NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kay Mulai Move On

Dua bulan telah berlalu sejak Bima pergi. Dua bulan yang terasa seperti dua tahun bagi Kay. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia memutuskan untuk kembali ke kampus.

Pagi itu, Kay berdiri di depan cermin kamar kos Mika. Ia memakai kemeja putih rapi dan celana bahan hitam—pakaian yang sudah lama tidak ia sentuh. Rambutnya diikat ekor kuda sederhana, wajahnya sedikit diberi bedak tipis untuk menutupi lingkaran hitam di bawah mata.

"Gimana?" tanyanya pada Mika yang duduk di dipan.

Mika tersenyum. "Cantik. Kayak dulu."

Kay tersenyum tipis. "Bohong. Mata gue masih bengkak."

"Tapi lebih baik dari minggu lalu." Mika berdiri, merapikan kerah baju Kay. "Lo berani balik kuliah, itu udah hebat banget."

Kay menarik napas. "Gue takut, Mik."

"Takut apa?"

"Takut ketemu orang-orang. Mereka pasti tahu. Pasti pada nanya."

Mika memegang bahunya. "Kalo ada yang nanya, lo bilang aja lo lagi fokus kuliah. Nggak usah jelasin panjang lebar. Ini hidup lo, bukan mereka."

Kay mengangguk pelan. "Makasih, Mik."

---

Di kampus UGM, suasana terasa asing bagi Kay. Gedung-gedung yang dulu akrab kini terasa dingin. Mahasiswa lalu lalang, beberapa menyapanya dengan ramah. Kay menjawab seadanya, berusaha tersenyum.

Ia menuju ruang dosen pembimbing akademiknya, Dr. Wulan. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak, mengatur napas.

"Masuk," suara Dr. Wulan dari dalam.

Kay membuka pintu. Dr. Wulan tersenyum melihatnya. "Kay, akhirnya kamu datang. Saya kira kamu cuti semester ini."

Kay duduk di hadapannya. "Maaf, Bu. Saya... ada masalah pribadi. Tapi sekarang saya siap kembali."

Dr. Wulan mengamatinya dengan pandangan ibu. "Saya lihat kamu kurus. Mata sembab. Tapi semangatmu masih ada, itu yang penting."

Kay menunduk. "Bu, saya tahu IPK saya turun drastis. Tapi saya janji akan kejar. Saya nggak mau mengecewakan orang tua... dan diri sendiri."

Dr. Wulan menghela napas. "Kay, kamu mahasiswa pintar. Saya tahu kamu bisa. Tapi ingat, kesehatan mental itu nomor satu. Jangan paksa diri terlalu keras."

"Iya, Bu."

"Rencana kamu semester ini ambil berapa SKS?"

Kay mengeluarkan jadwal. "Saya ambil 18 SKS, Bu. Ingin kejar ketertinggalan."

Dr. Wulan mengangguk. "Bagus. Tapi kalau merasa berat, jangan sungkan bilang. Saya selalu ada."

Kay tersenyum—senyum pertama yang tulus dalam dua bulan. "Makasih, Bu."

---

Keluar dari ruang dosen, Kay berjalan menuju perpustakaan. Ia sengaja memilih jalan memutar, melewati taman dan lorong-lorong yang dulu biasa ia lewati bersama Bima. Setiap sudut membawa kenangan.

Di depan kantin FEB, ia berhenti. Di sinilah pertama kali Mika mengenalkan nama Bima. Di sinilah ia duduk menunggu, berharap melihat bayangannya.

"Kay!"

Suara Mika memecah lamunan. Mika berlari kecil menghampiri, membawa dua gelas es kopi.

"Gue curiga lo bakal ke sini. Makanya nyusul." Mika menyodorkan satu gelas. "Ini, minum. Lo pasti lagi mikir."

Kay menerima kopi itu, tersenyum getir. "Mik, semua tempat di kampus ini mengingatkan gue sama dia."

"Iya, gue tahu. Tapi lo nggak bisa hindarin terus. Cepat atau lambat, lo harus biasa."

Mereka duduk di bangku taman dekat kantin. Kay menyesap kopinya, menatap mahasiswa yang lalu lalang.

"Gue udah coba cari dia lewat medsos, Mik. Bikin akun palsu, nyari di semua platform. Nggak ada."

Mika menghela napas. "Mungkin dia emang sengaja ngilang. Ganti nomor, nonaktifin medsos."

"Gue juga udah tanya temen-temen di berbagai kampus. UII, UMY, Amikom... nggak ada yang lihat."

"Kay, Jogja gede. Banyak kampus. Bisa aja dia di kampus kecil yang nggak kita kenal."

Kay menunduk. "Gue frustrasi, Mik."

