Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang Belum Padam
Di balik jeruji besi ruang tahanan khusus yang lembap dan berbau pembersih lantai murahan, Dimas Satya mengunci pandangannya pada layar televisi kecil yang tergantung miring di sudut plafon. Layar itu bergetar, menampilkan siaran berita prime time tentang kesuksesan luar biasa Pratama-Wijaya Foundation.
Wajah Sasha memenuhi layar—tenang, elegan, dan memancarkan kendali penuh. Ia tampak seperti ratu yang baru saja memenangkan perang saudara tanpa menumpahkan setetes darah pun. Di sampingnya, Gio berdiri dengan bahu tegap, sorot matanya protektif namun menyimpan kebanggaan yang tak ditutup-tupi.
Dimas menggertakkan rahangnya hingga otot pelipisnya menonjol. Ia tidak peduli lagi pada Wijaya Group. Ia tidak peduli pada saham yang merosot atau aset yang disita. Pikirannya hanya terpaku pada satu titik.
Sasha.
Ada transformasi yang mengusik jiwanya. Dulu, Sasha cantik dalam kemarahannya yang meledak-ledak—rapuh dan mudah ditebak. Sekarang, wanita itu memancarkan ketenangan dingin yang jauh lebih memikat, seolah-olah ia telah menelan seluruh badai dan menjadikannya kekuatan. Dan itu membuat Dimas merasa asing, sekaligus makin terobsesi.
“Kau seharusnya tidak berdiri di sampingnya,” gumam Dimas pelan, suaranya parau tertelan sunyi sel tahanan. “Kau seharusnya milikku, bersujud memohon ampun padaku.”
Tatapannya mengeras saat kamera menangkap momen mikro; Gio menyentuh punggung bawah Sasha dengan ujung jari yang lembut sebelum mereka turun dari podium. Sebuah gestur intim yang sederhana, namun cukup untuk menyulut bara cemburu yang menghanguskan sisa-saran kewarasan Dimas.
Tiga minggu berlalu. Keajaiban—atau lebih tepatnya, uang haram yang tertanam di rekening-rekening rahasia—bekerja. Berkat celah hukum administratif dan pengaruh koneksi lama yang masih berutang budi, Dimas berhasil dipindahkan ke status tahanan kota dengan alasan kesehatan mental yang diklaim terganggu.
Secara teknis, ia dalam pengawasan. Kenyataannya, ia bebas menghirup udara malam Jakarta, meski dengan gelang pelacak di pergelangan kakinya yang tertutup kaus kaki mahal. Ia tidak berniat langsung menyerang dengan kekerasan kasar. Dimas adalah pemain catur; ia ingin bermain dengan emosi mereka sebelum menghancurkannya.
Kesempatan itu datang dalam bentuk undangan emas: Gala Annual Wijaya Group. Sebuah acara eksklusif bagi para hiu bisnis dan investor kelas kakap. Dimas tidak diundang, tentu saja. Namun, ia tahu setiap lorong tikus dan pintu belakang hotel bintang lima tempat acara itu digelar.
Ballroom hotel malam itu adalah simfoni kemewahan. Cahaya dari lampu kristal raksasa memantul di gelas-gelas kristal, sementara musik klasik dari kuartet gesek mengalun, berusaha menutupi percakapan penuh intrik di bawahnya.
Sasha melangkah masuk, dan seisi ruangan seolah menahan napas. Gaun merah marun yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan presisi yang mematikan. Rambutnya disanggul modern, mengekspos garis leher jenjang yang tampak putih porselen di bawah lampu. Ia tidak lagi memakai riasan tebal; kecantikannya kini datang dari otoritas yang ia miliki.
Gio, dalam setelan hitam bespoke yang sempurna, tak sedetik pun melepaskan pandangan darinya.
“Kau membuat semua orang di ruangan ini lupa cara bernapas, Sha,” bisik Gio tepat di telinga Sasha, napas hangatnya membuat bulu kuduk Sasha meremang tipis.
Sasha tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya ia berikan untuk Gio. “Fokus pada investor, Gio. Bukan pada gaunku.”
Namun, dari balik pilar marmer di sudut remang, Dimas mengawasi. Ia mengenakan jas gelap tanpa dasi, menyamar sebagai salah satu perwakilan firma konsultan yang baru bergabung. Senyumnya miring, penuh racun, saat melihat Sasha tertawa kecil karena bisikan Gio.
Cemburu bukan satu-satunya tujuannya. Ia ingin menyuntikkan keraguan. Ia ingin merusak fasad sempurna yang mereka bangun.
Beberapa jam kemudian, Sasha terpisah dari Gio. Seorang mitra dari Singapura menarik Gio untuk diskusi mendesak mengenai merger pelabuhan. Sasha memberikan kode bahwa ia baik-baik saja dan berjalan menuju meja saji untuk mengambil air.
Seorang pelayan muda mendekat dengan nampan perak. “Untuk Anda, Nyonya Wijaya. Sampanye terbaik untuk malam yang gemilang.”
