Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27 Lombok yang Cerah
Suara deburan ombak di Pantai Kuta, Lombok, tidak sedingin deru angin di Alpen, pun tidak seberisik kegaduhan di Amsterdam.
Di sini, air lautnya berwarna pirus jernih, menyentuh pasir putih yang butirannya bulat-bulat seperti merica.
Bagi Sekar, suara ini adalah frekuensi penyembuhan. Sudah tiga bulan sejak mereka turun dari kapal kargo di pelabuhan kecil dan menghilang ke dalam pelukan perbukitan hijau di selatan pulau ini.
Sekar berdiri di teras sebuah bangunan kayu sederhana yang kini merangkap sebagai klinik desa. Ia tidak lagi mengenakan jas putih snellen yang kaku atau masker bedah dengan teknologi terbaru.
Ia hanya memakai kemeja linen longgar dan stetoskop yang melingkar santai di lehernya. Di papan kayu depan klinik, tertulis nama baru yang menjadi pelindungnya: dr. Maria.
"Ibu! Lihat, aku menemukan cangkang kerang yang bentuknya mirip sayap burung!"
Arini berlari menghampiri dari arah pantai, kakinya yang kecokelatan berlumuran pasir. Wajah anak itu nampak begitu sehat.
Tidak ada lagi mimisan, tidak ada lagi bayangan pucat di bawah matanya. Sejak prosedur filtrasi darah di Zurich, tubuh Arini seolah melakukan reboot total.
Ia tumbuh lebih cepat, lebih kuat, dan memiliki ketajaman panca indra yang terkadang membuat Sekar takjub sekaligus waspada.
"Bagus sekali, Arini. Simpan di meja gambarmu, ya," sahut Sekar lembut, mengusap kepala putrinya.
Sekar memperhatikan Arini berlari masuk ke dalam rumah. Ia menghela napas panjang. Terkadang, ia masih merasa ini semua adalah mimpi indah yang sewaktu-waktu bisa pecah.
Ia sering terbangun tengah malam, meraba sisi tempat tidurnya, memastikan ia tidak sedang berada di dalam sel penjara atau di bangsal rumah sakit yang dingin.
"Kau tahu, Dokter, kursi tunggu di klinikmu ini sangat tidak ergonomis untuk punggung mahalku," suara berat itu sedikit mengejutkan Sekar.
Sekar tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Alvin muncul dari balik rimbunnya pohon kelapa, membawa dua butir kelapa muda yang sudah dipapras bagian atasnya. Pria itu nampak sangat berbeda.
Ia mengenakan celana pendek kargo dan kaos oblong tipis. Kacamata hitam mahalnya masih bertengger di hidungnya, namun kulitnya kini jauh lebih gelap karena sinar matahari tropis.
"Kalau kau mau kursi yang nyaman, kembalilah ke kantormu di Jakarta, Alvin," sahut Sekar sembari menerima salah satu kelapa itu.
"Jakarta sudah mati bagiku, Sekar. Di sana aku hanyalah target pajak dan sasaran empuk gosip korporat," Alvin duduk di anak tangga klinik, menyeruput air kelapanya dengan nikmat. "Di sini, aku hanyalah 'Bule Lokal' yang punya penyewaan papan selancar paling tidak laku karena aku terlalu malas mencari pelanggan."
Alvin memang benar-benar melakukan apa yang dikatakannya di atas kapal. Ia membuka sebuah gubuk kecil untuk menyewakan alat selancar tak jauh dari klinik Sekar. Tentu saja, itu hanyalah kedok.
Di balik gubuk itu, Alvin tetap memantau jaringan satelitnya, memastikan tidak ada sinyal dari Von Hess atau sisa-sisa keluarga Wijaya yang melintasi koordinat mereka.
"Bagaimana kondisimu, Alvin? Bahumu masih nyeri?" tanya Sekar, matanya kembali ke mode dokter profesional.
"Hanya sedikit berdenyut kalau hujan. Tapi hei, setidaknya ini mengingatkanku bahwa aku masih hidup dan tidak sedang bermimpi," Alvin menatap ke arah laut lepas. "Bagaimana dengan Arini? Aku melihatnya berlari tadi. Kecepatannya tidak normal untuk anak seusianya, Sekar."
Sekar terdiam sejenak, ikut menatap ke arah Arini yang kini sedang asyik menggambar di teras. "Residu serum itu tidak hilang sepenuhnya, Alvin. Inhibitor Steiner hanya menghentikan mutasi yang merusak, tapi sisa protein itu seolah menyatu dengan DNA alami Arini. Dia memiliki regenerasi sel yang luar biasa. Luka lecet di lututnya bisa sembuh dalam hitungan jam."
"Itu berkah... atau kutukan?"
"Untuk sekarang, itu adalah keajaiban yang memberinya kesempatan hidup," jawab Sekar mantap. "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengetahuinya. Dia akan tumbuh sebagai anak normal, meski dia bisa berlari lebih cepat dari siapapun di kelasnya nanti."
