NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Takhta di Atas Reruntuhan

Kalian mungkin mengira aku gila karena berani menantang bankir paling berkuasa di kota ini sendirian tanpa pengawal. Namun, percayalah padaku, senjata paling mematikan di dunia ini bukanlah pistol atau pisau, melainkan informasi yang tepat di tangan orang yang tidak punya rasa takut. Aku mematikan mesin mobil tepat di depan sedan hitam Pak Hermawan yang menghadang jalanku. Aku melirik Seeula yang tampak cemas, memberikan sebuah senyum paling menenangkan yang bisa aku tunjukkan sebelum keluar menemui singa yang sudah ompong itu.

"Tunggu di sini sebentar, Seeula, aku hanya perlu membereskan sampah kecil agar sisa malam kita menjadi sempurna," bisikku dengan nada yang sangat meyakinkan.

Pak Hermawan keluar dari mobilnya dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Hilang sudah sosok diktator finansial yang biasanya duduk angkuh di kursi emasnya. Jas mahalnya kusut masai, dasinya melilit leher seperti tali gantungan, dan wajahnya sepucat kertas yang baru keluar dari mesin fotokopi. Dia datang tanpa ajudan, sebuah bukti nyata bahwa kekuasaannya sedang mengalami disintegrasi total akibat serangan digital yang aku lancarkan lewat Rian.

"Yansya, aku mohon hentikan semua ini, tim audit pajak sudah mulai menggeledah brankas rahasiaku malam ini juga," ratap Pak Hermawan dengan suara yang bergetar penuh keputusasaan.

Aku menyandarkan tubuh di kap mobil, melipat tangan di dada dengan gaya paling arogan yang bisa aku tunjukkan padanya. Bayangkan saja, pria yang biasanya menentukan nasib ribuan pengusaha kini bersimpuh di depanku hanya karena beberapa baris kode enkripsi yang aku bocorkan. Aku merasa seperti penguasa takdir yang sedang menyaksikan keruntuhan sebuah dinasti yang dibangun dari keringat orang-orang kecil.

"Anda datang untuk meminta belas kasihan padaku, Pak Hermawan? Sayangnya, aku bukan pahlawan kesiangan yang menyediakan tempat berteduh bagi penjahat kerah putih seperti Anda," cibirku sambil menunjukkan raut wajah penuh kemenangan.

Pria tua itu akhirnya jatuh tersungkur di atas aspal jalanan, mencoba meraih ujung sepatuku dengan tangan yang gemetar hebat. Dia menawarkan kredit tanpa bunga dalam jumlah fantastis dan sepuluh persen saham pribadinya asalkan aku menarik kembali dokumen Project X dari tangan pihak berwenang. Aku menatapnya dengan pandangan paling dingin, karena aku tahu betul bahwa saham banknya akan berubah menjadi sampah tidak berharga dalam waktu kurang dari enam bulan akibat likuidasi massal yang sudah aku rancang lewat bursa.

"Simpan saja saham sampah itu untuk biaya pengacara Anda nanti, Pak Hermawan. Aku hanya butuh Anda menandatangani pengalihan utang Widowati Group ke tanganku besok pagi tanpa ada satu pun syarat tambahan," tuntutku dengan otoritas yang tidak bisa ditawar lagi.

Setelah pria malang itu pergi dengan sisa harga diri yang hancur, aku kembali masuk ke dalam mobil menemui Seeula. Aku bisa merasakan tatapan matanya yang penuh selidik, mencoba menembus dinding rahasiaku yang sangat tebal. Seeula tampak ragu untuk memulai pembicaraan, namun aku tahu dia sedang bergelut dengan ribuan pertanyaan tentang kekuatanku yang tidak masuk akal bagi seorang pemuda biasa.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya, Yansya? Mengapa pria sekuat itu terlihat seperti melihat iblis saat menatap wajahmu?" Seeula melempar tanya dengan nada suara yang sangat halus.

Aku memutar kemudi mobil, kembali membelah jalanan kota yang mulai sepi menuju sebuah hotel bintang lima yang sudah aku amankan seluruh lantai atasnya. Aku tidak ingin dia terjebak dalam masalah teknis bisnis yang sangat kotor, jadi aku hanya memberikan jawaban yang sangat sederhana dan masuk akal baginya.

"Dunia bisnis terkadang sangat kejam bagi mereka yang ceroboh menyimpan rahasia masa lalu, Seeula, dan aku hanya kebetulan memegang kunci dari semua rahasia itu," jelasku sambil menginjak pedal gas lebih dalam.

Aku mengantar Seeula sampai ke lobi hotel mewah itu, memastikan tim keamanan internal yang aku sewa telah bersiap di setiap sudut untuk melindunginya dari gangguan Madam Widowati. Aku menyerahkan kartu akses kamar dengan sentuhan lembut di tangannya, memberikan rasa aman yang seharusnya dia dapatkan sejak dulu. Seeula menatapku lama, seolah ingin mengucapkan terima kasih namun tertahan oleh rasa takjub yang luar biasa atas semua perubahan nasib ini.

