Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
In The Step Of Acceptance
Damian menutup pintu mobil di belakang punggungnya. Namun untuk sesaat, ia tetap berdiam diri seperti itu, membiarkan punggungnya bersandar pada sisi mobil yang masih hangat oleh sisa perjalanan.
Ia merasakan senyumnya yang tidak bisa berhenti mengembang sepanjang kepulangannya dari rumah Fraya tadi. Kelamnya dunia Damian kemarin-kemarin seolah luruh dalam dua jam terakhir, digantikan oleh pelangi yang hadir tepat di hadapan mata Damian.
Damian masih tersenyum, senang dan bahagianya bukan main. Seluruh kebahagiaannya begitu jelas menelanjangi perasaan Damian kepada siapa pun orang yang dapat melihat Damian yang begitu mabuk kepayang seperti saat ini.
Damian membuka pintu rumahnya yang besar. Megah, hampa, sekaligus dingin.
Damian tidak pernah disambut oleh sedikit pun kehangatan setiap kali ia pulang ke tempat yang hanya diisi oleh puluhan pelayan di rumahnya itu.
Kehadiran Ayah Damian yang saat ini entah sedang berada di belahan dunia mana juga tidak lagi Damian pedulikan selama beberapa tahun terakhir ini.
Ia berdiri tepat di aula besar rumahnya yang menjulang tinggi, bak menenggelamkan Damian yang selalu saja sendirian setiap kali ia membuka pintu rumah.
Tapi malam ini, kesunyian itu tampak tidak menyentuh Damian. Damian sedang bahagia. Kelewat bahagia. Bertemu Fraya seperti membuatnya baru saja dapat suntikan morfin. Membuatnya jadi candu, butuh, terobsesi.
Damian berjalan mengarah ke kamarnya, masih sibuk merekonstruksi ulang setiap kejadian di rumah Fraya tadi, dan bagaimana gadis itu akhirnya kembali tertawa untuk Damian.
Tapi kedamaian Damian hanya sesaat, karena ketika ia nyaris melintasi ruang rekreasi, langkah Damian langsung terhenti. Samar-samar ia mendengar suara berat Ayahnya, seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Mungkin dengan salah satu kolega atau pemegang saham. Damian sudah akan berbalik untuk mengambil rute lain menuju kamarnya ketika langkah Damian yang sudah dibuat se senyap mungkin ternyata masih dapat terdeteksi oleh Ayahnya.
"Nicholas? Is that you?"
Suara rendah Ayah Damian dengan praktis kembali menghentikan langkah kakinya. Ia memejamkan mata sambil menghela napas panjang, kemudian mengutuk pada langit dan bumi karena membuat Ayahnya harus muncul di rumah di waktu yang sangat tidak tepat. Damian berbalik tanpa semangat.
Ayahnya muncul dari balik dinding ruang tengah.
Richard Harding, dengan rambut keemasan yang helainya sudah mulai memutih, masih begitu rapi dengan setelan kerjanya yang necis tanpa jas. Tangannya memegang gelas, yang Damian yakin isinya pasti brendi, memandang Damian tanpa sedikit pun senyum yang mengembang di bibir pria berumur nyaris 50 itu.
"Where have you been? I've been waiting on you these past few hours," ujar Ayahnya sambil menghampiri putra kebanggaannya itu.
Damian diam-diam mengembuskan napas tanpa semangat, "Didn't expect to see you here so soon."
Ayahnya berdiri tepat di depan Damian dan langsung memeluk tubuh putranya yang lebih tinggi darinya itu.
"Good to see you too, my dear son."
Tubuh Damian yang sejak tadi kaku akhirnya menerima pelukan tangan kokoh yang memeluknya itu.
"Apa ayah sedang kedatangan tamu?" tanya Damian seraya mengurai tangannya yang tadi memeluk pria paruh baya di depannya ini.
"Yes, actually, he's wanting to see you. It's always good to talk with that smart boy."
Damian mengernyitkan dahi waktu ayahnya bilang tamu yang diajaknya bicara tadi ingin menemui Damian. Biasanya Damian akan menjadi pengganti figur ayahnya dalam mengurus bisnis serta menangani para investor jika ayahnya sedang tidak berada di London.
Sesaat mulutnya yang hendak terbuka sudah akan melayangkan pertanyaan, ketika sosok Axel dari arah yang sama sudah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku.
