Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Trauma
Zach menatap wajah Carol yang tertidur pulas. Lewat pantuan cahaya api yang perlahan mulai redup. Wajah oval Carol dengan lekuk lesung pipinya. Yang selalu tampak manis saat tersenyum. Bibir merah Carol yang agak tebal tapi seksi.
Tanpa sadar jemari Zach, menyusuri lekuk wajah yang tengah pulas itu. Baru kali ini Zach memperhatikan Carol seintens ini. Cantik dan manis. Teman masa kecilnya hingga mereka berada di kelas akhir SMA. Dan baru saat ini, Zach menyadarinya.
Mungkin karena persahabatan mereka selama ini. Sehingga perasaannya biasa saja pada Carol. Zach malah lebih suka memperhatikan Megan. Karena Carol selalu menguntit kemana saja dia pergi. Dia tidak pernah punya kesempatan mendekati Megan. Mana Megan dan Carol bestyan pula. Vivian, Carol dan Megan adalah sahabat sejak di kelas X IPA.
Seluruh sekolah sudah tau dan menjodoh-jodohkan mereka adalah sepasang kekasih. Jadi sia-sia saja kalau Zach mengutarakan perasaannya pada Megan.
Mana Carol pun tidak pernah membantah tapi juga tidak mengiyakan. Yang jelas kedekatan mereka membuat siapa saja yang menyukai salah satunya, pasti berpikir mundur saja. Dari pada diserang haters.
Carol menggeliat saat dia merasakan sentuhan di wajahnya. Tapi kedua matanya tetap terpejam. Buru-buru Zach menarik tangannya.
Tanpa Carol sadari kancing kemejanya bagian atas copot. Mungkin akibat saling dorong dan tarik saat di ruang laboratorium. Sehingga lehernya yang jenjang terekspos. Rok Carol yang sebatas lutut juga tersingkap. Zach menelan salivanya yang terasa seret.
Dilemparkannya daun-daun kering ke bara api. Untuk mengalihkan perhatiannya. Asap membubung tinggi lalu berubah menjadi kobaran api.
Zach berusaha menahan gejolak aneh yang tiba-tiba merasuki aliran darahnya. Mati-matian dia berusaha mengontrol emosinya. Tapi keberadaan Carol yang terbaring, berbantalkan pahanya, malah membuat sensasi aneh semakin menjalari seluruh tubuhnya.
Perlahan, Zach menarik kakinya. Membaringkan kepala Carol di atas daun-daun kering. Lalu Zach berbaring di sisi Carol. Menatap setiap inci wajahnya yang terlelap.
Nyala api membuat hawa yang dingin terasa hangat. Suara gemeretak ranting yang terbakar perlahan mengganggu tidur Carol. Carol terkejut saat mendengar suara-suara itu. Letupan-letupan kecil dan desisan api efek kayu terbakar mengingatkannya pada insiden tadi sore. Membuatnya terjaga!
Tiba-tiba Carol membuka kedua kelopak matanya! Dan lebih terkejut lagi saat melihat Zach yang terbaring di sisinya dengan posisi menghadapnya. Jarak mereka sedemikian dekatnya. Sehingga hembusan nafas keduanya saling menepa wajah mereka.
Pandangan mereka bersirobok dengan dua eskpresi yang sangat kontras. Kalau Carol perpaduan antara kaget, takut plus bingung. Zach malah dengan tatapan sayu dan aneh dari kedua manik matanya.
Carol menahan nafasnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup tidak beraturan. Tatapan Zach itu? Apa yang telah terlewatkan olehnya? Kenapa Zach berbaring di sampingnya dan kepergok tengah memandanginya?
Barusan Carol bermimpi lagi. Mimpi yang sangat aneh. Tapi seolah nyata. Dia dan Zach melakukan sesuatu hal yang terlarang. Dan anehnya dia tidak berdaya menolak. Sekuat apapun dia berusaha menghindar.
Wajah Carol terasa panas! Bukan karena pengaruh api. Tetapi rasa malu saat mengingat mimpinya.
"Ada apa Zach?" serunya melihat tatapan mata Zach. Kobaran api yang menyala memantul di kedua manik mata Zach. Saat dia mengalihkan pandangannya. Membuat Carol.bergidik ngeri. Nafas Zach turun naik tidak beraturan. Carol tidak menyadari kalau Zach tengah berusaha menahan sesuatu di dalam dirinya.
Kobaran api yang lumayan besar mengingatkan Carol akan kejadian sore tadi. Saat laboratorium terbakar. Spontan Carol terduduk dan tubuhnya gemetar. Keringat mengucur dikeningnya.
"Apinya Zach!" teriak Carol ketakutan menutup matanya dan kedua telinganya.
"Tidak apa-apa Carol. Itu cuma api unggun!"
"A-aku takut," sendatnya lirih.
Carol merasakan dunianya sudah tidak sama lagi. Semua terasa asing dalam sekejap. Saat ini dia terjebak di hutan, bersama sahabat masa kecilnya yang dia yakini bukan lagi sosok yang sama yang ia kenal, kemarin.
Zach terkejut melihat reaksi Carol. Apa karena api itu terlalu besar. Sehingga membuatnya ketakutan.
"Carol? Kamu kenapa?" Zach bicara lembut. Bahkan menyentuh kepalanya pula. Membuat Carol semakin bingung. Sejak kapan Zach bisa bicara selembut itu. Mereka lebih mirip seperti Tom dan Jerry dalam keseharian mereka. Sejak sore tadi, Zach berubah drastis.
Sepertinya itu bukan Zach. Apakah ada orang atau mahkluk yang bereinkarnasi dan memasuki tubuh Zach? Seperti cerita yang sering dibacanya?
Raga itu memang milik Zach. Tapi jiwanya entah jiwa siapa.
Carol merasa dirinya terancam. Takut Zach akan bertindak kasar padanya. Atau akan melakukan sesuatu padanya yang bisa mengancam keselamatannya.
Melihat tubuh Carol yang berguncang Zach tau kalau Carol trauma akan kejadian tadi sore. Pandangannya begitu ketakutan saat melihat kobaran api.
"Kamu baik-baik saja 'kan? Jangan takut. Percayalah besok kita kan keluar dari hutan ini." Ucap Zach seraya duduk disamping Carol. Lengan kirinya memeluk Carol. Meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Sementara di lokasi kebakaran. Meskipun telah menjelang tengah malam, disana masih ramai. Oleh petugas yang mengamankan lokasi kebakaran. Juga orang tus murid yang kehilangan anaknya.
Evakuasi akan dilakukan besok. Orang tua murid telah disuruh pulang. Tetapi mereka tidak bergeming. Semua nekad tinggal di sekolah. Seolah menunggu mukjizat kalau anak-anak mereka masih hidup.
Entah siapa yang memulai menyalakan lilin. Sehingga ratusan lilin menyala. Membuat suasana duka semakin dalam dan mencekam.
Kedua orang tua Carol, Bu Rachel dan Brian tidak henti menangis. Wajah mereka sudah lelah dan sangat terluka. Saat mengetahui kalau anak semata wayangnya turut menjadi korban kebakaran.
Begitu juga kedua orang tua Zach. Putra bungsunya juga dinyatakan turut menjadi korban. Putra kesayangannya. Sekalipun selalu membuatnya pusing. Tapi malam ini betapa dia sangat merindukannya.
Matanya telah sembab, sepertinya air matanya telah kering sedari tadi tidak henti menangis. Matanya tidak sedetik pun terlepas dari puing gedung laboratorium yang hangus terbakar.
"Sudahlah, Ma. Ingat kesehatan Mama." Pak Dody merengkuh bahu Reya, istrinya.
"Pa, anak kita telah menjadi abu di sana. Mama tidak bisa bayangkan, penderitaannya saat ajal menjemputnya. Kenapa harus mati terbakar. Sehingga Mama tidak bisa memeluknya untuk terakhir kalinya.
Apa salah kita Pa. Sehingga musibah ini menimpa keluarga kita ...." isak Reya penuh duka.
Ucapannya yang menyayat hati itu, membuat orang tua yang lain menangis juga. Terwakilkan oleh ucapan Bu Reya.
"Kita tidak sendirian Ma. Lihat semua yang ada disini turut merasakan hal yang sama." Pak Dody menyeka air mata disudut matanya.
***
"Carol!" sentak Zach panik karena Carol tidak merespon ucapannya. Kedua tangannya membingkai wajah Carol. Zach memeluk tubuh Carol. Sungguh, dia sangat takut terjadi sesuatu pada Carol.
"Maafkan aku kalau api itu telah membuatmu ketakutan." Zach tidak menyangka kalau tindakannya, akan membuat Carol terjaga.
"Aku mohon Carol, jangan seperti ini. Aku janji akan melindungi kamu." ***