"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Jantung yang Terhubung
Aula hotel yang tadinya glamor kini berubah menjadi pusat komando yang tegang. Lampu merah darurat masih berkedip, memantulkan bayangan di wajah Clarissa yang mendadak pucat. Di layar laptop Devan, ribuan baris kode mengalir secepat air bah, menghancurkan benteng pertahanan Mahendra Group satu per satu.
"Sial, mereka menggunakan protokol Black Box milik Wijaya!" maki Devan sambil jemarinya menari liar di atas keyboard. "Clarissa, mereka tidak hanya mencuri data, mereka sedang menyedot likuiditas bank kita secara real-time!"
Clarissa mendekat, namun tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Ia tersungkur, mencengkeram dadanya seolah jantungnya baru saja diremas oleh tangan raksasa.
"Argh!"
"Clarissa!" Devan segera melepaskan laptopnya dan menangkap tubuh Clarissa sebelum menyentuh lantai. "Gelang itu... suhunya meningkat!"
Gelang perak di pergelangan kaki Clarissa memancarkan cahaya merah yang berdenyut. Detak jantung Clarissa yang tadinya stabil kini melompat liar, sinkron dengan serangan digital yang sedang berlangsung.
"D-Devan... buka akses terminalnya," bisik Clarissa dengan napas tersengal. Keringat dingin mengucur di dahinya. "Julian tidak bohong... biometrikku terhubung dengan serangan ini. Semakin mereka berhasil meretas, semakin jantungku dipacu paksa."
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh komputer itu dalam kondisi begini!" raung Devan.
"Kalau kau tidak membiarkanku, kita berdua akan tamat!" Clarissa mencengkeram kerah tuxedo Devan, matanya menatap tajam meski bibirnya membiru. "Percayalah padaku... aku adalah satu-satunya orang yang tahu kelemahan sistem ayahku sendiri."
Dengan berat hati, Devan menggendong Clarissa dan mendudukkannya di kursi kerja. Ia tetap berada di belakang gadis itu, melingkarkan lengannya di bahu Clarissa seolah ingin membagi beban rasa sakit tersebut.
Clarissa menarik napas dalam, lalu jemarinya menyentuh keyboard. Dalam sekejap, aura "pelayan" yang rapuh menghilang. Di depan monitor, dia adalah sang legenda bisnis yang bangkit dari kematian.
"Kau mau main kasar, Julian?" gumam Clarissa dingin. "Mari kita lihat siapa yang akan terbakar lebih dulu."
Ia tidak mencoba menahan serangan Julian. Sebaliknya, ia justru membuka pintu gerbang sistem Mahendra Group lebih lebar.
"Clarissa! Apa yang kau lakukan? Kau membiarkan mereka masuk!" Devan panik.
"Aku tidak membiarkan mereka masuk, Devan. Aku sedang menjebak mereka dalam Honey Pot," jawab Clarissa tanpa menoleh. "Setiap byte data yang mereka ambil mengandung virus 'Ular Kaca'. Begitu mereka mencoba mencairkan dananya ke rekening Naga Hitam, virus itu akan menghancurkan seluruh server pusat mereka."
Namun, risikonya sangat besar. Setiap kali Clarissa memasukkan perintah tingkat tinggi, gelang di kakinya memberikan sengatan listrik kecil yang membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Sedikit lagi..." Clarissa menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan teriakan sakit.
Layar monitor menunjukkan angka: 98% Data Terkirim.
"BERHENTI, CLARISSA! Jantungmu tidak akan kuat!" Devan mencoba menarik tangan Clarissa, namun Clarissa menepisnya.
"SEKARANG!" teriak Clarissa sambil menekan tombol Enter dengan sisa tenaganya.
ZAP!
Cahaya terang memancar dari layar, dan seketika seluruh sistem di ruangan itu mati total. Hening.
Clarissa terkulai lemas di pelukan Devan. Gelang di kakinya perlahan mendingin dan cahayanya padam. Di layar laptop yang menyala kembali beberapa detik kemudian, muncul notifikasi hijau: [SYSTEM SECURED. ENEMY TRACED.]
"Kita berhasil..." bisik Clarissa sebelum matanya terpejam.
Tiga jam kemudian, Clarissa terbangun di ranjang rumah sakit pribadi di dalam vila rahasia Devan. Kali ini, tidak ada lagi wartawan atau lampu blitz. Hanya ada keheningan dan aroma terapi lavender yang menenangkan.
