NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JEJAK BUKTI DAN PERANGKAP MENGKILAP

Malam semakin larut, namun mata Putri tidak bisa terpejam. Di apartemen kecil Nina yang sederhana namun nyaman itu, suasana terasa tegang namun penuh semangat juang. Di hadapan mereka, di atas meja makan yang kini berfungsi sebagai meja strategi, terhampar ponsel Rizky yang menampilkan foto-foto dokumen hasil pembobolan brankas kemarin, serta rekaman audio dari alat penyadap yang disembunyikan Putri.

Nina baru saja selesai melakukan panggilan telepon rahasia dengan perantara yang dia percaya—seorang jurnalis independen yang memiliki koneksi aman dengan kepolisian yang bersih dan berani menyelidiki jaringan mafia Adinata.

"Sudah terhubung," kata Nina sambil meletakkan ponselnya, napasnya terdengar sedikit berat namun matanya berbinar. "Detektif Rian bersedia bertemu. Tapi dia sangat berhati-hati. Dia bilang pertemuan harus dilakukan di tempat netral, tanpa pengawalan, dan hanya boleh dihadiri oleh satu atau dua orang yang paling dipercaya. Dia takut ada tikus di kepolisian yang bekerja untuk Pak Hidayat atau Pak Darmawan."

"Kapan pertemuannya?" tanya Rizky cepat, duduk lebih tegak.

"Besok siang. Di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan lama. Tempat yang sepi dan mudah untuk memantau kalau ada yang menguntit," jawab Nina. "Dia ingin melihat bukti fisik atau salinan yang jelas sebelum mengambil tindakan apa pun. Dia bilang, dengan bukti sebesar ini, dia bisa meminta surat perintah penangkapan dan penggeledahan dalam waktu singkat."

Putri mengangguk pelan, otaknya yang terlatih sebagai mahasiswa hukum langsung menganalisis situasi. "Itu risiko besar, tapi satu-satunya jalan. Rizky, kamu tidak bisa datang. Kalau kamu terlihat bersama polisi dan ketahuan orang ayahmu, semuanya akan berakhir sebelum dimulai. Aku yang akan pergi bersama Nina."

"Tidak, Putri. Itu terlalu berbahaya," bantah Rizky segera, wajahnya tampak khawatir. "Kamu adalah target utama Pak Darmawan. Kalau dia tahu kamu bertemu polisi..."

"Justru karena itu aku yang harus pergi," potong Putri tegas. "Aku yang paling tahu detail bukti-bukti itu. Aku yang bisa menjelaskan kronologi kematian orang tuaku dan hubungannya dengan dokumen-dokumen itu. Selain itu, keberadaanku sebagai istri muda keluarga Adinata mungkin tidak akan terlalu dicurigai jika aku keluar rumah dengan alasan belanja atau menjenguk Rara. Nina bisa memalsukan jadwals."

Rizky terdiam, menyadari logika di balik kata-kata Putri memang masuk akal. Dia menggenggam tangan istrinya erat-erat. "Baiklah. Tapi kamu harus berjanji akan sangat berhati-hati. Pakai mikrofon tersembunyi yang biasa Nina pakai untuk pekerjaan lapangan. Aku akan memantau dari jarak jauh bersama Bang Rio. Kalau ada apa-apa, kami akan datang membantu."

"Janji," ucap Putri lembut, menatap mata Rizky.

Keesokan harinya, rencana berjalan sesuai skenario. Putri berpakaian biasa, mengenakan jaket tebal dan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Dia berpura-pura keluar rumah untuk membeli kebutuhan Rara di rumah sakit, sementara Nina sudah menunggu di mobil yang tidak mencolok di sudut jalan. Rizky dan Bang Rio memantau pergerakan dari mobil lain, memastikan tidak ada mobil yang menguntit mereka.

Perjalanan menuju pelabuhan lama terasa panjang dan mencekam. Sepanjang jalan, Putri terus memeriksa sekelilingnya, waspada terhadap setiap bayangan atau mobil yang terlihat mencurigakan. Naluri kewaspadaannya semakin tajam karena ancaman Pak Darmawan yang masih menggantung di kepala mereka.

Sesampainya di gudang tua yang dimaksud, suasana di sana sunyi dan berdebu. Sinar matahari siang menembus celah-celah atap yang rusak, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di udara yang penuh debu.

"Kita di sini," bisik Nina ke ponselnya, memberi kode pada perantara.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam biasa masuk ke area gudang itu. Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan pakaian kasual namun berwibawa keluar. Dia memiliki tatapan tajam yang menunjukkan pengalamannya bertahun-tahun di kepolisian. Itu Detektif Rian. Dia datang sendirian, sesuai kesepakatan.