Alvin menatap Sekar dari samping. Ia melihat kedamaian yang mulai tumbuh di wajah wanita itu, namun ia juga tahu bahwa di balik kedamaian itu, ada luka yang dijahit dengan rapi.
"Kau merindukan mereka?" tanya Alvin tiba-tiba.
Sekar tahu siapa yang dimaksud. Lukas dan Rahman. "Setiap hari. Tapi rasa rindunya berbeda sekarang. Tidak lagi terasa seperti pisau yang menyayat, tapi seperti... seperti aroma hujan yang mengingatkanku pada tanah yang basah. Mereka adalah bagian dari fondasi tempatku berdiri sekarang."
"Rahman pasti tertawa di sana," Alvin terkekeh sinis. "Melihat musuh bebuyutannya—si sombong Alvin Pratama—malah jadi tukang kelapa dan penjaga pintu klinik istrinya. Dia benar-benar memenangkan taruhan terakhirnya."
"Dia tidak bertaruh, Alvin. Dia hanya tahu bahwa kau adalah satu-satunya orang yang cukup gila untuk melakukan semua ini," Sekar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan, namun kali ini terasa tulus.
Alvin memalingkan wajah, sedikit tersipu oleh pujian yang terselubung itu. "Jangan mulai dengan drama romantis, Dokter. Aku di sini hanya karena aku bosan dan karena aku suka masakan ikan bakar di desa ini."
Suasana tenang itu terusik ketika sebuah perahu nelayan merapat dengan terburu-buru. Beberapa orang nelayan menggotong seorang pria paruh baya yang nampak pucat dan memegangi dadanya.
"Dokter Maria! Tolong, Pak Wayan tiba-tiba sesak napas di tengah laut!" teriak salah satu nelayan.
Sekar langsung beraksi. Insting ahli bedahnya mengambil alih. "Bawa dia ke dalam! Alvin, bantu aku dengan tabung oksigen!"
Dalam hitungan detik, klinik kecil itu berubah menjadi ruang gawat darurat. Sekar bekerja dengan presisi yang luar biasa.
Ia melakukan pemeriksaan fisik, memberikan injeksi darurat, dan memantau ritme jantung Pak Wayan menggunakan peralatan seadanya yang ia miliki.
Alvin berdiri di sudut, memperhatikan bagaimana Sekar bergerak. Ia menyadari satu hal: Sekar Wijaya tidak pernah benar-benar kehilangan jati dirinya. Meskipun ia kehilangan gelar dan statusnya di rumah sakit ternama, ia tetaplah seorang penyembuh. Di tangan Sekar, nyawa Pak Wayan perlahan mulai stabil.
"Dia selamat," bisik Sekar setelah beberapa menit yang menegangkan. Ia menyeka keringat di keningnya.
Para nelayan itu bersorak kecil dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bagi mereka, Dokter Maria adalah malaikat yang jatuh dari langit untuk menolong orang-orang kecil seperti mereka.
Setelah para nelayan itu pergi dan Pak Wayan tertidur pulas dalam pemulihan, Sekar duduk di kursi kerjanya, termenung. Ia melihat tangannya yang sedikit bergetar.
"Kau masih sehebat dulu," ujar Alvin, berdiri di ambang pintu.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Alvin."
"Tidak, Sekar. Kau memberikan harapan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun yang dulu pernah aku miliki."
Malam itu, saat Arini sudah tertidur dan Alvin kembali ke gubuknya, Sekar duduk sendirian di teras.
Ia membuka sebuah kotak kayu kecil yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya ada foto Lukas, medali perak Arini, dan sebuah catatan kecil dari Rahman yang sudah mulai kusam.
Tiba-tiba, aroma cendana dan tembakau kembali menyapa indranya. Sangat tipis, hanya lewat sekilas dibawa angin malam. Sekar tersenyum, tidak lagi merasa takut.
"Terima kasih sudah menjagaku sampai sini," bisiknya pada kegelapan.
Namun, di tengah kedamaian itu, ponsel satelit milik Alvin yang ditinggalkan di meja klinik tiba-tiba bergetar.
Sekar melirik layarnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, berisi koordinat yang sangat spesifik.
Koordinat itu menunjuk tepat pada posisi klinik mereka di Lombok.
Dan di bawah koordinat tersebut, tertulis sebuah kalimat singkat yang membuat darah Sekar membeku:
"Mutasi tidak pernah benar-benar berhenti, Dokter. Kami akan segera datang menjemput mahakarya kami."
Sekar memejamkan mata, mencengkeram pinggiran meja. Perang ini ternyata belum benar-benar berakhir. Von Hess tidak akan membiarkan mereka hidup tenang.
Dendam lama mungkin sudah selesai, namun perjuangan untuk melindungi Arini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya. Sekar menyadari bahwa kedamaian di Lombok hanyalah jeda sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.
Ia mengambil napas panjang, menatap Arini yang tertidur lelap. Ia tidak akan lari lagi. Kali ini, ia memiliki Alvin di sampingnya, Arini di hatinya, dan kekuatan seorang ibu yang sudah tidak punya rasa takut lagi akan kematian.