Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Bel pulang sekolah baru saja berdentang, namun bagi Amara, itu bukan pertanda untuk bersantai. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju gerbang depan sambil membawa buku kumpulan soal yang masih terbuka. Di sampingnya, Sarah terus berceloteh tentang soal-soal Penalaran Matematika yang tadi sempat mereka bahas di kelas tambahan.
Amara tampak sangat serius. Keningnya berkerut, matanya tajam menatap barisan angka di kertas. "Sar, gue rasa nomor 42 itu kuncinya di eliminasi variabel variabel x dulu, baru kita cari rata-ratanya. Kalau pakai cara lo tadi, waktunya habis cuma buat ngitung pecahan."
"Duh, Ra, lo bener-bener ya. Pulang sekolah masih aja bahas beginian. Otak gue udah mau meledak, tahu!" keluh Sarah sambil memijat pelipisnya.
Amara tidak tertawa. Tidak ada candaan, tidak ada senyum. Fokusnya sepenuhnya terserap pada ambisinya untuk menembus universitas impian. Ia terus berjalan dengan langkah yang konstan, mengabaikan kerumunan siswa lain yang sibuk merencanakan tempat nongkrong sore ini.
"Fokus, Sar. UTBK tinggal hitungan minggu. Kalau kita nggak disiplin sekarang, mau kapan lagi?" ucap Amara dengan nada tegas, masih tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
Namun, begitu langkah mereka sampai di dekat gerbang utama, konsentrasi Amara yang sekeras baja itu mendadak retak. Dari sudut matanya, ia menangkap sosok jangkung yang berdiri bersandar pada pilar gerbang. Nicholas ada di sana, masih dengan kaos hitam yang sama, namun kini ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan sebagai luaran.
Nicholas tidak memegang ponsel. Ia hanya berdiri diam, melipat tangan di depan dada, dan matanya langsung terkunci pada sosok Amara sejak gadis itu muncul di kejauhan.
Amara menghentikan langkahnya tepat di depan Nicholas. Ia menutup bukunya dengan suara plak yang cukup keras, berusaha menetralkan debar jantungnya yang tiba-tiba berulah.
"Kakak nggak ada kelas ya?" tanya Amara dengan nada yang mencoba terdengar datar, meskipun ada sedikit nada heran karena jam baru menunjukkan pukul tiga sore.
Nicholas menatap Amara sejenak, lalu pandangannya turun ke buku tebal yang didekap gadis itu. Ia menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang membuat beberapa siswi yang lewat di belakang mereka mencuri pandang.
"Ada. Tapi dosennya lagi rapat, jadi cuma dikasih tugas mandiri," jawab Nick santai. Ia mengambil alih buku tebal dari tangan Amara tanpa bertanya. "Tugas mandiri gue adalah mastiin lo balik tepat waktu buat istirahat. Belajar mulu, nanti otak lo konslet."
"Kak, balikin! Aku lagi bahas kisi-kisi sama Sarah," protes Amara sambil mencoba meraih bukunya kembali.
Sarah, yang merasa menjadi obat nyamuk di antara mereka, segera mundur teratur. "Eh, Ra! Kayaknya gue baru inget ada urusan sama nyokap. Gue balik duluan ya! Bahas soalnya besok lagi di sekolah. Bye, Ra! Duluan, Kak Nick!"
"Sar! Sarah!" panggil Amara kesal, namun temannya itu sudah melesat pergi dengan ojek online.
Nicholas tertawa kecil melihat tingkah laku teman Amara. Ia kemudian memberikan helm pada Amara. "Ayo. Jangan cemberut terus, nanti pitanya jadi nggak cantik."
Amara tertegun. Ia lupa bahwa ia masih memakai jepitan pita itu. Dengan wajah merah padam, ia memakai helmnya dengan kasar. "Kak Nick tuh hobinya ganggu orang belajar aja."
Biasanya, Nicholas akan langsung membawa Amara pulang ke rumah. Namun kali ini, ia justru memacu motornya ke arah yang berbeda. Ia membawa Amara ke sebuah taman kota yang cukup sepi dan rimbun, tempat yang jauh dari kebisingan jalan raya.
