NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raungan di Antara Ombak

Hutan kecil di belakang pantai Karangwangi bukan hutan biasa. Pohon-pohon kelapa dan waru bercampur dengan semak belukar yang jarang disentuh manusia. Cahaya matahari pagi tersaring tipis, membuat bayangan panjang dan gelap di tanah yang lembab. Bau tanah basah bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam—bau binatang liar, darah kering, dan bulu basah.

Banda dan Jatayu berjalan berdampingan, langkah mereka hampir tak bersuara. Bayu mengikuti beberapa meter di belakang, pisau lipatnya sudah terbuka, meski tangannya gemetar.

“Berapa banyak?” tanya Banda pelan, matanya menyapu pepohonan.

Jatayu tidak langsung menjawab. Ia mendengarkan. Napasnya pelan, tapi telinga Phoenix-nya menangkap suara yang tak terdengar oleh manusia biasa: derak ranting, napas berat, dan geraman rendah yang tertekan.

“Minimal tiga,” jawabnya akhirnya. “Mungkin empat. Yang semalam itu cuma pengintai. Sekarang mereka mengirim yang lebih kuat.”

Banda merasakan denyut di dadanya lagi—lebih kuat dari sebelumnya. Seperti ada gelombang kecil yang bergulung di dalam tulang rusuknya. Ia menoleh ke Jatayu. “Kau bisa kabur sekarang. Ini bukan urusanmu lagi.”

Jatayu meliriknya sekilas, ekspresinya datar. “Kalau aku kabur, mereka akan membunuhmu. Lalu aku akan gagal total. Dan klan Phoenix tidak suka kegagalan.”

“Itu alasanmu?”

“Itu alasan yang masuk akal.”

Mereka berhenti di sebuah celah terbuka di antara pohon. Di tengahnya, tanah terlihat tergali—seperti bekas cakaran kuku besar. Di sekitarnya ada tetesan darah hitam yang masih mengepul asap tipis.

Bayu menelan ludah. “Ini… ini beneran werewolf ya?”

Sebelum Jatayu bisa menjawab, raungan pertama pecah.

Bukan raungan biasa. Suaranya dalam, bergema seperti gempa kecil, membuat daun-daun berguguran. Dari balik pepohonan muncul tiga sosok.

Yang pertama lebih besar dari yang semalam—tinggi hampir dua meter saat berdiri tegak, bulu abu-abu kusam berlumur lumpur dan darah kering. Matanya merah menyala, taringnya panjang dan kuning. Dua lainnya lebih kecil, tapi gerakannya lebih cepat, seperti serigala pemburu yang sudah terlatih.

Alpha kecil itu—yang tampaknya pemimpin kelompok ini—mengendus udara, lalu matanya tertuju pada Banda.

“Darah samudra…” suaranya serak, seperti batu bergesekan. “Kau yang dicari Si Abu-abu. Dan kau—” pandangannya beralih ke Jatayu, “Phoenix pengkhianat.”

Jatayu mengeluarkan goloknya. Bilah hitam itu langsung menyala samar—api merah tipis menari di sepanjang mata pisau. “Aku bukan pengkhianat. Aku hanya belum selesai tugas.”

“Kalau begitu selesaikan sekarang,” balas werewolf itu. “Atau kami yang akan mengakhiri kalian berdua.”

Bayu mundur setengah langkah. “Banda… kita kabur aja.”

Tapi Banda tidak bergerak. Ia merasakan air di kejauhan—ombak yang masih bergulung di pantai—seolah menunggu panggilannya. “Tidak,” katanya pelan. “Mereka tidak akan berhenti kalau kita lari.”

Werewolf pertama melompat.

Gerakannya cepat, tapi Jatayu lebih cepat. Ia menyelinap di depan Banda, goloknya berayun melengkung. Api merah menyambar, menghantam bahu werewolf itu. Binatang itu meraung kesakitan, tapi tidak mundur. Cakarnya menyabet balik, menggores lengan Jatayu.

