Elea dan Ghazi harus menikah karena perjodohan kilat yang di buat oleh kedua orang tua mereka yang random.
Gadis bar-bar yang tomboy harus menikah dan hidup bersama dengan pria yang tengil dan menyebalkan. Apalagi di sekitar Ghafi ada banyak wanita yang selalu menganggu rumah tangganya. Sanggupkah Elea menghadapi mereka di tengah rumah tangga yang gonjang-ganjing tanpa adanya cinta di antara mereka.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Pastinya hanya akan di penuhi dengan pertengkaran dan keributan. Mereka tak pernah akur dan selalu adu mulut setiap bertemu seperti Tom and Jerry. Apakah pada akhirnya mereka akan saling mencintai ataukah akan memilih jalannya sendiri-sendiri?
Yuk, ikuti terus kisah cinta mereka! Cekidot!
Jangan lupa baca juga buku othor yang lain ya kak. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elea-Ghazi 21
Menjelang subuh, Elea yang sudah tak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya, pergi ke rumah sakit menggunakan taxi online. Sebenarnya dia takut untuk pergi sendiri menggunakan kendaraan umum seperti itu, tapi dia juga tak berani membangunkan Ghazi, apalagi suaminya itu baru saja terlelap setelah menghubungi Celine dan di lanjut dengan berbalas pesan.
Elea yang memang juga tak terbiasa bergantung kepada orang lain kecuali ibunya pergi sendiri. Lagi pula dia dan Ghazi menikah hanya karena terpaksa, dia fikir tak ada kewajiban bagi Ghazi juga untuk membantu dirinya dalam segala hal walau dia suaminya. Elea fikir, Ghazi juga tak peduli saat dia kesakitan tapi. Apalagi kalau dia meminta tolong. Dia hanya membawa ponsel dan sweater yang ada di sofa. Sambil memegangi perutnya yang tak tahan sakit, dan keringat yang bercucuran dia berjalan ke luar kamar dengan penuh perjuangan.
Beruntung, taxi online yang tiba pukul empat pagi itu adalah seorang bapak paru baya yang begitu baik. Dan membantunya untuk duduk dengan nyaman. Dia juga memberikan botol air minum hangat miliknya untuk di simpan di perut Elea saat Elea mengatakan nyeri perut. Dia juga punya anak perempuan yang sama seperti Elea yang selalu kesakitan di saat datang bulan untuk di hari pertama Maksimal sampai ke tiga. Rasa sakitnya akan sangat luar biasa.
"Apa di rumah tidak ada siapa-siapa di rumah? Kenapa pergi sendirian neng?" tanya Sopir taxi.
"Semua orang di rumah sedang pergi Pak, jadinya saya sendirian, mau bawa mobil sendiri saya tidak kuat takut nabrak!" bohong Elea.
"Baiklah sebentar lagi kita tiba di rumah sakit, anak saya juga selalu seperti ini kalau sedang datang masanya. Semoga setelah menikah nanti dia tak akan kesakitan seperti ini. Karena menurut dokter, setelah menikah akan ada perubahan dan semoga saja tak sesakit biasanya," ujar bapak sopir membuat Elea tersenyum tipis.
Baginya tak ada pengaruh, sudah menikah ataupun belum sama saja sakitnya. Apalagi menikah dengan pria playboy seperti Ghazi yang selalu lebih perhatian kepada wanita lain di banding dia istrinya. Ah sudahlah dia juga tak ambil pusing dengan pernikahan ini. Dia hanya menjalakankan kewajiban sebagai anak kepada orang tuanya. Lagi pula, mungkin sebentar lagi Ghazi juga sudah menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istrinya. Mungkin wanita itu Celine yang mulai dekat dengan suaminya.
"Terima kasih Pak," ucap Elea saat sopir taxi membantu dia membawakan kursi roda untuk dirinya.
Elea masuk ke ruang perawatan di bantu oleh perawat. Dia benar-benar sendirian, badannya sangat lemas dan tak lagi tahu apa-apa setelahnya. Dia akhinya bisa tertidur, setelah semalaman dia tak bisa tidur karena tak kuat menahan rasa sakit di perutnya. Elea benar-benar sendirian dan hanya membawa ponsel saja. Di ruang gawat darurat hanya sendirian tak ada yang menemani seperti orang lain. Tapi Elea tak peduli, dan dia juga tak berniat memberi tahu kedua orang tuanya ataupun Ghazi. Karena agak siangan juga dia pasti sudah bisa pulang.
"Bu Elea?" kaget Reynaldi saat tak sengaja melihat Elea yang sedang di datangi perawat untuk pemeriksaan. Sedangkan dirinya kebetulan berada di sana.
