Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Makam Ibu
Keesokan harinya, di Happy Years Hospital.
“Emily... Emily... bangun, Emily...”
Kelopak mata Emily yang terasa berat perlahan terbuka saat ia mendengar seseorang memanggil namanya berulang kali. Ia mengangkat kepalanya perlahan, merasakan seluruh tubuhnya kaku karena tidur dengan kepala bertumpu di lengannya sambil duduk di kursi di samping ranjang neneknya.
Ia melihat Perawat Lola di sampingnya—menatapnya dengan wajah khawatir. Ia segera duduk tegak dan mengusap matanya sebelum merapikan rambutnya yang berantakan.
“Selamat pagi, Perawat...” sapa Emily dengan suara serak.
“Kenapa kau tidur disini, Emily? Kenapa tidak tidur di sofa di sana?” tanya Perawat Lola cemas saat melihat wajah lelah Emily.
Senyum tipis perlahan muncul di bibir Emily saat ia menjawab, “Aku ketiduran, Perawat—”
“Oh, Emily sayang, aku sedang tidak bertugas. Panggil aku seperti biasa,” Perawat Lola tersenyum sambil menyodorkan sekotak kecil sandwich tuna dan sebotol air mineral. “Sarapanlah dulu sebelum kau meninggalkan rumah sakit.”
“Terima kasih, Bibi Lola,” kata Emily sambil menerima kotak itu.
Melirik jam di dinding, ia menyadari sudah pukul 7 pagi. Ia tidak langsung memakan sarapannya. Sebaliknya, ia izin ke kamar mandi.
Melihat penampilannya sendiri di cermin membuatnya tertegun. Ia hampir tidak mengenali dirinya. Rambutnya berantakan, wajahnya tampak seperti tidak melihat matahari terbit selama berhari-hari, dan lingkaran hitam menghiasi bawah matanya. Jika ia gemuk dan chubby, orang-orang mungkin akan mengiranya sebagai hewan nasional Tiongkok.
Melihat pakaiannya, yang masih sama seperti yang ia kenakan kemarin, mengingatkannya bahwa kini ia tunawisma. Ia tidak punya tempat untuk pergi dan tidak punya tempat untuk tidur malam ini, dan kopernya masih berada di kafe milik orang lain.
Tadi malam, ia sudah berbicara dengan Bibi Lola tentang situasinya yang menyedihkan. Ia harus menemukan tempat tinggal dan pekerjaan untuk mendapatkan uang demi membayar biaya pengobatan neneknya.
Meski ia ingin tetap tinggal di rumah sakit, menunggu Neneknya sadar, ia tidak bisa. Ia harus kembali ke ibu kota hari ini, atau Kak Tessa akan membuang kopernya keluar dari kafe dan merekrut orang lain sebagai barista baru.
Ia tidak boleh melewatkan kesempatan itu. Ia membutuhkan pekerjaan itu secepat mungkin.
Menghela napas lelah, Emily membuka keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin, seketika ia merasa kedinginan tetapi segar.
Setelah menyikat gigi dengan sikat baru yang ia temukan di kamar mandi, Emily merasa jauh lebih segar. Lalu, ia mengoleskan sunscreen di wajahnya yang mulus dan menyisir rambut panjangnya sebelum keluar dari kamar mandi, hanya untuk melihat Perawat Lola berdiri di samping ranjang, berbicara kepada Neneknya yang tak bergerak.
...
“Jam berapa kau berangkat hari ini?” tanya Perawat Lola, duduk bersama Emily di sofa.
“Setelah aku menghabiskan sarapanku...” kata Emily, menelan potongan terakhir sandwichnya dan meneguk airnya.
“Oh, secepat itu?”
“Aku ingin mampir ke makam Ibuku sebelum naik kereta ke Midnight Sun.”
Perawat Lola mengangguk mendengar rencananya.
“Jangan khawatir tentang nenekmu di sini, Emily. Aku akan merawatnya bahkan di waktu luangku dan akan terus memberimu kabar tentang kondisinya.”
“Terima kasih, Bibi Lola.” Emily berkata dengan tulus. Ia tidak pernah berhenti merasa bersyukur kepada Bibi Lola, yang ia anggap sebagai keluarga.