Mika meraih tangannya. "Gue tahu. Tapi lo harus tetep cari dengan kepala dingin. Jangan sampai lo hancur duluan."

---

Dua minggu kemudian, Kay mengambil langkah nekat. Ia menyewa jasa detektif swasta—seorang pria paruh baya bernama Pak Yanto yang biasa menangani kasus-kasus orang hilang.

Mereka bertemu di sebuah kafe dekat kampus. Pak Yanto datang dengan jas hujan dan topi, seperti di film-film detektif.

"Nona Kay, tolong ceritakan detailnya," katanya sambil mengeluarkan buku catatan.

Kay menjelaskan semuanya—Bima, ciri-ciri, kebiasaan, teman-teman, kemungkinan pindah kampus, dan surat terakhir. Pak Yanto mendengarkan dengan seksama.

"Kira-kira, Nona punya foto terbaru?"

Kay mengeluarkan foto Bima—foto yang ia ambil diam-diam di perpustakaan dulu. Pak Yanto mengamatinya.

"Baik. Saya akan coba lacak. Tapi ini butuh waktu, Nona. Dan biaya."

"Berapa, Pak?"

"Untuk kasus seperti ini, biasanya 5 juta. Sudah termasuk transport dan operasional."

Kay tidak ragu. "Gue bayar. Asal ketemu."

Pak Yanto mengangguk. "Saya usahakan. Minggu depan saya kabari."

---

Seminggu berlalu. Kay menunggu dengan cemas. Setiap kali ponsel bergetar, ia berharap itu kabar dari Pak Yanto. Tapi belum ada.

Di sela-sela kuliah, ia tetap berusaha fokus. Untuk mengejar ketertinggalan nya.

Hari Jumat sore, Pak Yanto menelepon. Kay langsung mengangkat dengan jantung berdebar.

"Nona, saya sudah cek beberapa kampus. UGM, UII, UMY, UAJY, Amikom, STMIK... tidak ada mahasiswa bernama Bima Wijaya seperti info yang Nona berikan."

Kay diam. Hatinya hancur lagi.

"Mungkin dia pakai nama lain? Atau pindah ke luar Jogja?" lanjut Pak Yanto.

"Gue... gue nggak tahu, Pak."

"Nona, saya bisa lanjut cari, tapi butuh waktu lebih lama. Biaya juga akan bertambah."

Kay menghela napas. "Lanjutkan, Pak. Gue harus tahu dia di mana."

Setelah telepon berakhir, Kay duduk lemas di kos Mika. Mika yang baru pulang kuliah melihatnya langsung mengerti.

"Gagal lagi?" tanya Mika pelan.

Kay mengangguk. "Dia seperti hilang ditelan bumi, Mik."

Mika duduk di sampingnya. "Kay, mungkin memang belum waktunya."

"Kapan dong waktunya? Gue capek, Mik. Capek nunggu, capek cari, capek berharap."

Mika memeluknya. "Gue tahu. Tapi lo harus percaya, kalo jodoh nggak kemana. Bima sayang lo. Dia pasti akan kembali suatu hari."

Kay menangis di bahu Mika. "Gue kangen dia, Mik. Kangen banget."

---

Malam harinya, Kay duduk di balkon kos Mika, menatap langit berbintang. Ponselnya bergetar—pesan dari ibunya yang tidak pernah ia balas selama dua bulan lebih.

"Nak, Mama tahu kamu belum mau ngomong sama Mama. Tapi Mama cuma mau bilang, Mama sayang kamu. Apa pun yang terjadi, Mama tetap ibu kamu. Kalo kamu butuh apa-apa, kabarin. Mama selalu ada."

Kay menatap pesan itu lama. Air matanya jatuh lagi. Ia memang marah pada ibunya. Tapi di saat seperti ini, ia juga butuh ibu.

Ia mengetik balasan singkat: "Makasih, Ma. Aku baik-baik aja."

Setidaknya, itu awal.

Di kos Demak, Bima sedang menyelesaikan website ketujuhnya. Ia menghitung pemasukan bulan ini: 7,8 juta. Cukup untuk tambah tabungan utang 2,5 juta lagi. Sisa tabungan utang tinggal 8,2 juta.

Ia membuka laci, mengeluarkan buku sketsa. Di halaman baru, ia mulai menggambar—Kay sedang duduk di balkon, menatap bintang. Wajahnya sendu, tapi ada secercah harapan.

Di bawah gambar, ia menulis: "Nanti, aku akan duduk di sampingmu, melihat bintang yang sama."

Di suatu tempat di Jogja, Kay menatap bintang yang sama. Dan berharap, di lain waktu, mereka bisa bersama lagi.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!