Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Dante
Keputusan Max untuk mengutamakan gairah di tengah pengaruh obat malam itu ternyata membawa konsekuensi serius bagi hubungan diplomatiknya dengan Mr. Dante. Meskipun Mr. Dante mendukung Max untuk melindungi Guzzel, melihat putrinya terus-menerus berada dalam situasi intim tanpa ikatan resmi mulai mengusik prinsipnya sebagai seorang ayah dari keluarga terpandang.
Pagi hari setelah malam yang panas itu, Mr. Dante menemukan Max masih tertidur di sisi Guzzel di apartemen. Dengan wajah yang kaku, ia memerintahkan Max untuk menemuinya di ruang kerja.
"Maximilien, aku tahu apa yang terjadi semalam. Aku tahu tentang jebakan Chelsea," ujar Mr. Dante dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Tetapi, aku tidak bisa lagi membiarkanmu keluar-masuk kamar putriku dan tidur dengannya terus-menerus tanpa ikatan yang sah. Guzzel sedang mengandung anakmu, perutnya kian membesar, dan kau masih memperlakukannya seperti kekasih simpanan di mata publik."
Max menunduk, ia tahu Mr. Dante benar. "Aku hanya ingin menyelesaikan masalah dengan ayahku dulu, Sir."
"Masalah ayahmu bisa memakan waktu bertahun-tahun!" potong Mr. Dante. "Putriku butuh kepastian sekarang.
Jika kau benar-benar mencintainya dan bukan hanya sekadar menginginkan tubuhnya, nikahi dia besok. Sederhana, tanpa pesta mewah, tapi sah secara hukum dan agama. Jika tidak, aku akan membawa Guzzel ke Eropa dan kau tidak akan pernah melihatnya lagi."
Max tidak butuh waktu lama untuk memutuskan. Baginya, menikahi Guzzel adalah satu-satunya tujuan hidupnya saat ini. Keesokan harinya, sebuah pernikahan yang sangat sederhana namun sakral digelar di taman belakang kediaman keluarga Dante yang tertutup rapat.
Tidak ada ratusan tamu undangan, tidak ada orkestra megah. Hanya ada Mr. Dante, istrinya, dan Danesh sebagai saksi.
Guzzel tampil memukau meskipun dengan gaun putih yang dirancang khusus untuk ibu hamil, memperlihatkan perutnya yang mulai memasuki bulan ketujuh dengan sangat anggun. Bunga-bunga lili putih menghiasi jalan setapak kecil tempat mereka berdiri.
Saat Max mengucapkan janji setianya, suaranya bergetar hebat. "Aku, Maximilien Vance, mengambil mu, Delisa Guzzalie Dante, sebagai istriku. Untuk melindungi mu, mencintaimu, dan menjaga anak kita dengan seluruh nyawaku. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok. Hanya ada kita."
Guzzel menangis haru saat Max menyematkan cincin emas putih yang sederhana namun bermakna dalam di jarinya. Mereka berciuman di bawah sinar matahari sore yang hangat, sebuah penyatuan yang akhirnya direstui dan sah. Guzzel merasa beban di pundaknya terangkat, ia bukan lagi "wanita simpanan" skandal Paris, ia adalah Mrs. Maximilien Vance.
Meskipun pernikahan itu dilakukan secara tertutup, Max sengaja memerintahkan Danesh untuk merilis satu foto resmi ke media satu jam setelah acara selesai. Foto itu memperlihatkan Max yang sedang berlutut, mencium perut buncit Guzzel yang sudah mengenakan cincin pernikahan, dengan latar belakang Mr. Dante yang tersenyum bangga di belakang mereka.
Keterangan fotonya singkat namun mematikan bagi lawan-lawan mereka:
"The Vances. Home at last."
Dunia internet meledak. Spekulasi tentang "pernikahan paksa" atau "hanya obsesi" seketika terkubur.
Media-media besar menyiarkan berita tersebut sebagai The Wedding of the Year, sebuah simbol kemenangan cinta atas intrik bisnis yang kotor. Nama Guzzel kini suci di mata publik, sebagai istri sah dari pewaris tunggal kerajaan Vance.
Namun, di sebuah kamar hotel mewah yang gelap, Chelsea Van Der Wood menonton berita itu dengan mata yang hampa. Unggahan foto pernikahan itu adalah paku terakhir di peti mati harapannya. Baginya, pengakuan Max bahwa janin itu adalah ahli waris sah Vance dan Guzzel adalah ratunya adalah penghinaan yang tidak bisa ia tanggung.
"Semuanya hilang," bisik Chelsea parau. Berliannya, kekuasaannya, dan ambisinya untuk memiliki Max hancur menjadi abu.
Ia merasa menjadi pecundang paling hina di seluruh New York.
Dengan tangan gemetar, Chelsea mengambil sebotol obat tidur dosis tinggi yang tersisa di meja riasnya. Ia menuangkan semuanya ke telapak tangannya. Sambil menatap layar televisi yang masih menampilkan wajah bahagia Max dan Guzzel, Chelsea menelan semua pil itu sekaligus, berharap kegelapan akan membawanya pergi dari rasa malu yang tak tertahankan ini.
Di kediaman Dante, Max dan Guzzel tidak menyadari tragedi yang sedang menimpa Chelsea. Mereka sedang menghabiskan malam pertama mereka di kamar Guzzel. Max memeluk Guzzel dari belakang, tangannya tak lepas dari perut istrinya.
"Sekarang kau benar-benar milikku, Lia," bisik Max, menciumi bahu Guzzel dengan penuh kasih sayang. "Tidak ada lagi yang bisa merendahkanmu. Tidak ada lagi yang bisa menyebutmu sebagai terapiku."
Guzzel berbalik, mengalungkan tangannya di leher Max. "Terima kasih, Max. Terima kasih telah berani mengambil langkah ini."
Penyatuan mereka malam itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi rasa ragu. Max mencintai Guzzel dengan kelembutan yang luar biasa, memuja setiap jengkal tubuh istrinya yang tengah mengandung. Ia membuat Guzzel merasa menjadi wanita paling berharga di dunia, membuktikan bahwa pernikahan ini bukan karena desakan Mr. Dante, melainkan karena ia memang tidak bisa hidup tanpa Guzzel di sisinya.
"Tidurlah, Mrs. Vance," ucap Max sambil menyelimuti Guzzel. "Besok, aku akan menyelesaikan urusan dengan ayahku untuk terakhir kalinya. Agar anak kita lahir di dunia yang bersih."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy Reading 🥰