Sasha menerima gelas itu dengan anggukan sopan. Ia menyesapnya perlahan. Rasanya sedikit lebih manis dari biasanya, namun ia menganggap itu hanya varian baru. Ia tidak tahu bahwa di dasar gelas itu, sebuah zat kimia tanpa rasa telah larut sempurna.
Sepuluh menit berlalu. Sasha mulai merasakan sensasi aneh. Bukan pusing yang berputar, melainkan gelombang hangat yang tidak wajar merayap dari perut ke tengkuknya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, dan lampu-lampu di ruangan itu tampak sedikit lebih terang, sedikit lebih menyilaukan.
Sial, apakah aku kelelahan? pikirnya sambil memegang pinggiran meja.
“Sudah lama kita tidak bicara tanpa gangguan, bukan?”
Suara itu seperti hantaman godam. Sasha berputar perlahan, dan di sana, hanya berjarak satu lengan, Dimas berdiri dengan mata yang liar namun bibir yang tersenyum tenang.
“Kau… kau tidak seharusnya ada di sini,” desis Sasha. Suaranya terdengar sedikit lebih berat di telinganya sendiri.
“Banyak hal di dunia ini yang tidak seharusnya terjadi, Sasha. Seperti kau yang mengkhianatiku demi pria yang tidak lebih dari seorang pengawal rendahan,” Dimas melangkah maju, memangkas jarak.
Dimas mencondongkan tubuh, menghirup aroma parfum Sasha yang bercampur dengan aroma kulitnya yang mulai berkeringat halus. “Kau terlihat jauh lebih menggoda saat kehilangan kendali seperti ini. Kejam ternyata cocok untukmu. Apakah Gio tahu seberapa liar kau sebenarnya jika diberi sedikit… dorongan?”
Sasha berusaha menggerakkan kakinya untuk pergi, tapi tubuhnya terasa ringan seolah ia mengambang di air. “Pergi… sebelum aku menghancurkanmu di sini.”
Dimas tertawa rendah, sebuah suara yang kering dan gelap. “Hancurkan aku? Kau bahkan sulit berdiri tegak, Sayang. Mari, biarkan aku membantumu ke tempat yang lebih privat.”
Tepat saat tangan Dimas hendak menyentuh bahu telanjang Sasha—
Sebuah tangan besar dengan cengkeraman sekuat baja menyambar pergelangan tangan Dimas di udara.
Konfrontasi Dingin
“Lepaskan tanganmu jika kau masih ingin menggunakannya besok pagi.”
Suara itu rendah, dingin, dan membawa otoritas yang tidak bisa dibantah. Gio berdiri di sana. Matanya tidak berkilat marah—justru lebih buruk. Matanya kosong, seperti pemangsa yang telah memutuskan bahwa mangsanya tidak layak lagi untuk diberi belas kasihan.
Dimas perlahan menoleh, mencoba menjaga harga dirinya meski pergelangan tangannya terasa hampir remuk. “Aku hanya berbicara dengan istriku, Gio. Kau harus belajar sopan santun pada atasanmu.”
“Dia bukan milikmu untuk kau klaim. Dan kau bukan atasan siapa pun lagi,” jawab Gio datar.
Gio segera menyadari ada yang salah. Napas Sasha yang pendek-pendek dan pupil matanya yang sedikit melebar. Ia menarik Sasha ke dalam perlindungannya, merangkul pinggang wanita itu dengan protektif.
“Apa yang kau berikan padanya?” tanya Gio, suaranya kini bergetar oleh kemarahan yang tertahan di balik dada.
Dimas mengangkat bahu dengan santai. “Hanya sedikit bumbu agar malam ini tidak membosankan. Kau terlalu kaku, Gio. Sasha butuh seseorang yang tahu cara bersenang-senang.”
Gio melangkah maju satu langkah, memaksa Dimas mundur. Ruangan di sekitar mereka seolah mendadak sunyi, meski musik masih mengalun. Orang-orang mulai menoleh, menyadari ada ketegangan di sudut ruangan.
“Ini adalah peringatan terakhir,” kata Gio, suaranya sangat rendah hingga hanya Dimas yang bisa mendengarnya. “Satu inci lagi kau mendekatinya, dan aku tidak akan peduli pada hukum yang melindungimu. Aku akan memastikan kau lenyap sebelum polisi sempat bertanya.”
Dimas tertawa kecil, meski ada ketakutan yang mulai merayap di matanya. “Kau gertak sambal, Gio. Di depan semua investor ini? Kau tidak akan berani merusak reputasi Wijaya.”
Gio tidak membalas provokasi itu. Ia justru menoleh pada Sasha, menangkup wajahnya dengan satu tangan, memaksa mata Sasha fokus pada matanya.
“Sha… dengarkan aku,” bisik Gio lembut namun sangat tegas.
Sasha mencoba fokus, jemarinya meremas kemeja Gio seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. “Gio… aku… tubuhku terasa…”
Gio menatap Dimas dengan sorot haus darah, lalu kembali pada Sasha dengan pilihan yang mematikan.
"Sasha, pilih sekarang. Kau ingin kita pergi dari sini dan membiarkan dia membusuk sendiri, atau kau ingin aku menghancurkan setiap tulang di tubuhnya di depan semua orang malam ini?"