Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan untuk Wawan
Sore harinya.
Terlihat Wawan sedang berjalan pulang sambil menenteng koper yang begitu besar dan terlihat begitu berat.
Ia tampak sangat kesulitan pada saat itu.
"Asem!"
"Motor malah rusak di tengah jalan ketika aku bawa barang yang begitu berat kayak begini!" Kata Wawan menggerutu.
Ada banyak sekali orang yang Wawan lewati pada saat itu, tapi tak satupun yang terlihat mau membantu.
Lupakan soal membantu.
Untuk sekedar menyapa saja tidak ada.
Komplek tempat tinggal Wawan benar-benar sudah sangat parah.
Tak lama, dari kejauhan terlihat ada dua orang yang melihat Wawan dan langsung menghampirinya.
Salah satu dari dua orang itu adalah si Perempuan yang suka sekali mengganggu Wawan.
Sedangkan yang satunya lagi adalah ayahnya si perempuan.
"Mas! Lagi bawa apa!?" Tanya si Perempuan sambil tersenyum pada Wawan.
Wawan yang fokus membawa barang tentu tak siap dengan sapaan orang dan akhirnya ia terkejut meskipun tidak banyak bereaksi.
"... Sedang bawa barang!" Jawab Wawan.
"Oh... Kayaknya berat banget. Mau aku bantu!?"
Langsung di jawab oleh Wawan dengan kata-kata yang cukup blak-blakan. "Memang kamu mampu?!"
Si Perempuan terdiam seketika karena merasa tak mampu.
Selanjutnya, ayahnya si Perempuan maju dan berbicara pada Wawan.
"Lama gak ketemu. Wawan!"
"Gimana kabar kamu!" Tanya bapak-bapak itu dengan nada yang cukup ramah.
"Oh. Juragan!"
"Baik kok. Cuma akhir-akhir ini agak sibuk aja!" Jawab Wawan.
Lanjut, pihak lain berkata. "Itu kayaknya berat banget. Memang apa isinya!?" Wawan sempat terdiam.
Ia bingung mau jawab apa.
"Um... Ini fasilitas dari tempat kerja saya yang di titipkan sama saya untuk saya gunakan di rumah bila perlu!"
"Kalau gak salah... Kamu sekarang kerja di tempat fotokopi bukan?!"
"Lantas fasilitas macam apa yang bisa di serahkan sama kamu selain alat fotokopi!?" Lagi-lagi Wawan terdiam sejenak.
"Ya, begitulah!... " Perasaan Wawan kala itu sangat gelisah dan khawatir.
Karena itu, Wawan cepat-cepat izin untuk pulang. "Maaf juragan. Tapi kayaknya saya gak bisa ngobrol lama, jadi saya pulang dulu!"
"Oh, iya. Hati-hati di jalan!..." Wawan pun lolos dari si Juragan dan tiba di rumahnya.
Setibanya di rumah Wawan langsung mengunci pintu sebelum akhirnya Wawan membuka koper yang ia bawa.
Setelah di bukan. Ternyata isinya adalah perlengkapan seorang agen rahasia.
Ada senjata api, senjata tajam, senjata tersembunyi dan lain sebagainya.
"Seumur-umur aku kerja di sana, baru kali ini aku dapat fasilitas seperti ini!"
"Entah ini kabar baik atau malah kabar buruk...!" Perasaan Wawan makin gelisah saja.
Itu di karenakan Wawan pasti akan di tugaskan pada misi yang ada tembak-tembakannya, makanya ia di bekali senjata api dan perlengkapan lainnya.
Setelah menghela nafas selama beberapa saat, Wawan pun memutuskan untuk mencoba semua peralatan itu.
Perlengkapan pertama adalah sebuah baju jas hitam yang sangat bagus dan mahal.
Sebenarnya itu cuma baju jas biasa, tapi pihak markas telah memodifikasinya sedemikian rupa hingga jas itu bisa menyembunyikan banyak senjata tersembunyi.
Wawan pun berkaca di cermin dan melihat penampilannya dari berbagai sisi.
"Ganteng juga gau...!" Entah apa yang Wawan pikirkan.
Dia malah fokus pada penampilannya sendiri.
"Ngomong-ngomong... Baju ini banyak menyimpan senjata tersembunyi hingga terasa lebih berat dari baju biasa, tapi...!"
"Setelah dilihat-lihat... Kayaknya gak ada sedikitpun hal yang mencurigakan meksipun ada banyak senjata di baju ini!"
