"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu yang Menggebu
Aroma pepes ikan dan sambal terasi memenuhi ruang tengah, saat matahari tepat berada di puncak kepala. Citra duduk bersimpuh dengan keanggunan yang sempurna, jemarinya yang lentik mengayunkan kipas sutra dengan irama yang tenang.
Namun, ketenangan itu retak seketika, saat Rosie melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat dan debu yang menempel di sepanjang kain jarik merah batanya.
Rosie tidak hanya membawa aroma tubuh yang berkeringat, tapi juga bau tajam cengkeh dan kapulaga yang melekat kuat di kulitnya. Dia segera mengambil tempat di hadapan ibunya, berniat untuk segera mengisi perut yang sudah berbunyi sejak tadi karena sibuk menata karung di gudang.
Citra menghentikan gerakan kipasnya. Hidungnya kembang kempis menghirup udara di sekitar Rosie. Matanya menyapu penampilan putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak percaya.
"Putriku, apa yang telah kamu perbuat?" tanya Citra dengan suara yang ditekan, berusaha menjaga wibawanya di depan para pelayan yang berdiri di sudut ruangan.
Rosie mendongak, tangannya baru saja hendak meraih sendok kayu. "Kenapa, Ibu?" tanya Rosie balik dengan wajah polos.
"Lihat pakaianmu! Sangat kotor dan bau busuk rempah menyengat dari tubuhmu!" Citra mengibaskan kipasnya dengan cepat ke arah Rosie seolah ingin mengusir aroma tersebut. "Bangsawan macam apa yang membiarkan dirinya terlihat seperti kuli panggul di pasar bawah?"
Rosie melirik bahunya yang kecokelatan karena debu gudang. Dia baru sadar bahwa penampilannya memang cukup kacau untuk standar seorang nona besar. "Maaf, Ibu. Sepertinya saya harus mandi sebentar kalau begitu."
Rosie mulai beranjak untuk berdiri, tapi suara bentakan Citra menahannya.
"Duduk!" perintah Citra. Suaranya tidak terlalu keras, tapi mengandung otoritas yang membuat bahu Rosie menegang secara refleks. "Kamu tidak diizinkan untuk pergi sebelum orang tua selesai bicara. Di mana tata kramamu?"
Rosie mengembuskan napas panjang dan kembali duduk bersimpuh dengan canggung. Rasa lapar dan lelah membuatnya kehilangan kesabaran. "Maaf, Ibu. Aku cuma merasa bosan di dalam rumah terus. Aku butuh kegiatan. Aku enggak suka cuma berdiam diri di dalam kamar kayak orang bego," ucap Rosie blak-blakan, menggunakan istilah yang membuat seluruh pelayan di ruangan itu tersentak.
"Merah!" Citra menutup kipasnya dengan suara 'tak' yang tajam. "Bicara apa kamu? Bego? Bahasa jalanan mana lagi yang kamu pelajari? Ternyata kamu memang belum juga sembuh sepenuhnya!"
Citra menoleh ke arah sudut ruangan dengan mata yang berkilat marah. "Laras! Gendis! Bawa nona kalian ke kamarnya sekarang juga! Kurung dia dan jangan biarkan dia keluar satu langkah pun. Berikan makanannya di dalam kamar saja sampai pikirannya kembali waras!"
"Baik, Nyonya Besar," jawab Laras dan Gendis serempak dengan suara bergetar.
"Ibu! Enggak bisa begitu!" teriak Rosie, tidak menyangka bahwa kejujurannya justru berbuah hukuman penjara rumah.
"Merah, beraninya kamu mengeluarkan suara setinggi itu di hadapan Ibu!" Citra berdiri, menatap Rosie dengan tatapan dingin yang menusuk.
Laras dan Gendis mendekat dengan ragu-ragu. "Mari, Nona," ucap Gendis sambil memegang lengan Rosie, mencoba menariknya secara halus.
"Enggak mau! Lepasin!" Rosie meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangan pelayannya.
Citra memberikan isyarat tajam kepada Putih yang sejak tadi hanya diam membeku di samping meja makan. "Putih, bantu mereka! Pastikan kakakmu masuk ke kamarnya sekarang!"
Putih ragu sejenak, tapi dia akhirnya melangkah maju. Tangannya yang mungil ikut memegang lengan kiri Rosie.
Dengan kekuatan gabungan dari tiga orang, Rosie diseret paksa melewati ruang tengah yang luas. Laras mengikuti dari belakang sambil membawakan nampan berisi makanan, sementara Melati membawa teko minuman dengan wajah yang sulit diartikan.
"Lepasin aku!" teriak Rosie begitu mereka sampai di depan pintu kamarnya. Dia didorong masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari celah dinding bambu itu. "Aku enggak mau dikurung! Ini namanya pelanggaran hak asasi manusia!"
"Nona, mohon tenanglah. Ini sudah menjadi perintah Nyonya Besar," ucap Laras sambil meletakkan nampan makanan di atas meja kayu pendek di lantai.
"Aku enggak peduli itu perintah siapa! Keluar kalian semua!" Rosie berteriak sambil menendang balai-balai kayunya karena kesal.
