Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Marianne.
Pasar Teatan kini sepi setelah ledakan cahaya Hero Sword menghancurkan Invader yang tersisa. Bau asap hangus perlahan memudar, digantikan aroma roti hangat dan rempah segar. Di antara kios-kios yang rusak, seorang anak laki-laki duduk di atas tumpukan kayu, tangannya terluka dan wajahnya penuh debu.
Princes, yang bulu matanya masih sedikit berantakan karena berlari-larian, segera berjongkok di depannya. Matanya membesar, tangan mungilnya menjulur lembut.
“Kamu! Kamu nggak apa-apa?”
Suara Princes terdengar lembut, gemetar sedikit karena kekhawatiran, tapi tetap ceria.
Anak laki-laki itu menatap ke atas, menatap punggung Princes yang baju merahnya sedikit kotor. Ia mengerjapkan matanya, menahan napas, lalu mengangguk.
“Aku… nggak apa-apa,” jawabnya lirih, suara kecilnya hampir tenggelam oleh bunyi daun bergesekan di angin.
Princes mencondongkan tubuhnya, menahan diri agar tidak menabrak anak itu, tangannya tetap menjulur.
“Ada apa?” tanya anak itu, ragu, matanya sedikit melebar.
“Kata kesatria ku…” Princes menatap Chika sebentar, lalu kembali ke anak laki-laki itu, menatapnya serius tapi lembut. “…Kalau ada yang terjatuh dan terluka, aku harus membantunya berdiri. Iya kan, Chika?”
Chika, yang masih memegangi Hero Sword di punggungnya, menunduk sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Tentu saja!” jawabnya tegas. Cahaya biru muda di pedangnya bergetar lembut, seakan menyetujuinya.
Anak laki-laki itu menatap Princes dengan campuran ragu dan takjub. Bibirnya sedikit terbuka, matanya melebar.
“Aku… kau kan… Princes kecil dari Gurial Tempest… Aku tidak—”
“Tidak apa-apa kok!” Princes menyeringai, menepuk lututnya sendiri dan tertawa ringan, bulu matanya bergetar seperti daun yang tersapu angin. “Hihi… santai aja.”
Akhirnya, anak laki-laki itu mengangguk, sedikit tersenyum, dan menerima tangan Princes. Dengan sedikit usaha, dia berdiri. Princes menariknya perlahan, sambil sedikit goyah karena berat anak itu, tapi berhasil menstabilkannya.
“Terimakasih… Princes… dan Knight…” Anak itu menatap Chika sambil tersenyum lemah. “Nama ku Jhonny.”
Chika mencondongkan tubuh, tangan memegang pedang sedikit rileks, senyum mengembang tipis.
“Jhonny! Nama yang bagus… terdengar kuat!”
Jhonny menggerakkan bahunya, menatap jauh ke arah gang sempit di pasar yang hangus.
“Jadi… kenapa manusia dari Gurial Tempest datang ke Teatan?”
Chika menatap sekeliling, matanya menilai reruntuhan kios dan beberapa penduduk yang mulai membersihkan puing.
“Aku… sih, mau mencari orang yang dianggap penyelamat di kota ini,” jawabnya lembut tapi tegas. “Apakah kau tahu sesuatu?”
Jhonny mengerutkan dahi, tangannya mengusap luka di tangannya sendiri.
“Hmmm… aku rasa… ayahku tahu siapa orangnya. Dari barat… di sebuah laboratorium Teatan… Ayahku ada di sana. Kalian bisa lewat pintas ke sana melalui jalan belakang rumahku.”
Chika mengangguk cepat, mata bersinar.
“Begitu ya! Makasih ya, Jhonny! Kami berdua pergi dulu, ya!”
Princes melompat sedikit, lambaikan tangan mungilnya ke arah Jhonny.
“Sampai jumpa, Jhonny!”
Namun baru saja mereka melangkah beberapa langkah, terdengar suara Jhonny yang berteriak pelan, tapi jelas.
“Tunggu!”
Chika menoleh, alisnya sedikit naik. Princes mencondongkan tubuh, ekspresinya penasaran.
“Ada apa, Jhonny? Apakah kamu mau main?” tanya Princes, suaranya terdengar polos tapi ada kilau serius di mata kecilnya.
Jhonny berlari cepat ke arah mereka, langkahnya tergesa, debu dari jalan ikut beterbangan di belakangnya. Dengan tangan gemetar tapi penuh semangat, ia menyerahkan sebuah kubik emas berkilau, dengan ukiran rumit yang memantulkan cahaya pagi.