Bibi Lola adalah sahabat terbaik ibunya dan bekerja di panti jompo di sebelah rumah sakit. Sejak neneknya tidak bisa lagi tinggal sendirian, ia memindahkan Neneknya ke Happy Years Home, tempat Bibi Lola bekerja sebagai perawat senior.
Sejak saat itu, Bibi Lola terus memberinya kabar tentang kondisi neneknya.
Bagi Emily, Bibi Lola bukan sekadar perawat, ia seperti keluarga baginya.
“Berhenti berterima kasih, Emily. Aku hanya menepati janjiku pada Angela untuk merawat ibunya dan menjagamu,” kata Lola, menahan air mata saat mengingat sahabatnya yang telah tiada, Angela Bowie—ibu Emily.
Emily tersenyum dan mengangguk padanya.
“Dan kau tidak perlu memaksakan diri terlalu keras, sayang. Jika kau butuh bantuan, mintalah padaku,” tambah Perawat Lola.
“Ya, Bibi,” jawab Emily lembut, tetapi dalam hatinya ia bertekad tidak akan meminta bantuan lagi. Bibi Lola sudah melakukan terlalu banyak hal untuknya, dan ia tidak ingin membebaninya lebih jauh. Ia tahu Bibi Lola juga memiliki keluarga yang harus ia nafkahi.
“Baiklah, aku pergi dulu. Tapi perawat di rumah sakit ini akan tetap menjaga nenekmu,” kata Perawat Lola sambil bangkit dari kursinya untuk pergi. Ia harus kembali ke panti jompo untuk menjalankan tugasnya.
Tak lama kemudian,
Emily meninggalkan rumah sakit. Ia berjalan menuju makam ibunya, hanya sepuluh menit berjalan kaki dari rumah sakit.
Berjalan di bawah sinar matahari pagi, Emily tiba di kaki sebuah bukit tempat makam ibunya menghadap ke Hidden City.
Butuh beberapa saat sebelum ia mulai mencurahkan kesedihannya, berlutut di atas rumput hijau Zoysia.
Ia menceritakan kepada ibunya tentang berakhirnya hubungannya dengan Liam. Penyesalan terbesarnya adalah menghabiskan masa mudanya membantu seorang pria yang tidak memiliki apa-apa sampai akhirnya memiliki perusahaan konstruksi yang sukses. Ia telah mengabdikan dirinya sebagai arsitek, membantunya memenangkan kontrak rumah dan gedung. Namun setelah bertahun-tahun, pria itu mengkhianatinya.
“Tapi Ibu, jangan khawatir. Liam tidak akan bisa sukses tanpaku. Ia tidak tahu apa-apa tentang menjalankan perusahaannya sendiri...” Senyum tipis penuh dendam muncul di sudut bibirnya.
Emily menghela napas dalam setelah beberapa saat berbicara tentang hubungannya yang gagal dengan Liam. Ia mencoba menenangkan hatinya yang marah, mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Ia mulai menceritakan kepada ibunya tentang kondisi Neneknya dan kebutuhannya yang mendesak akan uang. Air matanya mulai membasahi pipinya saat ia menceritakan bagaimana ayahnya dengan kejam menolak membantunya.
“Ibu, aku minta maaf. Kali ini, aku tidak punya pilihan selain melanggar janjiku padamu untuk tidak membenci ayah...” kata Emily tak berdaya, menggenggam tangannya erat-erat.
“Aku tidak akan pernah menghubungi Frank Ainsley lagi atau memanggil pria itu ‘ayah.’ Tidak akan pernah! Aku tidak akan mengundangnya ke pernikahanku nanti, dan aku tidak akan datang ke pemakamannya. Aku sudah memutuskan untuk memutus hubungan dengannya. Jika aku punya uang, aku akan meminta pengadilan menghapus namanya dari namaku dan menggunakan namamu sebagai gantinya.”
Emily terisak semakin keras saat mengingat janji yang pernah ia buat kepada ibunya—untuk selalu menghormati dan tidak melupakan ayahnya, tidak peduli sekeras apa pun ia diperlakukan.
Namun kali ini, ia tidak bisa mengikuti keinginan ibunya.
“Aku minta maaf, Bu... aku minta maaf...”
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk