Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Sudut Pandang Naya
Ini adalah pagi ketiga sejak Rian menolakku.
Dua hari kemarin sekolah libur, jadi hari ini adalah pertama kalinya aku harus menginjakkan kaki di sekolah dengan status sebagai orang yang baru saja dipatahkan hatinya oleh senior yang paling kucintai.
Tanpa ragu, aku langsung menuju rumah Rian. Aku memang belum punya keberanian untuk berhadapan langsung dengannya, tapi setidaknya aku ingin melihatnya dari jauh. Meskipun sudah ditolak, aku tidak sanggup membiarkan hubungan kami berakhir begitu saja.
Aku sangat mencintaimu... sangat mencintaimu... jadi kenapa aku melakukan hal sebodoh itu?
Menyesali kebodohanku, aku berangkat lebih awal dari biasanya dan menunggu di dekat rumah Rian. Aku mengamati dari kejauhan, namun pemandangan yang muncul di depan mata benar-benar di luar dugaan.
“K-kenapa dia harus ada di sana...?”
Rian keluar rumah tepat waktu, tapi ada sesuatu yang janggal. Dia tidak sendirian.
“...Laras...”
Perempuan itu—sumber segala masalah antara aku dan Rian—sedang berjalan di sampingnya dengan ekspresi yang sangat bahagia. Berdasarkan obrolan kami hari Jumat lalu, aku sudah punya firasat kalau Laras menyukai Rian. Jika benar, masuk akal kalau kecemburuannya adalah alasan dia menyerangku selama ini.
Tapi aku tidak bisa memaafkan ini! Aku tidak terima jika akar dari semua kekacauan ini adalah agar dia bisa bersama Rian. Perasaanku jauh lebih besar darimu, Laras! Aku benar-benar mencintai Rian!
“...Hah? Tunggu sebentar... itu artinya...”
Awalnya aku diliputi kebencian, tapi sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas.
“Mungkin Rian sudah tidak semarah dulu lagi.”
Ya, itu masuk akal. Jika Rian bisa berdamai dengan Laras—orang yang seharusnya paling aku benci—berarti jika aku datang dan meminta maaf dengan tulus, dia pasti akan memaafkanku juga, kan? Rian adalah orang baik, tidak mungkin dia hanya menutup pintu maaf untukku.
“Kalau begitu, aku harus segera menemui Rian sepulang sekolah!”
Aku menepuk kedua pipiku dengan keras untuk menguatkan diri. Aku membuat keputusan: Aku akan memohon pengampunan agar hubungan kami kembali seperti semula. Soal perasaan cintaku? Mungkin sebaiknya aku simpan dulu. Prioritas utamaku sekarang adalah memperbaiki hubungan kami yang retak.
Setelah jam sekolah usai, momen itu pun tiba. Ini adalah titik balik terbesar dalam hidupku. Aku tidak boleh salah langkah. Aku sengaja menunggu di depan gerbang sekolah, berusaha menyiapkan senyum seceria mungkin. Tidak akan ada lagi candaan tidak jelas. Aku akan bicara dengan penuh rasa terima kasih dan penyesalan.
“......Ah, itu dia!”
Sosok Rian muncul. Biasanya, hanya melihatnya saja sudah membuatku senang, tapi hari ini ada rasa takut yang menghimpit dada.
(Hanya untuk hari ini... Mulai besok, semuanya akan baik-baik saja. Aku sudah lelah dengan rasa sakit ini.)
Suasana gerbang cukup ramai, tapi untungnya Rian tampak berjalan sendirian. Andi sepertinya sedang sibuk , dan Laras sepertinya cukup tahu diri untuk tidak menempel pada Rian saat pulang sekolah.
“...huuh... Oke. Pertama, aku akan mengajaknya ke tempat sepi... lalu aku akan menundukkan kepala dan meminta maaf...”
Tapi, apakah Rian mau mengikutiku? Skenario terburuk—bahwa dia akan mengabaikanku sepenuhnya—adalah hal yang paling kutakuti. Jika dia tidak mau mendengar, penyesalanku tidak akan pernah tersampaikan.
“Tuhan... kumohon... tolong aku kali ini saja...”
Saat aku masih berdoa dalam hati, Rian sudah semakin dekat. Tidak ada waktu lagi. Aku mengambil langkah besar dan menghadangnya.
“S-Senior Rian!”
“……………Apa?”
Suaraku bergetar. Aku berdiri tepat di depannya, bukan muncul dari belakang seperti biasanya saat aku ingin menjahilinya. Aku ingin dia melihat kesungguhanku.
Namun, ketika mata kami bertemu, jantungku serasa berhenti. Tatapannya sangat dingin. Rian yang ada di depanku terasa seperti orang asing. Matanya hampa, seolah-olah kehadiranku di sana bahkan tidak terpantul di pupil matanya.
(Kenapa? Kenapa matanya begitu dingin? Pagi tadi saat bersama Laras, dia tidak terlihat seperti ini!)
Harapanku runtuh seketika, tapi aku sudah terlanjur basah.
“S-Senior... kalau tidak keberatan... bisakah Senior ikut aku ke belakang gedung olahraga?”
Wajahku pucat pasi, tapi aku memaksa kata-kata itu keluar. Jika aku lari sekarang, semuanya benar-benar berakhir. Aku bersiap untuk penolakan yang kasar.
Namun—
“Oke.”
“Hah?”
Sangat kontras dengan tatapan matanya yang sedingin es, Rian menjawab dengan sangat singkat dan mudah. Aku mengepalkan tinju erat-erat, menahan air mata yang nyaris tumpah agar tidak terlihat olehnya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