“Ini… untuk kalian,” katanya, nafasnya tersengal. “Terimakasih telah menyelamatkan kami di sini… Tanpa kalian, kami tidak akan selamat.”
Chika menatap kubik itu, matanya berbinar-binar, tangan gemetar saat mengambilnya.
“Wah!! Makasih ya, Jhonny!” Ia menatap Princes sebentar, tersenyum hangat, lalu menatap kubik itu lagi. “Kalau begitu… kami pergi dulu, ya.”
Princes melompat-lompat kecil di samping Chika, tangannya mengepal penuh semangat.
“Sampai jumpa, Jhonny!” Ia menepuk bahunya sendiri, bulu matanya bergetar karena kegembiraan.
Jhonny melambaikan tangan kecilnya, matanya berbinar penuh rasa kagum dan lega. Angin pagi dari gang Teatan membuat rambutnya sedikit beterbangan, tapi senyum kecilnya menempel di wajahnya.
Chika dan Princes kemudian berjalan perlahan ke jalan belakang yang ditunjukkan Jhonny, pedang Lumina berpendar biru lembut di punggung Chika. Debu jalan menempel di sepatu mereka, suara langkah bergema di gang sempit, sementara kubik emas berkilau di tangan Chika, seakan memberikan arah berikutnya dalam perjalanan mereka.
Suara burung mekanik dan bunyi roda gigi dari pasar yang mulai diperbaiki terdengar di kejauhan, menambahkan nuansa kota yang hidup dan kacau. Chika menghela napas panjang, memandang ke arah horizon.
“Princes… kita siap menghadapi apa pun yang menanti di laboratorium Teatan.”
Princes mengangguk, matanya berkilau penuh semangat.
“Siap, kesatria! Petualangan kita… baru saja dimulai!”
...----------------...
Matahari pagi menyusup melalui celah-celah tembok kota Teatan, memantulkan cahaya ke lantai jalan berbatu yang retak-retak akibat serangan Invader beberapa jam lalu. Debu beterbangan, aroma roti hangus dan rempah masih tersisa di udara, bercampur dengan suara orang-orang yang mengumpulkan puing.
Chika berjalan di samping Princes, tangannya masih memegang gagang Hero Sword dengan canggung, senyum bodohnya terus menempel di wajah. Princes menatap sekeliling, matanya melebar melihat rakyat Teatan yang masih ketakutan, berjongkok di belakang meja, atau berlari mencari perlindungan.
“Chika…” suara Princes lembut tapi gemetar. Ia menggenggam tangan Chika dan sedikit menepuk punggungnya, mencondongkan kepala. “Kenapa Invader menyerang dunia ini…?”
Chika mengangkat bahu, matanya menatap langit biru yang tertutup awan tipis. Bibirnya tersenyum lebar tapi kikuk. “Entah ya… aku juga nggak tahu… Tapi jangan takut, Princes! Kan ada aku!”
Princes menatap wajah Chika yang terlalu polos itu, lalu tertawa kecil sambil menepuk tangannya sendiri. “Baiklah… kalau begitu, aku nggak takut!”
Mereka berdua terus berjalan, hingga tiba di sebuah tembok batu besar yang tampak kuno dan kokoh. Di baliknya, cahaya emas berpendar samar. Mata Princes langsung berbinar.
“Chika! Lihat… ada balok emas!” serunya, matanya melebar seperti kucing yang menemukan ikan emas.
Chika mencondongkan tubuh ke depan, senyum bodohnya tetap menempel. “Hmm… kelihatan menarik… tapi, tunggu… ada empat batu penghubung listrik di sini. Kayaknya ini teka-teki… atau jebakan… atau mungkin… hmm… semuanya sama-sama menarik!” Ia mengangkat bahu, matanya menyipit seperti sedang berpikir keras, tapi senyum kikuknya tak berubah.
Princes melompat-lompat kecil, mengangkat tangannya sambil menatap batu-batu tinggi itu. “Ayo, kita selesaikan teka-teki ini, Chika! Kita pasti bisa!”
Chika mengangguk, lalu berdiri di salah satu kotak penghubung, menempelkan tangan ke batu dengan gaya terlalu dramatis. Sparks—percikan listrik kecil—terlihat menyambar, membuat bulu matanya sedikit mengepul, sementara Princes menutup wajahnya sebentar dan menahan tawa.
