NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Detak yang tak diberi nama.

Pagi di markas selalu dimulai dengan suara peluit.

Tajam.

Tegas.

Tidak mengenal kata malas.

Haikal Fero sudah berdiri rapi di barisan sejak lima menit sebelum peluit pertama dibunyikan. Seragam lorengnya bersih, sepatu hitamnya mengilap, wajahnya datar tanpa emosi.

Baginya, keterlambatan adalah bentuk kelemahan.

Dan kelemahan tidak punya tempat dalam hidupnya.

“Siap, grak!”

Barisan bergerak serempak. Haikal memimpin dengan langkah mantap, napas teratur, fokusnya lurus ke depan. Keringat mulai mengalir di pelipis, tapi ekspresinya tak berubah sedikit pun.

Ia sudah terbiasa.

Latihan selesai dua jam kemudian. Matahari mulai naik, panas menyengat kulit. Saat anggota lain terduduk kelelahan, Haikal hanya berdiri sebentar, meneguk air, lalu melangkah ke ruang ganti.

“Haikal.”

Sebuah suara memanggilnya.

Ia menoleh. Seorang pria paruh baya berseragam lengkap berdiri di ambang pintu. Pangkat di pundaknya cukup untuk membuat siapa pun langsung tegap.

“Komandan,” sapa Haikal singkat, memberi hormat.

“Ke ruang saya,” perintah pria itu. “Sekarang.”

“Siap.”

Tidak ada tanya. Tidak ada raut heran.

Haikal hanya mengikuti.

Ruang komandan terasa dingin, AC menyala rendah. Di dinding tergantung bendera, foto-foto lama, dan piagam penghargaan. Haikal berdiri tegak di depan meja besar, kedua tangannya lurus di sisi tubuh.

“Duduk,” kata sang komandan akhirnya.

Haikal menurut.

“Bagaimana kondisi fisikmu?” tanya pria itu sambil membuka map.

“Baik, Komandan.”

“Tidak ada pelanggaran?”

“Tidak ada.”

Komandan itu mengangguk, lalu menutup map.

“Kamu kenal Ibu Maya?”

Haikal mengangkat pandangan.

“Kenal, Komandan. Ibu dari sahabat almarhum ayah saya.”

Pria itu menatapnya dalam-dalam.

“Kemarin saya bertemu beliau.”

Haikal diam.

“Beliau menyampaikan keinginan untuk menjodohkan putrinya dengan kamu.”

Kalimat itu meluncur begitu saja—tanpa basa-basi.

Sejenak, ruang itu sunyi.

Namun tidak ada perubahan di wajah Haikal. Tidak kaget. Tidak tersenyum. Tidak menolak.

Ia hanya menghela napas pelan.

“Saya sudah menduga,” jawabnya akhirnya.

Komandan mengernyit.

“Kamu tahu?”

“Ibu Maya pernah menyinggungnya beberapa kali,” ucap Haikal jujur. “Dan saya tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi permintaan beliau.”

“Lalu?”

Haikal menegakkan bahu.

“Jika itu permintaan beliau… saya siap.”

Nada suaranya datar, seolah yang dibicarakan bukan soal pernikahan—melainkan penugasan.

Komandan itu bersandar di kursinya.

“Kamu tidak ingin bertemu dulu dengan gadisnya? Mengenalnya?”

“Jika diberi waktu, saya akan melakukannya,” jawab Haikal. “Namun jika perjodohan ini harus segera dilaksanakan, saya tetap siap.”

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada ragu.

Hanya satu kata yang selalu jadi pegangan Haikal sejak kecil.

Tanggung jawab.

Siang hari, Haikal berdiri sendirian di lapangan tembak. Dentuman peluru memecah udara, target di kejauhan hancur tepat di tengah.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Bayangan masa lalu muncul tanpa diminta.

Wajah ayahnya.

Suara tegas pria itu.

Janji terakhir sebelum maut merenggutnya di medan tugas.

“Jaga kehormatan. Tepati amanah. Jangan lari dari tanggung jawab.”

Haikal menurunkan senjata, menghela napas panjang.

