NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat
Popularitas:47.1k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ATM

Pagi itu, Kompleks perumahan elit "Permata Hijau" tampak begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk pikuk pasar tempat Ratih biasanya mengadu nasib. Gerbang-gerbang besi menjulang tinggi, pohon-pohon palem berjajar rapi, dan suara kicauan burung terdengar mahal. Ratih berdiri di depan sebuah rumah megah bergaya minimalis, merapikan daster batiknya yang meski bersih, tetap terlihat kusam di depan cat dinding rumah itu yang putih cemerlang.

Ini adalah hari pertamanya mengambil kerjaan tambahan sebagai buruh cuci harian di rumah seorang pengusaha sukses, Bu Sofia. Bimo-lah yang memberinya informasi ini, katanya agar tabungan mereka cepat mencapai target.

Setelah beberapa jam berkutat dengan tumpukan pakaian bermerek yang bahannya begitu halus sampai Ratih takut merusaknya Bu Sofia memanggilnya ke ruang tengah.

"Ratih, kerja kamu bagus. Bersih dan rapi," puji Bu Sofia sambil menyesap tehnya. "Begini, untuk urusan gaji, saya nggak mau repot kasih uang tunai setiap minggu. Saya mau sistem transfer saja setiap bulan. Kamu punya rekening bank, kan?"

Ratih tertegun. Ia meremas jemarinya yang masih basah. "Anu... belum punya, Bu. Biasanya saya pegang uang cash saja."

Bu Sofia menghela napas pendek, namun tidak marah. "Zaman sekarang semua sudah pakai kartu, Ratih. Lebih aman. Kamu buat saja di bank depan kompleks. Nanti kalau gaji masuk, kamu tinggal ambil di mesin ATM. Praktis, kan? Saya kasih waktu besok pagi buat urus itu, nanti gajinya saya naikkan sedikit buat biaya administrasinya."

Mendengar kata "gaji dinaikkan", mata Ratih berbinar. Ia pamit mundur dengan hati yang berbunga-bunga.

Di area dapur belakang, Ratih menghampiri Lastri, asisten rumah tangga senior di rumah Bu Sofia yang sudah menjadi teman bicaranya sejak tadi pagi.

"Mbak Lastri... ATM itu sebenarnya apa sih? Kok Bu Sofia bilang praktis?" tanya Ratih polos.

Lastri tertawa kecil sambil mengelap piring. "Oalah, Ratih... masa kamu nggak tahu? Itu kartu sakti. Kamu masukkan ke mesin, tekan angka rahasia, eh uangnya keluar sendiri. Nggak usah antre di bank."

"Tapi saya nggak tahu caranya, Mbak. Takut kartunya ketelan atau uangnya hilang," aku Ratih jujur.

Lastri menghentikan kegiatannya. Ia merasa kasihan melihat ketulusan di mata Ratih. "Sini, aku kasih tahu. Kebetulan aku mau ke ATM depan ambil uang kiriman buat di desa. Kamu ikut ya, aku ajari caranya."

Ratih mengikuti Lastri ke sebuah bilik kecil yang dingin di depan gerbang kompleks. Ia memperhatikan dengan saksama saat Lastri memasukkan kartu plastik berwarna biru.

"Lihat ya, Ratih. Masukkan kartunya di sini. Terus masukkan PIN. PIN itu kode rahasia, jangan sampai ada yang tahu selain kamu. Terus pilih 'Tarik Tunai', ketik jumlahnya, dan... cekrek-cekrek-cekrek... uangnya keluar!"

Ratih menatap mesin itu dengan kagum. "Wah, ajaib ya, Mbak. Jadi kalau aku punya ini, aku nggak perlu bawa uang banyak di kantong?"

"Betul. Kamu juga bisa cek saldo, jadi kamu tahu uangmu sisa berapa tanpa harus tanya-tanya orang lain. Mandiri, Ratih. Perempuan itu harus punya pegangan sendiri," kata Lastri dengan nada menasihati.

Ratih tersenyum lebar. Pikirannya langsung melayang pada Bimo. Wah, kalau aku punya ATM sendiri, Mas Bimo nggak perlu repot-repot ke bank buat setor uangku. Nanti aku bisa tarik sendiri, lalu kuberikan padanya dengan rapi. Atau malah, kartu ini bisa kuberi pada Mas Bimo supaya dia bangga punya calon istri yang sudah modern, pikirnya lugu.

