(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Lembah Angin Puyuh – Pintu Masuk Alam Rahasia.
Ribuan kultivator dari berbagai sekte dan klan berkumpul di dasar lembah yang curam. Di hadapan mereka, menjulang sebuah Gerbang Batu setinggi lima puluh meter yang tertanam di dinding tebing.
Gerbang itu kuno, ditutupi lumut dan ukiran rumit yang menggambarkan rasi bintang dan pedang.
Suasana tegang. Sudah tiga jam berlalu sejak waktu pembukaan yang diprediksi, tapi gerbang itu bergeming.
"Minggir! Biarkan Murid Inti Sekte Pedang Terbang mencoba!"
Seorang pemuda berjubah putih dengan sulaman pedang perak maju. Dia adalah Luo Jian, jenius pedang wilayah tetangga.
"Buka!" Luo Jian menebas gerbang itu dengan teknik pedang terkuatnya.
TRANG!
Gelombang energi memantul balik. Luo Jian terpental, pedangnya bergetar hebat. Gerbang itu bahkan tidak tergores.
"Sialan! Formasi apa ini?!" maki Luo Jian. "Ini butuh tenaga murni! Klan Kapak Besi, giliran kalian!"
Sekelompok pria berotot maju memukul gerbang. Hasilnya sama: mereka terpental muntah darah.
Di pinggiran kerumunan, Ye Xing, Mei Wuchen, dan Lin Xiao baru saja tiba. Mei Wuchen mengunyah apel dengan suara krak yang keras, menarik perhatian orang-orang di dekatnya.
"Menyedihkan," komentar Mei Wuchen dengan mulut penuh. "Mereka mencoba membuka kunci kombinasi pakai palu."
Ye Xing menatap gerbang itu. Mata Bintang-nya berputar.
"Dua titik pusat," gumam Ye Xing. "Kiri melambangkan Bintang (Yang). Kanan melambangkan Pedang (Yin). Ini bukan sekadar pintu.."
Ye Xing melangkah maju membelah kerumunan.
"Minggir. Kalian menghalangi jalan masukku," kata Ye Xing datar.
Luo Jian yang sedang emosi menoleh. "Siapa kau? Murid Awan Rusak? Sekte sampah kalian bahkan tidak punya hak bicara di sini!"
"Sampah?" Mei Wuchen muncul di samping Ye Xing, membuang sisa apelnya ke arah Luo Jian. "Kalau kami sampah, kalian yang tidak bisa buka pintu ini apa? Debu sampah?"
"Gadis kurang ajar!" Luo Jian hendak mencabut pedang.
"Lin Xiao," perintah Ye Xing. "Pasang badan."
Lin Xiao, yang sekarang sudah sangat percaya diri, maju dengan perisai dan armor barunya. Dia berdiri seperti tembok di antara Ye Xing dan Luo Jian.
Sementara itu, Ye Xing dan Mei Wuchen berjalan santai menuju gerbang raksasa itu.
"Siap, Tuan Putri?" tanya Ye Xing tanpa menoleh.
"Jangan panggil aku Tuan Putri, Bintang Jelek," balas Mei Wuchen. "Kau ambil kiri (Bintang), aku ambil kanan (Pedang). Hitungan ketiga."
Mereka berdiri terpisah sepuluh meter, masing-masing menghadap satu sisi pintu yang memiliki ukiran cekung berbentuk telapak tangan.
"Satu."
Ye Xing mengangkat tangan kirinya. Aura emas Bintang mulai berkumpul, memancarkan panas dan gravitasi yang berat.
"Dua."
Mei Wuchen mengangkat tangan kanannya. Aura perak Pedang yang dingin dan tajam menyelimuti jarinya, membuat udara di sekitarnya membeku.
Para kultivator lain terdiam. Mereka merasakan dua energi yang sangat berlawanan namun murni.
"Mustahil..." gumam seorang Tetua dari sekte lain. "Api dan Es? Bintang dan Pedang? Jika dua energi itu bertabrakan, mereka akan meledak!"
"Tiga!" teriak Ye Xing dan Mei bersamaan.
BAM!
Mereka menempelkan telapak tangan ke gerbang itu serentak.
Bukannya meledak, dua aliran energi itu merambat masuk ke dalam ukiran batu. Cahaya emas dan perak mengalir seperti cairan, bertemu di tengah gerbang, lalu berputar membentuk simbol Taiji (Yin-Yang) yang sempurna.
