Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
Setelah terjadi ketegangan diantara mereka, Anisa buru-buru masuk kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia berharap percikan air itu bisa menenangkan kepalanya yang sejak tadi terasa riuh oleh perasaan sendiri.
Namun saat ia keluar, langkahnya terhenti.
Gus Hafiz sudah berdiri di dekat ranjang. Kemeja putihnya terpasang rapi, sarung cokelat muda melilit sempurna di pinggang. Rambutnya masih sedikit basah, membuat wajahnya terlihat lebih segar, dan terlihat lebih berwibawa.
“Gus sudah mandi?” tanya Anisa pelan.
Gus Hafiz mengangguk.
“Alhamdulillah, sudah. Di kamar mandi belakang, nunggu bidadari mandi lama,” jawabnya tenang.
“Sudah ambil wudu? Kita salat jamaah.”
Sambungnya lagi. Anisa hanya mengangguk.
Suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
Entak kenapa isi kepalanya masih berputar pada dada bidang Gus Hafiz yang sempat jadi bantalnya.
Usai salat, suasana kamar terasa berbeda. Lebih hening. Lebih hangat. Gus Hafiz keluar kamar mencari udara segar di taman.
Anisa duduk di tepi ranjang, mengeringkan rambutnya yang masih basah. Tiba-tiba handuk kecil itu berpindah tangan.
“Mas bantu,” ujar Gus Hafiz lembut.
Anisa tersentak. Ia pikir tadi Gus Hafiz masih menikmati udara pagi di taman belakang. Karena itu ia berani melepas hijabnya.
“Gus…” buru-buru ia meraih kerudung yang tersampir di kursi.
Namun tangan Gus Hafiz lebih cepat menahannya. Bukan kasar. Hanya menggenggam ringan, tapi tegas.
“Ndak berdosa auratmu mas lihat,” ucapnya pelan, suaranya rendah namun mantap.
“Kita ini halal.”
Kata halal itu meluncur bukan dengan nada posesif, melainkan penuh makna, seolah ia sedang mengingatkan dirinya.
Anisa mendongak. Tatapannya bertemu dengan mata teduh Gus Hafiz yang kini tak lagi sekadar seorang gus di hadapan santri-santrinya, melainkan seorang suami yang penyayang.
Tangannya perlahan menyibakkan rambut Anisa yang menutup pipi. Seketika degup jantung Anisa tak karuan.
Dan tanpa tergesa, tiba-tiba Gus Hafiz menunduk, mengecup bibir Anisa selayang tanpa permisi. Singkat, namun terasa lembut.
Anisa mematung. Napasnya tercekat, bukan karena keberanian tindakan itu, tetapi karena kelembutan yang menyertainya.
Gus Hafiz tersenyum tipis. Sementara Anisa meremas gamisnya kuat-kuat.
“Kalau tiap pagi begini, mas pengen kamu cepat-cepat tamat,” selorohnya halus, tetap dengan adab yang tak pernah ia tinggalkan.
Anisa menunduk, wajahnya memerah.
Di dalam dada, ada rasa baru yang tumbuh, bukan sekadar canggung, tapi hangat.
****
Selesai mengeringkan rambut, Anisa ke dapur kecil yang disediakan. Anisa membuat nasi goreng seadanya.
Sefang asik mengaduk nasi di wajan, tiba-tiba, sesuatu yang hangat melingkar di pinggangnya. "Hem... wangi..." bisik suara itu tepat di rambut Anisa.
Saking kagetnya, Anisa tak sengaja menjatuhkan spatula.
"Astaghfirullah, Gus..." Anisa membalik badan, tapi Gus Hafiz malah mengurungnya di meja pantry. Dengan pelan, ia mematikan kompor.
Anisa menelan ludah, tahu kemana arah tindakan Gus Hafiz. Ia buru-buru mengalihkan fokus pria itu.
"Gus, sudah laperkan, ayo kita sarapan. Nasi gorengnya sudah matang," ujarnya. Namun sebelum Anisa sempat meloloskan diri, Gus Hafiz sudah lebih dulu menangkup wajahnya.
"Mas nggak pengen sarapan nasi, tahu... apa yang mas butuhkan sekarang...?"
Anisa menyipitkan mata, menatap Gus Hafiz dengan sorot menyelidk.
"Dan Gus, panjenengan dak lupa to, istri panjenengan ini masih di bawah umur."
Gus Hafiz menatapnya lama, lalu dengan gerakan pelan mengusap tengkuknya.
"Kita... bisa pake pengaman..." bisiknya, suara penuh pertimbangan. Anisa langsung mendelik, tangannya mengepal.
"Gus... panjenengan sudah janji sama Umi," ucapnya dengan tegas, nada yang tak bisa diganggu gugat. Gus Hafiz memejamkan mata, menelan rasa gelisahnya.
Ternyata memang berat. Sekelas Gus harus menunggu selama ini hanya untuk bisa menyentuh istri sendirinya. Ternyata imannya setipis tisu jika dekat dengan istri kecilnya.
Anisa menghela napas, tatapannya melembut. "Janji itu bukan cuma buat panjenengan sendiri, Gus, tapi juga buat masa depan kita. Sabar dulu, ya. Tunggu aku tamat,"
Gus Hafiz menatap langit-langit dapur dengan mata yang penuh pergulatan, suaranya nyaris tenggelam dalam bisikan, "Mas minta maaf..."
Anisa tersenyum, tapi ada keraguan yang bergetar di bibirnya. Perlahan, ia menjinjit dan menggantungkan lengannya di leher Gus Hafiz, lalu mengecup bibirnya dengan hati-hati.
"Kalok ini boleh," bisik Anisa menatap manja.
Gus Hafiz membalas senyum itu senyuman tipis, yang membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. Ia merapat, mengambil alih ciuman itu.
Ciuman mereka pelan, lembut, tapi penuh makna yang dalam, meski singkat, napas mereka saling bercampur, seakan dunia berhenti berputar di saat itu.
Itu adalah ciuman pertama mereka sebagai suami istri, momen kecil yang menyalakan api yang selama ini terpendam dalam diam.
Gus Hafiz menangkup wajah Anisa dengan lembut, menghapus jejak ciuman yang masih basah di bibirnya.
"Santri nakal," goda Gus Hafiz dengan nada penuh kasih.
Anisa mendengus malu, tapi tak kalah nakal, "Gus yang ajarin..." jawabnya menantang, memecah hening dengan tawa kecil yang hangat.
Pagi itu vila di pegunungan Muria, terasa lebih romantis, cinta dalam diam mereka kini bersambut. Sesaat Anisa melupakan semua permasalahan yang ia pikul. Saat ini Anisa tak ingin memikirkan sesuatu yang menyakitkan, ia ingin merasakan manisnya jatuh cinta.