-----------

Malam harinya, Bimo datang ke kontrakan Ratih. Ia membawa sebungkus martabak manis, gaya andalannya setiap kali ingin membuat Ratih merasa senang. Mereka duduk di teras kecil yang beralaskan tikar pandan.

"Mas, tadi di rumah Bu Sofia, aku disuruh buat ATM," ujar Ratih membuka percakapan, matanya bersinar penuh semangat. "Kata Mbak Lastri, itu bagus banget buat simpan uang. Jadi nanti gajiku masuk ke sana, terus aku bisa tarik dan kasih ke Mas Bimo dengan lebih aman. Aku juga jadi bisa belajar cara pakai teknologi, Mas."

Suasana yang tadinya hangat mendadak mendingin. Kunyahan martabak di mulut Bimo berhenti. Ia meletakkan potongan martabak itu kembali ke kotaknya dengan gerakan yang kasar.

"ATM? Buat apa kamu punya ginian?" suara Bimo berubah menjadi rendah dan tajam.

Ratih tersentak. "Ya... kata Bu Sofia supaya gampang gajiannya, Mas. Katanya biar aku nggak ketinggalan zaman juga."

Bimo menatap Ratih dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Ratih merinding. Bukan pandangan sayang, melainkan pandangan penuh ancaman.

"Ratih, dengar ya," Bimo mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ratih. "Kita sudah punya janji di awal, kan? Semua uang hasil kerjamu, kamu serahkan langsung padaku. Aku yang simpan di rekeningku. Kenapa sekarang kamu mau buat rekening sendiri? Kamu sudah nggak percaya lagi sama aku?"

"Bukan begitu, Mas... aku cuma pikir supaya praktis—"

"Praktis matamu!" Bimo membentak, membuat Ratih terjengking kaget. "Kalau kamu punya rekening sendiri, nanti kamu jadi boros. Kamu bakal ambil uang itu diam-diam buat beli barang nggak penting. Aku ini laki-laki, aku yang tahu cara kelola uang buat masa depan kita. Kamu itu nggak tahu apa-apa soal bank, Ratih. Nanti kalau kartumu hilang atau kena tipu, uang kita ludes!"

Ratih menunduk, meremas ujung dasternya. "Tapi kata Bu Sofia itu wajib, Mas..."

"Nggak ada wajib-wajib! Kamu bilang saja sama dia, minta gaji tunai. Kalau dia nggak mau, berhenti kerja di sana! Masih banyak rumah lain," Bimo berdiri, mondar-mandir di teras yang sempit itu seperti harimau yang lapar. "Aku sudah capek-capek atur rencana pernikahan kita, eh kamu malah mau main rahasia-rahasiaan pakai ATM segala. Kamu mau punya simpanan sendiri di belakangku, hah?"

Ratih merasa dadanya sesak. Air matanya mulai menggenang. "Demi Allah, Mas, nggak ada niat begitu. Aku cuma mau kasih tahu kalau aku bisa punya kartu juga..."

Bimo menghentikan langkahnya, menatap Ratih dengan jijik. "Kartu itu buat orang yang punya otak, Ratih. Kamu itu cuma buruh cuci. Tugasmu itu kerja, cari uang, dan serahkan ke aku. Paham?"

Ratih terdiam seribu bahasa. Kata-kata "cuma buruh cuci" itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan. Selama ini, ia mengira Bimo menghargai kerja kerasnya. Ternyata, di mata Bimo, dia tetaplah sosok yang rendah yang tidak berhak memegang hak atas keringatnya sendiri.

"Besok, jangan buat kartu itu. Ambil gajinya tunai, kasih ke aku utuh. Jangan dikurangi serupiah pun. Ingat janji kita, Ratih. Kamu mau kita nikah, kan? Kamu mau punya rumah, kan?" nada suara Bimo kembali melunak, namun kali ini terasa seperti bisikan ular yang penuh racun.

Bimo mengelus rambut Ratih dengan kasar, lalu pergi begitu saja tanpa menghabiskan martabaknya.

Ratih duduk terpaku di teras yang gelap. Suara jangkrik malam terdengar seperti ejekan di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam setahun hubungan mereka, ada sebuah tanya yang muncul di hati Ratih. Sebuah tanya yang ia coba tekan dalam-dalam, namun tetap merayap naik.

Kenapa Mas Bimo ketakutan sekali kalau aku punya rekening sendiri?