Darah kehitaman menetes lagi. Jatayu meringis, tapi tidak berhenti. Ia berputar, menendang perut werewolf itu hingga terdorong mundur.

Dua lainnya menyerang dari sisi. Yang satu langsung ke arah Bayu.

Bayu berteriak, mengayunkan pisau lipatnya dengan panik. Pisau itu hanya menggores permukaan bulu—tidak cukup dalam. Cakar werewolf menyambar, hampir mengenai lehernya.

Banda bergerak tanpa pikir.

Ia mendorong Bayu ke belakang dan menangkap pergelangan tangan werewolf itu dengan kedua tangannya. Kulit binatang itu kasar, panas, berbau amis dan darah. Tapi saat jari Banda menekan, sesuatu terjadi lagi.

Air.

Bukan air biasa. Air yang muncul dari tanah kering di sekitar kaki mereka—seperti sumur kecil yang tiba-tiba muncul. Air itu naik cepat, membelit pergelangan werewolf seperti tali cair. Binatang itu tersentak, raungannya berubah jadi jeritan.

Banda tidak melepaskan. Ia menarik lebih kuat. Air semakin banyak, membentuk pusaran kecil yang menyeret werewolf itu ke tanah. Bulunya basah, matanya melebar ketakutan.

“Apa… apa ini?!” seru werewolf itu.

Jatayu, yang baru saja menusuk bahu werewolf pertama, menoleh. Matanya melebar melihat pusaran air itu. “Banda…”

Werewolf ketiga melompat ke arahnya, tapi Jatayu sudah siap. Ia melompat ke atas, menggunakan bahu binatang itu sebagai pijakan, lalu berputar di udara dan menusuk punggungnya dari atas. Api Phoenix menyala lebih terang, membakar bulu hingga berasap.

Alpha kecil itu meraung marah. Ia mengabaikan luka di bahunya dan menyerbu Banda.

Banda melepaskan werewolf yang sudah terjerat air—binatang itu jatuh tersungkur, napasnya tersengal. Ia berbalik menghadapi alpha.

Cakar besar itu menyambar. Banda menghindar, tapi tidak cukup cepat. Ujung cakar menggores dadanya—luka dangkal, tapi darahnya langsung mengalir.

Saat darah itu menetes ke tanah, air di sekitarnya bereaksi lagi. Bukan pusaran kecil—kali ini ombak sungguhan, meski mereka berada puluhan meter dari pantai. Air laut naik dari tanah seperti mata air raksasa, membentuk dinding setinggi dua meter di depan Banda.

Alpha werewolf terdorong mundur. Matanya penuh kebencian dan ketakutan. “Mustahil… kau belum sepenuhnya bangkit!”

Jatayu menyelesaikan werewolf ketiga dengan tusukan terakhir. Api di goloknya padam perlahan. Ia berlari ke samping Banda, napasnya tersengal.

“Pergi,” katanya pada werewolf yang tersisa. “Katakan pada Si Abu-abu bahwa tugas ini bukan miliknya lagi.”

Alpha itu menggeram, tapi ia tahu posisinya kalah. Dengan satu raungan terakhir, ia mundur ke dalam hutan, diikuti dua anak buahnya yang pincang.

Hening kembali.

Bayu terduduk di tanah, wajahnya pucat. “Aku… aku hampir mati tadi.”

Banda berlutut di sampingnya, memeriksa luka kecil di lengan sahabatnya. “Kau baik-baik saja?”

Bayu mengangguk lemah. “Kau… kau bikin air muncul dari tanah. Itu… itu bukan manusia, Ban.”

Banda tidak menjawab. Ia menatap tangannya sendiri—masih basah, seolah air tadi menempel di kulitnya.

Jatayu berdiri di dekat mereka, goloknya sudah kembali ke sarung. Luka di lengannya masih berdarah, tapi ia tidak peduli. Matanya tertuju pada Banda.

“Kau baru saja menggunakan kekuatan Naga Laut,” katanya pelan. “Tanpa sadar. Itu berbahaya.”

“Kenapa berbahaya?” tanya Banda.