Ibu Maya bukan orang asing baginya. Wanita itu adalah sahabat ayahnya. Orang yang dulu membantu ibunya saat keluarganya terpuruk.

Jika sekarang wanita itu meminta satu hal darinya…

Haikal tidak akan menolak.

Meski ia belum pernah benar-benar mengenal putrinya.

Humairah Liandra.

Nama itu terlintas di kepalanya.

Gadis dua puluh tahun. Mahasiswi. Kata orang—bandel.

Haikal mengernyit sedikit.

Bukan tipenya.

Bukan dunianya.

Namun hidup tidak selalu soal keinginan.

Sore menjelang saat Haikal pulang ke rumah dinas kecilnya. Rumah itu rapi, minim dekorasi, nyaris tanpa sentuhan pribadi. Seperti dirinya—teratur, kaku, tanpa ruang untuk emosi berlebih.

Ponselnya bergetar.

Ibu Maya

Ia menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam, Haikal,” suara Maya terdengar lembut, namun penuh harap. “Kamu sudah dengar?”

“Sudah.”

“Kamu… keberatan?”

Haikal berdiri di dekat jendela, menatap langit yang mulai jingga.

“Tidak, Bu,” jawabnya jujur. “Jika Ibu mempercayakan putri Ibu pada saya, saya akan menjaganya sebaik yang saya bisa.”

Suara di seberang sana terdengar bergetar.

“Terima kasih, Nak.”

Namun setelah sambungan terputus, Haikal tetap berdiri lama.

Sunyi.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa berbeda di dadanya.

Bukan senang.

Bukan takut.

Melainkan kesadaran bahwa mulai hari itu—

hidupnya tidak lagi hanya miliknya sendiri.

Dan tanpa ia ketahui…

gadis bernama Lian, yang bahkan membenci namanya sendiri, akan menjadi ujian tersulit yang pernah ia hadapi—

bukan di medan perang.

_____

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah bercat putih dengan pagar sederhana namun terawat. Mesin dimatikan, dan sesaat Haikal hanya duduk diam di balik kemudi.

Tangannya masih memegang setir.

Bukan karena ragu untuk turun—

melainkan karena ia tahu, langkah yang akan ia ambil hari ini bukan langkah biasa.

Ini bukan misi.

Bukan operasi.

Bukan perintah tertulis.

Ini… kehidupan seseorang.

Haikal membuka pintu mobil, turun dengan gerakan tenang. Kemeja putih lengan panjang membalut tubuh tegapnya, celana hitam jatuh rapi, sepatu pantofel bersih tanpa cela. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya bersih tanpa janggut, ekspresinya tetap dingin seperti biasanya.

Ia menekan bel rumah.

Tak lama, pintu terbuka.

“Haikal?”

Maya berdiri di sana. Matanya langsung berbinar, bercampur haru dan lega.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Haikal sopan, menundukkan kepala sedikit.

“Wa’alaikumussalam. Masuk, Nak. Silakan masuk.”

Haikal melangkah masuk. Rumah itu hangat, berbeda jauh dari rumah dinasnya yang sunyi. Ada aroma teh hangat dan kue sederhana. Foto-foto keluarga menghiasi dinding—sebagian besar adalah foto seorang gadis remaja dengan senyum cerah… dan ekspresi nakal.

“Itu Lian,” ujar Maya mengikuti arah pandangan Haikal. “Anak saya.”

Haikal mengangguk pelan.

Ia tidak berkomentar.

Mereka duduk di ruang tamu. Maya menuangkan teh dengan tangan sedikit bergetar—bukan gugup, tapi penuh harap.

“Kamu tidak keberatan datang mendadak?” tanya Maya.

“Tidak, Bu. Saya sudah janji.”

Maya tersenyum tipis.

“Lian belum pulang. Dia… sering keluar.”

Haikal hanya menjawab singkat,

“Saya mengerti.”

Namun sebelum Maya sempat melanjutkan pembicaraan, suara motor meraung keras dari luar pagar—tidak seperti suara motor biasa. Gas ditarik kasar, rem ditekan mendadak.

Brak!

Suara motor berhenti.

Langkah kaki terdengar cepat.

Pintu pagar dibuka dengan bunyi nyaring.