Ratih menatap tangannya yang kasar di bawah cahaya lampu teras yang remang-remang. Tangan yang sudah bekerja mati-matian, namun bahkan tidak diperbolehkan memiliki sebuah kartu plastik atas namanya sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tertanam di hati Ratih, bersiap tumbuh menjadi pohon dendam yang akan merimbun di kemudian hari.

Ia teringat instruksi Lastri tentang cara mengecek saldo. Besok, pikir Ratih dalam hati dengan keberanian yang baru muncul, aku tetap akan buat kartu itu tanpa sepengetahuan Mas Bimo. Aku harus tahu... aku benar-benar harus tahu ke mana larinya peluhku selama ini.

1
Zainuri Zaira
ad juga yh cwek buta cinta udh tau di minta uang terus msih aj percaya
Halwah 4g: 🤭🤭 banyak loh ka...dengan alasan menabung bersama untuk kelak pernikahan mereka,hnya Ratih terllu percya dg Bimo yg dengn baground Dy bekerja di kota dan Ratih dari desa,mangknya dia percaya sama bualan Bimo 🤭...
total 1 replies
Zainuri Zaira
ad juga yh cwek buta cinta udh tau di minta uang terus msih aj percaya
Nia Rahmi
hahh miris sekali nasibmu bim,tp itulah buah dr setiap kejahatan yg sdh kamu tanam jg hasil dr persekutuanmu dgn syaithon
Halwah 4g: jangan lupa rate bintang novel q ya ka... terimakasih 😍
total 2 replies
Nia Rahmi
jahat banget ini si dukun terkutuk
Halwah 4g: semakin jahat..smkin dapat keilmuan dari Ruang sesembahan nya ka 🤭..
total 1 replies
Rembulan menangis
mna up nya thor ??
uda ditungguin dri kmarin
Halwah 4g: udah up ka...gtw lamaaaaa bnget d ACC nya.. harap bersabar ini ujian 🤣
total 1 replies
Bp. Juenk
kehidupan baru lagi thor
Halwah 4g: hehehehe rencananya sih gtu ka...🤭
total 1 replies
Ina Merry
bimo bimo ,kapok mu kapan
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kaya sdh jadi istri Bimo saja
uang di kasih semua Ratih ckckc
Halwah 4g: 🤭 maklum ka.
dari desa percaya dengan iming iming d tabung bersama akan mnjdi mlik bersama 🤭🤭
total 1 replies
Taramia
wah terima kasih up nya yang bertubi-tubi kk
jadi puas membacanya 🤗
Halwah 4g: sama sama ka
total 1 replies
Taramia
jahat sekali si Bimo gak ada obat
Taramia
ingat Bimo... sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga 😁
Rembulan menangis
makin seru ya thor ,
Halwah 4g: terimakasih kka 😍
total 1 replies
Rembulan menangis
thor ,mkasih telah mmbuat si bimo ketipu rupnya si sari tdak punya sari murni lg sarinya sudah gk ory 🤣
Ina Merry: 🤣🤣🤣🤣 sdah tidak ori
total 2 replies
Akbar Aulia
bimo,kamu itu jelmaan kucing ya🤭 punya nyawa 9 lolos terus
Halwah 4g: hehehehejejhje...kyaknya iya ka
total 1 replies
dzafara dza
kapan tobatnya sih thor nih si Bimo🤣
Ineke Susanti: mungkin nanti klo tumbalnya dh lengkap baru deh tobat🤭
total 2 replies
Anjany
kpn Bimo kena batunya Thor.
Halwah 4g: biasaaaa ka..kek para pejabat korup..susah matinya..🤭
total 1 replies
Taramia
emang sudah bukan manusia kan si Bimo
Halwah 4g: 🤭🤭 spertnya bukan ka
total 1 replies
Taramia
emang dasarnya jahat si Bimo mah
Rembulan menangis
thor yg pngantin gendoruwo kok blm juga up sih
pnasaran lanjutanya
Halwah 4g: ooohhhh..ada yg baca ya ka..q pikir sepi GK ada yg baca..jdi q blm up..hehehehe...ok hbis isya q up buanyakkkkkkkkkkk 🤭
total 1 replies
Nia Rahmi
bnr2 sdh jd setan dlm wujud manusia si bimo ini
Halwah 4g: nyata kaaa...berarti klo setan mau di wjutin tuh jadinya salah satunya Bimo hihihihi....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!