Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATM
Pagi itu, Kompleks perumahan elit "Permata Hijau" tampak begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk pikuk pasar tempat Ratih biasanya mengadu nasib. Gerbang-gerbang besi menjulang tinggi, pohon-pohon palem berjajar rapi, dan suara kicauan burung terdengar mahal. Ratih berdiri di depan sebuah rumah megah bergaya minimalis, merapikan daster batiknya yang meski bersih, tetap terlihat kusam di depan cat dinding rumah itu yang putih cemerlang.
Ini adalah hari pertamanya mengambil kerjaan tambahan sebagai buruh cuci harian di rumah seorang pengusaha sukses, Bu Sofia. Bimo-lah yang memberinya informasi ini, katanya agar tabungan mereka cepat mencapai target.
Setelah beberapa jam berkutat dengan tumpukan pakaian bermerek yang bahannya begitu halus sampai Ratih takut merusaknya Bu Sofia memanggilnya ke ruang tengah.
"Ratih, kerja kamu bagus. Bersih dan rapi," puji Bu Sofia sambil menyesap tehnya. "Begini, untuk urusan gaji, saya nggak mau repot kasih uang tunai setiap minggu. Saya mau sistem transfer saja setiap bulan. Kamu punya rekening bank, kan?"
Ratih tertegun. Ia meremas jemarinya yang masih basah. "Anu... belum punya, Bu. Biasanya saya pegang uang cash saja."
Bu Sofia menghela napas pendek, namun tidak marah. "Zaman sekarang semua sudah pakai kartu, Ratih. Lebih aman. Kamu buat saja di bank depan kompleks. Nanti kalau gaji masuk, kamu tinggal ambil di mesin ATM. Praktis, kan? Saya kasih waktu besok pagi buat urus itu, nanti gajinya saya naikkan sedikit buat biaya administrasinya."
Mendengar kata "gaji dinaikkan", mata Ratih berbinar. Ia pamit mundur dengan hati yang berbunga-bunga.
Di area dapur belakang, Ratih menghampiri Lastri, asisten rumah tangga senior di rumah Bu Sofia yang sudah menjadi teman bicaranya sejak tadi pagi.
"Mbak Lastri... ATM itu sebenarnya apa sih? Kok Bu Sofia bilang praktis?" tanya Ratih polos.
Lastri tertawa kecil sambil mengelap piring. "Oalah, Ratih... masa kamu nggak tahu? Itu kartu sakti. Kamu masukkan ke mesin, tekan angka rahasia, eh uangnya keluar sendiri. Nggak usah antre di bank."
"Tapi saya nggak tahu caranya, Mbak. Takut kartunya ketelan atau uangnya hilang," aku Ratih jujur.
Lastri menghentikan kegiatannya. Ia merasa kasihan melihat ketulusan di mata Ratih. "Sini, aku kasih tahu. Kebetulan aku mau ke ATM depan ambil uang kiriman buat di desa. Kamu ikut ya, aku ajari caranya."
Ratih mengikuti Lastri ke sebuah bilik kecil yang dingin di depan gerbang kompleks. Ia memperhatikan dengan saksama saat Lastri memasukkan kartu plastik berwarna biru.
"Lihat ya, Ratih. Masukkan kartunya di sini. Terus masukkan PIN. PIN itu kode rahasia, jangan sampai ada yang tahu selain kamu. Terus pilih 'Tarik Tunai', ketik jumlahnya, dan... cekrek-cekrek-cekrek... uangnya keluar!"
Ratih menatap mesin itu dengan kagum. "Wah, ajaib ya, Mbak. Jadi kalau aku punya ini, aku nggak perlu bawa uang banyak di kantong?"
"Betul. Kamu juga bisa cek saldo, jadi kamu tahu uangmu sisa berapa tanpa harus tanya-tanya orang lain. Mandiri, Ratih. Perempuan itu harus punya pegangan sendiri," kata Lastri dengan nada menasihati.
Ratih tersenyum lebar. Pikirannya langsung melayang pada Bimo. Wah, kalau aku punya ATM sendiri, Mas Bimo nggak perlu repot-repot ke bank buat setor uangku. Nanti aku bisa tarik sendiri, lalu kuberikan padanya dengan rapi. Atau malah, kartu ini bisa kuberi pada Mas Bimo supaya dia bangga punya calon istri yang sudah modern, pikirnya lugu.
-----------
Malam harinya, Bimo datang ke kontrakan Ratih. Ia membawa sebungkus martabak manis, gaya andalannya setiap kali ingin membuat Ratih merasa senang. Mereka duduk di teras kecil yang beralaskan tikar pandan.
"Mas, tadi di rumah Bu Sofia, aku disuruh buat ATM," ujar Ratih membuka percakapan, matanya bersinar penuh semangat. "Kata Mbak Lastri, itu bagus banget buat simpan uang. Jadi nanti gajiku masuk ke sana, terus aku bisa tarik dan kasih ke Mas Bimo dengan lebih aman. Aku juga jadi bisa belajar cara pakai teknologi, Mas."
Suasana yang tadinya hangat mendadak mendingin. Kunyahan martabak di mulut Bimo berhenti. Ia meletakkan potongan martabak itu kembali ke kotaknya dengan gerakan yang kasar.
"ATM? Buat apa kamu punya ginian?" suara Bimo berubah menjadi rendah dan tajam.
Ratih tersentak. "Ya... kata Bu Sofia supaya gampang gajiannya, Mas. Katanya biar aku nggak ketinggalan zaman juga."
Bimo menatap Ratih dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Ratih merinding. Bukan pandangan sayang, melainkan pandangan penuh ancaman.
"Ratih, dengar ya," Bimo mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ratih. "Kita sudah punya janji di awal, kan? Semua uang hasil kerjamu, kamu serahkan langsung padaku. Aku yang simpan di rekeningku. Kenapa sekarang kamu mau buat rekening sendiri? Kamu sudah nggak percaya lagi sama aku?"
"Bukan begitu, Mas... aku cuma pikir supaya praktis—"
"Praktis matamu!" Bimo membentak, membuat Ratih terjengking kaget. "Kalau kamu punya rekening sendiri, nanti kamu jadi boros. Kamu bakal ambil uang itu diam-diam buat beli barang nggak penting. Aku ini laki-laki, aku yang tahu cara kelola uang buat masa depan kita. Kamu itu nggak tahu apa-apa soal bank, Ratih. Nanti kalau kartumu hilang atau kena tipu, uang kita ludes!"
Ratih menunduk, meremas ujung dasternya. "Tapi kata Bu Sofia itu wajib, Mas..."
"Nggak ada wajib-wajib! Kamu bilang saja sama dia, minta gaji tunai. Kalau dia nggak mau, berhenti kerja di sana! Masih banyak rumah lain," Bimo berdiri, mondar-mandir di teras yang sempit itu seperti harimau yang lapar. "Aku sudah capek-capek atur rencana pernikahan kita, eh kamu malah mau main rahasia-rahasiaan pakai ATM segala. Kamu mau punya simpanan sendiri di belakangku, hah?"
Ratih merasa dadanya sesak. Air matanya mulai menggenang. "Demi Allah, Mas, nggak ada niat begitu. Aku cuma mau kasih tahu kalau aku bisa punya kartu juga..."
Bimo menghentikan langkahnya, menatap Ratih dengan jijik. "Kartu itu buat orang yang punya otak, Ratih. Kamu itu cuma buruh cuci. Tugasmu itu kerja, cari uang, dan serahkan ke aku. Paham?"
Ratih terdiam seribu bahasa. Kata-kata "cuma buruh cuci" itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan. Selama ini, ia mengira Bimo menghargai kerja kerasnya. Ternyata, di mata Bimo, dia tetaplah sosok yang rendah yang tidak berhak memegang hak atas keringatnya sendiri.
"Besok, jangan buat kartu itu. Ambil gajinya tunai, kasih ke aku utuh. Jangan dikurangi serupiah pun. Ingat janji kita, Ratih. Kamu mau kita nikah, kan? Kamu mau punya rumah, kan?" nada suara Bimo kembali melunak, namun kali ini terasa seperti bisikan ular yang penuh racun.
Bimo mengelus rambut Ratih dengan kasar, lalu pergi begitu saja tanpa menghabiskan martabaknya.
Ratih duduk terpaku di teras yang gelap. Suara jangkrik malam terdengar seperti ejekan di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam setahun hubungan mereka, ada sebuah tanya yang muncul di hati Ratih. Sebuah tanya yang ia coba tekan dalam-dalam, namun tetap merayap naik.
Kenapa Mas Bimo ketakutan sekali kalau aku punya rekening sendiri?
Ratih menatap tangannya yang kasar di bawah cahaya lampu teras yang remang-remang. Tangan yang sudah bekerja mati-matian, namun bahkan tidak diperbolehkan memiliki sebuah kartu plastik atas namanya sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tertanam di hati Ratih, bersiap tumbuh menjadi pohon dendam yang akan merimbun di kemudian hari.
Ia teringat instruksi Lastri tentang cara mengecek saldo. Besok, pikir Ratih dalam hati dengan keberanian yang baru muncul, aku tetap akan buat kartu itu tanpa sepengetahuan Mas Bimo. Aku harus tahu... aku benar-benar harus tahu ke mana larinya peluhku selama ini.