"Oh Pak Reynaldy? Anda di sini juga? Siapa yang sakit?" tanya Elea setelah perawat pergi dan menambah setengah kantung da-rah kepada Elea.
"Saya mengantar saudara yang sakit di sebelah sana," jawab Reynaldy.
"Bu Elea sakit apa? Kenapa sendirian? Atau mungkin dari kemarin saat wajah anda pucat itu? Anda belum sembuh juga?" Tanya Reynaldy ingat kemarin Elea juga wajahnya terlihat sedikit pucat.
Ternyata sakitnya Elea keterusan dan bahkan sampai harus di rawat di rumah sakit. Dia juga sendirian, kemana keluarganya? Apa dia memang hidup sendirian?
"Iya Pak, sepertinya memang badan saya ingin istirahat," kekeh Elea.
"Silahkan Pak Reynaldy takutnya saudara anda mencari!" ujar Elea terlihat tak nyaman.
"Baiklah, saya permisi dulu, kalau butuh apa-apa kabari saya saja! Boleh minta nomor ponselnya?" tanya Reynaldy.
"Baterainya habis! Saya lupa isi daya, jangan khawatir ada suster yang akan membantu saya pak! Lagi pula saya juga sudah tak apa-apa! Sebentar lagi juga bisa pulang!" jawab Elea sambil menunjukkan ponselnya yang mati.
"Baiklah kalau begitu! Saya permisi dulu!" jawab Reynaldy pergi, menuju tempat seseorang yang juga berada di sana. Di tempat yang sama dengan Elea.
Elea kembali memejamkan matanya, perutnya sudah tak begitu sakit, badannya juga mulai enak. Entah jam berapa sekarang, sepertinya sudah siang. Dari tempatnya tidak terlihat dengan jelas jam. Ponselnya mati, dia biarkan saja. Nanti saja dia akan nyalakan saat akan membayar biaya tagihan rumah sakit, pikirnya.
"Sarapan dulu Bu Elea," suara Reynaldy membangunkan kembali Elea.
Di tangannya membawa kotak makanan yang berisi bubur untuk Elea. Kebetulan dia juga memang lapar, tadi suster baru saja mencabut jarum infus di tangannya. Ponsel juga baru di isi daya, karena dia akan pulang setelah ini.
"Terima kasih Pak Reynaldy. Maaf membuat anda repot, padahal tidak masalah. Saya Juga akan pulang sebentar lagi!" jawab Elea.
"Tidak merepotkan! Makanlah dulu, setelahnya bersiap untuk pulang. Apa mau saya antarkan?" tanya Reynaldy.
"Terima kasih! Buburnya saja sudah cukup Pak Rey. Saya bisa pulang sendiri!" jawab Elea.
"Tapi kamu sendirian dan sedang sakit! Padahal kemarin aku melihat Pak Ghazi begitu perhatian dan khawatir sekali kepada kamu. Aku sampai berfikir kalau kalian memiliki hubungan. Karena tak biasanya Pak Ghazi terlihat perhatian seperti itu kepada wanita," tanya Reynaldy, Elea Anya tersenyum kecut.
Memang benar kemarin dia sempat merasa terharu dengan perhatian dari suaminya yang terlihat khawatir padanya. Tapi rupanya hanya sebentar saja, setelah banyaknya para wanita cantik yang kembali menghubungi dia, semuanya berubah. Beruntung dia tak begitu bawa perasaan dengan perhatian Ghazi yang memang playboy cap codot itu.
"Pak, maaf pasien bernama Rianty mencari anda!" ucap seorang perawat membuat wajah Reynaldy terlihat kaget.
"Ah baiklah sus! Terima kasih," jawab Rey.
Reynaldy izin kepada Elea untuk menemui Rianty. Elea santai saja makan bubur, karena dia memang benar-benar lapar dan butuh tenaga untuk pulang. Setelehnya dia menyalakan ponselnya dan berjalan ke arah bagian administrasi sendirian untuk membayar biaya rumah sakitnya sendiri. Dia tak peduli dengan banyaknya notifikasi di ponsel miliknya. Dia sedang tak ingin membalas dan membahas apapaun dengan Ghazi yang terus mengiriminya pesan. Dia hanya ingin segera pulang dan kembali istirahat di rumah dengan nyaman.
semoga ghazi dpt hukuman dr papi reno D asingkan k planet Pluto sebulan mh
jadinya pada mikir dih gampang Banggt yah gitu doang terhuraaaaaahhh El El kembali ke setelan aja lah lovely doply nanti kalau dia udah bucin
Thor yg Kirana ga lanjut lagi kah?
istri cuma ngikut apa yg di lakukan suaminya ga salah Dong,,
elea pingin curut itu kasihan