Ia merasakan tangan seseorang menggenggam erat jemarinya. Itu Devan. Pria itu tampak berantakan, tuxedo-nya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.
"Kau bangun lagi," ucap Devan, suaranya terdengar sangat lega namun juga mengandung kemarahan yang tertahan. "Kau benar-benar gila, Clarissa. Kau hampir membuat jantungmu meledak demi menyelamatkan perusahaanku."
Clarissa tersenyum tipis, suaranya masih sangat lemah. "Aku tidak menyelamatkan perusahaanmu, Tuan Posesif. Aku menyelamatkan maharku. Kau bilang kita tunangan, kan? Aku tidak mau tunangan dengan pria yang jatuh miskin dalam semalam."
Devan mendengus, namun ia mencium punggung tangan Clarissa dengan lembut. "Kau tetaplah seorang pebisnis berdarah dingin, bahkan saat nyawamu di ujung tanduk."
"Itu pujian buatku," balas Clarissa. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Julian?"
Wajah Devan berubah menjadi sangat gelap. "Virus 'Ular Kaca'-mu bekerja dengan sempurna. Seluruh jaringan keuangan Naga Hitam di Asia Tenggara lumpuh total. Julian sedang diburu oleh dewan organisasinya sendiri karena dianggap gagal total. Dia sedang melarikan diri sekarang."
"Bagus," Clarissa mencoba duduk, dan kali ini Devan membantunya dengan sangat hati-hati, menumpuk bantal di belakang punggungnya. "Tapi kita tahu dia tidak akan berhenti. Selama ibuku masih dalam kondisi stasis, dia punya kartu as."
Devan terdiam sejenak, lalu ia mengambil sebuah tablet dan menunjukkannya pada Clarissa. "Tentang ibumu... tim medis sudah melakukan pemeriksaan mendalam saat kau pingsan tadi. Julian berbohong soal satu hal."
"Apa itu?"
"Ibumu tidak terhubung dengan gelangmu. Tapi, ibumu terhubung dengan sebuah mesin penopang hidup yang hanya bisa diakses dengan kunci biometrik dari... keturunan asli Wijaya." Devan menatap Clarissa dalam-dalam. "Artinya, kau memang harus tetap hidup dan berada di pihakku jika ingin ibumu tetap bernapas. Tapi bukan karena teknologi biometrik, melainkan karena hanya kau yang punya kode akses itu di ingatanmu."
Clarissa menghela napas panjang. "Jadi, aku adalah satu-satunya kunci untuk semuanya."
"Ya. Dan itu sebabnya aku tidak akan pernah melepaskanmu," Devan mengusap pipi Clarissa, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya. "Bukan karena kau Clarissa, atau karena kau pemegang kode akses... tapi karena tidak ada wanita lain yang cukup gila untuk melompat dari gedung dan meretas sindikat internasional bersamaku."
Clarissa tertawa kecil, merasakan kehangatan yang tulus dari pria di depannya. "Kau baru sadar kalau aku spesial?"
"Aku sudah tahu itu sejak pertama kali kau memukulku di kantor lima tahun lalu," bisik Devan sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut namun penuh janji perlindungan.
Namun, di tengah momen indah itu, pintu kamar didobrak dengan keras.
"TUAN DEVAN! DARURAT!" sekretaris Devan masuk dengan wajah ketakutan.
"Apa lagi sekarang?!" bentak Devan, kesal karena momen romantisnya terganggu.
"Pria bermuka terbakar itu... dia baru saja menyerahkan diri ke kantor polisi pusat! Dan dia bilang... dia punya bukti bahwa Anda, Tuan Devan, adalah orang yang merencanakan kecelakaan Clarissa Wijaya lima tahun lalu!"
Clarissa membeku. Genggaman tangannya pada Devan perlahan melonggar. Ia menatap Devan dengan mata yang penuh keraguan.
"Devan... apa itu benar?"
Devan berdiri, wajahnya sulit dibaca. "Clarissa, jangan dengarkan dia. Itu jebakan terakhir mereka."
"Tapi kau bilang tadi... kau mencintaiku sejak aku masih di tubuh lama. Dan kau bilang kau punya cara untuk mengembalikan jiwaku," suara Clarissa mulai bergetar. "Apakah kecelakaan itu... adalah caramu untuk 'memindahkanku' ke tubuh Lestari?"
Suasana kamar yang tadinya hangat kini berubah menjadi sedingin es.