Putih berdiri di ambang pintu, menatap Rosie dengan mata yang berkaca-kaca. "Jika Nona terus seperti ini, Ibu akan semakin marah. Kalau begitu, biar saya yang mencoba merayu Nyonya Besar agar Nona boleh keluar besok pagi."
"Nona Putih, jangan!" cegah Melati dengan suara panik. "Nanti Nona bisa disiksa lagi seperti sebelumnya kalau Nyonya Besar tersinggung. Jangan korbankan diri Nona demi orang yang selalu menjahatimu!"
"Tidak apa-apa, Melati," jawab Putih dengan nada martir yang sangat kental. "Ini semua demi Kakak Merah."
Rosie yang mendengar percakapan itu justru merasa ngeri. Bayangan Putih yang disiksa oleh Citra karena membelanya membuat perutnya mulas. Dia tidak ingin berutang budi pada adik tirinya ini.
"Nona Merah, bisakah Nona berhenti melukai nona saya dengan tingkah aneh Nona?" Melati tiba-tiba bersuara dengan nada yang menuduh, matanya menatap Rosie dengan benci.
"Beraninya kamu bicara begitu, Melati!" bentak Gendis yang tidak terima majikannya disalahkan. "Nona Merah sedang sakit, kamu tidak punya hak untuk menghakiminya!"
"Sakit atau hanya mencari perhatian?" sahut Melati sengit. "Karena tingkahnya, Nona Putih selalu menjadi sasaran amarah Nyonya Besar!"
"Tutup mulutmu, pelayan lancang!" Gendis melangkah maju dan tanpa aba-aba, dia menjambak rambut Melati yang disanggul rendah.
"Aku tidak tahan lagi dengan kesombonganmu, Gendis!" teriak Melati.
Dia membalas dengan menarik kain kemben Gendis hingga pelayan itu hampir terjatuh.
Keduanya saling jambak dan dorong di tengah kamar Rosie, menciptakan keributan yang luar biasa. Laras mencoba melerai tapi justru terkena sikut Melati.
"Diam!" teriak Rosie dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang di ruangan itu membeku. "Mending kalian keluar aja! Keluar sekarang juga!"
Rosie mendorong mereka semua ke arah pintu dengan kekuatan penuh. Putih, Melati, Laras, dan Gendis terhuyung keluar dari kamar. Rosie segera menarik kain penutup pintu dan mengikatnya dengan tali kain dari dalam, mengabaikan fakta bahwa dinding bambunya tidak memiliki kunci sungguhan.
Suasana mendadak hening. Rosie menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur kapuk yang keras dan mulai berbau apek. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Berhari-hari Rosie mendekam di dalam kamar itu. Dia hanya keluar untuk pergi ke jamban di bawah pengawasan ketat Jaka atau Wira. Dia merasa dunianya telah menyusut menjadi ruangan empat kali empat meter tanpa jendela kaca. Rasa frustrasi mulai berubah menjadi kesedihan yang mendalam.
Dalam sunyinya malam, Rosie mulai meratapi nasibnya. Dia tidak tahu bagaimana caranya kembali ke dunianya yang asli. Tidak ada petunjuk, tidak ada nenek sihir yang muncul, tidak ada buku yang bisa dia baca ulang. Air mata mulai mengalir di pipinya, membasahi kain sprei cokelat kusam yang dia gunakan.
Dia menatap langit dari jendela kamar. Merindukan kehidupan lamanya yang membosankan di Jakarta. Meskipun dia lelah bekerja, setidaknya dia bebas pergi ke mana pun dia mau.
Dia rindu memesan kopi di pagi hari, rindu mendengar bisingnya klakson mobil, dan yang paling utama, dia sangat merindukan keluarganya yang masih ada, walaupun hidup sendirian di kota.
"Aku kangen mereka ... keluargaku," bisik Rosie lirih di tengah isak tangisnya.
Dia membayangkan wajah nenek, bibi, dan sepupu-sepupunya yang sering dia datangi di akhir pekan hanya untuk sekadar makan bersama atau menonton film. Merindukan tawa berisik mereka dan pelukan hangat yang tidak pernah dia dapatkan di Kediaman Jati Jajar ini.
Di dunia ini, semua orang menatapnya dengan rasa takut atau benci, sementara di dunianya yang dulu, dia adalah Rosie yang dicintai.
"Mama, katanya, orang kalau udah enggak ada, sekarang bersinar jadi bintang, bintang malam di sini banyak banget, aku kangen Mama, aku mau pulang," racaunya sambil memeluk bantal kerasnya erat-erat.
Hampir seminggu berlalu dalam pengurungan itu. Rosie mulai kehilangan nafsu makan. Pikirannya terus berputar pada satu titik, jika dia benar-benar terjebak selamanya di sini sebagai Kirana Merah, maka dia tidak boleh membiarkan dirinya mati dalam kesedihan.
Dia harus menemukan cara untuk mengambil alih kendali hidupnya kembali, dimulai dengan mencari jalan keluar dari kamar ini tanpa harus meminta izin pada siapa pun.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/