Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5) HARAPAN YANG HILANG
KEBIASAAN YANG TAK TERPUTUS
Bunyi bel kelas yang panjang menggema di setiap sudut kampus Universitas Indonesia, menandakan akhir jam kuliah siang hari. Sea dengan cepat menyimpan buku dan alat tulisnya ke dalam tas ransel yang sudah agak aus akibat penggunaan setiap hari. Wajahnya menunjukkan senyum yang tidak bisa disembunyikan—seperti biasa, ia akan segera bertemu Rayyan di kantin kampus yang terletak tepat di tengah area fakultas.
"Sea, lagi buru-buru ya?" tanya Maya, teman sekelasnya yang sedang mengikuti langkahnya keluar dari kelas.
Sea hanya bisa tersenyum lebar. "Iya nih, Janjian sama Rayyan di kantin. Kamu mau ikut?"
Maya menggeleng dengan senyum paham. "Enggak deh, aku tidak mau jadi kilatan cahaya aja. Kamu aja dulu ya, nanti kita ketemu lagi di kelas sore."
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Maya, Sea berjalan dengan langkah yang lebih cepat menuju kantin. Jalanan kampus yang ramai dengan mahasiswa yang sedang mencari tempat makan tidak membuatnya terganggu—hatinya sudah terbang jauh ke arah Rayyan, yang biasanya selalu datang lebih dulu dan sudah menyimpan tempat untuk mereka berdua di sudut kanan kantin yang tidak terlalu ramai.
Setelah sekitar lima menit berjalan, Sea akhirnya tiba di kantin. Ia melihat meja yang biasa mereka tempati—kosong. Tidak ada tanda-tanda Rayyan yang sudah datang. "Mungkin dia terlambat sedikit aja," bisik Sea sendiri sambil menyimpan tasnya di kursi dan segera pergi ke loket untuk memesan makanan kesukaan Rayyan: nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dan kerupuk.
Setelah makanan siap, Sea kembali ke meja dan menempatkan piring di atas meja—satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Rayyan. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya dan melihat jam: pukul 12.45. Rayyan biasanya datang paling lambat pukul 12.30. Namun Sea tidak merasa khawatir—kadang-kadang Rayyan memang terlambat jika dosennya memberikan tambahan materi atau ada urusan kecil di laboratorium fakultas teknik yang ia tempuh.
Ia mulai makan dengan pelan, sesekali melihat ke arah pintu kantin dengan harapan melihat sosok pria tinggi dengan rambut hitam bergelombang yang selalu memberikan senyum hangat padanya. Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit—tetap saja tidak ada tanda Rayyan.
Sea mengambil ponselnya dan mengetuk nama Rayyan di daftar kontak. Suara nada dering terdengar dari ponselnya, namun tidak ada yang menjawab. Ia mencoba sekali lagi, namun hasilnya sama. "Mungkin dia sedang dalam perjalanan dan tidak bisa menjawab telepon," pikirnya sambil mencoba untuk tetap tenang.
Setelah selesai makan, Sea masih tetap menunggu. Kantin yang awalnya ramai mulai sepi karena mahasiswa sudah kembali ke kelas atau kamar mereka. Petugas kantin bahkan sudah mulai membersihkan meja-meja lain, namun Sea masih tetap duduk di sana dengan harapan Rayyan akan datang. Jam menunjukkan pukul 13.30—sudah satu jam lebih ia menunggu.
Ia mencoba mengirim pesan singkat melalui aplikasi perpesanan: "Kamu dimana ya? Aku sudah nunggu di kantin lho. Makanannya aku pesenin aja ya, kalau kamu datang nanti masih bisa dimakan dingin-dingin aja." Namun setelah beberapa menit, tidak ada balasan pun. Bahkan ketika ia mencoba menelpon lagi, suara yang terdengar bukan lagi nada dering, melainkan pemberitahuan bahwa nomor yang ditelepon tidak aktif.