“Karena setiap kali kau pakai, kutukan semakin dekat. Dan kutukan itu bilang: satu dari kita harus mati agar yang lain hidup.”

Banda bangkit. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka—tapi karena sesuatu yang lebih dalam. “Aku tidak mau membunuhmu.”

Jatayu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. “Kau belum tahu apa yang kau hadapi. Naga Laut yang dulu… dia pernah mencoba melindungi Phoenix. Dan akhirnya, dia yang membunuhnya.”

Banda menatapnya tajam. “Itu bukan aku.”

“Belum,” balas Jatayu. “Tapi darahmu sudah mulai ingat.”

Bayu bangkit pelan. “Kalian… kalian bicara apa sih? Phoenix, naga, kutukan… ini gila.”

Jatayu menoleh ke Bayu. “Ini bukan urusanmu. Pulanglah. Lindungi desamu. Kalau werewolf kembali, mereka tidak akan segan membantai semua orang untuk mencapai target.”

Bayu memandang Banda, ragu. “Ban…”

“Pulang dulu, Yu,” kata Banda pelan. “Aku akan menyusul.”

Bayu mengangguk enggan, lalu berjalan pergi dengan langkah gontai.

Sekarang hanya mereka berdua.

Jatayu menghela napas. “Kau seharusnya takut padaku.”

“Aku takut,” jawab Banda jujur. “Tapi bukan karena kau mau membunuhku. Aku takut karena aku mulai merasa… kau satu-satunya yang mengerti apa yang terjadi padaku.”

Jatayu diam lama. Lalu ia melangkah mendekat—hanya satu langkah. Jarak mereka sekarang begitu dekat hingga Banda bisa mencium bau samar api dan garam di tubuhnya.

“Jangan terlalu percaya padaku,” bisiknya. “Aku masih pembunuh. Dan tugasku belum berubah.”

“Tapi kau tidak melakukannya tadi malam. Dan kau bertarung bersamaku sekarang.”

Jatayu menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. “Karena saat kau menyentuhku… aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Hangat. Bukan panas api. Hangat yang… membuatku takut mati.”

Banda mengulurkan tangan, ragu-ragu. Jarinya menyentuh pipi Jatayu—hanya ujung jari.

Kulitnya hangat. Terlalu hangat untuk manusia biasa.

Dan saat itu, bara kecil muncul lagi di udara—bukan dari golok, tapi dari antara mereka berdua. Api emas tipis berputar pelan, seperti tarian lambat.

Jatayu tidak menarik diri.

Ia hanya memejamkan mata. “Ini ikatan yang berbahaya, Banda.”

“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi aku tidak mau berhenti mencari tahu kenapa.”

Mereka berdiri begitu beberapa saat, dikelilingi hutan yang diam dan ombak yang masih bergemuruh di kejauhan.

Lalu Jatayu membuka mata. “Kita tidak bisa tinggal di sini. Werewolf akan kembali dengan lebih banyak. Dan klan Phoenix… mereka juga akan mencariku.”

Banda mengangguk. “Ke mana?”

“Ada tempat di utara. Pulau kecil yang tak berpenghuni. Di sana ada kuil tua—sisa-sisa pemujaan Naga Laut. Mungkin di sana kita bisa cari tahu lebih banyak tentang kutukan ini.”

Banda menatap laut di balik pepohonan. “Aku harus bilang ke Ibu dulu.”

Jatayu mengangguk kecil. “Lakukan. Tapi cepat. Matahari sudah tinggi. Mereka akan datang lagi sebelum malam.”

Mereka berjalan kembali ke desa dalam diam.

Tapi di antara langkah mereka, sesuatu sudah berubah.

Tidak ada lagi pemburu dan buruan.

Hanya dua orang yang terikat oleh darah kuno, api, dan air—dan sebuah pertanyaan yang semakin besar: apakah cinta bisa lahir dari kutukan yang dirancang untuk membunuh?

Di kejauhan, ombak Laut Banda terus bergulung, seolah menunggu.

Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!