Duummm....
Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah. Debu berjatuhan.
Gerbang raksasa yang tidak bisa digores oleh pedang pusaka sekalipun... perlahan terbelah dua dan terbuka ke dalam.
Angin purba yang membawa aroma obat-obatan dan logam kuno berhembus keluar.
"Terbuka?! Mereka membukanya!" "Siapa pasangan itu?! Resonansi Qi mereka sempurna!"
Ye Xing menurunkan tangannya, lalu menoleh ke Mei Wuchen. "Kau telat."
"Kau yang terlalu cepat, Dasar Maniak bintang!" balas Mei Wuchen tak mau kalah.
"Ayo masuk sebelum lalat-lalat di belakang sadar," ajak Ye Xing.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kegelapan gerbang, diikuti Lin Xiao yang berlari menyusul sambil menjulurkan lidah pada Luo Jian yang masih bengong.
Namun, begitu mereka bertiga melewati ambang pintu...
ZING!
Cahaya teleportasi menyelimuti mereka. Ini bukan lorong fisik, tapi gerbang teleportasi acak.
Ye Xing merasakan tarikan ruang yang kasar.
"Pegang tanganku!" teriak Ye Xing pada Mei dan Lin Xiao.
Mei Wuchen berhasil meraih tangan kiri Ye Xing. Tapi Lin Xiao, yang posisinya agak di belakang dan membawa banyak barang bawaan, terpeleset.
"Bos! Tolooong!" Lin Xiao tersedot ke arah pusaran cahaya yang berbeda.
"Lin Xiao!" teriak Ye Xing.
Terlambat. Lin Xiao menghilang ke arah Zona Hutan.
Sementara Ye Xing dan Mei Wuchen terlempar bersama ke arah Zona Reruntuhan.
Alam Rahasia – Zona Reruntuhan Kota Kuno.
BRUK!
Ye Xing dan Mei Wuchen jatuh bergulingan di atas lantai batu yang pecah.
Ye Xing mendarat di bawah, menjadi bantalan. Mei Wuchen mendarat tepat di atas dada Ye Xing, tapi di dunia ini, itu menyakitkan karena Ye Xing tidak memakai baju zirah tebal.
"Aduh... rusukku," keluh Ye Xing. "Kau makan apa sih di Langit? Berat sekali."
Mei Wuchen mengangkat kepalanya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Wajahnya memerah, lalu dia segera menampar dada Ye Xing dan melompat berdiri.
"Aku ringan seperti bulu! Itu ototmu yang lembek!" teriak Mei Wuchen.
Ye Xing bangkit sambil membersihkan jubahnya. Dia melihat sekeliling.
Mereka berada di sebuah kota mati di bawah tanah. Langit-langit gua dipenuhi kristal bercahaya yang bertindak sebagai bintang buatan. Bangunan-bangunan di sini hancur, seolah pernah terjadi perang besar ribuan tahun lalu.
Dan yang paling mencolok... ada banyak Patung Batu berbentuk prajurit yang berdiri mematung di sepanjang jalan.
"Lin Xiao terpisah," kata Ye Xing cemas, melihat kompas pelacak di cincinnya. "Sinyalnya lemah. Dia ada di sektor utara."
"Anak itu punya Armor Kura-kura dan Pil Tulang Besi. Dia akan bertahan hidup," kata Mei Wuchen mencoba optimis, meski matanya juga khawatir. "Fokus kita sekarang adalah..."
Mei Wuchen menunjuk ke salah satu patung batu di dekat mereka.
Mata patung itu baru saja menyala merah.
Krek... Krek...
Suara batu pecah terdengar. Patung itu bergerak. Dan bukan hanya satu. Ratusan patung di kota mati itu mulai menoleh ke arah mereka.
"Golem Penjaga," desis Ye Xing, mencabut Pedang Tulang Naga-nya. "Selamat datang di Makam Bintang, Tuan Putri. Kencan pertama kita sepertinya akan sedikit berisik."
Mei Wuchen mencabut pedang kayunya (yang kini dilapisi Qi Pedang setajam berlian). Dia berdiri punggung-punggung dengan Ye Xing.
"Siapa yang mau kencan denganmu?" Mei Wuchen menyeringai buas. "Ayo kita lihat siapa yang bisa menghancurkan lebih banyak kepala batu!"