"Bagaimana bisa tidak aktif?" bisik Sea dengan wajah yang mulai menunjukkan rasa khawatir. Rayyan pernah mengatakan bahwa ponselnya selalu diisi daya dan dalam kondisi siap pakai karena ia sering mendapatkan panggilan penting dari dosen atau teman kelompoknya. Tidak pernah ada kalinya ponselnya tidak aktif seperti ini.
Dengan hati yang penuh kekhawatiran, Sea membersihkan meja dan membawa piring yang berisi makanan Rayyan yang belum tersentuh ke loket. Ia meminta petugas kantin untuk menyimpannya di lemari pendingin dengan harapan Rayyan akan datang untuk mengambilnya nanti. Setelah itu, ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kantin dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya.
KEHILANGAN YANG TIDAK DIHARAPKAN
Setelah pulang dari kampus, Sea langsung berlari ke kamar dan menjatuhkan tasnya di lantai. Ia jatuh bersandar pada kepala ranjang dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa memahami mengapa Rayyan tidak datang dan tidak menepati janjinya—mereka sudah berjanji untuk selalu bertemu di kantin setiap hari jam kuliah siang, tanpa terkecuali. Bahkan ketika salah satu dari mereka tidak bisa datang, mereka selalu memberi tahu satu sama lain terlebih dahulu.
"Sekarang kamu dimana ya, Rayyan?" bisik Sea sambil menangis diam-diam. Ia mencoba untuk tidak berpikir yang buruk, namun pikirannya tidak bisa tidak membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada Rayyan.
Pada malam hari, Sea masih tetap mencoba untuk menghubungi Rayyan melalui berbagai cara—telepon, pesan singkat, aplikasi perpesanan, bahkan melalui akun media sosialnya. Namun tidak ada satu pun tanggapan yang ia terima. Bahkan akun media sosial Rayyan juga tampak tidak aktif sejak pagi hari itu.
Keesokan harinya, Sea datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Ia langsung pergi ke fakultas teknik untuk mencari tahu apakah Rayyan sudah datang atau ada informasi tentangnya dari teman-temannya. Setelah bertanya pada beberapa mahasiswa fakultas teknik yang dikenal Rayyan, ia mendapatkan kabar yang membuat hatinya semakin tertekan.
"Rayyan tidak datang ke kelas hari ini juga," ucap salah satu teman Rayyan bernama Rio. "Kita juga sedang mencari dia lho. Dosennya sudah marah karena dia tidak datang dan tidak memberi tahu alasan apa-apa. Padahal kita sedang dalam tahap penting untuk proyek akhir kelompok kita."
"Kamu tahu tidak dimana Rayyan biasanya pergi kalau tidak ada di kampus?" tanya Sea dengan suara yang sedikit bergetar.
Rio menggeleng. "Enggak tahu nih. Biasanya kalau ada urusan, dia pasti bilang dulu ke kita. Kalau tidak di kampus, dia biasanya ada di rumahnya atau di laboratorium. Tapi kemarin kita sudah coba hubungi rumahnya, orang tuanya bilang dia sudah keluar pagi hari seperti biasa dan belum pulang sampai sekarang."
Hati Sea semakin terasa berat mendengar kata-kata Rio. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan. Apakah dia mengalami kecelakaan? Atau ada masalah pribadi yang membuatnya harus menghilang begitu saja?
Setelah keluar dari fakultas teknik, Sea pergi ke kantin lagi dengan harapan bahwa Rayyan mungkin sudah datang dan sedang menunggunya di sana. Namun seperti hari sebelumnya, meja yang biasa mereka tempati kosong. Tidak ada tanda-tanda Rayyan yang pernah datang ke sana.
Ia duduk di sana selama beberapa saat, menatap piring kosong yang biasanya digunakan Rayyan. Meskipun sudah dua hari tidak bertemu dengannya, Sea masih bisa merasakan kehadiran Rayyan di sekitarnya—bau parfum yang selalu ia gunakan, suara tawa yang khas, dan sentuhan lembut tangannya ketika mereka sedang berpegangan tangan.
"Aku tidak akan menyerah mencari kamu, Rayyan," bisik Sea dengan suara penuh tekad. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan segala yang bisa untuk menemukan Rayyan dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya.