NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: DI BAWAH MATAHARI SURABAYA

Napas Keyla memburu, berpacu dengan detak jantungnya yang seolah sedang menabuh drum *marching band* di dalam rongga dada. Kakinya membawanya berlari menaiki anak tangga menuju lantai paling atas gedung utama SMA Cakrawala Terpadu, tempat di mana *rooftop* sekolah berada. Ia tidak berhenti sampai tangannya mendorong pintu besi berat yang berkarat di bagian engselnya, lalu tubuhnya disergap oleh hawa panas Surabaya yang, seperti biasa, tidak mengenal ampun.

Sinar matahari pukul sepuluh pagi langsung menyengat kulit, tapi Keyla tidak peduli. Ia butuh oksigen. Ia butuh tempat sepi. Ia butuh meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia belum meninggal karena serangan jantung mendadak.

Keyla merosot duduk di balik tandon air besar berwarna oranye, tempat persembunyian favoritnya. Lututnya lemas. Tangan kanannya masih mengepal erat, menyembunyikan harta karun curian yang baru saja ia ambil dari meja keramat di kelas XI IPA 1.

Namun, bukan *sticky note* itu yang membuat seluruh sarafnya menegang. Itu adalah lengan kirinya. Bekas sentuhan tangan Bintang Rigel masih terasa panas di sana. *Sengatan listrik ribuan volt.* Keyla mengusap lengan seragam batiknya, seolah berusaha menghapus atau justru mengawetkan sensasi itu selamanya.

"Dia megang gue..." bisiknya pada angin panas yang menerpa wajah. "Bintang Rigel megang gue. Dan gue malah lari kayak copet di Pasar Turi."

Keyla mengerang frustrasi, menenggelamkan wajah ke lutut. Ia pasti terlihat sangat konyol tadi. Rambut berantakan, muka merah padam, mata melotot ketakutan. *Image* misterius dan elegan yang ia bangun lewat sosok 'Cassiopeia' di dalam surat-suratnya pasti hancur lebur jika Bintang tahu bahwa penulisnya adalah gadis yang lari terbirit-birit hanya karena bertabrakan bahu.

Perlahan, Keyla mengangkat kepalanya. Ia membuka kepalan tangan kanannya yang berkeringat. Di sana, secarik *sticky note* kuning neon tergeletak, sedikit lecek karena genggamannya yang terlalu kuat. Tulisan tangan itu miring, tegas, dan maskulin. Menggunakan tinta hitam gel.

*"Hai, Cassiopeia. Gue nggak tau lo siapa, tapi lo satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa 'dilihat' bukan sebagai pajangan. Thanks suratnya. Gue tunggu yang berikutnya. - R"*

Keyla membaca kalimat itu satu kali. Dua kali. Tiga kali. Napasnya tercekat.

*R*. Dia menandatanganinya dengan inisial nama tengahnya, Rigel.

Selama ini, Keyla hanya mengirimkan sinyal ke ruang hampa, berharap ada satelit yang menangkapnya. Ia tidak pernah benar-benar mengharapkan balasan. Surat-surat itu adalah terapi baginya, cara untuk mengeluarkan perasaan yang terlalu besar untuk ditampung tubuh kecilnya. Tapi sekarang? Sinyal itu memantul balik. Ada resonansi.

"WOY!"

"Ayam goreng!" Keyla melonjak kaget, nyaris melempar *sticky note* berharga itu ke udara.

Dinda berdiri di depan pintu *rooftop* sambil berkacak pinggang, wajahnya yang berminyak karena kepanasan tampak garang namun cemas. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik es teh poci jumbo.

"Janc*k, tak cariin sampe ke kantin, perpus, toilet, jebul ndek kene to! Ngapain sih kamu semedi di tempat panas begini? Mau simulasi neraka ta?" omel Dinda dengan logat Suroboyoan yang kental, langsung duduk di sebelah Keyla tanpa permisi.

Keyla buru-buru menyelipkan *sticky note* itu ke saku roknya, tapi mata elang Dinda lebih cepat.

"Apa itu? Kertas kuning-kuning?" Dinda menyipitkan mata, lalu menyodorkan satu plastik es teh ke arah Keyla. "Nih, minum dulu. Mukamu pucat kayak mayat."

Keyla menerima es teh itu dengan tangan gemetar, lalu menunduk. "Din... dia bales."

"Hah? Siapa?" Dinda menusuk sedotan ke plastiknya dengan gaya barbar. "Tukang paket?"

"Bintang," cicit Keyla. "Bintang mbales suratku."

Dinda tersedak es tehnya sendiri. Ia batuk-batuk heboh, memukul-mukul punggungnya sendiri sebelum menatap Keyla dengan mata melotot. "SERIUS?!"

Keyla mengangguk pelan, lalu dengan ragu mengeluarkan kembali kertas kuning itu dan menyerahkannya pada Dinda. Dinda menyambarnya secepat kilat, membacanya dengan teliti seolah sedang memeriksa lembar jawaban ujian nasional.

"Anjir..." Dinda melongo. "Ini beneran tulisan tangan Bintang Rigel? Si Pangeran Es itu?"

"Iya. Aku nemu ditempel di kolong mejanya, tempat biasa aku taruh surat."

"Gila..." Dinda menggeleng-gelengkan kepala, senyum lebar mulai merekah di wajahnya. "*Fix*, Key. Dia baper. Liat nih kalimatnya, 'satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa dilihat'. Anjay, *deep* banget bos! Ini mah bukan sekadar basa-basi. Dia butuh kamu, Key!"

Jantung Keyla berdebar lagi, kali ini karena campuran harapan dan ketakutan. "Tapi dia nggak butuh aku, Din. Dia butuh Cassiopeia. Kalau dia tau Cassiopeia itu cuma Keyla Aluna, si cewek *invisible* yang barusan lari-lari kayak orang gila di depan mukanya... dia pasti ilfeel."

"Heh! Lambemu!" Dinda menoyor pelan kepala sahabatnya. "Kamu itu pinter, manis, tulisannya bagus. Kurangmu cuma satu: minderan! Coba kalau kamu nggak lari tadi, mungkin sekarang kalian udah tukeran WA!"

"Aku nabrak dia, Din!" Keyla menutup wajahnya lagi. "Dia megang lenganku. Aku panik!"

Dinda tertawa terbahak-bahak sampai suaranya menggema di *rooftop*. "Ya ampun, Keyla, Keyla. Disentuh cogan kok malah kabur. Harusnya pingsan yang estetik gitu lho, biar ditangkep."

Keyla hanya bisa cemberut sambil menyedot es tehnya rakus. Rasa manis dan dingin sedikit menenangkan gejolak di perutnya. Di bawah sana, bel masuk berbunyi nyaring, memanggil para siswa kembali ke dalam penjara akademis. Tapi di atas sini, di bawah langit Surabaya yang terik, Keyla merasa dunianya baru saja berubah poros.

***

Sementara itu, di kelas XI IPA 1, suasana hening menyelimuti ruangan ber-AC yang dingin itu. Bu Ratna sedang menjelaskan tentang Hukum Termodinamika di papan tulis, tapi pikiran Bintang Rigel sedang mengawang jauh, melintasi atmosfer, menuju galaksi lain.

Buku paket Fisika tebal di mejanya terbuka, tapi bukan rumus Q \= mcΔT yang ia perhatikan. Di atas halaman 145, tergeletak sebuah amplop biru muda yang sudah dibuka. Bintang membacanya sembunyi-sembunyi, memanfaatkan punggung Aldi yang lebar di depannya sebagai tameng.

Surat ke-19. Judulnya: *Paradoks Olbers*.

*"Untuk Rigel,*

*Pernah dengar tentang Paradoks Olbers? Pertanyaan sederhana: kalau alam semesta ini tak terbatas dan dipenuhi bintang-bintang, kenapa langit malam tetap gelap? Harusnya, ke mana pun kita melihat, mata kita akan menumbuk permukaan bintang yang bersinar terang, kan? Harusnya malam hari itu seterang siang.*

*Jawabannya (salah satunya) adalah karena alam semesta mengembang. Cahaya dari bintang-bintang yang sangat jauh belum sempat sampai ke mata kita. Mereka ada, mereka bersinar, tapi mereka belum terlihat.*

*Aku merasa perasaan manusia kadang seperti itu. Ada banyak hal yang bersinar di dalam hati seseorang, tapi dunia melihatnya 'gelap' atau 'biasa saja' karena cahayanya belum sampai. Atau mungkin, karena orang-orang terlalu sibuk melihat matahari yang silau, sampai lupa bahwa kegelapan malam sebenarnya menyimpan jutaan matahari lain yang lebih jauh.*

*Jangan sedih kalau orang-orang cuma melihat 'terang'-mu yang di permukaan. Suatu saat, akan ada yang sabar menunggu sampai cahaya aslimu sampai ke mata mereka.*

*Salam,*

*Cassiopeia."*

Bintang menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang tulus terbit di bibirnya. Ibu jarinya mengusap kertas surat itu pelan. Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah ia ajak bicara, bisa memahami kekosongan yang ia rasakan di tengah keramaian ini?

Semua orang memujinya karena ia kapten basket. Karena ia anak donatur yayasan. Karena ia bisa main gitar. Tapi tidak ada yang pernah bertanya, "Bin, lo capek nggak senyum terus?"

Cassiopeia tahu.

"Woi, senyum-senyum sendiri. Kesambet setan pojok kelas lo?" Aldi berbisik tajam sambil menoleh ke belakang, membuyarkan lamunan Bintang.

Bintang buru-buru menutup buku paketnya, menyelipkan surat itu ke dalam halaman buku dengan aman. "Berisik lo. Ncatet sana."

"Lo aneh banget hari ini," gumam Aldi curiga. "Tadi pas istirahat ada cewek nabrak lo, lo malah senyum. Sekarang baca buku Fisika sambil senyum. Jangan bilang lo lagi jatuh cinta sama Bu Ratna?"

"Sembarangan," Bintang menendang pelan kursi Aldi. "Gue cuma... lagi nemu sesuatu yang menarik."

"Apaan? Rumus Entropi?"

"Bukan," jawab Bintang pelan, matanya menerawang ke luar jendela kelas, menatap langit biru Surabaya yang cerah. "Sesuatu yang lebih rumit dari Fisika."

***

Bel istirahat kedua berbunyi dua jam kemudian, mengubah SMA Cakrawala menjadi lautan manusia yang kelaparan. Kantin sekolah yang luas dan modern riuh rendah oleh suara obrolan, denting sendok garpu, dan teriakan ibu kantin yang memanggil pesanan.

Di salah satu meja strategis di tengah kantin—zona eksklusif yang secara tidak tertulis dikuasai oleh 'The Royals'—Vanya Clarissa duduk dengan anggun sambil mengaduk *smoothie* mangganya. Seragamnya pas di badan, rambutnya yang di-*blow* sempurna membingkai wajah cantiknya yang kini sedang tertekuk masam.

"Sumpah ya, Bintang tuh susah banget ditebak akhir-akhir ini," keluh Vanya pada dua dayang setianya, Sisi dan Bella.

"Mungkin dia lagi fokus mau turnamen DBL bulan depan, Van," sahut Bella sambil memakan batagornya.

"Nggak, ini beda," potong Vanya tajam. Matanya yang tajam memindai kerumunan kantin, mencari sosok jangkung yang menjadi target obsesinya. "Tadi pagi gue liat dia nolak minuman isotonik yang gue beliin mahal-mahal. Terus di kelas, Aldi bilang Bintang sibuk baca sesuatu di jam pelajaran."

"Baca apaan? Komik?" tanya Sisi polos.

"Mana gue tau!" Vanya mendengus. "Tapi *feeling* gue nggak enak. Lo inget gosip di @CakrawalaFess kemaren? Soal Bintang yang katanya lagi naksir seseorang?"

"Ah, itu kan cuma gosip anonim, Van. Palingan juga anak-anak halu," hibur Bella.

Tiba-tiba mata Vanya menyipit. Di kejauhan, dekat stan Soto Lamongan, ia melihat Bintang sedang antre bersama Aldi. Bintang tampak tertawa lepas, lalu secara tidak sadar tangan kirinya menepuk saku kemeja seragamnya—gerakan protektif, seolah memastikan sesuatu yang berharga masih ada di sana.

Gerakan itu kecil, sangat halus, tapi bagi Vanya yang telah mengamati Bintang selama dua tahun, itu adalah anomali. Bintang tidak pernah peduli dengan barang bawaannya. Dia sering meninggalkan HP atau dompet di meja sembarangan. Tapi kali ini, dia menjaga saku kemejanya.

"Ada sesuatu di saku itu," gumam Vanya pelan, matanya berkilat dingin. "Dan gue yakin itu bukan uang saku."

"Hah? Lo ngomong apa sih, Van?" Sisi bingung.

Vanya berdiri, merapikan roknya. Senyum manis yang palsu—senyum 'Ketua Cheerleader'—terpasang sempurna di wajahnya. "Gue mau nyamperin Bintang. Kalian tunggu sini."

"Semangat, Van! Pepet terus!" seru Bella.

Vanya melangkah membelah kerumunan dengan percaya diri. Aura dominannya membuat siswa-siswa adik kelas otomatis menyingkir memberinya jalan. Namun, di dalam hatinya, alarm bahaya berbunyi nyaring. Sebagai seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau, ketidaktahuan adalah musuh terbesar Vanya. Jika ada orang lain yang mencoba masuk ke dalam orbit Bintang Rigel, Vanya akan memastikan orang itu terbakar atmosfer sebelum sempat mendarat.

***

Di sudut lain kantin, tersembunyi di balik pilar besar dekat tempat cuci tangan, Keyla mengintip dari celah kerumunan. Ia sedang memakan roti isi cokelat bekalnya sambil mengamati Bintang dari jauh—rutinitas siangnya.

"Heh, stalker," bisik Dinda yang muncul membawa semangkuk Bakso Malang. "Makan tuh duduk, jangan sambil ngintip kayak detektif Conan."

"Ssst!" Keyla meletakkan jari telunjuk di bibir. "Liat itu, Vanya nyamperin Bintang."

Dinda menjulurkan leher. "Waduh, Si Ratu Lebah beraksi. Perang dunia ketiga nih."

Mereka melihat Vanya mendekati Bintang, menepuk bahunya akrab, dan tertawa renyah. Keyla merasakan nyeri samar di dadanya. Vanya terlihat begitu serasi berdiri di samping Bintang. Cantik, populer, bersinar. Kontras sekali dengan dirinya yang hanya berani mengirim surat kaleng.

Tapi kemudian, Keyla melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas. Saat Vanya mencoba merangkul lengan Bintang, cowok itu mundur selangkah dengan halus. Tidak kasar, tapi jelas menolak. Lalu Bintang mengatakan sesuatu yang membuat tawa Vanya terhenti sejenak, sebelum akhirnya Bintang dan Aldi pergi meninggalkan Vanya yang berdiri kaku.

"Mampus! Ditolak lagi!" seru Dinda girang, untungnya suara bising kantin meredam suaranya. "Liat tuh mukanya Vanya, asem banget kayak ketek belum mandi!"

Keyla tidak ikut tertawa. Ia justru menatap punggung Bintang yang menjauh. Cowok itu menjaga jarak dengan Vanya. Apakah... apakah itu karena surat-surat Cassiopeia? Apakah kata-katanya benar-benar mulai mempengaruhi Bintang?

Rasa takut di hati Keyla perlahan berganti menjadi tekad yang hangat. Bintang menunggu surat berikutnya. Dia bilang dia merasa 'dilihat'.

Keyla merogoh saku roknya, menyentuh ujung *sticky note* kuning itu sekali lagi. Ia harus membalasnya. Bukan sekadar surat tentang bintang atau galaksi. Ia harus memberikan jawaban. Tapi bagaimana caranya membalas tanpa membuka kedoknya?

"Din," panggil Keyla pelan.

"Opo?"

"Nanti pulang sekolah, temenin aku ke Gramedia Tunjungan Plaza ya."

"Lho, ngapain? Cari buku lagi?"

Keyla menggeleng, matanya berbinar dengan keberanian baru. "Beli kertas surat yang beda. Dan mungkin... stiker bintang. Aku mau bikin surat ke-20 jadi spesial."

Dinda tersenyum lebar, menepuk bahu sahabatnya keras-keras sampai Keyla terhuyung. "Nah, ngono lho! Itu baru sahabatku! Sikat, Key! Jangan kasih kendor sebelum janur kuning melengkung!"

"Janur kuning apaan sih, Din! Masih SMA juga!" Keyla tertawa, tawa pertamanya yang benar-benar lepas hari itu. Di luar, matahari Surabaya masih menyengat garang, tapi di hati Keyla, cuaca sedang cerah berawan dengan kemungkinan hujan bahagia.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!