesar ini. bahkan membersihkan halaman, aku memasak dan aku menyetrika pakaian. Apa masih kurang sampai aku dikatakan tidak tahu diri?"
" Aduh, Diana kamu perhitungan dengan tenaga!"
" Kenapa?? " tanya Diana. " Bukankah kalian juga perhitungan saat memberi makan aku dengan adikku."
Hendra dan Sarah diam dan saling pandang. panas hati seolah perdebatan ini akan kalah.
" setelah adikmu nanti pulang dari sekolah, segera pergi dari rumahku."usir Sera yang sudah habis kesabaran.
" Ma " guman Hendra.
" Baiklah, aku dan Vera akan pergi dari neraka ini!"ucap Diana lalu menyunggingkan senyumnya seolah inilah yang ia harapkan terlebih lagi Vera akan lulus sekolah sebentar lagi. " cuci sendiri pakaian kalian!" seru Diana kemudian melangkah pergi ke kamarnya.
sirah mengeluarkan sumpah serapahnya, begitu jahat hati wanita ini seolah iya tidak memiliki hati.
" Ma, jangan mengusir mereka, ke mana mereka akan pergi?"
" Aku tidak peduli, kecuali Diana bersujud di bawah kakiku maka aku akan memaafkan dia dan mengizinkan dia dan adiknya tinggal lagi di rumah ini."ucap Sera lalu meninggalkan suaminya.
Hendra menyusul Diana ke kamarnya, ia memanggil Diana keluar dari kamarnya
" Diana, sebaiknya kau pergi meminta maaf kepada tantemu, bisa-bisanya kau melawan dia."
" Kenapa, aku harus meminta maaf? andai Aku memiliki rumah untuk tempat bernaung. tidak akan mungkin aku dan adikku rela menjadi pembantu di rumah ini. Andai lelaki itu bertanggung jawab kepada anak-anaknya, tidak akan mungkin aku dan adikku hidup menderita di rumah ini."sahut Diana dengan mata berkaca-kaca.
" lalu kau mau apa?" tanya Hendra
" Om, sampaikan kepada lelaki yang tidak bertanggung jawab itu, jika suatu hari ia sudah tidak berdaya lagi jangan pernah mencari kamu sebagai anaknya atau mengakui kami."ucap Diana.
Yang dimaksud oleh Diana adalah ayahnya, Hendra hanya diam saja karena pada kenyataannya apa yang dikatakan Diana adalah kebenaran. Gadis ini mengemasi pakaian yang tak seberapa banyak.
" Terserah kau saja, pergilah sesuka hatimu. Kalian akan menjadi gembel di jalan!" ucap Hendra kemudian berlalu pergi.
Diusir seperti ini menjadi angin segar bagi Diana, setidaknya sekarang ia dan adiknya bisa hidup dengan bebas. Untung saja ada pemberian uang Hendra yang selama ini ia tabung.
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.