"Istirahatlah di sini, Seeula, karena besok pagi dunia akan melihatmu sebagai wanita paling beruntung di kota ini," ucapku sambil memberikan jaminan keamanan lewat sorot mataku.

Setelah meninggalkan hotel, ponselku bergetar hebat menampilkan pesan dari Rian yang melaporkan bahwa saham Widowati Group sudah menyentuh titik nadir akibat kepanikan pasar. Ini adalah momen yang aku tunggu untuk melakukan akuisisi total secara legal dan merebut seluruh kekaisaran mereka dalam satu malam. Aku mengepalkan tangan dengan gairah yang meledak, karena takhta yang aku impikan sudah berada di depan mata tanpa ada satu pun cacat logika dalam pergerakanku.

Namun, sesampainya di lobi apartemenku, keheningan malam mendadak pecah oleh suara hantaman logam yang memekakkan telinga. Aku melihat Darwin berdiri di sana dengan penampilan seperti orang gila, menghancurkan lampu taman apartemenku menggunakan sebilah besi panjang dengan napas yang memburu penuh amarah. Dia tampak sangat menyedihkan dengan pakaian yang kotor dan mata merah yang menunjukkan bahwa dia baru saja kehilangan segalanya akibat spekulasi saham yang aku hancurkan.

"Yansya! Keluar kau dari mobil itu atau aku akan menghancurkan kepalamu sekarang juga!" teriak Darwin sambil mengayunkan besi panjangnya ke arah udara dengan gerakan serampangan.

Aku hanya menarik napas panjang, memberikan senyum sinis yang paling meremehkan dari balik kaca mobil sebelum memutuskan untuk keluar. Aku tidak merasa terancam sedikit pun oleh pria yang sudah kehilangan taringnya ini, karena di mataku, Darwin hanyalah sisa reruntuhan masa lalu yang harus segera aku bersihkan dari jalan menuju takhtaku yang baru. Aku melangkah keluar dengan tenang, menantang maut dengan keberanian seorang pemenang yang sudah tahu hasil akhirnya.

Darwin menerjang maju dengan amarah yang membutakan logika, mengayunkan besi panjangnya tepat ke arah kepalaku. Aku menghindar dengan gerakan yang sangat efisien, membiarkan besi itu hanya menghantam udara kosong hingga Darwin kehilangan keseimbangan. Tanpa membuang tenaga, aku menghantam tengkuknya dengan pinggiran telapak tanganku, membuatnya tersungkur mencium aspal dengan suara gedebuk yang sangat keras.

"Kau sudah selesai, Darwin, serahkan sisa hidupmu pada petugas keamanan yang sudah menunggu di ujung jalan," sergahku sambil menatapnya dengan rasa iba yang sangat tipis.

Saat petugas keamanan menyeret Darwin yang meronta-ronta menjauh, aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres di seberang jalan. Sebuah mobil sedan perak dengan kaca gelap pekat terparkir diam tanpa menyalakan lampu, seolah sedang merekam setiap gerak-gerikku malam ini. Aku menajamkan pandangan, mencoba mengenali siluet di balik kemudi yang tampak sangat asing namun memiliki aura yang jauh lebih menekan daripada siapa pun yang pernah aku hadapi sebelumnya.

Ponselku bergetar lagi, namun kali ini bukan dari Rian. Sebuah pesan dari nomor terenkripsi muncul di layar dengan pesan yang sangat singkat namun mampu membuat rahangku mengeras seketika.

"Widowati Group hanyalah mainan kecil di kota ini, Yansya. Selamat karena sudah masuk ke dalam radar sang Pemilik Kota. Kita akan segera bertemu," bunyi pesan misterius itu.

Aku menyadari bahwa keberhasilanku menggulingkan Darwin dan Pak Hermawan telah menarik perhatian predator yang lebih besar. Di kehidupan sebelumnya, aku pernah mendengar selentingan tentang sosok bernama Tuan Gautama, pemimpin kartel industri yang secara rahasia mengendalikan seluruh izin usaha dan aliran dana politik di wilayah ini. Jika Madam Widowati adalah seekor serigala, maka Gautama adalah pemilik hutan yang tidak akan membiarkan ada pemain baru merusak ekosistem yang sudah dia bangun selama puluhan tahun.

Ini adalah tantangan baru yang tidak pernah aku hadapi di masa depan yang aku ingat, sebuah plot yang mungkin berubah karena tindakanku yang terlalu agresif. Aku harus memperkuat pertahanan finansialku lebih dari sekadar saham, karena Gautama tidak bermain dengan cara yang legal atau beradab seperti di bursa efek. Aku masuk ke dalam lift apartemen dengan pikiran yang berputar cepat menyusun strategi invasi balik terhadap oligarki yang baru saja mengibarkan bendera perang terhadapku.

"Kalian ingin bermain di level yang lebih tinggi? Baik, akan aku tunjukkan bagaimana cara menghancurkan sebuah hegemoni tanpa harus menyentuh mereka secara fisik," janjiku dalam hati sambil menatap pantulan diriku di cermin lift yang tampak sangat siap untuk perang yang sesungguhnya.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!