“Eh… aku rasa kita harus menyambung aliran listriknya…” Chika bicara sambil menggaruk kepala, matanya menatap batu lain. “Tapi… hmm… aku nggak tahu alurnya… jadi kita sambungkan aja dari sini ke sana… eh… ya, dari sini ke sini… dan… oh, dari sini ke… hmm… oke, aku kira ini benar.”
Princes menatapnya lebar. “Chika… itu tidak masuk logika…”
Chika menatapnya polos. “Logika… itu overrated!” Ia tersenyum lebar, matanya berbinar penuh percaya diri. Ia mengambil kabel panjang, mengikat satu ujung ke batu pertama, lalu melempar ujung lainnya ke batu terakhir dengan gaya dramatis—dan… kabel itu tersangkut di kepala Princes.
“Chika!!” teriak Princes sambil menepuk kepalanya sendiri, rambutnya kusut karena kabel.
“Hehe… maaf… maaf… eh… tapi aku yakin ini berhasil!” Chika tersenyum kikuk, kedua tangannya terangkat seperti sedang menari di udara.
Ia menekan batu terakhir, dan…
ZZZZZZT!!!
Satu percikan listrik besar menyambar ke udara. Princes menjerit dan menunduk, rambutnya berdiri karena listrik statis. Chika tersenyum lebar, tapi bulu merah di helmnya berdiri kaku karena kejutan listrik kecil.
“Berhasil… mungkin… atau… hmm… enggak juga?” gumam Chika sambil menggaruk kepala.
Setelah beberapa detik, tembok batu besar perlahan bergetar. Dengan suara gemuruh—GROOOUUUMPH!!!—tembok itu perlahan terbuka, memperlihatkan balok emas yang berpendar hangat di dalam ruangan gelap.
“Wahhh… kita berhasil, Chika!” teriak Princes sambil melompat-lompat.
Chika melangkah ke depan, tangan menjulur untuk mengambil balok itu. “Yah… akhirnya… uh… hampir saja aku kebakaran listrik…”
Namun, begitu balok itu diambil… KRRRNNNGG!!!
Dengan suara keras seperti gemuruh petir, tembok batu menutup kembali! Sparks kecil menyambar dari batu penghubung yang mereka sambungkan secara ngawur. Listrik di luar mati total, membuat seluruh area menjadi gelap dengan udara panas sedikit berbau ozon.
Princes menatap Chika dengan mata membelalak, mulut menganga. “Chika… kau… kau baru saja membuat jebakan sendiri!”
Chika menggaruk kepala lagi, senyum kikuknya tetap menempel. “Ah… eh… hmm… yah… lumayan… setidaknya… kita… eh… dapat baloknya? Tapi… hmm… aku rasa kita terjebak… ehehehe…”
Princes menepuk dahinya, kedua tangan menutupi wajah, sambil menahan tawa dan sedikit marah. “Chikaaa… otakmu… tolol banget!”
Chika mencondongkan tubuh ke depan, tersenyum polos. “Tapi… hei… bukankah ini menyenangkan? Kita kan petualang! Setidaknya… sekarang kita bisa main-main sama jebakan listrik… hehe….”
Percikan terakhir dari batu penghubung menimbulkan suara fsshhkttt—krakkk—zzzt! yang membuat kedua mereka sedikit meloncat, rambut Princess beterbangan karena statis, sementara helm Chika mengeluarkan bunyi beep-beep lucu dari sistem listrik internalnya yang terganggu.
Di tengah gelap ruangan, dengan balok emas berpendar hangat di tangan Chika dan Princes menahan tawa campur marah, keduanya tersadar… bahwa logika dan akal sehat… kadang kalah oleh otak tolol dan keberanian polos seorang knight pemula.
---
Sinar matahari menembus celah awan tipis di langit Teatan, menyorot debu yang berterbangan di halaman laboratorium robot. Bangunan itu terlihat raksasa, dengan pintu kayu yang besar dan jendela kaca berlapis debu. Aroma logam panas dan kayu terbakar samar menyelimuti udara, bercampur dengan suara burung yang cemas karena kegaduhan kota.
Chika dan Princes berdiri berdampingan di halaman, mata mereka berkilau ketika melihat sesuatu yang luar biasa.
“Princes… Princes!! Lihat ini… ini… kepala robot besar banget!!” Chika menepuk dada dengan semangat yang berlebihan, bulu merah di helmnya sedikit berkibar ditiup angin pagi. Senyumnya lebar, bodoh, dan polos, seperti anak kecil menemukan mainan baru.