"Bu Putri Aulia?" tanya Detektif Rian pelan saat mendekat, matanya mengamati Putri dan Nina dengan cermat.

"Benar, Detektif," jawab Putri tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Terima kasih sudah bersedia datang."

Mereka duduk di atas peti kayu tua di tengah gudang. Tanpa membuang waktu, Putri mulai menjelaskan segalanya. Dia menunjukkan foto-foto dokumen di ponsel Rizky yang sudah disalin ke perangkatnya, memutar rekaman audio percakapan Pak Hidayat dan anak buahnya, serta menceritakan detail kematian orang tuanya dan bukti kaset rekaman yang dia simpan dengan aman di tempat rahasia.

Detektif Rian mendengarkan dengan saksama, kadang mencatat sesuatu di buku kecilnya, kadang mengerutkan kening saat mendengar detail kejahatan yang begitu kejam. Wajahnya semakin serius seiring berjalannya cerita.

"Ini bukti yang sangat kuat, Bu Putri," ucap Detektif Rian akhirnya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dengan dokumen transaksi ilegal ini dan rekaman suara Pak Hidayat, kita punya dasar yang kuat untuk menuntut dia. Dan informasi tentang Pak Darmawan yang mengancam Anda serta rencananya untuk menjatuhkan Hidayat sangat berharga. Kami memang sudah lama mencurigai keterlibatan mereka, tapi tidak pernah punya bukti sejelas ini."

"Jadi, Bapak akan membantu kami?" tanya Nina harap-harap cemas.

"Tentu," jawab Detektif Rian tegas. "Tapi ini berbahaya. Kedua orang ini sangat berpengaruh dan kejam. Kami harus bergerak sangat hati-hati. Rencananya, kami akan menggunakan tawaran dokumen dari Putri untuk memancing Pak Darmawan keluar. Saat dia datang untuk mengambil dokumen itu, kami akan menangkapnya basah. Dan pada saat yang bersamaan, kami akan menggerebek kediaman dan markas Pak Hidayat sebelum mereka sempat bereaksi."

"Tapi bagaimana kalau Pak Darmawan curiga?" tanya Putri. "Dia orang yang sangat licik. Dia pasti akan membawa banyak pengawal."

"Karena itulah kita butuh perencanaan matang," kata Detektif Rian. "Anda bilang dia meminta dokumen asli? Kita akan membuat salinan yang sangat mirip—sama persis dengan aslinya, kertasnya, tanda tangannya, segelnya. Kita akan buat dia percaya itu asli. Sementara aslinya akan kita amankan sebagai barang bukti utama."

Putri mengangguk kagum. Rencana itu brilian. "Kapan kita akan melakukannya?"

"Hitung mundur Pak Darmawan tinggal dua hari, kan?" kata Detektif Rian. "Besok adalah hari terakhir. Kita akan atur pertemuan untuk besok malam. Tempat yang ramai tapi punya banyak jalan keluar-masuk, supaya tim kami bisa menyergap tanpa memicu baku tembak yang membahayakan warga sipil. Mungkin di pusat perbelanjaan besar atau stasiun kereta?"

Putri berpikir sejenak. "Stasiun Kereta Tugu. Tempat itu selalu ramai, banyak orang lalu-lalang, dan ada banyak sudut tersembunyi. Pak Darmawan mungkin akan merasa aman di sana karena keramaian, tapi justru itu yang akan menjebaknya."

"Bagus. Stasiun Tugu," putus Detektif Rian. "Saya akan atur tim penyamaran. Anda akan membawa dokumen palsu itu. Begitu dia menerima dan memeriksanya, tim kami akan bergerak. Sementara itu, tim lain akan siap mengamankan rumah Adinata dan menangkap Pak Hidayat."

Pertemuan itu berakhir dengan rasa optimis yang baru. Detektif Rian membawa salinan digital bukti-bukti itu untuk segera diproses, sementara Putri dan Nina kembali ke mobil dengan hati yang sedikit lebih lega namun tetap waspada. Mereka sudah meletakkan dasar perangkap. Sekarang, tinggal menunggu kapan mangsanya akan masuk.

Sepanjang perjalanan pulang, Putri diam mematung. Dia memikirkan Pak Hidayat. Pria yang telah membunuh orang tuanya, pria yang menjadi ayah dari suaminya. Besok, dia akan melihat pria itu jatuh. Apakah dia akan merasa puas? Atau justru merasa sedih? Perasaannya campur aduk, namun satu hal yang pasti: keadilan harus ditegakkan.