Untuk ke sejuta kalinya, Damian mendengar hatinya mengutuk langit dan bumi.
Sialan, aku hanya ingin menghabiskan malam ini dengan angan-angan indah tentang Fraya.
Tangan Ayah Damian menepuk pundak Damian perlahan sambil tersenyum separo. "Ayah selalu bangga pada persahabatan kalian yang terjalin selama lebih dari satu dekade ini, Nicholas. Make him satisfied with your loyalty. He's the key to our hope and success."
Ayahnya sama sekali tidak sadar wajah Damian sudah terpahat seperti patung, mungkin lebih tepatnya tidak peduli dengan efek apa yang timbul berkat ucapannya tadi. Sambil kembali mengusap bahu Damian dan melempar anggukan kecil ke Axel yang berdiri di belakang punggung Richard Harding, ayahnya berlalu meninggalkan Damian sambil meneguk segelas brendi yang sejak tadi digenggamnya.
"So, where have you been? Baru pulang dari rumah gadis kecil kita?" Axel tanpa basa-basi menembakkan pertanyaan yang dengan sukses menyentil api emosi yang sejak tadi Damian tahan dalam diam.
Damian masih mencoba setenang mungkin tanpa kentara. Ia berjalan ke deretan minuman beralkohol di sudut meja dan menuangkan segelas tonic untuk dirinya sendiri.
"I must say, whatever you're doing with her, it's quite reassuring me that something might really happened between you two," tandas Axel saat Damian belum merespon juga pertanyaanya.
Damian menghabiskan segelas tonic dalam gelas ditangannya dalam sekali tenggak.
Lalu sedetik kemudian, ia hanya melempar lirikan pada sepupunya itu sambil berkata, "Kamu mau dia jatuh sejatuh-jatuhnya kan padaku? Semua itu butuh fondasi yang kuat. Membuat seorang gadis seperti Fraya untuk jatuh cinta pada seseorang itu tidak mudah. Dan butuh usaha dan waktu lebih lama dari yang kau minta."
Axel mengangguk-angguk, seperti mengamini derai kalimat Damian barusan yang dipoles sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan cowok berkulit cokelat itu. Satu tangannya yang sejak tadi bersembunyi dibalik saku ia keluarkan, mengambil gelas dan mengisi minuman alkohol lainnya untuk ia minum.
Sambil menyesap sedikit, Axel kembali berujar, "Dan bagaimana dengan progres cewek bodoh itu setelah kamu berakting menjadi cowok yang sangat menginginkan kehadirannya? Apakah sudah ada tanda bahwa dia mulai tertarik padamu?"
Damian kembali mengisi lagi alkohol dalam gelasnya. Sepertinya ia akan butuh lebih banyak alkohol selama percakapannya dengan Axel Rosewood berlangsung.
"Aku belum bisa menilai. Tapi yang jelas, untuk saat ini bisa kupastikan dia kembali dalam radarku, setelah aku membuatnya begitu menjauh pada saat pertandingan kick off kemarin."
Axel memekik-nyaris tersedak lebih tepatnya-pada saat ia menenggak alkoholnya. Ia tampak begitu senang sekaligus puas.
"Astaga, aku harus akui yang kamu lakukan itu brilian! Kamu membuatnya menjadi pusat perhatian, meyakinkannya seakan kejadian kemarin adalah salah satu langkah untuk membuatnya sadar bahwa kamu naksir dengan cewek bodoh itu. Aku harus akui, Damian Nicholas Harding, sepertinya selain jadi pewaris utama Harding Global, kamu juga bakat jadi aktor juga. Kusarankan setelah selesai dari Milford, kamu bisa mendaftar untuk ikut casting main film Hollywood. Karena aktingmu sungguh menjiwai."
Ada nada mencemooh dalam ucapan Axel yang kini sedang tertawa puas. Damian, untuk menutupi badai emosi yang mulai berkecamuk dalam dirinya, mencoba sekuat tenaga untuk berpura-pura ikut tertawa. Tawanya terdengar sumbang, sekaligus getir.
Tawa yang sangat kontras dengan apa yang saat ini dirasakan hatinya paling terdalam.
Axel yang sudah menguasai diri akhirnya membalikan badan sambil menaruh gelasnya diatas rak meja. Ia menepuk pundak sepupunya cukup keras, seolah mempercayakan titahnya yang sedang Damian jalankan dengan baik.