"Semua senjata itu benar-benar tersembunyi!" Wawan berputar-putar untuk melihat bagian belakangnya apakah ada yang mencurigakan.
Ternyata dari sudut pandang manapun tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali sehingga Wawan merasa sedikit lega.
Satu Minggu kemudian.
Dalam kurun waktu satu Minggu ini tidak terjadi apa-apa dan tidak ada tugas yang di jalankan juga oleh para agen.
Mereka hanya membereskan sisa-sisa kekacauan akibat bubarnya markas pusat karena kurangnya dana.
Butuh waktu cukup lama karena semua ini terjadi sangat tiba-tiba.
Namun sekarang semuanya telah selesai.
Hari itu, ketika hati sedang sangat cerah pada pagi hari.
Terlihat Wawan dan beberapa senior dari markas pusat sedang ada di sebuah lapangan yang sangat sepi.
Di sekitar mobil mereka berkumpul sambil berbicara dimana di sini, niatnya para senior mau melatih Wawan.
Karena selama ini Wawan hanya melakukan tugas-tugas receh seperti dan tidak pernah terlibat dalam baku tembak brutal.
Makanya, para senior mau menyiapkan Wawan agar nanti Wawan tidak jadi beban ketika ada di dalam sebuah misi yang berbahaya.
"Jadi Wawan. Apa kamu pernah belajar tembak menembak!?" Tanya seorang agen yang mengenakan penutup mata di satu matanya.
Bukan karena mau terlihat keren, tapi karena matanya telah mengalami luka berat hingga mengalami kebutan dalam suatu misi.
Bahkan bekasnya terlihat jelas karena penutup mata itu tidak menutup semua luka itu.
"Um... Apa menembak menggunakan ketapel bisa di hitung!?" Kata Wawan dengan ekspresinya yang datar seperti biasa.
Para senior yang ada tiga orang itu terdiam sambil melihat satu sama lain.
Satu senior yang memiliki rambut panjang terurai, mengenai baju hitam tebal dan membawa tongkat pun berkata.
"Sepertinya kami harus mengajari kamu benar-benar dari yang paling dasar!" Kata agen Rambut Panjang.
Agen ketiga ikut bicara yang memiliki perawakan paling besar dan kekar namun botak pun ikut bicara.
"Maka mati kita mulai saja latihannya!" Wawan tidak menunjukkan ekspresi sama sekali kala itu, ia masih datar.
Wawan pikir latihan yang akan ia jalani akan mudah atau setidaknya masuk akal lah.
Tapi... Nyatanya Wawan salah besar.
Pada latihan pembukaan saja Wawan harus berjuang menahan rasa sakit karena Di pukuli oleh agen Kepal Botak.
Keahlian dari agen Kepala Botak adalah ilmu beladiri jadi yang ia ajarkan pada Wawan tentu saja juga ilmu beladiri.
Pada hari pertama itu, Wawan benar-benar di buat babak belur hingga ia nyaris tidak bisa tetep sadar.
Malam harinya.
Kini giliran agen Rambut Panjang yang mengajari Wawan.
Keahlian dari agen Rambut Panjang lebih condong ke arah ninja yang ahli menyusup, mengendap-endap, menyerang diam-diam dan ahli menggunakan senjata rahasia.
Untungnya, agen Rambut Panjang tidak sebrutal agen Kepala Botak yang sudah keras di awal-awal.
Ia terlebih dahulu memperkenal kan jenis-jenis senjata rahasia mulai dari penggunaan hingga ke detail-detail seperti tempat di mana senjata itu akan di sembunyikan.
Keesokan paginya, setelah waktu subuh lewat Wawan melanjutkan latihannya dengan agen yang mengenakan Penutup Mata.
Dan keahlian agen Penutup Mata adalah penembak jitu.
Ia hampir menguasai berbagai jenis senjata mulai dari pistol, SMG, shotgun dan sniper.
Tentu, hal yang ia ajarkan pada Wawan adalah cara untuk menembak secara akurat.
Tapi tentu saja Wawan tidak akan langsung praktek karena agen Penutup Mata harus menjelaskan dulu jenis-jenis senjata, jenis peluru dan lain sebagainya.
Bahkan. Saking detailnya ia sampai menjelaskan waktu yang di butuhkan sebuah peluru untuk melesat setelah di masukan ke dalam senapan.
Semuanya di jelaskan sejelas mungkin pada Wawan.