Dan detik berikutnya—

Pintu rumah terbuka keras.

“Bun, aku—”

Suara itu terhenti di tenggorokan.

Lian berdiri di ambang pintu.

Jaket hitamnya kusut, hoodie di dalamnya bernoda debu. Buku jarinya memerah, ada luka kecil di sudut bibirnya, dan satu helai rambutnya menempel di pipi karena keringat. Napasnya masih berat, matanya tajam—siap melawan dunia.

Lalu pandangannya jatuh pada sosok asing di ruang tamu.

Pria tinggi.

Rapi.

Tenang.

Terlalu tenang.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik—

dunia seperti berhenti.

Haikal adalah orang pertama yang berdiri.

Refleks.

Insting.

Namun yang ia rasakan bukan waspada…

melainkan sesuatu yang tidak pernah ia latih sebelumnya.

Detak.

Satu.

Kuat.

Asing.

“Lian!” suara Maya membuyarkan hening. “Astaghfirullah, kamu kenapa lagi?!”

Lian tersadar.

Matanya langsung mengeras.

“Apa?” sahutnya ketus. “Aku cuma jatuh.”

Haikal menatapnya lurus. Tidak menghakimi. Tidak kaget. Tapi sorot matanya tajam—seperti orang yang terbiasa membaca kerusakan.

“Masuk kamar,” perintah Maya cemas. “Ganti baju. Bersihin diri.”

Lian mendecak.

Tatapan matanya kembali ke Haikal, dari ujung rambut sampai sepatu.

“Oh,” katanya sinis. “Ini pasti calon imam itu ya?”

Maya tercekat.

“Lian!”

Namun Haikal melangkah satu langkah ke depan.

“Saya Haikal Fero,” ucapnya tenang. “Assalamu’alaikum.”

Tidak ada senyum.

Tidak ada basa-basi.

Lian tertawa kecil. Bukan geli—tapi mengejek.

“Wah,” katanya pelan, menepuk tangannya sendiri. “Cepat juga. Baru kemarin aku dipaksa nikah, hari ini calon suaminya udah inspeksi rumah.”

Maya hampir menangis.

Namun Haikal tetap berdiri di tempatnya.

Tenang.

Terlalu tenang untuk situasi sekeras itu.

“Saya tidak datang untuk menghakimi,” ucap Haikal datar. “Dan saya tidak datang untuk memaksa.”

Lian mendekat satu langkah.

Jarak mereka kini sangat dekat.

“Kamu tahu apa tentang aku?” tantangnya. “Kamu lihat aku sekarang—masih mau jadi imam aku?”

Detak itu kembali muncul di dada Haikal.

Lebih keras.

Namun wajahnya tetap dingin.

“Saya tahu Anda anak Ibu Maya,” jawabnya. “Dan itu cukup.”

Jawaban itu membuat Lian terdiam.

Bukan karena tersentuh—

melainkan karena untuk pertama kalinya…

ada orang yang tidak berusaha menaklukkannya.

“Huh,” gumamnya. “Sok suci.”

Ia berbalik, melangkah pergi ke kamar tanpa pamit.

Pintu kamar tertutup keras.

Brak.

Sunyi menyelimuti ruang tamu.

Maya menutup wajahnya, bahunya bergetar.

“Maaf, Nak… dia—”

“Tidak apa-apa, Bu,” potong Haikal cepat. “Saya sudah melihat cukup.”

Maya menatapnya cemas.

“Kamu… berubah pikiran?”

Haikal menggeleng pelan.

“Tidak.”

Namun saat ia melangkah keluar rumah beberapa menit kemudian, Haikal berhenti sejenak di teras.

Menarik napas dalam.

Ia tidak tahu apa nama perasaan yang muncul saat mata liar itu menantangnya.

Bukan marah.

Bukan benci.

Hanya detak aneh—

yang untuk pertama kalinya tidak bisa ia kendalikan.

Dan di balik pintu kamar, Lian bersandar di dinding, menekan dadanya sendiri.

“Brengsek,” gumamnya pelan. “Kenapa jantung gue deg-degan…”

Detak itu…

tak diberi nama.

Namun sudah terlanjur ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!