NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume I — The Day the World Fell Chapter 10 — The One Who Saw Him Die

Misi lapangan pertama Daniel tidak terdengar heroik.

Tidak ada nama besar.

Tidak ada target penting.

Hanya satu perintah sederhana: pengamanan pusat medis lapangan sektor timur—zona evakuasi lanjutan bagi para penyintas yang terluka parah.

“Jangan cari masalah,” kata koordinator misi. “Kalau muncul iblis tingkat rendah, unit tempur akan turun. Kalian hanya menahan dan mengamankan.”

Daniel mengangguk bersama tiga Hunter lain. Raven ada di tim lain—namun kehadirannya tetap terasa, seperti bayangan yang belum pergi.

Mereka bergerak saat matahari masih rendah, melewati jalanan yang berubah menjadi koridor puing. Setiap langkah membawa aroma obat, darah, dan asap. Kota ini tidak lagi hidup—ia bertahan, sama seperti Daniel.

Pusat medis lapangan berdiri di bekas gedung perkantoran yang diperkuat pelat baja darurat. Generator berdengung keras. Tenda-tenda putih memenuhi halaman depan, dipenuhi ranjang, tandu, dan manusia-manusia yang mencoba tetap sadar.

Daniel berdiri di pintu masuk sisi timur.

Ia menarik napas.

Segel Pertama tidak bereaksi.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada dorongan.

Hanya rasa tidak nyaman yang aneh—seperti sesuatu yang tertinggal di ujung ingatan.

Ia melihatnya saat sedang memeriksa perimeter.

Rambutnya terikat sederhana, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Ia mengenakan rompi relawan medis, tangannya berlumur noda obat dan darah kering. Gerakannya cepat namun hati-hati, penuh perhatian pada setiap pasien yang ia sentuh.

Daniel berhenti berjalan.

Dunia tidak runtuh.

Tidak ada suara keras.

Tidak ada kilatan cahaya.

Namun dadanya terasa… sesak.

Ia mengenal postur itu. Cara bahunya sedikit menegang saat membungkuk. Cara ia menahan napas sepersekian detik sebelum menyentuh luka orang lain.

Wanita yang ia selamatkan.

Wanita yang melihatnya mati.

Langkah Daniel melambat, lalu berhenti sepenuhnya. Ia berdiri terlalu lama, sampai salah satu rekan setimnya melirik aneh.

“Kau kenal dia?” tanya rekannya pelan.

Daniel tidak menjawab.

Wanita itu menoleh.

Pandangan mereka bertemu.

Untuk sesaat—hanya sesaat—wajahnya kosong. Lalu matanya membesar. Tangannya gemetar, perban yang ia pegang jatuh ke lantai.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangisan keras.

Ia hanya menutup mulutnya dengan satu tangan, seolah takut suara apa pun akan memecahkan kenyataan di hadapannya.

“Kau…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi kau—”

Daniel melangkah maju satu langkah, lalu berhenti.

“Aku hidup,” katanya pelan. “Entah bagaimana.”

Itu kebohongan setengah jadi.

Wanita itu menggeleng pelan, air mata mengalir tanpa suara. “Aku lihat kau jatuh,” katanya. “Aku dengar—aku dengar tulangmu—”

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Daniel menunduk.

“Aku minta maaf,” katanya.

Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak logis. Tidak adil. Namun itu satu-satunya hal yang mampu ia ucapkan.

Wanita itu tertawa kecil—patah, bergetar. “Kenapa kau minta maaf? Kau menyelamatkanku.”

“Dan mati,” jawab Daniel jujur.

Hening jatuh di antara mereka, berat dan rapuh.

Mereka duduk di sisi tenda medis beberapa menit kemudian. Tidak ada yang mengusir mereka. Dunia sedang terlalu sibuk runtuh untuk memperhatikan dua orang yang mencoba memahami keajaiban yang salah tempat.

“Namaku Aurelia,” katanya akhirnya, mengusap matanya. “Aku tidak sempat bertanya waktu itu.”

“Daniel.”

Ia mengangguk, seolah mengukir nama itu di benaknya. “Aku bermimpi tentangmu,” katanya pelan. “Beberapa malam. Selalu sama. Kau berdiri di tempat gelap… dan aku tidak bisa memanggilmu.”

Daniel merasakan dingin merayap di punggungnya.

“Aku juga bermimpi,” jawabnya. “Tentang sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.”

Ia tidak menyebut segel.

Ia tidak menyebut kematian kedua.

Belum.

Aurelia menatapnya lama. “Kau berubah.”

Daniel tersenyum tipis. “Semua orang berubah.”

“Tidak seperti ini,” katanya. “Kau… masih di sini, tapi seolah membawa jarak.”

Daniel ingin menyangkalnya.

Namun Segel Pertama berdenyut pelan—bukan untuk bertahan, melainkan mengingatkannya akan batas.

Sirene berbunyi tiba-tiba.

Pendek. Tajam.

“Ancaman mendekat sektor barat!” teriak seseorang. “Semua personel bersiap!”

Daniel berdiri refleks. Tubuhnya siap, napasnya terkendali. Ia menoleh ke Aurelia.

“Kau harus masuk,” katanya. “Sekarang.”

Aurelia berdiri juga, ragu. “Kau—”

“Aku akan baik-baik saja.”

Ia berhenti, lalu menambahkan, lebih pelan, “Aku sudah mati sekali.”

Aurelia menatapnya—takut, marah, dan lega bercampur menjadi satu. Ia mengangguk cepat dan berlari masuk ke tenda.

Daniel berbalik menuju posisinya.

Segel Pertama tetap tenang.

Tidak ada panggilan lain.

Tidak ada janji kekuatan tambahan.

Namun langkah Daniel terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih sadar.

Ia tidak bertahan hanya untuk dirinya sendiri lagi.

Dan itu—lebih dari kekuatan apa pun—membuat dunia yang hancur ini terasa masih layak diperjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!