Princes langsung melompat ke depan, tangannya menyentuh kepala robot itu. “Wahhh!! Ini luar biasa, Chika!!” matanya bersinar penuh takjub. “Aku belum pernah lihat sesuatu sebesar ini!”
Chika mengangkat bahu dengan gaya kikuk. “Iya… pasti Hero ke dua adalah orang yang membuat ini… pasti dia jenius… atau super aneh… atau keduanya!” Ia tersenyum sambil menatap sisa-sisa robot yang berserakan di halaman—lengan mekanik, roda kayu, dan beberapa kabel yang menjuntai.
Princes menunjuk ke sebuah bagian robot yang tampak seperti lengan hidrolik setinggi badannya. “Chika… coba bayangkan kalau kita pakai ini lawan komandan Crops ke-7… pasti menang tanpa susah payah!!”
Chika mengangguk cepat, kedua tangan diangkat, bulu di helmnya bergerak liar. “Betul! Kita bisa bikin robot super kombat… eh… robot tempur… ya, robot tempur!”
Tiba-tiba, dari dalam laboratorium terdengar suara keras, hampir memekakkan telinga:
“Marianne!! Hentikan membuang-buang waktu untuk membuat alat usang di luar sana! Bergabunglah kembali ke grup kesatria Teatan!”
Princes menunduk, wajahnya berubah serius. “Chika… ada orang bertengkar… terdengar keras…”
Chika menoleh, dan Hero Sword yang tergantung di pinggulnya tiba-tiba berdenyut—kilatan cahaya biru samar menandakan Hero ke dua berada dekat. Matanya berbinar, dan senyum bodohnya berubah sedikit menjadi fokus.
“Kalau begitu… ayo kita masuk, Princes! Hero ke dua ada di dalam ini!” Chika menepuk punggung Princes dengan antusias, membuat bulu helmnya sedikit terangkat.
Mereka masuk melalui pintu kayu besar, yang berderit nyaring CREEEAKK!! seperti memperingatkan semua penghuni. Aroma logam panas dan minyak mesin menyengat hidung mereka. Di dalam, cahaya biru lembut dari panel kontrol menyinari lantai kayu yang penuh percikan percobaan.
Di depan mereka, seorang gadis dengan rambut biru muda pendek, mata biru tua penuh semangat, menaiki robot kayu bersenjata kecil—mesinnya berdengung samar. Robot itu memiliki roda besar dan lengan mekanik yang bergerak luwes.
“Dengan robot ini, para Teatan akan bisa mengalahkan Invader yang merusuh di kota!” teriak Marianne, matanya berbinar. Ia menekan beberapa tuas, dan robot itu mengeluarkan suara WHIRRR-BZZT! yang menggetarkan lantai.
Namun, seorang pria dengan zirah cream, berdiri di depan Marianne, menepuk tangan dan terlihat kesal. “Lupakan saja rencana anehmu, Marianne! Kau bodoh! Komponen ini sangat langka, dan robot raksasa di halaman itu… cuma pajangan!”
Chika mencondongkan tubuh ke depan, senyum polos tetap ada. “Eh… Permisi… Di sini ada ayahnya Jhonny ya?”
Eric, si pria bersenjata, menoleh, matanya melebar melihat dua orang asing yang muncul di pintu—satu dengan helm besar dan pedang yang bersinar, satu kecil memegang tangan Chika. “Kalian… orang dari Kerajaan Gurial Tempest? Dan… princes kecil!”
Princes melompat-lompat kecil, tangan diangkat. “Iya paman! Aku Princes!”
Eric menghela napas, sedikit terkejut, lalu berkata dengan nada lembut tapi tegas. “Aku ayahnya Jhonny….”
Chika melangkah mendekat, senyumnya kikuk tapi matanya penuh rasa ingin tahu. “Eric ya? Aku mau tanya… di kota ini, siapa menurutmu yang paling kuat?”
Eric mengerutkan kening, sedikit bingung. “Paling kuat? Maksudmu… kemampuan bertarung?”
Chika mencondongkan tubuh, matanya berbinar. “Iya… aku mencari Hero yang ditakdirkan oleh Hero Sword… dan pedang ini bereaksi di sekitar sini… Apakah cuma kalian berdua yang bisa disebut pahlawan di kota ini?”
Marianne mengangkat bahu, matanya bersinar tapi sedikit kesal. “Aku hanya ilmuwan… Dan di sampingku ini Eric, kesatria Teatan…”
Chika menatap Eric, lalu Hero Sword di pinggulnya berdenyut pelan. “Tapi… pedang ini tidak mendeteksi kamu, Eric…”
Ia beralih ke Marianne, langkahnya kikuk tapi yakin. Begitu jaraknya dekat, Hero Sword tiba-tiba berdenyut sangat kuat—BLUUUURR-CHHH!! cahaya biru memancar, hampir membuat kepala Chika bergetar karena kejutan energi.
Princes menatap dengan mata membelalak. “Chika… Marianne adalah Hero ke dua!!”
Marianne meloncat mundur, tangan menepuk dada. “Heii… mana mungkin?! Aku cuma orang yang jenius bikin robot… itu pasti salah!”
Hero Sword tiba-tiba mengeluarkan suara berat dan formal, seperti mesin tua yang hidup:
“Aku tidak rusak… Tidak sopan kau mengatakan hal itu di depanku, pedang pusaka!”
Chika menatap pedang dengan mulut sedikit terbuka, senyum kikuk tetap menempel. “Eh… pedang… bicara?”
Marianne dan Eric bersamaan menatap satu sama lain, mata mereka melebar. “EH!! Pedang itu… berbicara!!”
Tiba-tiba, dari luar laboratorium terdengar gemuruh, teriakan, dan suara pecahan kayu.
Eric menoleh cepat, matanya membulat. “Apa… apa yang terjadi di luar sana?!”
Chika mengangkat bahu, senyum polos dan bodohnya tetap menempel meski wajahnya sedikit serius. “Aku akan memeriksa, Princes! Ayo keluar!”
Princes mengangguk cepat, menggenggam tangan Chika, matanya bersinar karena antusias tapi sedikit khawatir.
Eric dan Marianne saling bertukar pandang, kemudian mengangguk. “Kami ikut!” kata Marianne sambil meloncat dari robot kayu.
Chika tersenyum lebar, matanya berbinar, dan ia melangkah ke pintu laboratorium bersama Princes, bersiap menghadapi kekacauan luar. Suara BZZT-CRASH-THUMP!! dari luar semakin keras, seperti kota itu sendiri sedang berteriak minta tolong.
Di halaman laboratorium, debu beterbangan, kabel dan potongan logam berterbangan akibat ledakan kecil dari Invader yang masih mencoba merusuh. Angin membawa aroma minyak panas, kayu terbakar, dan bau besi hangus ke wajah Chika dan Princes.
“Siap, Princes?” Chika menatapnya dengan senyum bodoh tapi penuh semangat.
“Siap, Chika!!” Princes mengangkat tangan, rambutnya tertiup angin, dan kedua matanya berbinar penuh tekad.
Dan begitu mereka melangkah keluar… dunia Teatan yang kacau menunggu mereka—penuh invader, suara ledakan, dan kesempatan untuk menemukan Hero kedua yang sesungguhnya…
---
Debu beterbangan, udara panas beraroma besi dan minyak terbakar, sementara reruntuhan bangunan pasar masih berasap di sekitar mereka. Chika, Princes, Marianne, dan Eric berdiri di halaman terbuka, mata mereka membelalak melihat dua serangga raksasa yang menebar aura ancaman. Tubuh mereka mengkilap, carapace hijau mengilat diterpa cahaya matahari, sementara cairan hijau kental di bawahnya menenggelamkan para penduduk Teatan, termasuk Jhonny yang terjebak di dalamnya.
Eric menjerit, suaranya pecah di antara gemuruh kota: “JHONNY!!”
Mata Eric memanas, dadanya terengah-engah saat ia menggenggam pedang, langkahnya menghantam tanah dengan suara THUD-THUD-THUD, lalu ia melompat tinggi ke arah serangga itu, pedangnya siap menusuk.
Namun serangga itu cepat, kaki raksasanya menepis pedang Eric dengan suara CRAAACKK!, dan Eric terpental beberapa meter sebelum mendarat di tanah dengan posisi heroik. Debu beterbangan mengelilinginya. Matanya menatap tajam, alisnya berkerut: “Hah… kau… jangan pikir bisa kabur begitu saja!”
Chika menatap serangga yang terbang menjauh ke arah selatan, napasnya memburu tapi matanya tetap berbinar. “HEI SERANGGA!! KEMBALIKAN WARGA-WARGA TEATAN!!” Ia meninju udara, helmnya bergetar karena kekuatan teriakannya.
Eric menepuk bahu Chika, menatap serius. “Chika… aku mohon… bantu kami! Aku akan mengejar Jhonny, kau kejar serangga yang terbang ke selatan!”
Chika menatap pedangnya, Lumina, cahaya biru muda mulai mengalir di bilahnya. Perisai emas-putih keluar dengan suara mekanik WHHHHRRRR! dari tangan kirinya. Ia menatap Marianne dan berkata, “Serahkan kepada ku!”
Marianne mengangguk, wajahnya serius tapi penuh antusias. Ia meletakkan sebuah pistol pengait di tangan Chika. “Kalau ada gangguan saat mengejar, gunakan ini. Aku juga akan menyiapkan sedikit komponen robot Teatan di belakangku. Bisa kubuat beberapa jebakan mekanik untuk memperlambat mereka.”
Chika mengangguk lebar, senyumnya bodoh tapi penuh semangat. “Terima kasih, Marianne! Aku tidak akan mengecewakan!”
Dengan itu, Chika melompat ke arah selatan, helmnya berkilau terkena sinar matahari. Angin menerpa wajahnya, suara WHOOSH-WOOSH mengiringi langkah kakinya yang cepat. Di belakangnya, Princes dan Marianne berlari menuju laboratorium untuk menyiapkan robot cadangan, sedangkan Eric melesat ke timur mengejar Jhonny.
---
Udara dipenuhi reruntuhan dan puing pasar yang masih bergelantungan. Chika meloncat melewati kayu patah yang berderet CRASH-THUD, menghindari besi runcing yang jatuh dari gedung yang hancur. Ia memutar tubuhnya, melakukan salto akrobatik untuk menghindari batu besar yang menghantam tanah THOOM!, lalu mendarat dengan kaki stabil, perisai dan pedangnya siap setiap saat.
“Tidak boleh terlambat! Warga Teatan bergantung padaku!” pikir Chika, napasnya memburu tapi hatinya penuh tekad. Listrik di pedang Lumina menyala samar, mengeluarkan suara ZZZZZ-TSSSS!, seperti mengisi adrenalinnya.
Di hadapannya, puluhan Invader muncul dari reruntuhan. Mereka mengeluarkan suara mengerikan SKREEEEE! dan berlari menyerang. Chika menari di antara mereka dengan gerakan memutar, menebas dan menangkis. Pedang Lumina bergerak dengan cepat, setiap serangan menghasilkan kilatan biru:
“Luminous Slash!” Chika menebas ke arah Invader yang mencoba menyerang dari kiri, cahaya biru menghancurkan lengan mekanik mereka.
“Shining Spin!” Ia memutar tubuhnya, memukul tiga Invader sekaligus dengan bilah pedang yang berputar, suara SWISH-WHZZZ memenuhi udara.
“Radiant Leap!” Meloncat di atas puing-puing pasar yang jatuh, Chika menendang Invader yang mencoba menghalanginya, membuat mereka terpental THUMP-CRACK!
Setiap langkah Chika dipenuhi ketegangan—napasnya cepat, dahi berkeringat, tapi matanya tetap bersinar. Ia kadang menjerit, kadang tertawa bodoh saat gerakan konyol tapi efektif membuat Invader terpental:
“HAH! Kalian pikir bisa menghalangiku?!”
Di langit, serangga raksasa itu menatap Chika dengan mata merah mengilap, tubuhnya bergetar, meluncurkan cairan hijau SPLORCH!! ke arah penduduk yang masih terjebak. Chika menunduk tepat waktu, darah adrenalin mengalir di seluruh tubuhnya. Ia mengeluarkan pistol pengait, menembak WHIZZ-CLANG! dan menancapkan pengait ke reruntuhan gedung, menarik dirinya ke atas dan mendarat di atas atap, semakin mendekati serangga.
“Tidak ada yang bisa menghentikanku! Aku… Chika, Knight Gurial Tempest… akan menyelamatkan Teatan!!” teriaknya, senyum bodoh tetap menempel di wajahnya. Helmnya berkilau, pedang Lumina berdenyut, dan perisainya memantulkan cahaya matahari seperti bintang biru di siang hari.
Di bawah, puing dan Invader masih beterbangan, sementara Chika meluncur, menebas, meloncat, dan menghindari rintangan—gerakan epik yang konyol tapi efektif, adrenalin memuncak, dan setiap langkah terasa hidup.