"Lho, kok ke sini? Ini bukan jalan pulang," tanya Amara bingung saat Nick memarkirkan motornya di bawah pohon trembesi yang besar.
"Gue bilang, lo butuh istirahat," Nick turun dari motor dan memberi isyarat agar Amara mengikutinya ke salah satu bangku taman. "Duduk di sini sepuluh menit. Tanpa buku, tanpa soal UTBK, tanpa mikirin variabel x atau y."
Amara hendak membantah, tapi Nick memberikan tatapan yang sangat dalam. "Sepuluh menit, Amara. Kalau lo masih bandel, gue sita buku lo sampai besok pagi."
Akhirnya, dengan setengah hati, Amara duduk. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku yang dingin. Angin sepoi-sepoi mulai membelai wajahnya, dan suara kicauan burung di atas pohon perlahan mulai menggantikan kebisingan rumus di kepalanya.
Nicholas duduk di sampingnya, namun kali ini ia menjaga jarak yang cukup sopan. Ia mengeluarkan dua botol air mineral dingin dari tasnya dan menyerahkan salah satunya pada Amara.
"Makasih," gumam Amara pelan.
Hening sejenak. Mereka hanya menatap hamparan rumput hijau di depan mereka. Amara mulai merasakan otot-otot lehernya yang tadinya tegang mulai rileks. Ia baru sadar bahwa ia memang sangat lelah.
Dialog di Bawah Pohon
"Kenapa Kakak tiba-tiba jadi... begini?" tanya Amara tiba-tiba, memecah kesunyian.
Nicholas menoleh, menatap Amara dari samping. "Begini gimana?"
"Ya... nggak maksa aku kayak dulu. Terus tiba-tiba jadi baik, nungguin aku di gerbang, bahkan bawa aku ke sini cuma buat istirahat."
Nick terdiam cukup lama sebelum menjawab. Ia menatap tangannya sendiri, seolah sedang merangkai kata-kata yang tepat. "Gue cuma nggak mau jadi alasan lo buat merasa tertekan lagi, Ra. Gue mau lo tahu kalau dunia bukan cuma soal nilai atau ujian. Dan gue mau lo tahu... kalau lo punya tempat buat naruh beban lo sejenak."
Amara menatap Nicholas dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. "Kak Nick... soal dua tahun lalu. Maaf kalau kemarin aku bilang itu cuma kenangan sekilas."
Nick tersenyum pahit. "Nggak apa-apa. Emang buat lo itu cuma sekilas. Tapi buat gue, itu adalah awal dari alasan gue buat tetap waras di tengah kacaunya hidup gue saat itu. Lo yang bawa gue ke rumah sakit, lo yang nungguin gue... padahal lo nggak kenal gue."
Nick menatap Amara dengan intensitas yang membuat Amara merasa dadanya sesak. "Jadi, kalau sekarang gue agak berlebihan jagain lo, itu karena gue nggak mau 'malaikat' gue kenapa-napa."
Amara tertegun. Ia baru sadar betapa berartinya tindakan kecilnya dulu bagi Nicholas. Ia menunduk, memainkan tutup botol minumnya. "Tapi Kakak nggak harus jadi red flag buat jagain aku."
"Gue lagi belajar, Ra. Pelan-pelan," sahut Nick lembut. Ia kemudian berdiri, mengulurkan tangannya pada Amara. "Udah sepuluh menit. Ayo pulang, nanti Ryan nyariin."
Amara menatap telapak tangan Nicholas yang terulur di depannya. Kali ini, ia tidak menepisnya. Ia menyambut tangan itu dan berdiri. Saat tangan mereka bersentuhan, Amara tidak lagi merasa terancam. Ia merasa... dilindungi.
Sepanjang perjalanan pulang, Amara menyandarkan kepalanya sebentar di punggung Nicholas, menikmati semilir angin dan aroma jaket pria itu yang kini terasa sangat menenangkan. Ia sadar, mungkin Nicholas memang bukan pria yang sempurna, tapi Nicholas adalah satu-satunya orang yang rela melambatkan dunianya hanya agar Amara bisa bernapas sejenak.