"Aku pastikan kamu dapat imbalan yang setara atas apa yang sudah kamu lakukan dengan benar untukku, Nick. Dan juga..." Axel mendekatkan bibirnya ke telinga Damian, "kupastikan file keramat itu tetap tersembunyi dengan apik didalam berangkas Rosewood."
Sekujur tubuh Damian membeku lagi, tapi kali ini emosi yang bergelung hebat dalam dirinya mulai merangkak naik. Sebelah tangannya yang tidak memegang gelas mulai terkepal.
Sedikit lagi saja Axel menuturkan sebuah kalimat, Damian yakin kepalan tangannya akan dengan senang hati mendarat di wajah Axel dan membuat sepupunya itu terkapar tak berdaya di lantai rumahnya.
Tapi untungnya, Axel memutuskan untuk melangkah pergi dari Damian sebelum bom dalam dirinya meledak. Namun rasanya baru berapa langkah menjauh, Axel kembali memutar badan untuk menyerukan ucapan,
"Oh iya, setelah pertandingan final lusa, Ayahku ingin kita berdua ikut di rapat board of director. Ayah kita ingin dua pewarisnya hadir untuk mempelajari kurva saham pasar perdagangan yang saat ini sedang melonjak drastis dalam titik keuntungan fantastis tahun ini."
Dan begitu saja, Axel kembali melenggang dengan congkak meninggalkan Damian yang nyaris membanting gelas ditangannya hingga pecah berkeping-keping.
°°°°°
Pertandingan babak final kembali hadir dengan intensitas keramaiannya yang meningkat gila-gilaan. Milford Hall, sebagai tuan rumah, mempersilahkan semua orang diluar dari siswa Milford Hall sendiri, untuk datang menonton pertandingan Lacrosse laga akhir ini.
Tribun lapangannya sendiri luasnya nyaris menyamai stadion Wembley. Dan Mr Winscott, Kepala Sekolah Milford Hall, yang begitu antusias menyambut pagelaran akbar pertandingan akhir Lacrosse ini yakin bahwa lapangannya akan cukup memuat ratusan orang yang hadir untuk menyaksikan pertandingan Lacrosse Milford Hall melawan Eastwood High.
Fraya sejak tadi ada di perpustakaan. Duduknya persis disamping jendela yang menghadap langsung ke hamparan tribun Lacrosse. Walaupun kelasnya berakhir lebih cepat, Fraya memutuskan untuk tidak menghubungi Mamanya untuk minta dijemput.
Alih-alih ingin menghindari euforia pertandingan yang kali ini rasanya lebih dahsyat, entah kenapa Fraya justru memutuskan untuk tetap di sekolah.
Ia menurunkan headphone yang sejak tadi dikenakannya. Lagu Jerman berjudul Du yang sejak tadi dimainkannya terdengar meredam. Fraya menatap walkman hitam didepannya itu masih dengan sejuta pertanyaan yang ingin sekali dilayangkannya untuk Damian.
Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya di malam ketika Fraya menerima benda ini. Bahkan buku Oxford Preparatory yang seharusnya menarik seluruh minat dan antusiasme Fraya sama sekali luput dari perhatiannya.
Alih-alih Fraya justru masih tertegun setiap kali memandang benda yang memutar lagu bahasa jerman sejak Damian pulang dari rumah Fraya malam itu.
Fraya tidak paham, atau mungkin, menyangkal pada dirinya sendiri atas perasaan aneh yang timbul dalam hatinya. Memegang walkman pemberian Damian, berikut dengan sebuah kaset pink yang warnanya sudah usang ini, seolah membuat Fraya merasa begitu intim.
Sosok Damian yang dingin, congkak, dan terkenal semena-mena itu, citranya pasti akan langusng turun harga ke titik paling bawah begitu semua orang lihat benda apa yang pernah disimpannya ini.
"Memangnya masih jaman mendengarkan musik pakai walkman tua begitu?"
Fraya tersentak dari lamunannya saat Florence tiba-tiba saja muncul disampingnya. Asa yang juga ikut datang, memutuskan duduk disamping Fraya sambil melirik walkman yang tadi Fraya jatuhkan tepat diatas buku Oxford Preparatory volume 4 pemberian Damian kemarin.
"Wow, cute tape. May i?" Asa menyambar tempat kaset kosong berwarna merah muda sambil memandang Fraya, seolah meminta ijin.