Sore harinya, saat Putri kembali ke rumah Adinata, dia melihat Pak Hidayat sedang duduk di ruang tamu, tampak sedang membaca koran dengan tenang. Melihat pria itu begitu tenang seolah tidak pernah menumpahkan darah siapa pun, Putri merasa dadanya sesak. Namun, dia segera menyembunyikan emosinya dan menyapa dengan sopan seperti biasa.

"Selamat sore, Ayah," ucap Putri.

Pak Hidayat menoleh, menatap Putri dengan tatapan tajam yang biasa, tapi hari itu ada sesuatu yang berbeda. Seolah dia sedang meneliti Putri.

"Sore, Putri. Kamu dari mana saja seharian?" tanya Pak Hidayat pelan, namun suaranya terdengar berat.

"Aku tadi ke rumah sakit menjenguk Rara, lalu pergi ke toko buku mencari bacaan untuk Rara," jawab Putri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegugupan. Dia bersyukur sudah mempersiapkan alibi ini sebelumnya.

Pak Hidayat mengangguk pelan, tapi matanya masih menatap Putri lekat-lekat. "Bagus. Rara harus cepat sembuh. Ngomong-ngomong, kemarin aku merasa ada yang aneh di ruang kerjaku. Seolah-olah ada yang masuk. Tapi saat aku cek, semuanya tampak rapi. Brankas pun terkunci rapi."

Jantung Putri seakan berhenti berdetak sejenak. Dia tahu dia tidak boleh panik. "Benarkah, Yah? Mungkin perasaan Ayah saja. Atau mungkin pembantu yang masuk membersihkan?"

"Mungkin," ucap Pak Hidayat lambat, lalu tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Putri meremang. "Tapi ingat, Putri. Di rumah ini, tidak ada rahasia yang bisa tersembunyi selamanya. Siapa pun yang mencoba mengorek rahasia keluarga ini, akan berakhir buruk. Paham?"

Putri menelan ludah. "Paham, Yah."

"Bagus," kata Pak Hidayat, lalu kembali membaca korannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu bisa pergi."

Putri mengangguk dan berbalik berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang terasa berat. Dia baru saja nyaris ketahuan. Pak Hidayat mungkin tidak punya bukti, tapi naluri mafia-nya memberitahunya ada sesuatu yang salah. Itu berarti, waktu mereka semakin sempit. Besok malam adalah satu-satunya kesempatan. Jika gagal, mereka semua akan mati.

Malam itu, Putri dan Rizky kembali bertemu dengan Nina dan berkoordinasi dengan Detektif Rian melalui telepon. Dokumen palsu sudah siap, dibuat dengan sangat detail oleh ahli forensik kepolisian sehingga sulit dibedakan dari aslinya. Tim penyamaran sudah disiapkan di Stasiun Tugu. Rencana sudah matang.

Namun, saat tengah malam, ponsel Putri bergetar lagi. Pesan dari Pak Darmawan.

[Besok malam. Jam 8. Stasiun Tugu. Gerbang timur. Bawa dokumen asli. Jangan bawa polisi atau siapa pun. Kalau aku melihat wajah asing, adikmu mati. - D]

Putri dan Rizky saling bertatapan. Pak Darmawan memilih tempat yang sama dengan yang mereka usulkan. Itu kebetulan yang mengerikan, atau memang dia sudah merencanakannya dari awal? Tapi setidaknya, itu menguntungkan rencana mereka.

"Dia tahu tempatnya," bisik Putri. "Tapi dia tidak tahu kalau kita sudah menyiapkan perangkap untuknya."

"Besok adalah hari penentuan, Putri," ucap Rizky, menggenggam tangan istrinya erat-erat. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sampingmu. Aku janji."

"Kita akan berhasil, Rizky," jawab Putri, mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga. "Demi Rara, demi orang tuaku, dan demi masa depan kita."

Malam itu, Putri tidur dengan mata terpejam namun pikirannya tetap terjaga. Dia membayangkan besok malam: pertemuan yang menegangkan, konfrontasi dengan musuh-musuhnya, dan momen ketika kebenaran akhirnya terungkap. Dia berdoa agar semuanya berjalan lancar, agar tidak ada lagi darah yang tumpah, dan agar setelah malam esok, dia dan orang-orang yang dicintainya bisa hidup damai.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri dan pihak kepolisian sudah menyiapkan perangkap sempurna untuk Pak Darmawan di Stasiun Tugu besok malam, menggunakan dokumen palsu sebagai umpan. Namun, Pak Hidayat baru saja memberikan peringatan samar yang menunjukkan dia mulai curiga. Jika kamu jadi Putri, bagaimana caranya kamu akan menjaga ketenangan diri saat menghadapi Pak Darmawan besok malam, sekaligus memastikan rencana polisi berjalan lancar tanpa membahayakan nyawa Rara dan Rizky?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!