NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat tinggal Arelion

Cahaya pagi menyusup lembut di sela tirai. Elora menggeliat pelan di atas ranjang yang terlalu empuk untuk kamar yang biasa ia tempati. Kepalanya terasa berat. Ia memijat pelipisnya perlahan, mencoba merangkai kembali potongan kejadian yang berloncatan di ingatannya..pesta, kolam, air dingin… dan sepasang mata yang menatapnya terlalu dekat.

Di mana ini…?

Ia duduk , selimut tebal melorot di bahunya. Pandangannya menyapu kamar luas bernuansa krem dan abu-abu, rapi, dingin, dan jelas bukan kamar Maria.

“Kau sudah bangun?”

Suara itu membuat Elora tersentak. Jantungnya berdetak keras. Ia menoleh cepat.

Arelion berdiri tak jauh dari pintu, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung santai. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tenang, namun sorot matanya sulit dibaca.

Elora refleks menarik selimut lebih rapat.

“Ini… di mana?” tanyanya serak.

“Kamarku,” jawab Arelion santai.

Gara-gara minuman aneh itu ,ia jadi tak bisa berpikir jernih .Namun Elora masih ingat jika Arelon yang sudah menolongnya .

 Elora terdiam, jemarinya mencengkeram seprai.

Tak lama Elora tersentak saat menyadari gaun yang dikenakannya bukan lagi gaun semalam. Kainnya kini kering, bersih, dan terasa asing di kulitnya.

Elora menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Bajuku…”

Arelion berdiri tak jauh darinya, ekspresinya tenang.

“Pelayan yang menggantinya,” ujarnya singkat. “Kau tidak mungkin tidur di kasurku dalam keadaan basah.”ucapnya datar .

Elora terdiam sejenak. Wajahnya memerah, bukan karena malu semata, melainkan karena perasaan asing yang sulit ia jelaskan antara canggung dan hangat.

“Terima kasih, Tuan,” ucapnya akhirnya, menundukkan kepala. “Maaf… sudah merepotkanmu.”

Arelion menatapnya lama. Ada sesuatu dalam sikap Elora cara ia meminta maaf, cara ia menjaga jarak yang membuat dadanya terasa sesak.

Ini kedua kalinya ia perduli pada perempuan asing yang baru dikenalnya .

Seorang Arelion yang dikenal dingin pada perempuan dengan tanpa ragu membiarkan gadis bernama Elora tidur di kamarnya .

Padahal bisa saja ia minta bantuan pelayan tanpa harus repot-repot membawa gadis itu ke kamarnya .

Namun sekali lagi..hatinya menghianati logikanya .

“Elora,” panggilnya pelan.

Ia mendongak.

“Semalam,” lanjut Arelion, suaranya lebih rendah, “kau mengatakan sesuatu sebelum jatuh ke kolam. Tentang… aku yang melupakanmu.”

Udara di antara mereka menegang.

“Apa maksudmu?” tanya Arelion, nyaris berbisik.

Elora menggeleng cepat. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, jemarinya dingin.

“Aku tak ingat,” katanya lirih namun tegas. “Mungkin aku hanya asal bicara. Semalam aku tidak sadar sepenuhnya.”

Arelion tak langsung percaya. Ia melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, cukup dekat hingga Elora bisa merasakan hangat napasnya. Jarak itu membuat dada Elora sesak.

“Elora…” suaranya merendah, serius. “Kenapa kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?..Sebenarnya kau ini siapa ?"

Elora menahan napas.

“Apa sebelumnya kita pernah saling mengenal?” lanjut Arelion. “Meski aku yakin aku tak mengenalmu… tapi kenapa hatiku berkata lain?”

Pertanyaan itu menusuk tepat di tempat yang paling ia lindungi.

Elora memalingkan wajah. Matanya berkaca-kaca, namun ia memaksa senyum tipis senyum yang rapuh.

“Hati kadang menipu, Tuan,” jawabnya pelan. “Apalagi pada orang sepertimu. Banyak perempuan mungkin merasa dekat, lalu mengira punya kenangan.”

Ini keputusan yang tepat .Ia akan menjauh dari Arelion.Laki-laki ini sudah bahagia dengan kehidupannya.

Apalagi ia akan segera menikah dengan wanita yang sepadan .

Kenangan bersamanya dulu mungkin tak berarti apa-apa.

Arelion mengernyit.

“Kau tidak sedang bercanda.”

“Tidak,” sahut Elora cepat. “Dan aku mohon… jangan cari-cari makna dari sesuatu yang tidak pernah ada.”

Kata-kata itu terasa kejam, bahkan bagi dirinya sendiri.

Arelion berdiri tegak kembali, rahangnya mengeras. Namun sorot matanya justru semakin gelap bukan marah, melainkan penuh kebingungan.

" Maaf tuan..saya harus pulang ,"

Elora baru saja menurunkan kakinya dari ranjang ketika suara ketukan terdengar di pintu kamar.

Tok. Tok. Tok.

Tubuhnya menegang. Refleks ia menoleh ke arah Arelion.

Arelion segera mengangkat telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar Elora diam.

“Diamlah,” bisiknya singkat. “Tunggu sebentar.”

Ia melangkah cepat ke pintu, lalu membukanya hanya sedikit dan keluar, menutupnya kembali dengan rapat di belakangnya,seolah memastikan tak ada celah bagi siapa pun untuk mengintip.

Di luar, Nyonya Arkaven berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Lion,” ucapnya lembut, “apa benar semalam kau tidak enak badan?”

Arelion mengangguk tipis.

“Maaf, Ibu. Aku merasa pusing, jadi aku memilih istirahat lebih dulu.”

Nyonya Arkaven menatap putranya lekat-lekat, lalu menghela napas lega.

“Yang penting sekarang kau baik-baik saja. Ibu sempat khawatir.”

Arelion tersenyum kecil, senyum yang dibuat-buat namun cukup meyakinkan.

“Terima kasih, Ibu.”

Wanita itu menepuk pelan lengan Arelion sebelum berlalu.

Begitu langkah ibunya menjauh, Arelion menghela napas panjang. Untunglah semalam ia sempat meminta salah satu pelayan kepercayaannya memberi tahu jika ia tidak enak badan dan memilih beristirahat lebih dulu. Ia tak mungkin meninggalkan Elora sendirian di kamar itu dalam keadaan pingsan dan rapuh.

Ia berbalik dan membuka kembali pintu kamar.

Elora masih berdiri di tempat semula, raut wajahnya tegang, seolah bersiap melarikan diri kapan saja.

“Maaf,” ucap Arelion pelan. “Aku tidak bermaksud menyulitkanmu.”

Elora menggeleng.

“Aku seharusnya tidak ada di sini,” katanya lirih. “Aku harus pergi sekarang, sebelum semuanya menjadi semakin rumit.”

Arelion menatapnya lama. Ada sesuatu di dadanya yang terasa berat seperti kehilangan yang bahkan belum sempat ia pahami.

Namun kali ini, ia tak menahan.

Ia hanya membuka pintu dan memberi jalan.

Diluar kamar seorang pelayan sudah menunggu ,Arelion memintanya mengantar Elora melewati jalan belakang .

Elora berhenti sejenak di ambang pintu. Ia tidak menoleh, hanya menggenggam erat tangannya sendiri.

Selamat tinggal Arelion,ucapnya dalam hati.

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Arelion berdiri sendiri dengan satu perasaan samar .

1
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Azumi Senja
Kereenn
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!