Begitu Fraya mengangguk, Asa membalikkan sisi tempat kaset dan membaca deretan nama-nama lagu yang ditulis disana.
"Ini lagu-lagu Jerman semua isinya?" Asa menaikkan sebelah alis, tampak agak kaget.
"Wahhh, mulai berdedikasi sekali teman kita satu ini," Florence tersenyum meledek sambil menyikut, "gara-gara nilai 60 kamu kemarin itu, ya?"
Fraya tampak kaget dan langsung menghujani tatapan memincing ke Asa, "Kamu kasih tahu Florence, ya?"
Asa langsung melempar cengiran lebar.
"Hehe, kemarin keceplosan."
Florence berdecak, "Ah, kamu lagian seperti sama siapa saja sih."
Fraya mendesah sambil menghempaskan punggungnya ke bahu kursi, "Nilai 60 tuh bukan sesuatu yang bisa aku banggain, Flo. Itu kenapa si brengsek itu memberiku walkman ini. Katanya untuk melatih Hörverstehen ku bisa kupelajari. Aku harus menerjemahkan satu lagu pada setiap pertemuan sesi belajar nanti. Kalau salah, dia mau aku ngulang lagi dari awal lagu yang sama."
Sewaktu Fraya mengeluh seperti itu, cewek itu telat menyadari perubahan atmosfir disekitarnya, sampai beberapa menit Fraya mulai menyadari keheningan disekitarnya. Florence dan Asa sedang saling melempar tatapan tanya.
"What? What's wrong?" tanya Fraya, bingung.
Asa yang memecah keheningan duluan, "Im sorry, if im not mistaken, you said, that prick gave these tape to you, for your next courses. Aku mau mastiin, si brengsek yang kamu maksud, si Damian Harding itu?"
Fraya mengangguk, "Iya, Memangnya siapa lagi si brengsek yang mengajariku Bahasa Jerman kalau bukan Damian?"
"Im sorry-" Florence kali ini yang menyela, "kemarin bukannya kamu bilang kamu sudah tidak mau lagi berurusan dengan apapun yang berkaitan dengan Damian?"
Fraya langsung melempar cengiran dengan kikuk. Ia benar-benar melupakan bagian Damian yang akhirnya dengan caranya yang semena-mena itu berhasil mendapat maafnya, "Ooh, iya, aku lupa memberitahu kalian. Kemarin itu... Damian datang ke rumahku."
Asa dan Florence memekik berbarengan ditempat duduk mereka. "Jadi dia benar-benar datang ke rumahmu kemarin itu? Astaga, kupikir dia cuma membual." seru Florence dengan memekik tertahan.
Fraya mengerutkan kening sejenak, "Maksudmu?"
Florence menggigit bibir sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Waktu kemarin kamu dapat nilai 60 itu pada kuis bahasa jerman, Damian menghubungi ku dan menanyakan... beberapa hal tentang dirimu."
Alis Fraya naik berbarengan, terkejut mendengar ucapan Florence.
"Kenapa kamu tidak menceritakan ini padaku?" tanya Fraya.
"Karena kupikir Damian hanya membual saja, Lexy. Aku juga benar-benar kaget waktu dia menghubungi ku sore itu, setelah kalian kemarin cekcok di halaman depan, untuk menanyakan hal apa yang kamu suka supaya kamu mau memberinya maaf."
Fraya sudah akan membuka mulut untuk mengomel panjang lebar untuk seorang Damian yang ia yakini sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan nanti. Tapi ia urungkan niatnya begitu menyadari ia masih di perpustakaan.
"That prick," bisik Fraya meloloskan kekesalan.
"I wouldn't be upset like that if i were you," Florence menimpali lagi, membuatnya langsung dapat tolehan kaget dari Fraya yang menatapnya dengan kening berkerut lagi.
"Kenapa? Kupikir yang dia beri padaku itu murni karena idenya sendiri." Gerutu Fraya kesal sambil melepaskan headphone yang sejak tadi dikalungkan ke lehernya dan menaruhnya tepat diatas meja.
"Aku juga akan kesal kalau jadi Fraya!" Asa ikut-ikutan membela, yang langsung dapat pelototan tajam dari Florence, menyuruh cowok bermata hijau terang dibalik kacamatanya itu untuk bungkam.
"Alexa, kamu percaya tidak, kalau kubilang Damian itu sedang naksir berat sama kamu?"
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit