Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani Aku Malam Ini
Malam kian larut. Jam di dinding menunjukkan pukul 22.30.
Gerimis turun tipis, membasahi halaman rumah yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya.
Amira berdiri di dekat jendela kamar, memeluk lengannya sendiri. Kebaya putih tadi sudah dia ganti dengan pakaian rumahan sederhana, tapi perasaan asing itu masih melekat.
Beberapa jam lalu, dia mengucap ijab kabul. Beberapa jam lalu statusnya berubah. Namun setelah semua tamu pulang, Dirga juga pergi.
Tanpa menatapnya. Tanpa bicara sepatah kata. Hanya mengambil kunci mobil dan melangkah keluar.
Suara mesin mobilnya yang menjauh tadi terasa seperti penegasan bahwa pernikahan itu bukan awal yang hangat, melainkan beban baru baginya.
Amira menatap titik-titik air di kaca jendela. Hatinya gelisah, takut, dan juga cemas.
"Apakah Dirga menyesal? Apakah dia marah? Atau, dia sedang mencoba melarikan diri dari kenyataan?"
Di ruang makan tadi, suasana justru terasa janggal. Celine duduk berhadapan dengannya, menyendok sup dengan tenang seolah hari itu hanya hari biasa.
Tak ada pembahasan tentang akad. Tak ada perbincangan apapun tentang Dirga, ataupun rumah tangga mereka. Dia cuma bercerita tentang hal-hal ringan, terutama pekerjaannya.
Namun, ketika Amira tak sanggup menahan kecemasannya dan bertanya pelan, “Bu Pak Dirga belum pulang. Bu Celine udah tanya belum dia ke mana?”
Celine hanya tersenyum tipis.
“Nanti juga pulang. Kamu tenang aja.”
Nada suaranya tenang. Bahkan sempat terkekeh kecil.
“Dirga nggak suka jajan di luar. Dia itu orangnya perfeksionis. Dia suka kebersihan dirinya sendiri.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan tipis. Namun ada makna tersembunyi di dalamnya. Seolah Celine mengenal suaminya lebih dalam daripada siapa pun, dan dia tidak sedikit pun merasa terancam.
Amira kembali menatap gerimis. Ada sesuatu yang tak bisa dipahami.
"Mengapa Celine begitu tenang? Mengapa justru aku yang merasa paling takut?"
Angin malam menyusup pelan melalui celah jendela. Statusnya kini adalah istri. Namun malam pertamanya sebagai istri justru dihabiskan dengan penuh kecemasan. Jujur saja, Amira tak menyukai keadaan ini, tapi inilah takdir yang harus dijalani.
Tak berapa lama, suara mesin mobil akhirnya terdengar memecah sunyi.
Amira yang sejak tadi berdiri di balik tirai refleks menyingkap sedikit kain jendela. Mobil itu berhenti tepat di halaman. Lampu depannya mati perlahan, dan benar, itu Dirga.
Jantung Amira kembali berdebar. Tanpa sadar dia bergegas ke lorong, berdiri di balik sudut dinding agar tak terlihat.
Pintu depan terbuka. Dirga masuk dengan langkah berat. Jasnya sedikit miring, rambutnya lebih berantakan dari sore tadi. Cara jalannya tak stabil, sempoyongan.
Aroma alkohol bahkan sudah tercium samar dari jarak beberapa meter. Amira menggigit bibirnya.
"Mabuk lagi, apa dia nggak sadar nyetir dalam keadaan mabuk itu bahaya?" gumam Amira geram.
Dirga tak menoleh ke mana pun. Langkahnya lurus menuju kamar utama, kamar Celine.
Amira menahan napas. Dia yakin, apa pun yang terjadi hari ini, Dirga pasti tetap memilih kamar tersebut.
Kini, Dirga sudah berdiri di depan pintu kamar utama. Tangannya mencoba memutar gagang pintu, tapi ternyata terkunci.
Dia mengernyit, mencoba lagi. Tetap tak bisa dibuka. Beberapa detik hening. Lalu, dia mencoba mengetuk pintu tersebut.
Ketukan pertama masih pelan.
“Celine!”
Suaranya terdengar berat, tapi tak ada jawaban. Ketukan kedua lebih keras.
“Buka pintunya.”
Nada suaranya mulai meninggi. Namun tetap tak ada respons dari dalam.
Amira bisa merasakan ketegangan di udara. Dirga menghembuskan napas kasar. Tangannya mengetuk lebih keras kali ini.
“Celine!”
Suara pukulan di pintu menggema di lorong yang sepi. Namun pintu itu tetap tertutup rapat.
Tak ada suara langkah. Tak ada sahutan. Dirga berdiri beberapa detik di depan pintu itu. Lalu keningnya menempel pada kayu pintu. Tangannya mengepal di samping tubuhnya.
Tubuh Dirga akhirnya bersandar pada pintu yang tetap terkunci itu, lalu perlahan merosot hingga duduk di lantai.
Kepalanya tertunduk, napasnya berat. Tangan yang tadi mengetuk keras kini terkulai lemah di samping tubuhnya.
Amira yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang tak sanggup lagi hanya menonton. Rasa iba kembali mengalahkan ragu, dia bergegas mendekat.
“Pak Dirga, ayo saya bantu."
Dirga mengangkat wajahnya sedikit. Matanya merah, entah karena alkohol atau karena sesuatu yang lebih dalam.
Butuh beberapa detik sebelum dia benar-benar bereaksi. Amira meraih lengannya, menyelipkan bahunya untuk menopang tubuh pria itu yang cukup berat.
Langkah Amira tak stabil. Beberapa kali hampir terhuyung, tapi Amira tetap bertahan, membawanya menjauh dari pintu kamar utama.
Akhirnya mereka sampai di kamar Amira. Dia membuka pintu dengan susah payah, lalu menuntunnya masuk.
Begitu berada di dalam kamar, Dirga spontan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Kasur itu berderit pelan menahan beban. Dia memejamkan mata sejenak, satu tangan terangkat menutupi wajahnya.
Amira berdiri di sisi ranjang, jantungnya berdegup cepat. Kamar yang sebelumnya terasa sempit kini terasa makin sesak.
Dia mengambilkan segelas air, duduk di tepi ranjang.
“Minum dulu, Pak,” ucapnya lembut.
Dirga tak langsung bergerak. Beberapa detik kemudian, dia menurunkan tangannya dari wajah.
Tatapannya kosong.
“Kamar itu terkunci,” gumamnya lirih.
Bukan pertanyaan. Lebih seperti fakta yang baru saja dia terima, dan terdengar menyakitkan.
Amira tak menjawab. Dia hanya menggenggam gelas itu lebih erat. Malam pertama sebagai istri, dan justru memapah suaminya yang tak bisa masuk ke kamar istrinya yang lain. Situasi itu terasa begitu rumit. Terasa tak wajar, tapi inilah realitanya.
"Pak Dirga sekarang istirahat dulu ya!"
Dirga mengangguk, lalu merebahkan tubuh. Detik berikutnya, Amira menatap Dirga yang sudah terbaring dengan napas berat.
Dia lalu bergegas ke kamar mandi, mengambil waslap kecil dan membasahinya dengan air hangat. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi da berusaha menenangkan diri.
Kembali ke sisi ranjang, lalu duduk perlahan.
“Maaf,” bisiknya lirih.
Dengan hati-hati, Amira mengelap wajah Dirga. Mengusap pelipisnya, pipinya, lalu sudut bibirnya yang masih menyisakan aroma alkohol. Gerakannya lembut, penuh kehati-hatian.
Dirga mengerang pelan, tapi tak membuka mata . Amira menarik napas panjang. Di kursi dekat lemari, dia melihat pakaian tidur pria yang sudah terlipat rapi.
Amira mengenal itu, pakaian yang biasa dikenakan Dirga di rumah, dan Celine yang meletakkannya di kamar tersebut.
Detail sekecil itu membuat dadanya kembali bergetar, seolah semuanya memang sudah disiapkan.
Dengan penuh rasa canggung, Amira membantu mengganti pakaian Dirga. Dia melakukannya seperlunya, menjaga batas sebisa mungkin.
Setelah selesai, dia menarik selimut hingga menutupi tubuh Dirga. Pria itu kini tampak lebih tenang, seperti anak kecil yang kelelahan.
Amira berdiri di samping ranjang beberapa detik, menatap wajahnya. Status mereka telah berubah. Namun, kenyataan terasa jauh dari bayangan seorang istri pada malam pertama.
Di saat itulah, Dirga mulai merancau.
“Jangan … pergi!” gumamnya lirih, nyaris tak jelas.
Sebelum Amira sempat bereaksi, tangan Dirga bergerak refleks. Dalam keadaan setengah sadar, dia meraih pergelangan tangan Amira dan menariknya.
Gerakannya tak terkontrol, dan membuat Amira kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhempas pelan ke samping Dirga di atas ranjang.
“Pak,” desahnya terkejut. Namun Dirga tak membuka mata. Dia hanya mengeratkan lengannya secara refleks, seolah memeluk sesuatu yang tak ingin dia lepaskan.
“Jangan kunci pintunya."
Amira membeku. Jarak mereka begitu dekat. Bahkan, dia bisa merasakan hangat tubuh Dirga bahkan melalui lapisan pakaian tidur.
Tangan pria itu terletak di pinggangnya, bukan dengan niat, melainkan karena tak sadar.
Amira menahan napas. Perlahan, dia mencoba melepaskan diri tanpa membangunkannya. Namun cengkeraman itu justru semakin erat dalam tidur. Seperti seseorang yang takut ditinggalkan.
Amira menatap wajah Dirga yang tertidur. Wajah itu tak lagi tegang, hanya terlihat lelah, dan penuh beban pikiran.
Akhirnya Amira berhenti melawan. Bukan karena pasrah, tapi karena tak tega. Di bawah selimut yang sama, dalam jarak yang tak seharusnya terlalu dekat, dia masih terjaga.
Sementara Dirga terus merancau pelan dalam tidurnya, memanggil nama yang bukan miliknya.
"Celine, temani aku malam ini, sebentar saja."
Dalam keadaan setengah sadar, Dirga bergerak gelisah. Pelukannya mengerat tanpa dia sadari, mencari kehangatan yang terasa nyata di sisinya. Wajahnya mendekat, napas hangatnya menyentuh kulit Amira, membuat perempuan itu memejamkan mata.
Dirga kembali merancau pelan, suaranya tak jelas. Tangannya bergerak tanpa arah pasti, lebih seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu dalam tidurnya. Amira menahan napas. Namun tetap saja, situasi itu membuat dadanya bergetar.
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..