Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Benang Emas di Simpul Gelap.
[PoV Shen Yu]
Dua minggu sejak Yu Yan pindah ke rumah kami.
Rutinitas baru terbentuk. Pagi dimulai dengan Ibu bermeditasi di taman belakang, aku di pangkuannya, menyerap Qi pagi bersama-sama. Lalu Yu Yan menyiapkan sarapan, kadang dengan tangan gemetar, tapi selalu dengan tekad di matanya.
Sekarang, di usiaku yang menginjak empat bulan, aku sudah bisa duduk dengan bantuan. Pencapaian besar untuk bayi, meski pikiran dewasa di kepalaku merasa frustasi dengan keterbatasan ini.
"Pagi ini, kita akan mencoba sesuatu yang berbeda," kata Ibu, suaranya lembut tapi penuh otoritas.
Kami bertiga duduk membentuk lingkaran kecil di lantai kayu ruang utama. Aku ditopang bantal di depan Ibu, sementara Yu Yan duduk di sebelah kananku, wajahnya serius.
"Ibu akan mengajarimu dasar merasakan Qi, Yu Yan," lanjut Ibu. "Dan Shen Yu ... kamu akan belajar mengamati."
Aku mengoceh setuju, meski dalam hati berpikir.
Aku sudah bisa melihat Qi sejak usia tiga bulan, Ibu.
Tapi aku tahu ini bukan untukku. Ini untuk Yu Yan.
"Tutup matamu, Nak," perintah Ibu pada Yu Yan. "Lupakan simpul gelap di dadamu. Lupakan rasa sakit. Fokus pada napas."
Yu Yan menutup matanya, tapi aku bisa melihat ketegangan di bahunya. Simpul gelap di Ren Mai-nya berdenyut gelisah.
"Dengarkan suara napasmu sendiri," bisik Ibu, suaranya seperti aliran sungai yang tenang. "Lalu rasakan udara yang masuk dan keluar. Di dalam udara itu, ada sesuatu yang hidup."
Aku mengamati dengan mata spiritualku.
Saat Yu Yan bernapas, partikel-partikel Qi biru pucat—Qi langit—masuk melalui hidungnya. Mereka mengalir ke paru-paru, lalu seharusnya menyebar ke meridian-meridiannya.
Tapi di dada, simpul gelap itu menghisap sebagian besar Qi. Seperti spons hitam yang menyerap semua cahaya.
Yu Yan mengerutkan kening.
"Aku ... aku bisa merasakan sesuatu. Tapi seperti ... seperti macet."
"Itu karena simpul gelapmu," kata Ibu, jujur. "Tapi coba jangan melawannya. Biarkan Qi mengalir seperti air mengalir di sekitar batu."
Yu Yan menarik napas dalam, mencoba.
Aku memperhatikan lebih dekat.
Saat dia rileks, beberapa partikel Qi berhasil melewati sisi-sisi simpul gelap itu. Mereka mengalir ke meridian lain, memberi sedikit kehangatan.
Wajah Yu Yan sedikit cerah. "Ada ... ada sedikit kehangatan. Di lengan kiriku."
"Itu bagus," Ibu tersenyum. "Sekarang, Shen Yu."
Aku menoleh pada Ibu.
"Kau akan mencoba membantu," katanya. "Seperti yang kau lakukan dua minggu lalu. Tapi kali ini dengan sengaja."
Aku mengangguk atau setidaknya, menggerakkan kepala sebisanya.
"Fokus pada biji cahaya di dahimu," instruksi Ibu. "Rasakan kehangatannya. Lalu, bayangkan sebuah sinar keemasan kecil keluar dari sana. Arahkan ke simpul gelap Yu Yan. Tidak untuk menyerang. Hanya untuk ... membersihkan."
Ini jauh lebih sulit daripada yang terdengar.
Biji cahaya di dahiku memang berdenyut hangat, tapi mengendalikannya seperti mencoba menggerakkan lengan ketiga yang belum pernah kumiliki.
Aku memejamkan mata—mata biasa—fokus.
Keluar, pikirku. Sinar kecil. Keemasan. Menyentuh simpul gelap itu.
Tidak terjadi apa-apa.
Lalu, teringat mimpiku, versi spiritual Ibu berkata.
Dengan kasih sayang.
Aku membuka mata, menatap Yu Yan. Gadis itu masih bermeditasi, wajahnya tegang tapi penuh harapan. Dia telah melalui banyak hal. Dia kuat. Dia pantas sembuh.
Perasaan itu, empati, keinginan membantu mengalir dalam diriku.
Dan biji cahaya di dahiku merespons.
Hangat menjadi panas.
Sinar keemasan tipis menyembur, lebih terkendali daripada dua minggu lalu. Ini seperti benang emas yang halus, bukan semburan acak.
Aku mengarahkannya dengan pikiran, dengan niat ke dada Yu Yan.
Menyentuh simpul gelap.
Kali ini, aku bisa merasakannya lebih jelas.
Dingin. Pahit. Penuh rasa sakit yang terpendam bertahun-tahun.
Tapi juga ... kesedihan yang mendalam.